
Semua orang telah beristirahat di kamarnya masing-masing, begitu juga dengan Nazia dan Zevin. Tubuh mereka sangat lelah setelah menjadi raja dan ratu sehari. Nazia nampak lesu bersandar di sofa kamar karena kelelahan. Zevin mengambil minuman manis untuk Nazia agar memulihkan sedikit tenaganya.
"Cinta, minumlah kamu pasti lelah sekali. Istirahat sebentar ! Nanti kubantu melepaskan gaunmu dan menghapus make up nya." Kata Zevin memberikan botol minuman. Di balas anggukan pelan dari Nazia.
Kemudian ia masuk ke kamar mandi mengguyur tubuhnya dengan air hangat, walau telah larut. Tapi Zevin tetap membersihkan tubuhnya karena terasa lengket. Di luar kamar mandi Nazia merasa lelahnya berkurang setelah menghabiskan minuman manis yang diberikan Zevin.
Pintu kamar mandi terbuka. Zevin terlihat segar setelah mandi. Ia juga sudah mengenakan piyama tidurnya.
"Sayang, bersihkan tubuhmu dulu. Diseka saja pakai air hangat, sudah kusiapkan. Jangan mandi ! ini sudah larut malam." Ucap Zevin.
"Iya, ayo bantu aku melepaskan gaun ini dan riasan di rambutku." Ucap Nazia berpindah duduk di depan meja rias.
Zevin melemparkan handuk yang dipakainya ke atas sofa lalu membantu Nazia melepaskan riasan rambutnya. Dengan hati-hati Zevin melepaskannya agar Nazia tidak merasa sakit. Satu persatu semua sudah terlepas lalu kemudian berpindah ke gaun pengantinnya.
"Kulitmu cantik sayang !" Bisik Zevin.
Bulu tubuh Nazia seketika merinding karena nafas Zevin terasa hangat di telinganya.
"A—aku ke kamar mandi dulu." Ucap Nazia gugup.
Zevin tersenyum berhasil menggoda Nazia. Sambil menunggu istrinya keluar dari kamar mandi, ia berniat membuka kopernya. Setelah terbuka ada tiket bulan madu untuknya dan Nazia. Kali ini Erik tidak mengurus keberangkatan mereka menggunakan jet pribadi.
Erik sengaja mengatur bulan madu Zevin dan Nazia dengan sedikit sederhana walau mereka tinggal berangkat saja. Tapi Erik juga menyisakan tugas-tugas kecil untuk Zevin bagaimana caranya membuat bulan madu mereka berkesan.
Sedikit curang, Erik akan menyusul setelah nya dengan jet pribadi Zevin. Untuk berjaga-jaga keselamatan tuan nya. Ia juga membawa beberapa bodyguard bersamanya, sejak diperkenalkan pada rekan tuan Indra, Erik lebih waspada karena wajah dan hati seseorang kadang tidak sinkron.
Zevin membuka kotak kecil yang ada di dalam koper itu, matanya terbelalak melihat obat yang tak biasa ada di dalamnya.
"ERIK !!! Kamu meremehkan kemampuanku !" Zevin mendesis geram.Tak berani berteriak karena ada Nazia di dalam kamar mandi.
"Kamu kenapa?" Suara Nazia mengejutkan Zevin.
"Ti—tidak apa-apa sayang ! Kamu sudah selesai ? Ayo kita bersihkan make up nya." Ucap Zevin.
"Baiklah !" Balas Nazia.
Zevin mengambil kapas lalu menumpahkan pembersih wajah dan mengolesnya lembut pada wajah Nazia. Tidak memakai waktu lama karena make up nya tidak tebal.
"Sudah selesai sayang, ayo tidur ! Kamu pasti lelah, aku tidak memintanya malam ini." Kata Zevin lembut.
"Terimakasih sudah pengertian padaku." Balas Nazia.
Zevin tersenyum menatap manik mata indah milik Nazia
"Aku tidak mau egois sayang ! Aku mencintaimu dengan hatiku. Jika nafsuku lebih unggul dari cintaku padamu. Tanpa menikah pun aku bisa memaksamu." Kata Zevin.
Nazia tersenyum lembut.
"Ayo tidur"
Zevin mengangguk ia membuka tangannya agar Nazia tidur dipelukannya.
"Mimpi indah sayang." Mengecup pucuk kepala Nazia.
...----------------...
__ADS_1
Awal yang baru, untuk memulai tapak-tapak anak tangga yang akan membawa sepasang anak manusia ini untuk naik kesebuah rumah. Tempat, memulai membina rumah tangga yang segera akan dimulai. Mengukir cerita di dalamnya bersama anak cucu kelak. Suka duka akan dijalani bersama sampai rambut memutih nantinya.
Kelopak bunga yang melayu di atas kasur menjadi saksi bahwa tidak terjadi apapun di malam pertama pernikahan. Zevin mengerjap matanya perlahan setelah jelas penglihatannya. Pandangannya langsung pada sosok yang manis tertidur menghadap padanya.
Zevin merapikan anak rambut Nazia agar tidak menutup penglihatannya pada wajah istrinya itu. Ia menatapnya begitu lama seakan ingin menyimpan tiap sudut wajah Nazia kedalam memory nya yang terdalam.
Hampir sepuluh menit lamanya, Zevin menatap dalam diam wajah cantik itu. Akhirnya, pelan-pelan Nazia membuka matanya dan samar-samar tertangkap penglihatannya. Zevin sedang tersenyum menatapnya dengan jarak yang begitu dekat. Nazia yang menyadari itu tersenyum malu lalu menarik selimut sampai menutupi kepalanya.
Zevin terkekeh lalu membuka paksa selimut dari tangan Nazia.
"Selamat pagi istriku sayang !" Ia meraih Nazia ke dalam pelukannya dan menghujaninya banyak ciuman di seluruh wajahnya.
Nazia tertawa geli sambil meronta agar terlepas. Zevin semakin mendekapnya erat. Tidak hilang akal Nazia melakukan hal yang sama. Kini ia membalas memeluk tubuh Zevin dengan erat.
"Selamat pagi suamiku." Nazia membalas dengan ciuman bertubi-tubi di wajah Zevin.
Zevin merenggangkan pelukannya, wajahnya yang putih jadi kemerah-merahan merona senang. Nazia berhasil melepaskan diri karena Zevin lengah saat dicium. Sambil tertawa Nazia masuk ke kamar mandi.
Zevin masih meraba bekas bibir Nazia di wajahnya sambil tersenyum. Tapi tak lama senyum itu bertahan karena pintu kamar mereka diketuk seseorang dari luar.
"Siapa yang mengetuk sepagi ini sih?!" Gerutu Zevin sambil menyikap selimut dari tubuhnya.
Pintu di buka Zevin dari dalam, sambil bersungut-sungut kesal. Karena, terganggu saat merasakan bekas ciuman sang istri di wajahnya.
"Selamat pagi tuan !" Sapa Erik tersenyum lebar.
" Pagi Rik." Balas Zevin malas.
Erik melangkah satu langkah lalu menyembulkan kepalanya di balik tubuh Zevin untuk memperhatikan isi dalam kamar pengantin itu.
"Nona Zi mana tuan?" Tanya Erik tanpa dosa.
"Kenapa kamu mencari istriku?!" Jawab Zevin kesal.
"Saya hanya khawatir padanya." Balas Erik mundur lagi ke posisinya semula.
"Dia baik-baik saja." Jelas Zevin.
"Syukurlah ! Saya pikir Nona tidak bisa melangkah pagi ini" Jawab Erik tersenyum.
"Kau pikir aku seganas itu ! Menyiksa istriku !" Balas Zevin.
"Baiklah , penerbangan anda dua jam lagi" Ucap Erik meninggalkan kamar Zevin.
Nazia baru keluar dari kamar mandi terlihat sudah segar.
"Siapa yang datang?" Bertanya sambil mengeringkan rambutnya menggunakan handuk kecil.
"Erik ! Dia mengatakan penerbangan kita dua jam lagi. Bersiaplah kita sarapan di kamar saja." Jawab Zevin. Tangannya mengambil alih handuk dari tangan istrinya lalu menuntunnya agar duduk di depan meja rias.
"Baiklah, kamu mandilah biar aku siapkan bajumu." Balas Nazia.
"Sebentar lagi, biar kubantu keringkan rambutmu dulu." Jawab Zevin.
"Aku bisa sendiri ini tidak akan lama." Ujar Nazia.
__ADS_1
Zevin tersenyum lalu mengecup sekilas bibir Nazia sebelum masuk ke kamar mandi.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Di rumah sakit Z.K
Rayya merasa kesepian. Karena Nazia dan Zevin akan pergi bulan madu. Di depan pintu ada seseorang yang berdiri memperhatikan Rayya di dalam ruangannya.
"Selamat pagi dokter Rayya !" Sapa pria memakai jas yang sama dengannya.
"Selamat pagi dokter Yudha!" Balas Rayya.
Yudha adalah dokter baru yang berkerja di rumah sakit ini. Usianya bisa dikatakan seusia Zevin.
"Sendiri ? " Yudha melangkah masuk.
"Benar ! Ada yang bisa saya bantu ?" Tanya Rayya.
"Boleh saya bergabung di ruangan ini? Karena ruangan lain penuh. Saya tidak terlalu suka tempat yang ramai." Jelas Yudha atas kedatang nya di sana.
"Boleh saja, nanti saya akan meminta seseorang menyiapkan meja dan kursi untuk anda." Ujar Rayya.
"Terimakasih, tapi sepertinya kita seumuran jadi boleh kita bicara seperti biasa saja?" Balas Yudha.
"Boleh ! " Jawab Rayya.
Rayya meminta seseorang mengantarkan kursi dan meja untuk Yudha. Pria itu mengamati tiap sudut ruangan itu. Matanya tertuju pada meja Nazia.
"Di mana dokter, Zi ? Dari pagi aku belum melihatnya? Mobilnya juga tidak ada." Tanya Yudha.
Rayya menatap heran. Pertanyaan apa itu ? Apa dia tidak tahu jika hari ini Nazia dan Zevin cuti untuk bulan madu? Apa dia tidak dapat undangan dari Zevin? Bukankah ? Seluruh orang yang dikenal Zevin dan Nazia di rumah sakit ini sampai OB nya pun mereka undang kemarin?
"Apa kamu ketinggalan informasi?" Rayya balas bertanya.
"Aah, kemarin aku cuti ada urusan keluarga." Jawab Yudha tersenyum.
"Dokter Zi, sedang bulan madu bersama dokter Zev. Kemarin pernikahan mereka tadi malam resepsinya. Mungkin sekarang mereka dalam perjalanan. Jika undangannya tidak ada di meja kerjamu. Mungkin ada pada asistenmu." Jelas Rayya.
"Oh begitu." Jawab Yudha.
...----------------...
Di pesawat, Zevin menggerutu kesal karena Erik membelikan tiket kelas ekonomi, parahnya lagi di sebelah kursi Nazia ada pria tampan seusia Erik yang sering curi pandang istrinya.
Zevin terus menggenggam tangan Nazia sejak tadi. Dalam bayangannya mereka akan menghabiskan waktu selama satu minggu itu di luar negeri. Tapi dia salah !
Erik membeli tiket dalam negeri ke sebuah kota yang menyajikan pemandangan alam nan indah. Tak hanya itu Erik juga sengaja mengurus cuti mereka hanya satu minggu.
"Kamu kenapa sayang?" Tanya Nazia.
"Aku ngantuk ! geser sini aku butuh tubuhmu." Ucap Zevin manja. Matanya melirik pada pria yang di samping Nazia.
"Tidurlah !" Nazia memasang satu earphone nya di kuping Zevin. Lalu merebahkan kepala suaminya itu di bahunya.
Nazia mengusap-usap punggung tangan Zevin yang melingkar di tubuhnya sampai pria itu benar terlelap.
__ADS_1