
Zevin dan Erik menyusuri lokasi kejadian dan bertemu beberapa orang keamanan. Mereka dapat melihat tempat itu cukup berantakan dan adanya pecahan kaca jendela mobil milik Erik.
"Bagaimana, Pak? Apa kalian menemukan lokasi pengiriman pesan itu?" Tanya Zevin ramah.
"Sudah Tuan, Zev ! Lokasinya terletak di pinggiran kota butuh waktu satu jam ke sana." Jawab keamanan
"Baiklah sekarang masih jam dua, sebelum pagi kita sudah tiba di sana. Tapi saya membawa beberapa orang keamanan bersenjata lengkap dari Jaya Group. Apa mereka boleh bergabung?" Tanya Zevin.
"Boleh, Tuan."
Mereka mulai bergerak menuju lokasi penyekapan Ralda.
...----------------...
Di gudang tua Ralda diikat disebuah kursi dengan penampilan yang lusuh, tubuhnya sudah lelah karena meronta ingin membebaskan diri. Salah satu dari mereka tersenyum puas karena berhasil menculik Ralda.
"Sabarlah Ralda, suamimu pasti datang membawa uang tebusan untukmu." Ucap Rudi terkekeh senang.
Ya, yang menculik Ralda adalah Rudi dan kawan-kawan. Ia sejak sore sudah mengintai pergerakan Ralda dan Erik. Masih sampai saat ini, ia tetap menduga jika Zevin adalah suami Ralda.
"Sudah kukatakan dia bukan suamiku. Dia punya istri !" Ujar Ralda sedikit berteriak.
"Aku tidak perduli yang terpenting dia membawa uang tebusan itu. Tapi jika dia tidak datang sampai pagi maka aku harus menjual mu ! Andai saja kamu mau memberiku uang tidak mungkin aku menculik mu." Kata Rudi menggebu.
Ralda tersenyum sinis. "Siapa yang kamu peras ?! Dia bukan suamiku. Jadi percuma jika paman meminta uang padaku." Ia memberikan tatapan mengejek.
Sudut bibir Ralda berdarah, pipinya merah dan perih telah mendapat tamparan keras dari Rudi. Ralda tersenyum miris bercampur air mata, meratapi nasibnya.
Satu Jam kemudian mobil Zevin dan lainnya tiba di lokasi. Mereka tidak langsung masuk, tapi mengamati sekelilingnya.
"Apa benar ini tempatnya?" Tanya Zevin.
"Benar Tuan, bahkan ponselnya masih berada di tempat ini." Jawab salah satu anggota keamanan
"Baiklah, sepertinya itu gudang tempat mereka menyekap Ralda." Tunjuk Zevin.
"Benar Tuan, kita harus mencari tahu berapa orang di sana?" Ujar salah satu dari mereka bicara.
"Kalau begitu ayo cari tahu ! berapa orang di sana? jika jumlah mereka banyak maka saya akan meminta pertambahan anggota." Ucap Zevin.
"Tunggu, biarkan orang kami yang mencari tahunya" Balas keamanan
Setelah menunggu beberapa waktu, laporan datang bahwa para penyekapan itu berjumlah delapan orang termasuk ketuanya.
"Tuan, sepertinya. Kakak di sekap di lantai atas lihatlah sebagian dari mereka ada berjaga di atas." Seru Erik.
"Anda benar tuan Erik." Sahut polisi
Zevin menunjuk empat orang dari keamanan Jaya Group. "Kalian memanjatlah ke atas ! Lumpuhkan mereka." Titahnya dengan wajah datar.
"Baik, Tuan." Jawab Mereka serempak.
"Dan kalian pancing sisanya agar menjauh dari gudang." Titah polisi pada anggotanya.
Para pengawal mulai memanjat dinding dengan tali yang mereka bawa, setelahnya mereka mengamati situasi di dalam ruangan itu. Benar saja, Ralda terikat di atas kursi dengan tampilan acak-acakan. Meski pun waktu menunjukkan jam empat pagi tak menyurutkan semangat mereka untuk membebaskan Ralda.
Dari celah ventilasi udara, pengawal Zevin mulai mengatur cara melumpuhkan beberapa orang di lantai itu termasuk paman Rudi.
Peluru karet mengenai salah satu dari orang dalam ruangan itu hingga jatuh pingsan. Rudi terkejut begitu juga Ralda.
" Siapa itu ?! Jangan jadi pengecut menyerang dari kejauhan !!" Teriak Rudi sambil mengarahkan pisau ke arah Ralda.
Teman-teman Rudi tumbang semua dihantam peluru karet karena pengawal Zevin menembaknya tepat titik vitalnya.
Rudi kelimpungan, melihat teman-temannya tergeletak di lantai. Ia segera melepaskan tali dari tubuh Ralda yang mengikatnya di kursi.
"Sial ada yang ingin bermain-main rupanya !!" Gumam Rudi marah.
__ADS_1
Ia segera menyeret Ralda untuk turun ke lantai bawah. Sementara pengawal Zevin melompat ke atas balkon guna mengikat para pria bertubuh besar yang telah tidak sadarkan diri.
"Paman lepaskan aku ! Bukankah? Aku pernah mengatakan jangan mengganggu tuan, Zev ! Dia akan bisa berbuat lebih dari ini." Ujar Ralda.
"Jangan banyak bicara, kita harus tinggalkan tempat ini." Rudi masih menyeret Ralda.
Di lantai bawah, Rudi tercengang karena teman-temannya hilang entah kemana.
"Hei, kalian di mana ? Ayo kita tinggalkan tempat ini !!" Teriak Rudi.
Pintu gudang terbuka munculah sosok Erik di sana.
"Jadi kamu masih hidup? Ternyata nyawamu banyak juga ya." Seru Rudi terkekeh.
"Lepaskan kakakku !!" Titah Erik.
Rudi tertawa kembali. "Mana uang yang aku minta?"
"Kamu minta pada siapa? Suaminya?! Cih bahkan kakakku belum menikah !" Sinis Erik
Rudi menjadi geram "Kalau begitu kau harus ikut aku, kamu masih bisa menghasilkan uang untukku." Ia menyeret Ralda kembali.
"LEPASKAN." Teriak Erik. Ia ingin maju tapi langkahnya tertahan karena pisau sudah menempel di leher Ralda.
Ralda hanya bisa menangis karena ia sudah lelah adu mulut dengan pamannya. Terlebih melihat kondisi Erik yang kacau dan penuh luka lebam.
"Mundur ! Atau aku akan melukai kakakmu !" Ancam Rudi sambil bergeser menuju pintu gudang.
Erik terpaksa mundur melihat kondisi Ralda mulai berdarah di lehernya.
"Turunkan pisau itu !" Beberapa orang polisi menodongkan senjatanya ke arah Rudi.
"Tidak ! Minggir kalian !! Atau wanita ini terluka." Rudi mengancam lagi.
"Sekali lagi turunkan pisau itu, serahkan diri anda. Teman-teman anda sudah dibekuk anggota kami." Ujar polisi.
Pisau dari tangan Rudi lepas begitu saja. Dengan gesit Erik menarik Ralda ke sisinya. Kaki kanan Rudi lumpuh di atas lantai, ia meringis kesakitan.
"Bagaimana sakit ? Itu hanya peluru karet ! Bagaimana jika peluru sungguhan ?! Pasti sakit sekali. " Ujar Zevin melangkah mendekati Rudi.
"Brengsek !! Kau bermain-main denganku !!" Rudi menarik pisau ingin menyerang Zevin. Namun dengan sigap para polisi menahan pergerakannya.
"Hei pak Tua, bersyukurlah karena aku tidak menembak mu pada titik vital ! jika tidak, nasibmu pasti sama seperti mereka. Cih, merepotkan !!!" Sinis Zevin.
Rudi tercengang melihat tumpukkan teman-temannya seperti guling disusun. "Sialan kau !!" Bentak Rudi.
"Itu karena paman telah menampar kakakku." Ujar Erik.
Paman Rudi terkekeh merasakan bibirnya mengeluarkan darah. Tanpa menunggu lama para polisi membawa Rudi dan teman-temannya ke kantor untuk segera diproses.
Tim keamanan Zevin juga demikian, mereka meninggalkan tempat itu secara bersamaan.
"ERIK !" Teriak Zevin dan Ralda bersamaan.
"Tu—tuan kenapa dengan Erik ?" Tanya Ralda sabil menangis.
Zevin segera memeriksa denyut nadi Erik dan melihat jam di tangannya.
"Dia pingsan, anti nyerinya sudah habis. Makanya dia merasakan kembali sakit di sekujur tubuhnya. Karena fisiknya lelah jadi dia pingsan ." Jelas Zevin.
"Tuan biar saya mengemudi, anda bisa merawat tuan Erik sementara waktu." Ujar salah satu pengawal.
"Baiklah, kita harus segera ke rumah sakit. Erik harus mendapatkan pemeriksaan secara menyeluruh." Ujar Zevin.
Mereka segera melajukan mobil dengan kecepatan tinggi, beruntung masih pagi jalanan masih nampak sepi. Ralda cukup tenang karena Erik sudah dapat perawatan sementara dari Zevin, begitu juga dengan dirinya, Zevin sudah mengobati luka memar di wajahnya.
...----------------...
__ADS_1
Rumah Sakit Z.K
Waktu telah menunjukkan jam lima pagi, Erik telah dimasukkan keruangan IGD begitu pun dengan Ralda.
Ponsel Zevin bergetar di saku celananya. Ia segera menjawab telpon dari istrinya itu.
"Iya sayang." Jawab Zevin.
"Di mana? Apa Ralda ditemukan ?" Tanya Nazia cemas.
"Sudah sayang, sekarang di rumah sakit milik kita. Sebentar lagi aku pulang." Jawab Zevin.
"Iya, hati-hati." Balas Nazia mematikan telpon.
Zevin duduk di kursi tunggu, sambil mencari kontak Yudha. Ia ingin pria itu mengambil alih perawatan Erik.
"Kamu piket?" Tanya Zevin.
"Iya, ada apa? Apa terjadi sesuatu?" Tanya Yudha.
"Aku ingin kamu mengambil alih perawatan Erik, setelah selesai dari IGD." Ujar Zevin.
"Erik, kenapa dia ?" Tanya Yudha.
"Nanti aku jelaskan. Aku matikan dulu, dokter yang menanganinya disini sudah keluar." Jawab Zevin. Ia mematikan sambungan telpon lalu menghampiri dokter IGD. "Bagaimana kondisi mereka?" Tanya Zevin.
"Kalau nona Ralda, hanya bengkak dan lecet bagian kulitnya yang terkena gesekan tali. Dan untuk tuan Erik perlu rawat inap, ada memar di bagian dadanya. Sepertinya dia dapat hantaman yang kuat." Jelas dokter
"Baiklah, tolong pindah kan mereka ke ruang rawat VIP." Ujar Zevin.
"Untuk nona Ralda boleh pulang sekarang dokter, Zev." Balas dokter IGD.
"Kalau begitu Erik saja yang dipindahkan. Apa dia sudah bangun?" Tanya Zevin.
"Belum dokter." Jawab dokter IGD.
"Baiklah, saya akan pulang dulu. Nanti dokter Yudha akan mengurus semuanya." Balas Zevin.
Ia dan Ralda memutuskan pulang lebih dulu dan mempercayakan Erik pada Yudha. Walau berat hati tapi Ralda harus membersihkan tubuhnya dan istirahat lebih dulu.
"Terimakasih tuan, sudah menolong saya kembali." Ucap Ralda.
"Jangan sungkan kamu dan Erik sudah aku anggap sebagai adikku. Bisakah ? Jangan memanggilku Tuan, lihat adikmu itu bandel sekali tetap saja memanggilku tuan." Ujar Zevin.
"Baiklah, aku akan mengubah panggilanku." Balas Ralda.
Tanpa terasa mobil Zevin, berhenti di depan rumah tuan Indra. Di dalam sana penghuni rumah itu telah bangun.
"Sayang." Sapa Nazia.
Zevin tersenyum. "Kenapa bangun sepagi ini?" Balasnya Mencium kening istrinya.
"Aku tidak bisa tidur. Ralda bagaimana kondisimu? Apa ada yang terluka? Di mana Erik?" Cerca Nazia. Ia meraih Ralda kedalam pelukannya.
"Erik dirawat kak, aku baik-baik saja. Beruntung kak Zev dan Erik datang sebelum pagi. Jika tidak, paman akan menjualku." Jawab Ralda kembali menangis.
"Syutt, sudah jangan menangis sekarang kamu mandi dan istirahatlah." Balas Nazia.
"Maaf membuat kalian khawatir, maaf juga telah melibat kalian." Ujar Ralda menundukkan wajahnya.
"Jangan seperti itu, Nak. Kamu seperti putri kami. Ayo tante bantu kamu bersih-bersih. Kamu juga, Zev." Ujar ibu Felisya. Di balas anggukan oleh Ralda dan Zevin.
"Siapa yang menculiknya?" Tanya pak Indra setelah Ralda dan Ibu Felisya meninggalkan ruang keluarga.
"Rudi, paman mereka. Lihat leher Ralda sampai tergores pisau karena ulahnya." Jawab Zevin geram.
"Biar polisi yang mengurusnya, sekarang kamu istirahatlah, nanti Papa yang akan ke rumah sakit bersama Mama." Ujar pak Indra.
__ADS_1