
Hari semakin siang, Nazia merasakan kontraksi semakin lama semakin sering dan panjang. Zevin tak berpindah sedikit pun dari sisi Nazia, ketika kontraksi terasa. Ia membantu istrinya mengurangi rasa sakit itu dengan mengusap pinggulnya.
Kini Nazia dengan posisi duduk berhadapan dengan suaminya, kedua tangannya dilingkarkan ke leher Zevin. Sementara pria itu memeluk istrinya dengan sabar. Sebenarnya Zevin tak tega melihat Nazia menahan rasa sakit berkali lipat itu.
Para orang tua bergiliran masuk menemani Nazia dan Zevin. Bahkan para calon Kakek itu sengaja tidak masuk ke kantor hanya ingin menyambut cucu pertama mereka.
Jika kontraksinya hilang maka, Nazia akan jalan-jalan di dalam ruangan itu. "Sayang kamu istirahat ya."
Zevin merapikan anak rambut istrinya serta mencepolnya ke atas.
"Aku tidak lelah sayang." Balasnya lembut.
Nazia kembali merasakan kontraksi yang amat panjang. Tangannya refleks mencengkram lengan suaminya. "Sayang ayo keruang bersalin."
Zevin mengangguk dan memanggil perawat jaga di luar ruangan. Nazia dibaringkan di atas brankar dan didorong ke ruang bersalin. Para orang tua bergegas mengikuti.
Di ruang bersalin Dokter Farida telah menunggu. "Ayo, Zi. Semangat ya ! Sebentar lagi bayimu lahir, syukurlah perkiraan benar jam sepuluh."
Nazia mengangguk dan berbaring menghadap ke kiri. Jika kontraksi lagi ia akan berbalik. Zevin masih setia mendampingi istrinya. Pria ini berdiri di sisi ranjang membiarkan istrinya berpegang kuat di tangannya. Nazia merasakan kontraksi yang sangat panjang tak lama, ia merasakan ketubannya pecah.
"Siap, Zi. " Pandu dokter Farida.
Nazia mendorong dan mengatur nafasnya, sekuat tenaga dikerahkan melahirkan buah hatinya. Dalam dorongan ke tiga tangis bayi menggema di dalam ruangan bersalin.
Zevin terjongkok lemas ketika tangis bayinya terdengar. Ia bertumpu dengan kedua lututnya sambil tersenyum haru pada istrinya.
"Terimakasih sayang." Ia bangkit mengecup kening istrinya.
Dokter Farida, mengambil alih bayinya untuk dibersihkan dan ditimbang. "Selamat untuk kalian berdua ! Sekarang kalian menjadi orang tua. Bayinya laki-laki sesuai hasil USG ya. Fisiknya lengkap dan juga normal langsung pipis dan pup ya. Beratnya 2,7 kg panjang badannya 51." Ujar Dokter Farida panjang lebar.
"Terimakasih Dokter." Ucap Zevin tersenyum.
"Baiklah, sekarang bawa dulu putra anda ke ruang bayi, agar diperiksa lebih lanjut oleh Dokter anak. Sementara itu kami akan melanjutkan perawatan istri anda." Ujar Dokter Farida memberikan bayi pada Zevin.
Senyum Zevin mengembang saat menggendong putranya. Bayi itu begitu tampan wajahnya seperti Nazia sesuai keinginan Zevin. Ia memandang wajah bayinya itu penuh haru. "Terimakasih Tuhan, ini anugrah terindah kedua sesudah istriku. Kau berikan dalam hidupku. Terimakasih telah bertumbuh dengan baik di rahim Mamamu. Nak." Zevin mencium pipi merah bayinya.
Ia keluar bersama salah seorang perawat, di luar ruangan para Kakek dan Nenek itu berebut ingin melihat cucu pertamanya.
"Cucuku !" Pekik Pak Indra.
"Iya Pa." Zevin tersenyum.
"Wah, cantik sekali." Ucap Ibu Sherly girang.
"Dia tampan, Mama Sherly." Seru Zevin tertawa.
"Dia laki-laki." Sahut Ibu Mira
"Iya, Ma. Bayiku laki-laki."
"Ternyata aku salah." Ibu Sherly terkekeh.
"Selamat, Nak ! Sekarang kamu jadi Papa." Ucap Dokter Radit.
"Dia mirip, Zi." Tutur Pak Bram.
"Benar sekali, kamu tampan sekali sayang. Sana bawa dulu ke ruang bayi ! Setelah semuanya selesai biarkan satu ruangan sama Zi saja." Ujar Ibu Felisya.
Zevin mengangguk membawa putranya itu ke ruang bayi. Sementara itu Tuan Indra langsung mengabari Pak Ali.
"Ada yang bisa saya bantu, Tuan?" Tanya Pak Ali di telpon.
"Pak Ali, bagikan bonus pada karyawan Jaya Group tanpa terkecuali. Sebagai ucap syukurku atas kelahiran cucu pertamaku." Ujar Pak Indra senang.
"Nyonya Zi, sudah melahirkan?" Tanya Pak Ali.
"Iya, dan bayinya laki-laki." Pak Indra terkekeh.
"Selamat Tuan, anda sekarang menjadi Kakek." Ucap Pak Ali turut bahagia.
"Terimakasih Pak Ali, jangan lupa kabari Erik agar membantu Bapak." Ujar Pak Indra.
"Baik Tuan ."
Pak Indra mematikan telpon. Tak mau kalah, Pak Bram dan Dokter Radit juga melakukan hal yang sama. Beberapa saat kemudian, Nazia dipindahkan keruangan inap kembali. Para Nenek itu mengikuti brankar Nazia yang didorong dengan perlahan mereka membantu perawat memindahkan Nazia ke atas ranjang.
__ADS_1
Zevin masuk membawa putranya itu dan membaringkannya di sisi istrinya. "Sayang, lihat bayi kita ! Dia sangat mirip denganmu." Ujarnya tersenyum.
Nazia melihat ke arah putranya, tangannya terangkat mengusap lembut pipi bayi mungil itu.
"Selamat datang di kehidupan Mama dan Papa sayang."
Satu persatu-satu, mereka menggendong dan menimang bayi kecil itu. Yang paling banyak menggendong bayi itu adalah Pak Indra. Beliau orang yang terlampau bahagia atas kelahiran cucunya. Sejak tadi ia menggendong dan bernyanyi.
"Stop ! Pa." Zevin menghentikan Papanya.
"Kenapa?"
"Suara Papa sumbang, nanti merusak pendengaran putraku." Jawab Zevin merapikan rambut yang menutupi wajah istrinya tanpa menoleh pada sang Papa yang kesal.
"Ish ! Anak ini, dia saja tertidur nyenyak di gendonganku, saat aku menyanyi." Gerutu Pak Indra.
"Mungkin Zaman itu suara Papa masih bagus, karena faktor usia jadi suara Papa juga berubah." Sahut Ibu Felisya terkekeh.
"Kalian mengeroyok Papa !" Ucap Pak Indra menaruh cucunya kembali ke atas kasur.
"Keponakanku !" Pekik Ivan di depan pintu. Dengan hebohnya dia membawa kotak mainan hingga penuh tangan kiri dan kanannya.
"Jangan berteriak nanti dia bangun !" Tegur Zevin.
Ivan menutup mulutnya lalu melangkah pelan. "Hei keponakan Om, wah dia tampan sepertiku." Ucapnya berbisik melihat ke dalam box bayi.
"Tidak berbisik seperti itu juga, Van." Seru Dokter Radit.
Ivan terkekeh dan berkata. "Nanti dia bangun, Pa."
"Karena Zi. Sudah melahirkan kita pamit pulang dulu ya, besok kami ke sini lagi. Atau ketika Zi pulang ke rumah nanti." Pamit Ibu Sherly.
"Iya, Ma. Hati-hati di jalan. Seringlah ke rumah dia cucu mama juga." Ujar Nazia.
"Tentu, Sayang. Sekarang mama sudah ada Yudha, jadi mudah kalau kemana-mana." Ucap Ibu Sherly.
"Tidak perlu sungkan, Mama Sherly bisa meneleponku untuk dijemput." Seru Zevin.
"Iya, Nak. Kami pulang dulu ya." Ujar Ibu Sherly.
"Kak, Aku ke resto dulu ya."
"Iya, hati-hati di jalan." Ujar Zevin.
Nazia menguap, sepertinya dia baru merasakan efek lelahnya setelah melahirkan. Zevin masih duduk diantara box bayi dan ranjang istrinya.
"Sayang kamu sudah makan?" Tanya Nazia.
Zevin menggeleng. "Nanti saja sayang. Aku belum puas melihat wajah putra kita."
"Aku mengantuk, nanti jika perawat masuk memandikan bayi kita. Bangunkan aku ya."
"Iya sayang, tidurlah. Aku di sini menunggu kalian berdua." Zevin mengecup kening istrinya lalu membenarkan selimut.
Zevin berpindah menghadap box bayinya lagi. Ia masih saja menatap wajah putranya sembari tersenyum saat bibir bayinya seperti bergerak-gerak.
Pintu ruangan terbuka, nampak Rayya dan Yudha masuk ke dalam.
"Zi, tidur." Bisik Rayya.
"Iya,"
"Selamat, Zev." Ucap Yudha.
"Terimakasih, Yud. Apa bonusnya sudah kamu bagikan ?" Tanya Zevin.
"Sudah."
"Wah, putramu tampan ! Zev." Puji Rayya.
"Wajahnya mirip, Zi." Sahut Yudha.
"Iya, lihat bibirnya merah, 'kan? Lucu ya seperti ngemut permen kadang bulat kadang juga tersenyum" Cerita Zevin antusias.
"Bagaimana rasanya jadi ayah?" Tanya Rayya.
__ADS_1
"Tidak bisa diucapkan dengan kata-kata. Aku sangat bahagia, walau sebelumnya aku sempat ketakutan dengan mimpiku tadi malam"
Yudha terkekeh. "Kamu hanya tertekan saja. Sekarang semuanya baik-baik saja. Kalau begitu aku kembali keruangan dulu ya. Nanti aku kesini lagi."
"Tunggu, Yud ! Aku juga mau pulang, sudah habis jam kerjaku. Kami pulang ya, nanti malam kami kesini lagi jika tidak berhalangan." Ucap Rayya.
"Iya, hati-hati ! "
Nazia tertidur sangat nyenyak, tubuhnya terasa sakit semua. Meski begitu ia bahagia karena putranya terlahir dengan selamat.
"Sayang, Aku di sini." Samar-samar Nazia merasakan pipinya dielus lembut.
Perlahan ia membuka mata, semakin lama, penglihatan nya semakin jelas. "A—abel ! Ka—kamu di sini." Ucapnya terbata.
Pria itu Abel, dia sangat tampan mengenakan pakaian serba putih. Wajahnya bersih dan bersinar.
"Iya, ini aku. Selamat sayang kamu telah jadi ibu. Putramu sangat tampan bahkan dia tak memberikan kesempatan sedikit pun wajah pria itu mirip dengannya." Ucap Abel tersenyum. Senyum itu sangat tulus.
"Kenapa baru datang setelah hari itu? Kamu jahat ! Aku berusaha menekan rasa rinduku selama ini. Dadaku sesak menyimpan rindu itu." Isak Nazia.
"Syutt, jangan menangis sayang. Aku lebih merindukanmu. Aku ada disini" Abel membawa Nazia kedalam pelukannya.
Tangis Nazia semakin pecah. Abel hanya tersenyum mengusap punggung wanita yang dicintainya itu. Setelah terluapkan rasa rindunya, Nazia melonggarkan pelukannya.
"Maaf...maaf, mengkhianatimu. Aku tidak setia dengan cinta kita." Ucap Nazia sesegukkan.
"Hei, jangan begini. Aku bahagia kamu bahagia, kamu pantas melanjutkan hidup. Karena aku yakin dia pria yang lebih mencintaimu, lihat dirinya sejak tadi tak beralih melihat wajah putra kalian. Kamu pantas bahagia sayang. Aku tetap mencintaimu meski tak terlihat. Terimakasih masih ada namaku di sini." Abel menunjuk dada Nazia.
"Sampai kapan pun, aku tidak bisa lupa. Meski aku telah hidup bahagia." Nazia menyeka air mata nya.
Abel tersenyum lalu mengecup kening Nazia. "Sayang, aku pamit ya. Bawalah putramu berkenalan denganku nanti, ketika dia sudah bisa melangkah." Abel menggenggam kedua tangan Nazia dan mengecup punggungnya.
Nazia mengangguk dan berkata. "Terimakasih telah datang. Meski aku menunggu saat-saat seperti ini bertahun lamanya." Ia memeluk Abel kembali. Isak tangis Nazia terdengar lagi bahkan lebih pilu.
...----------------...
Zevin terkejut mendengar isak istrinya. Ia segera membangunkan Nazia. "Sayang, kamu kenapa? Apa yang sakit?"
Nazia terbangun, membuka perlahan matanya pandangan tertuju pada wajah suaminya yang menatap dirinya khawatir.
"A—aku bermimpi. Maaf membuatmu cemas." Ujar Nazia setelah sadar sepenuhnya.
"Minum dulu ya. Sudah enam jam setelah kamu melahirkan sebentar lagi mandi ya sayang." Zevin mengambil segelas air putih.
"Iya, apa bayi kita sudah mandi? Apa dia rewel saat aku tidur?" Tanya Nazia.
"Belum sayang, sebentar lagi perawat akan datang. Kalian berdua akan mandi." Zevin merapikan anak rambut Nazia yang berantakan. Ia mengecup kening istrinya begitu lama.
"Kamu sudah makan?"
"Sudah sayang baru saja." Jawab Zevin.
Tak lama, dua orang perawat datang memandikan bayi Naiza, begitu juga dengan dirinya di bantu oleh Zevin untuk mandi. Pria itu benar tipe suami idaman. Dua perawat itu iri atas perhatian Zevin pada istrinya.
"Sayang, aku telpon Yudha dulu ya."
"Iya."
Zevin segera meraih ponselnya di atas meja dan menekan kontak Yudha di sana.
Di ruangannya, Yudha sedang termenung memikirkan hadiah apa yang cocok untuk Nazia dan bayinya. Di kejutkan dengan getaran dari ponselnya.
"Iya, Zev."
"Minta bed nomor dua." Ujar Zevin.
"Baiklah, tunggu saja ! nanti beberapa orang mengantarnya. Apa ada lagi?" Tanya Yudha.
"Ah, seprai baru. Bantal dan gulingnya semua baru, beli bed yang baru untukku dan putraku." Titah Zevin.
"Iya, tunggu saja."
"Terimakasih." Zevin memutuskan telpon.
Yudha menatap ponselnya lalu tersenyum kesal. "Apa dia mau membuat kamar itu menjadi kamar hotel?" Gerutunya pada ponsel.
__ADS_1