Suami Manja Dokter Zi

Suami Manja Dokter Zi
Ambisi Menguasai


__ADS_3

Satu Minggu Kemudian...


Setelah dirawat selama satu minggu di rumah sakit kini Sherin diperbolehkan pulang. Nazia dan Zevin datang ke ruangan Sherin untuk memberikan hadiah untuk putri kecilnya.


Sherin tersenyum hangat melihat kedatangan Nazia dan Zevin.


"Terimakasih sudah merawatku." Ia menggenggam lembut tangan Nazia.


Nazia membalas genggaman  ibu satu anak  itu. "Itu kewajibanku, apa Alby datang kemari?" 


"Tidak, dia hanya datang saat aku operasi itu pun. Hanya sebentar untuk melihat putriku saja." Kata Sherin tersenyum tanpa beban.


Nazia melangkah ke arah box bayi.


"Masih ada putrimu yang cantik ini menemani keseharianmu." Ia mengangkat tubuh mungil itu dan menggendongnya.


Zevin hanya diam saja dan meletakkan paper bag di atas meja, pria ini bicara seperlunya saja. Tidak ada senyum atau candaan seperti pada umumnya. Sesekali ia mengambil momen saat istrinya menggendong bayi Sherin menggunakan ponselnya.


Nazia meraih paper bag di atas meja.


"Ini hadiah untuk si cantik." Ia meletakkan paper bag di atas kasur.


Sherin menerimanya dengan senang hati. "Terimakasih." Ucapnya tulus.


Pintu ruangan terbuka. Masuklah pak Toni, ibu Siska dan Alby. Baru saja pria itu dibicarakan sekarang menampakkan dirinya di sana. Zevin menyimpan kembali ponselnya ke dalam saku celananya dan berdiri.


"Selamat siang, Apa kabar pak Toni?" Sapa Zevin mengulurkan tangannya untuk bersalaman.


"Selamat siang, kabar saya baik dokter, Zev." Balas pak Toni ramah membalas menyalami Zevin.


Zevin melihat pada Alby.


"Kamu datang Tuan muda?" Tersenyum tipis pada mantan rivalnya itu


"Tentu, aku ingin melihat bayi cantik ini." Alby melangkah menghampiri Nazia yang tengah menggendong bayi Sherin.


"Sayang, sepertinya kita harus pulang."


Berani sekali dia menghampiri istriku


"Baiklah, ini putrimu beri asi yang cukup ya! jaga kesehatan." Nazi meletakkan bayi Sherin ke dalam box bayi lagi.


"Semuanya kami pamit dulu." Pamit Zevin menggandeng tangan istrinya.


"Terimakasih dokter Zev, dokter Zi! Sudah menemani Sherin sebelum kami datang." Ucap ibu Siska.


"Sama-sama tante !"


"Tuan muda kami duluan ya." Pamit Zevin tersenyum.


Alby mencebik kesal.


"Bisakah ? Memanggil namaku saja ?!"


"Tergantung kondisi." Zevin menarik tangan istrinya ke luar dari ruangan Sherin.

__ADS_1


...----------------...


Beberapa hari kemudian...


Di sinilah restoran milik Ivan, Nazia menunggu ke datangan pak Reza dan asistennya. Karena beberapa jam lalu mereka membuat janji temu. Kali ini Zevin ikut serta namun hanya mengawasi dari dalam. Ia sengaja mengatur tempat agar dirinya bisa secara langsung memantau istrinya. Diam-diam Zevin meminta Erik untuk memasang penyadap suara.


"Maaf saya terlambat."


"Tidak apa-apa, silahkan duduk ! Langsung saja ada apa sehingga membuat janji temu lagi ?" Ujar Nazia menyandarkan tubuhnya di sandaran kursi.


Pak Reza tersenyum tipis.


"Jangan buru-buru dokter, Zi. Lebih baik kita pesan makanan atau minuman terlebih dulu."


"Saya tidak memiliki waktu banyak."


Pak Reza menegakkan posisi tubuhnya. "Baiklah kalau begitu, saya hanya ingin mendengar keputusan anda tentang tanah itu?" Mimik wajahnya terlihat datar dan serius.


Nazia menghembuskan nafasnya kasar meluapkan kekesalannya.


"Keputusan saya tetap sama, tanah itu tidak akan saya jual." Membalas tajam tatapan pak Reza.


Pak Reza kembali menyadarkan tubuhnya di kursi. "Anda yakin? ayolah dokter, Zi ! Saya sangat perlu tanah kosong itu." Ia berusaha membujuk.


"Maaf tuan, keputusan saya tetap. Tanah itu tidak akan saya jual kepada siapa pun. Saran saya lebih baik anda mencari tanah kosong lainnya."


Pak Reza terlihat geram, ia mulai menjalankan rencana selanjutnya.


"Saya punya tawaran untuk anda dokter ! Tinggalkan suami anda dan menikahlah pada putra saya dengan begitu anda masih bisa memiliki tanah itu."


Nazia dan pak Reza menoleh ke asal suara. Zevin melangkah menghampiri mereka lalu duduk di sebelah istrinya.


"Siapa anda ?! Jangan ikut campur dengan urusan orang lain." Kata pak Reza kesal karena Zevin tiba-tiba datang.


"Anda sudah memaksa istri saya !!" Zevin menatap tajam pada pak Reza. Sementara itu asistennya hanya diam membisu.


Pak Reza melihat Zevin dari ujung kepala sampai ujung kaki. Sangat standar tidak seperti putranya yang selalu ditempel barang-barang mewah.


"Oh jadi anda suami dokter, Zi ! Kalian ini manusia punya pemikiran seperti apa ?! Saya berniat memberikan kalian kehidupan yang layak dan mewah dengan cara membeli tanah itu, tapi istri anda ini malah menolaknya." Ujar pak Reza sinis.


Zevin terkekeh


"Kehidupan kami sudah baik ! Terimakasih anda sangat memperhatikan kami berdua, tapi tetap saja istri saya tidak akan menjual tanah itu." Ucapnya santai.


"Cih ! Saya yakin istri anda ini tidak akan hidup dengan baik mendapatkan suami berpenghasilan rendah seperti anda, berbeda dengan putra saya seorang pengusaha. Dokter Zi pikirkan tawaran saya tadi, jika anda setuju meninggalkan suami anda ini maka saya janjikan kehidupan yang lebih mewah untuk anda bersama putra saya." Kata pak Reza.


"Pa, Cukup ! Jangan membuat masalah ! Jangan memaksa Zia, aku sudah pernah mengatakan jika papa mengganggu mereka maka akan berhadapan langsung denganku !" Seru Alby datang bersama Jimmy.


Beberapa saat lalu ia mendapat laporan dari Jimmy jika ayahnya menemui Nazia untuk memaksanya kembali.


"Jangan ikut campur ! Al. Harusnya kamu bersyukur papa mengembalikan wanita ini padamu !" Ucap pak Reza. marah karena kedatangan Alby.


"Jika menyangkut mereka maka aku akan ikut campur ! Apa cabang perusahaanku kurang untuk papa?!"


"Di mana ambisius mu dulu, Al ?! Ayolah jangan seperti ini ! " Bujuk pak Reza.

__ADS_1


Alby tak menggubris ayahnya. Karena kesal pak Reza meninggalkan tempat itu.


"Kalian tidak apa-apa?" Tanya Alby menarik kursi dan duduk menghadap Zevin dan Nazia.


"Tidak apa-apa ! Melihat caramu tadi sepertinya kamu tidak terlibat dengan ayahmu itu. Tapi jika sampai kamu terlibat maka aku tidak akan tinggal diam !"  Zevin sengaja mengancam Alby.


"Aku tidak terlibat apa pun. Aku juga sudah berulang kali mengingatkan papaku." Alby merasa tidak enak hati pada Nazia dan Zevin.


"Dokter, Zev. Tuan muda murni tidak terlibat apa pun. Zi percayalah, jika nanti tuan Reza meminta bertemu lagi sebaiknya dihindari saja." Kata Jimmy membenarkan perkata Alby sekali gus memberikan saran untuk Nazia.


"Iya aku akan menghindar,  terimakasih kak Jimmy, Al ! Kami pamit dulu." Ucap Nazia.


"Iya, jika ada apa-apa hubungi aku." B


Nazia mengangguk


"Ayo sayang kita pulang ! Ivan juga ikut."


"Baiklah," Zevin menggenggam tangan istrinya masuk ke dalam ruangan Ivan.


Alby mengepalkan tangannya kesal.


"Papa sangat keterlaluan ! Jim, awasi papa dan asistennya itu. Kamu pasti tahu papa seperti apa orangnya." Ia beranjak dari kursinya untuk pergi.


"Iya tuan, saya akan mengawasi tuan Reza." Jimmy melangkah mengikuti Alby keluar dari tempat itu.


Di mobil, Zevin nampak diam tak banyak bicara seperti biasanya. Nazia dan Ivan merasa heran, apa sebenarnya yang dipikirkan Zevin?


"Kamu memikirkan apa?"


"Memikirkan kamu sayang ! Sepertinya aku harus meminta beberapa orang pengawal menjagamu." Ucap Zevin.


"Jangan berlebihan aku tidak apa-apa."


"Kak, Zev ! Benar, Zi. Siapa tahu pak Reza berniat jahat padamu." Sahut Ivan sambil mengemudi.


"Jangan berpikiran buruk, Van."


Zevin tersenyum lalu menggenggam tangan Nazia dan menciumnya.


"Baiklah, jangan dipikirkan lagi. Jika nanti pria tua itu menemuimu biar aku yang menghadapinya." Ia membawa tubuh istrinya kedalam pelukannya.


Nazia mengangguk tanpa menjawab, ia melepaskan rasa lelahnya hari ini dengan bersandar di dada bidang suaminya itu.


Aku tidak akan membiarkan hal buruk terjadi padamu sayang, seberapa pun usaha mereka ingin mendapatkan tanah itu tidak akan kulepaskan begitu saja.


Zevin mengecup lembut pucuk kepala istrinya.


...----------------...


Di tempat lain pak Reza menghamburkan seluruh barang di atas meja kerjanya.


" Sialan !! Kenapa, Al ? Ada disana


Bagaimana pun juga aku harus mendapatkan tanah itu. Investor itu sudah menelponku berulang-ulang. Siapa lagi yang siap mengucurkan dana sebesar itu? kalau bukan dia." gumam pak Reza.

__ADS_1


__ADS_2