
Masih Kilas Balik
Erik yang telah memiliki wajah datar dan cool semakin dingin saja setelah mendengarkan penuturan Alby beberapa detik lalu.
"Kamu serius ? " Tanya Erik tanpa ekspresi.
Alby hanya mampu mengangguk, lidahnya kelu ingin bersuara. Suasana tak sesantai yang Alby pikirkan, aura dingin Erik begitu kentara dibandingkan Zevin yang selalu bersikap hangat dan ramah.
Erik menghela nafas panjang dengan tatapan lurus menerawang keluar balkon kamarnya lalu ia berkata.
"Aku dan Kak Ralda hidup sebatang Kara. Karena mendiang orang tua kami adalah anak tunggal, setelah mereka meninggal. Kami di asuh oleh paman Rudi saudara tiri almarhum Papa. Dia sangat jahat memperlakukan kami tidak manusiawi. Di usiaku yang masih remaja diharuskan banting tulang untuk memenuhi kehendak paman jika tidak, maka dia akan menjadikan kakak sebagai mesin uangnya. Keluarga kami sangat sederhana, tidak bergelimang harta. Di saat malam menyedihkan itu terjadi, aku bertemu dengan tuan Zev. Aku menganggapnya malaikat penolongku yang di kirim Tuhan melalui dirinya. Hidup yang kami jalani saat ini lebih baik karena kebaikan tuan Indra sekeluarga. Setelah kamu tahu latar belakang keluarga kami, apa kamu masih ingin menjadikan kakakku istri mmu?" Tanya Erik melemparkan pandangannya pada Alby yang tengah membisu menyimak ceritanya.
"Apa pun latar belakang kalian, aku tetap melamar Rara sebagai istriku menjadikannya ibu dari anak-anakku kelak." Jawab Alby tanpa ragu.
"Apa keluargamu menerima kakakku dengan baik, setelah tahu kehidupan kami sebelumnya?" Erik memastikan lagi
"Andai pun keluargaku ada yang tidak menerima. Tetap aku akan menikahi kakakmu tanpa atau dengan persetujuan mereka. Kehidupanku hanya diriku yang menentukannya bukan orang lain." Jawab Alby yakin.
Erik kembali memandang ke luar balkon. "Jika suatu hari nanti kakakku tidak bisa mendampingimu sesuai dengan yang di impikanmu maka, apa yang kamu lakukan?"
"Aku akan tetap bersamanya. Aku tidak ingin berjanji tapi lebih baik membuktikannya." Jawab Alby.
Erik tersenyum tipis, ia cukup puas dengan jawaban Alby. "Karena kami tidak memiliki orang tua, maka kamu harus melamar kakakku pada tuan Indra yang kupercaya sebagai orang tua pengganti." Balas Erik.
Alby tersenyum dapat lampu hijau.
"Aku sudah melamar kakakmu pada mereka semua. Jawabannya, mereka menerima lamaranku. Tadi malam aku datang bersama kakakku dan suaminya." Jelas Alby.
Erik terkejut, ternyata Alby benar-benar serius ingin memperistri kakaknya "Baiklah, kalau begitu persiapkan dirimu besok sore. Aku sendiri yang mengkonsep acara lamaran kakakku." Erik pertama kali tersenyum pada Alby.
"Ja—jadi kamu menerima lamaranku juga?" Tanya Alby antusias.
"Iya." Jawab Erik.
"Terimakasih." Alby refleks memeluk Erik.
"Ahhh." Ringis Erik. Tangannya yang terkilir masih terasa sakit.
"Maaf - maaf. Aku tidak sengaja." Ucap Alby senang.
Setelah berbincang cukup lama , Alby dan Erik keluar bersamaan tepat saat Ralda memanggil mereka untuk makan siang.
__ADS_1
Kilas Balik Selesai
...----------------...
Di Resort
Mereka membahas pernikahan Alby yang akan dilaksanakan dua minggu lagi.
Acara lamaran dadakan dari Alby membuat semua pihak terlibat menggerutu. Termasuk Zevin, setelah Ralda pamit pulang dari kantor. Alby mengirimnya pesan untuk bersiap karena ada Helikopter yang akan menjemput Zevin di atas gedung kantor miliknya.
Zevin dan Ivan bertugas menghamburkan bunga dari atas sana sementara itu, Jimmy dan Jo kebagian untuk mengabadikan moments. Lalu Vian dan Rayya serta Nazia bagian konsumsinya. Sementara Erik yang mengatur rencana.
Usai acara lamaran Zevin dan yang lainnya kembali bekerja seperti biasa. Nazia membuka gorden balkon kamar seperti biasa setelah membantu Kiki menyiapkan sarapan mereka.
"Sayang bangun." Nazia mengecup pipi suaminya.
Zevin mengerjap, setelah matanya terbuka sempurna ia tersenyum pada istrinya dan berkata. "Kamu sudah wangi sayang, sini aku mau peluk kamu sebentar." Ucapnya manja.
Nazia mendekat lalu duduk di tepi kasur membiarkan suaminya duduk dan memeluknya.
"Ayo mandi biar segar." Ujar Nazia lembut.
Zevin mengangguk dan segera masuk ke kamar mandi. Sementara itu Nazia merapikan kasur dan menyiapkan pakaian kantor suaminya.
"Sini aku keringkan." Nazia berdiri di hadapan suaminya.
Zevin tersenyum lalu mengecup perut Nazia penuh cinta. Ia sangat gemas pada perut istrinya yang terlihat benjol ke kiri dan ke kanan itu pertanda bayinya aktif bergerak.
"Sayang apa perutmu sakit kena tendangan dan sikutnya?" Tanya Zevin tersenyum mengusap perut Nazia yang terlihat menonjol.
"Kadang ngilu." Jawab Nazia.
"Nak, kamu dengar ! jangan keras-keras ya. Mamanya ngilu." Zevin menempelkan pipinya di kulit perut Nazia. Ia sengaja menyingkap baju istrinya ke atas.
Usai bersiap, Zevin dan Nazia turun ke bawah ikut bergabung di meja makan.
"Selamat pagi. Tuan, Nona ." Sapa Erik.
"Pagi, Rik." Balas Nazia.
"Di mana Ivan?" Tanya Zevin karena tidak melihat keberadaan Ivan.
__ADS_1
"Aku disini, Kak." Ujar Ivan baru ikut bergabung. Mereka sarapan dalam diam, Kiki juga ikut bergabung.
"Sayang, aku berangkat ya. Jangan mengerjakan pekerjaan berat." Pamit Zevin mengecup kening istrinya.
"Iya hati-hati sayang." Balas Nazia.
"Aku juga, Zi." Seru Ivan.
"Iya."
Para pria itu meninggalkan rumah, Nazia dan Kiki melanjutkan sarapan mereka.
...----------------...
Kantor JG pusat
Zevin melangkah masuk ke dalam gedung bersama Erik di sampingnya.
"Selamat pagi tuan, Zev." Sapa Maura resepsionis
"Pagi Maura." Balas Zevin ramah.
Erik hanya diam tanpa membalas wajah datarnya semakin gemas untuk dilihat.
Zevin melangkah terus menuju lift khusus dirinya. Namun tanpa disangka, seorang OB menabrak Zevin. Alhasil gelas yang dibawanya jatuh ke lantai dan pecah, jas Zevin menjadi basah.OB itu mematung di tempatnya berdiri, ia bukannya takut tapi terpesona dengan ketampanan Zevin.
"Hei apa yang kamu lakukan ?! Cepat bereskan ini semua !!" Bentak Erik.
Maura sigap memberikan tissue pada Erik untuk mengurangi resapan air di jas Zevin. OB tadi tak bergeming ia menatap Zevin tak berkedip.
"Maafkan dia tuan, tadi saya yang memintanya membuatkan teh ." Seorang karyawan pria datang menghampiri Zevin dan Erik.
"Kenapa kamu yang minta maaf ?!" Erik memberikan tatapan tajamnya.
Pria itu menunduk lalu menyentuh lengan OB itu. "Hei kamu minta maaflah pada tuan Zev, dia presdir di sini."
Seakan tersadar dari rasa kagumnya. OB wanita ini langsung tersenyum.
"Maafkan saya, Tuan. Biar saya yang akan membersihkan jas anda." Ia meraih tissue dan ingin menempelkannya di dada Zevin.
Sontak saja Zevin mundur satu langkah. "Jangan menyentuh saya !!" Ia marah atas keberanian OB itu ingin menyentuhnya. OB itu terdiam, begitu juga pria di sampingnya. Tatapan Zevin menusuk. "Bekerja dengan benar, karena kelengahan anda bisa mencelakakan orang lain !" Ucap Zevin dingin. Ia meninggalkan tempat itu untuk masuk ke dalam lift nya.
__ADS_1
Erik memperhatikan kerumunan karyawan. "Kembalilah bekerja !" Tegasnya. Ia mengembalikan tissue pada Maura. Wanita itu tersenyum menerima tissue dari Erik.