Suami Manja Dokter Zi

Suami Manja Dokter Zi
Sebelum lamaran


__ADS_3

Zevin turun dari helikopter nampak berkarisma dari jauh. Tubuhnya dibalut pakaian santai terlihat berkali lipat ketampanannya.


Bak anak kecil, Zevin dan Ivan berkejaran di tepi pantai. Ivan ingin sekali naik ke punggung Zevin. Untuk menghindari itu suami Nazia ini berlari menjauhi Ivan.


"Sayang, mereka membuatku iri." Adu Zevin nafasnya tersengal karena berlari.


"Apa lamaranmu, tidak romantis?" Ejek Alby.


"Bagaimana mau romantis dia saja mau kabur !" Sahut Vian datang untuk bergabung.


"Benarkah ?" Tanya Alby penasaran. Ia memang tidak tahu proses lamaran Zevin pada Nazia.


"Benar sekali, Kak Zev takut jika kak Zi tidak mencintainya. Karena waktu itu Om Indra secara langsung melamar Kak, Zi. Jadi dia sempat salah faham disangkanya Om Indra melamar Kak Zi untuk menjadi istri kedua papanya." Cerita Ralda


Zevin semakin terpojok dengan wajah kesal memeluk Nazia dari belakang. "Kenapa kamu tidak menyiapkan lamaran untukku lebih romantis dari ini." Protes Zevin pada Erik yang baru saja tiba.


"Tidak ada dalam naskah, Tuan." Jawab Erik seadanya.


Selain Ivan, Erik juga ada bersama Zevin di dalam helikopter. Zevin mendengus sebal lalu membenamkan wajahnya di ceruk leher Nazia. Dalam hatinya terkekeh senang karena Ivan datang dengan nafas tersengal. Jimmy menatap kesal Zevin dan Alby yang memeluk pasangannya masing-masing.


"Dasar pasangan tidak berakhlak, tidak tahukah mereka di sini masih ada jiwa yang kesepian !!" Gerutu Jimmy.


Jo dan Erik yang berdiri di samping Jimmy hanya menahan tawa. Bisa juga Jimmy ngedumel pikir mereka.


Senja telah nampak terlihat bias ke emasannya sangat indah, sama seperti perasaan dua pasangan insan yang tengah berdiri saling bergenggaman mesra menanti sunset di bibir pantai.


Setelah matahari benar-benar tenggelam. Semua orang berpindah tempat, yaitu menuju resort milik keluarga Indra jaya yang tak jauh dari sana.


Di tempat itu, semua keluarga sudah hadir, di sana ada pak Indra dan Ibu Felisya serta Erika dan suaminya lalu ibu Anggi.


"Apa ini calon menantu mama?" Tanya ibu Anggi berbinar.


"Iya, Ma. Kenalkan ini Ralda dan ini Erik adiknya. Mereka tidak memiliki keluarga selain keluarga Om Indra." Jelas Alby.


"Saya Ralda Tante." Ralda mengulurkan tangannya pada ibu Anggi yang disambut hangat oleh wanita paru baya itu.


"Jangan canggung, Nak. Panggil mama jangan Tante !" Balas ibu Anggi memeluk Ralda.


"Selamat ya, maaf tidak mengenalimu tadi." Ujar Erika bergantian memeluk Ralda.


"Tuan Indra, Nyonya Felisya. Saya meminta maaf atas perlakuan suami saya pada keluarga kalian." Ucap ibu Anggi tulus.


"Iya, Nyonya Reza. Sekarang lupakan masa lalu. Kita akan jadi keluarga." Balas Pak Indra


"Benar sekali, Ralda putri kami jadi sekarang kita akan menjadi besan." Tambah ibu Felisya.


"Terimakasih." Balas Ibu Anggi tersenyum


Pak Indra melihat ke arah putranya yang terlihat kesal. "Kamu kenapa, Nak?" Tanyanya


"Gara-gara papa, aku tidak bisa melamar istriku dengan romantis." Jawab Zevin.


Sesaat kemudian semua orang tertawa mendengar penuturan Zevin. Ternyata putra Tuan Indra itu iri karena karena tidak melamar Nazia dengan romantis.

__ADS_1


"Hei, kalau bukan papa, mana mungkin Zi mau mengakui cintanya." Balas pak Indra merasa benar.


"Sudahlah jangan dibahas lagi, sekarang mari kita duduk sambil membahas tanggal pernikahan Al dan Ralda." Seru ibu Felisya.


Semua orang setuju, mereka duduk mengelilingi meja besar, Alby telah menyiapkannya dengan baik. Tak hanya itu, semua ide lamaran datangnya dari Erik sendiri. Ia ingin memberikan kenangan terindah untuk kakaknya.


...----------------...


Kilas Balik


Beberapa jam sebelum lamaran...


Alby sengaja tidak menemani Ralda ke rumah sakit menjaga Erik  sore hari ini, karena ia harus menyelesaikan pekerjaannya terlebih dulu. Ralda tidak keberatan dengan hal itu karena sebentar lagi Zevin dan Ivan datang menggantikannya.


Malam hari sebelum kepulangan Erik dari rumah sakit. Alby mendatangi kediaman tuan Indra bersama Erika dan suaminya. Ingin Ia mengajak ibu Anggi tapi Alby masih ragu.


Kedatangan mereka disambut baik oleh keluarga pak Indra. Di sana tak hanya ibu Felisya dan Pak Indra saja tapi juga ada Zevin dan Nazia.


"Om, tante. Kenalkan ini kakak u dan suaminya." Alby memperkenalkan kedua kakak nya.


"Erika tante dan ini suamiku Denis." Erika memperkenalkan dirinya dan suami.


"Kami orang tua Zevin, senang bisa bertemu dengan kalian terutama anda tuan Denis. Tak menyangka anda bagian keluarga tuan Reza." Balas pak Indra tersenyum.


"Benar tuan, saya merasa terhormat bisa langsung berkunjung ke rumah anda." Balas Denis menyapa.


"Jangan sungkan , Nak ! Kita di luar jam kerja. Santai saja dan kenalkan ini putraku Zevin dan istrinya Nazia." Pak Indra memperkenalkan anak menantunya


"Benarkah ? di mana?" Tanya Alby.


"Dia teman SMA ku, tapi aku tak menyangka dia adalah putra pak Indra." Sahut Denis.


"Pantas saja kalian biasa saja." Sahut Erika.


Denis dan Zevin saling rangkul. Mereka adalah teman SMA , Denis dan Zevin pernah akrab tapi karena Denis pindah mengikuti orang tuanya maka kontak mereka terputus.  Mereka bertemu kembali saat jalinan kerja sama mereka beberapa bulan lalu. Usia Denis memang lebih muda dari Erika, tapi ia sosok dewasa sebelum usianya.


"Dokter Zev, saya minta maaf atas kata-kata kasar saya waktu itu. Saya hanya terkejut dengan kejadian yang menimpa papa." Ucap Erika tulus.


"Saya juga minta maaf Kak, saya terbawa emosi." Balas Zevin. Mengubah panggilannya pada Erika.


"Saya juga sudah tahu cerita sebenarnya, kami sekeluarga malu atas sikap papa semoga saja dia bisa memperbaiki diri." Ujar Erika


"Sudahlah, lupakan semuanya. Setiap orang bisa memperbaiki diri disetiap kesempatan." Seru ibu Felisya.


"Hai, Zia ! Apa kabar? Berapa usia kehamilanmu?" Tanya Erika.


"Kabarku baik, Kak. Sekarang usia kehamilanku sudah 7 bulan." Jawab Nazia. Di balas anggukan Erika.


"Om Indra, kedatangan kami kesini ada maksud tertentu." Ucap Denis selaku pengantar Alby.


"Katakan, Nak." Pak Indra mempersilahkan.


"Al, berniat melamar Ralda sekretaris Zev, untuk menjadi istrinya, karena mereka tidak punya keluarga yang lain lagi. Maka kami mendatangi rumah Om." Ucap Denis.

__ADS_1


Pak Indra diam sejenak lalu berkata. "Kami memang yang mengurus mereka sejak beberapa tahun ini, Ralda dan Erik kami anggap sebagai putra dan putri kami. Tapi alangkah baiknya kamu mengutarakan maksudmu pada adiknya Erik, karena dia yang berhak atas kakaknya."


"Om benar, harusnya saya membicarakan ini pada Erik terlebih dulu." Sahut Alby.


"Tidak salahnya kamu menyampaikan niat bai mu pada Om, itu tandanya kamu menghargai Om selaku orang tua mereka. Walau pun tidak ada ikatan darah antara kami." Balas pak Indra.


"Jadi, aku harus bagaimana Om?" Tanya Alby.


"Besok Erik pulang dari rumah sakit, nah ! Kamu atur saja pembicaraannya. Om sendiri menerima saja lamaran kamu. Tapi ada syaratnya." Pak Indra memutuskan kalimatnya.


"Apa syaratnya?" Tanya Alby.


"Ralda dan Erik hanya hidup berdua, Rudi bukan keluarga kandung mereka. Jadi Om harap kamu menerima baik buruknya Ralda. Sayangi dia dengan tulus. Ralda putri yang baik jangan pernah menyia-nyiakannya." Ucap pak Indra dengan nada serius.


"Pasti Om, apa perlu kita buat surat perjanjian" Tawar Alby.


"Ha? Kamu pikir kita yang akan menikah ! Tidak usah pakai surat perjanjian buktikan saja secara langsung." Balas pak Indra.


Alby tersenyum canggung lalu tak lama tawa semua orang menggelegar di ruang keluarga tuan Indra. Sekarang Alby tahu sifat konyol Zevin turunan dari pak Indra.


Cukup lama mereka bertamu, Alby, Erika dan Denis pamit undur diri bersamaan dengan Ivan dan Zevin akan pergi ke rumah sakit menggantikan Ralda.


Siang Harinya...


Erik dinyatakan sembuh, sekarang mereka telah bersiap untuk pulang. Di sana ada Zevin yang mengurus kepulangan Erik. Tak lama Alby juga datang menyempatkan diri ikut menjemput Erik.


Setelah selesai mereka semua meninggalkan rumah sakit. Erik dan Zevin satu mobi lalu Alby dan Ralda satu mobil.


Di kediaman Zevin, Nazia dan ibu Felisya menyambut kedatangan Erik dengan suka cita. Tanpa sadar Nazia sampai memeluk Erik karena merasa senang.


Alhasil suami manjanya merasa cemburu. Ia juga segera memeluk istrinya sangat lama tak lupa menghujani banyak ciuman di wajah Nazia.


Aku akan menghapus jejak pelukan Erik dari tubuhmu


Zevin tersenyum mengecup singkat bibir istrinya.


Erik langsung di antar ke kamarnya oleh Ralda. Sementara Alby duduk di ruang keluarga bersama yang lainnya.


"Zev, silahkan kamu istirahat semalaman kamu berada di rumah sakit." Ujar Alby.


"Baiklah, santai saja di sini." Balas Zevin menggandeng Nazia naik ke kamar mereka.


Sesuai permintaan Nazia, Alby tinggal di sana karena mereka akan makan siang bersama. Ralda Berbincang sedikit dengan Alby, tak lama pria itu meminta Ijin berbicara pada Erik.


" Masuk !" Seru Erik mendengar ketukan pintu kamarnya.


"Aku ingin bicara serius denganmu." Ujar Alby gugup.


"Bicaralah, terimakasih karena ikut menemani ku saat dirawat." Ucap Erik tulus.


"Iya, Erik ! A—aku berniat melamar kakakmu menjadi istriku." Ucap Alby terbata jujur ia tak pernah segugup ini bahkan di depan rekan bisnisnya sekali pun.


Aura Erik sangat berpengaruh besar pada Alby.  Buktinya Alby tak mampu meneruskan kata - katanya.

__ADS_1


__ADS_2