Suami Manja Dokter Zi

Suami Manja Dokter Zi
Sherin VS Nazia


__ADS_3

Cuaca sedang mendung di atas sana, angin begitu kencang meniup awan kecil dan membentuk menjadi awan hitam yang besar. Dari bawah sangat jelas terlihat jika awan itu semakin hitam dan tebal. Siap untuk menumpahkan airnya menjadi butiran hujan mengguyur bumi.


Nazia menengadahkan wajahnya ke atas sebelum melanjutkan perjalanannya untuk pulang. Saat ini ia berada di supermarket sebelum berkunjung ke rumah Rayya. Kesepian beberapa hari ini membuatnya membutuhkan seseorang untuk tempatnya bercerita.


Zevin belum kembali begitu juga Alby yang berangkat beberapa hari lalu belum memberi kabar padanya. Hanya Jimmy yang selalu memberi kabar tentang mereka di sana.


Nazia melajukan mobilnya pelan karena hujan mulai turun,  jarak pandang yang terbatas membuat Nazia berhenti di salah satu kafe terdekat. Gadis itu meraih payung di kursi belakang lalu turun dari mobilnya.


Nazia mengambil kursi di sudut ruangan agar bisa berhadapan langsung dengan jalan raya. Tanpa disadarinya dari meja lain ada orang memperhatikannya. Waiters datang mengantar pesanannya beberapa menit lalu. Sambil menyeruput cappucino nya. Manik mata Nazia memandang jauh kejalan Raya.


"Zia."


Seorang wanita menyapa sekaligus membangunkan Nazia dari lamunan. Tanpa ijin wanita itu duduk di depan Nazia dengan wajah tidak bersahabat. Empat bulan sudah mereka kenal baru hari ini ia melihat sosok lain dari wanita itu. Meski jarang bertemu tapi di antara mereka biasa-biasa saja tidak seperti hari ini tatapan dingin dan datar wanita itu membuat Nazia sedikit terkejut. 


"Sherin ! Kamu disini juga?"


"Tidak perlu manis di depanku ! " Ketus Sherin. Tatapan angkuhnya memindai tampilan seorang Nazia Mishall.


Nazia menegakkan duduk nya


"Maksud mu?" Tanyanya sedikit heran dengan perubahan wanita itu.


"Tinggalkan Alby ! Aku bosan berpura-pura ramah pada mu." Kata Sherin memberi sorot mata yang tajam.


"Kenapa aku harus meninggalkan Alby?" Nazia merasa aneh.


"Aku mencintainya !! Aku mencintai, Al. Lebih lama darimu. Kepulanganku ke sini hanya semata-mata untuknya" Ucap Sherin tersenyum sinis setelah memberitahukan perasaannya.


Ucapan Sherin membuat Nazia geram. Tapi ia tetap berusaha tenang.


"Tidak akan pernah ! Aku sarankan padamu carilah pria yang pantas menerima cintamu karena mencintai sendiri itu menyakitkan !" Senyum tipis mengembang di wajahnya melihat raut kesal di wajah Sherin.


Tangan Sherin mengepal di bawah meja. "Tidak ada yang pantas mendapatkan cintaku selain, Al. Apa kamu merasa pantas untuk seorang Alby?" Ujarnya menatap rendah.


Nazia tersenyum  lembut.


"Buktinya dia kekasihku !"


Sherin semakin emosi. "Kamu tidak berarti apa-apa untuk, Al ! Kamu tidak sebanding denganku ! Kami sama-sama dari keluarga terhormat. Sementara kamu ? Hanya wanita biasa yang kebetulan bernasib baik menjadi dokter ! Aku tidak yakin tante Anggi akan menerimamu sebagai menantu. Sebelum kamu benar- benar di tolak. Mundurlah !" Paparnya panjang lebar.


Nazia mematung mencerna kata-kata yang baru saja ia dengar. Sherin tersenyum senang melihat dokter cantik tidak berkutik. Benarkah, status sosial akan jadi penghalang nanti nya ? Nazia tidak berkecil hati contohnya Erika bisa menerima hubungannya dan Alby.


"Sherin, Menjalani hubungan itu hanya dua orang dalam satu ikatan, mengetahui pantas dan tidaknya bukan orang lain atau orang ketiga !" Nazia melemparkan tatapan dingin pada lawan bicaranya.


Sherin merasa tersinggung lalu  mencari kata-kata yang bisa menjatuhkan Nazia. "Zevin ! dokter itu menyukaimu dari sorot matanya ada cinta untukmu. Firasatku mengatakan dia akan jadi orang ketiga dalam hubunganmu dan Alby." Ucapnya tersenyum yakin


Nazia menyesap kembali cappucino nya. Meneguk perlahan, lalu menarik nafasnya dan menghembuskan. "Zevin ! Jika dia mencintaiku maka sejak dulu pasti dia akan membalas perasaanku yang pernah mencintainya, tapi sayangnya antara aku dan dia hanya ada persahabatan." Tuturnya memberi senyum manis sebelum meninggalkan meja.


Sherin terdiam di tempatnya duduk. Kebenciannya pada Nazia semakin berlipat. Sementara di mobil, Nazia menyandarkan tubuhnya mencengkram setir mobil meluapkan kekesalannya. Ucapan Sherin membekas di hatinya. Bagaimana  jika keluarga Alby benar-benar tidak bisa menerimanya?


Nazia melajukan mobilnya keluar dari sana karena hujan sudah reda. Ia ingin cepat-cepat sampai di kediaman Rayya. Gadis itu mengingat kembali selama empat bulan hubungan mereka sekali pun belum pernah Alby memperkenalkannya pada keluarganya selain Erika.

__ADS_1


Sherin masih duduk di kursi cafe itu. Ia berfikir Nazia bukan wanita yang mudah di pengaruhi. "Jika kamu tidak mau meninggalkan Alby ! Maka akan aku buat Alby yang meninggalkanmu ! Cih, melelahkan harus bersaing dengan ****** sepertinya." Gumamnya geram


...----------------...


Nazia memarkirkan mobilnya di depan rumah Sahabatnya ini, dengan berlari kecil ia memasuki teras rumah Rayya, sambil menenteng beberapa bungkus camilan di tangannya.


Rayya mendengar bel langsung membuka pintu rumahnya. "Ayo masuk" Ajaknya seraya membuka pintu lebar.


"Dimana Vira?" Pertanyaan pertama Nazia jika sudah berkunjung di sana.


Rayya menutup kembali pintu.


"Di ruang tengah, kita ke sana saja"


Nazia segera menghampiri bayi gembul itu sambil tersenyum. Tangannya langsung menggendong Vira dengan hati-hati. Kesedihan dan pikiran yang kacau tadi hilang seketika setelah melihat senyum di wajah bayi ini. Rayya sangat peka bisa melihat jika suasana hati Nazia kurang baik. 


Ia memberikan waktu sejenak pada Nazia untuk bermain bersama putrinya. Rayya meminta tolong pada asisten rumah tangganya untuk membuatkan mereka minuman. Merasa puas melepas rindu pada baby Vira, Nazia meletakkan kembali ke atas kasur di atas karpet.  Gadis itu memilih duduk lesehan di bawah. Matanya menatap kosong ke arah televisi.


"Ada masalah?" Suara Rayya membuyarkan lamunannya.


Nazia menghela nafas berat.


"Aku bertemu Sherin di kafe..."


Rayya menurunkan tubuhnya ikut duduk di bawah. "Dia mengganggu mu?" Tanyanya penasaran.


Nazia diam sejenak mengalihkan pandangannya pada Rayya. "Dia memintaku untuk meninggalkan Alby"


Nazia tersenyum tipis. "Dia mencintai Alby, kepulangannya kesini hanya untuk, Al." Gurat wajahnya muram dan menundukkan kepalanya merasa sedih.


"Wanita aneh !"


Nazia membenarkan posisi duduknya menghadap ke arah Rayya.


"Ay, aku ingin bertanya. Apa aku pantas bersama Alby?"


Rayya terkejut. "Pertanyaan macam apa itu ? Pantas atau tidaknya hanya kamu dan Alby yang bisa merasakan dan menilainya. Karena kalian yang menjalani hubungan ini."


Nazia mengangguk pelan. "Apa orang tuanya akan menerima ku ?" Ragunya dalam hati.


Rayya menyentuh lengan Nazia dan tersenyum. "Jangan meragukan hal yang belum pasti. Aku yakin keluarga Alby bisa menerimamu sama seperti om Bram dan tante Serly" Ucapnya berusaha meyakinkan.


"Ada perbedaan di sini, papa Bram dan mama Serly adalah sahabat mama dan papa. Sementara keluarga Alby orang asing yang belum kenal denganku kecuali kak Erika"


Rayya memberikan gelas teh pada Nazia sambil berkata. "Jangan dipikirkan lagi semua masalah pasti ada jalan keluarnya. Percayalah, mereka pasti orang baik. Masalah Sherin jangan di hiraukan, dia hanya wanita aneh yang tidak bisa menerima sebuah kenyataan"


Nazia mengangguk perlahan tanda mengerti apa yang telah disampaikan Rayya. Sejenak mereka tertawa bersama sambil bercerita  perkembangan Vira. Kesedihan dan keraguan yang tadi sempat membelenggu di hati Nazia bisa teratasi dengan baik. Dia kembali tersenyum dan ceria. Seperti itulah Nazia ketika akal dan pikirannya bisa menerima masukkan orang lain maka mood nya dengan cepat berubah.


...----------------...


Di salah satu ruang rumah sakit luar kota. Zevin tengah memandangi foto Nazia. Rindu dirasakannya beberapa hari ini tidak bertemu dengan wanita pujaan hatinya. Meski telah menjadi milik orang lain tapi tidak mengurangi rasa yang ada di hatinya. Zevin juga sudah mendengar jika Nazia dan Sherin bertemu hari ini. Rekaman percakapan mereka juga sudah di dengarnya. Geram rasanya pada wanita yang telah menjadi sahabat kekasih Nazia itu. Tapi, Zevin tak ingin gegabah ia akan melihat sampai mana usaha Sherin dan kekuatan Alby di posisi antara kekasih dan sahabat masa  kecilnya itu. Apa Alby bersama Sherin ? Atau tetap bersama Nazia .

__ADS_1


"Aku merindukan mu." Zevin tersenyum memperbesar foto di layar ponselnya.


"Cantik !"


Zevin terkejut lalu menoleh ke asal suara. Ia salah tingkah karena ketahuan menatap foto seorang wanita. "Maaf saya tidak menyadari Om Radit masuk."


Dokter Radit tersenyum, lalu duduk di sofa. "Dia kekasihmu?" Melihat tidak ada cincin di jari Zevin. Itu tandanya pria ini masih belum menikah.


"Bukan, dia temanku. Kami satu rumah sakit." Jawab Zevin gugup.


Dokter Radit dan Zevin sudah akrab, dia juga sudah memanggil om pada dokter Senior itu.


"Dia seorang dokter ? Kalau menyukainya kenapa tidak menikahinya?"


Zevin menggeleng pelan. "Ya, dia dokter kandungan. Dia kekasih orang lain. Aku terlambat." Ucapnya tersenyum getir.


Dokter Radit menatap bola mata dokter muda itu, ada cinta yang dalam di sana. Sebagai pria ia memahaminya dan pernah mengalaminya. "Sebelum janur kuning melengkung, kejar dia ! Jika kekasihnya bukan sahabatmu rampas saja !" Dokter Radit bicara penuh semangat.


Zevin terkekeh. Keren pikirnya dokter Radit, usia boleh tua tapi tentang dunia percintaan tetap muda. "Akan aku usahakan." Ia menjawab sambil tersenyum.


Dokter Radit tersenyum. Ingatannya melayang pada dua puluh enam tahun lalu. Dirinya mencintai kekasih sahabatnya sendiri, tapi ia tidak egois merampas paksa wanita yang dicintainya itu. Dengan lapang dada Dokter Radit menghadiri pernikahan mereka sampai pada akhirnya. Dokter Radit kembali ke kota ini dan mulai menggantikan ayahnya untuk menjabat di rumah sakit milik keluarganya.


"Hei aku tidak serius mengatakannya !" Seru dokter Radit.


Zevin tertawa. "Tenang saja Om ! aku akan menerima kesakitan ini jika dia hidup bahagia, tapi jika dia terluka karena kekasihnya, aku akan merebut nya." Papar dokter tampan ini tersenyum lebar.


"Aku suka itu ! Ayo kita bersiap, hari ini kita melakukan operasi besar" Dokter Radit beranjak dari tempat duduknya.


Zevin mengangguk lalu menyimpan ponselnya kembali. Anggap saja dia gila seperti tidak ada wanita selain Nazia. Tapi itulah Zevin memiliki perasaan yang dalam butuh waktu lama untuk menyukai wanita lain.


...----------------...


Di tempat lain presiden direktur penuh ambisi ini sedikit emosi karena belum menemukan pengkhianat di dalam perusahaannya. Alby meremas rambutnya sendiri frustasi. Para kliennya hampir saja membatalkan kontrak mereka. Karena kasus proyek yang terancam gagal itu. Mereka merasa di permainkan dan sia-sia karena sudah ikut bergabung pada proyek itu. Belum berjalan baru memulai saja sudah kacau seperti ini.


Sejak tadi ponsel Alby bergetar tapi ia tidak berniat menyentuhnya. Jimmy mendekat pada pria itu.


"Tuan muda, Nona Zia menelpon ke ponsel saya menanyakan kabar anda, karena sudah beberapa hari ini tidak mengabarinya." Ucap Jimmy panjang lebar.


"Biarkan saja Jim, aku sedang sibuk !"


"Tapi tuan setidaknya telpon dia agar tidak mencemaskan anda." Jimmy lupa jika telpon masih tersambung pada Nazia.


"Jimmy ! Aku sibuk katakan padanya ! Dia bisa apa selain bertanya kabar ? Cih, bahkan dia tidak bisa membantuku sama sekali !"


Tubuh Nazia membeku di sebrang telpon. Pendengarannya sangat jelas apa saja yang dikatakan Alby. Ia mematikan sambungan telpon. Lalu mengirim pesan untuk Alby karena ia yakin pasti di baca. Benar saja Alby mengusap kasar wajah nya membaca pesan dari Nazia


💌Zia: Maaf, aku tidak bermaksud mengganggumu. Maaf aku tidak bisa membantumu apa-apa. Maaf juga aku tidak tahu permasalahan apa yang kamu hadapi. Selesaikanlah semuanya dengan baik. Aku hanya bisa berdoa agar cepat teratasi . Hanya itu yang bisa aku lakukan.


...----------------...


Benarkah ? kata Sherin aku tidak pantas untuk Alby. Aku tidak bisa berbuat apa-apa

__ADS_1


Nazia menjatuhkan tubuhnya di atas kasur. Sesaat pikirannya kacau hingga tanpa terasa ia terlelap dengan sendirinya.


__ADS_2