Suami Manja Dokter Zi

Suami Manja Dokter Zi
Obsesi Berujung Kehancuran


__ADS_3

Rumah Sakit ZK


Setelah menginap satu malam, Ralda diperbolehkan pulang. Alby dan Erik menginap di sana tadi malam. Tak mau kalah ibu Anggi juga ikut menginap.


"Bagaimana apa masih terasa pusing?" Tanya Alby lembut.


"Tidak lagi. Aku merasa lebih baik sekarang." Jawab Ralda.


"Sekarang Kakak makan dulu ya." Erik memberikan piring berisi makanan pada Ralda.


"Iya, kapan Kakak boleh pulang?" Balas Ralda.


"Nanti setelah dokter Yudha mengecek kondisi Kakak" Jawab Erik.


Ralda mengangguk. "Bagaimana dengan wanita itu?" Tanyanya kembali.


"Semua sudah ditangani polisi,  bukti kuat mengarah padanya." Jawab Alby.


Ralda menggantungkan sendoknya. "Jadi dia akan ditahan ? Apa ini tidak berlebihan? Dia hanya hampir menabrakku." Ia menatap Erik dan Alby bergantian.


"Ini terencana, Nak ." Sahut ibu Anggi.


"Benar, aku sudah mengambil tindakan." Sahut Zevin berdiri di depan pintu masuk bersama Nazia.


"Kak, Zev" Ucap Ralda.


"Bagaimana kondisimu?" Tanya Nazia lembut.


"Sudah membaik, Kak." Jawab Ralda.


"Syukurlah, selamat pagi Tante." Ujar Nazia juga menyapa ibu Anggi.


"Selamat pagi, Zia. Sepertinya Tante pamit pulang dulu ya. Sopir sudah di depan." Pamit ibu Anggi.


"Iya, Tante hati-hati" Ucap Nazia


"Mama pulang ya sayang." Ibu  Anggi memeluk calon menantunya itu.


"Iya hati-hati, terimakasih sudah merawatku." Balas Ralda. Ibu Anggi tersenyum dan keluar dari ruangan.


Zevin dan Nazia datang menjenguk Ralda. Tak hanya itu Zevin juga akan melihat polisi membawa Sherin nantinya.

__ADS_1


Yudha datang untuk mengecek kesehatan Ralda. "Selamat pagi semuanya? Hai, Zi." Sapanya bersama seorang perawat. Di balas senyum manis dari Nazia.


"Selamat pagi."


Zevin langsung mengecup bibir Nazia singkat, karena telah berani tersenyum manis pada Yudha. "Kamu menggemaskan sayangku." Ucapnya tersenyum. Nazia memasang wajah kesal pada suaminya.


Yudha langsung melakukan pemeriksaan pada Ralda. Alby melihat dengan teliti.


"Hei tanganmu hati-hati !" Peringat Alby.


Yudha menatap kesal pada Alby dan berkata. "Kamu ingin aku memeriksanya dengan kaki?!"


Alby salah tingkah. "Lanjutkan !" Ucapnya membuang muka.


Yudha melanjutkan pemeriksaan sambil menggerutu kesal. Tak lama derap langkah terdengar nyaring di lantai rumah sakit. Zevin berdiri dari tempatnya duduk dan mengintip.


Beberapa orang polisi datang menuju tempat kamar Sherin di rawat. Zevin tersenyum tipis. Ia merogoh ponselnya untuk menelpon seseorang. "Cctv depan rumah sakit sambungkan ke laptop saya." Titah nya. Ia bergegas membuka tas kerjanya lalu mengeluarkan laptop miliknya.


"Baik Tuan." Balas seseorang di dalam telpon.


Zevin duduk di sofa menghidupkan laptopnya sambil tersenyum. Nazia menatap heran pada suaminya itu.


"Menonton, ada berita bagus hari ini. Judulnya, Obsesi Cinta Berujung Bui." Jawab Zevin.


Alby melotot, bisa-bisanya Zevin mengejeknya. Sekarang semua orang faham maksud perkataan suami Nazia itu. Mereka ikut bergabung melihat ke arah laptop Zevin yang masih proses penyambungan Cctv.


Di ruangan Lain....


Ibu dan anak ini menangis memohon pada petugas polisi, sementara sang ayah duduk pasrah di sofa dengan wajah sedih.


"Pak, tolong ! Jangan bawa putri saya, kasian bayinya." Ucap Ibu Siska menangis.


"Pak, Saya janji akan menetap di luar negeri jika, Bapak membebaskan saya. Saya tidak akan membuat kesalahan lagi." Sherin iku menangis.


"Maaf, tuntutan Tuan Zevin tidak main-main. Ia menuntut Nona Sherin bukan karena Nona Ralda sekretarisnya tapi karena Nona itu adalah bagian keluarga Tuan Indra Jaya."Jawab polisi


Pak Toni menegakkan duduk nya. "Dokter Zevin." Ucapnya sembari membenarkan kaca matanya.


"Iya, kasus ini dilaporkan oleh Tuan Zevin." Jelas polisi.


Pengacara pak Toni menggeleng lemah menatap pada Pak Toni pertanda ia juga tidak bisa berbuat apa-apa dan menyerah.

__ADS_1


Pak Toni menunduk lesu, habis sudah pikirnya. Ia sendiri pun tak bisa menolong putrinya. Karena memang Sherin bersalah sengaja membuntuti mobil Ralda dari depan gedung Jaya Group. Bukan kebetulan namun disengaja.


Terlebih Sherin mengakuinya sendiri di hadapan pak Toni. Siapa sangka kedatangan Zevin dan Alby kedalam ruangan Sherin, tanpa sepengetahuan Alby. Dokter tampan itu menempelkan penyadap suara entah dimana letaknya hanya dia yang tahu. Jangan ditanya dari mana ia dapatkan benda seperti itu. Pengawal keluarga Indra Jaya selalu siap dengan segala kemungkinan.


Jika masih ada hal buruk menimpa keluarga Indra. Itu luar dari kuasa mereka. Para pengawal itu selalu bisa diandalkan.


Sherin meronta minta dilepaskan, ia menangis memohon agar mendapatkan perhatian dari orang lain. Tapi malah dapat cibiran dari pasien yang berada di luar ruangan.


"Jangan ada yang keluar !" Titah Zevin karena dokter Yudha mencoba membuka pintu.


Mendengar perintah Zevin ia kembali berdiri di belakang sofa melihat ke arah laptop Zevin. Suara Sherin semakin terdengar dekat melewati ruangan tempat Ralda dirawat.


"Apa yang kita lihat?" Tanya Yudha. Karena layar laptop itu hanya menampilkan para reporter berdiri di halaman rumah sakit.


"Tunggu saja." Jawab Zevin.


Setelah menunggu lama munculah di layar laptop Cctv halaman depan. Para reporter menyerbu polisi yang membawa Sherin serta pak Toni dan ibu Siska.


Mereka datang dengan berbagai macam pertanyaan. Hingga pak Toni dan Ibu Siska semakin kesal dan terpojok.


Sherin segera dibawa dari sana mengindari kerumunan reporter, begitu juga dengan pak Toni dan Ibu Siska. Mereka bergegas masuk kedalam mobil setelah sopir membuka pintu.


Hanya hitungan menit halaman rumah sakit milik Zevin kembali sepi seperti semula. Di layar televisi semua stasiun kembali memberitakan masalah ini.


Para memegang saham mulai membicarakan perilaku putri dari pak Toni. Kasus-kasus mulai bermunculan dari pabrik minuman herbal milik mereka.


Setelah menyelesaikan segala urusan di rumah sakit. Ralda diperbolehkan pulang, Alby mengantarnya langsung ke rumah Pak Indra Jaya.


Zevin sebenarnya tidak tega, namun apa yang dilakukan oleh Sherin sudah sangat keterlaluan. Andai saja Jo tidak sigap mungkin Ralda sudah menjadi korbannya.


"Sayang, Aku ke kantor dulu ya. Kamu pulang ke rumah Mama dulu nanti sore, aku jemput." Pamit Zevin memeluk dan mengecup kening istrinya.


"Iya, hati-hati ! " Balas Nazia.


"Rik, bawa mobilnya hati-hati." Pesan Zevin.


"Iya, Kak nanti siang. Aku menyusul ke kantor." balas Erik.


"Iya." ujar Zevin.


Mobil Erik meninggalkan rumah sakit, di ikuti oleh mobil Alby. Zevin melihat mobil mereka sampai memasuki jalan raya, baru ia berangkat menuju kantornya.

__ADS_1


__ADS_2