
Kediaman Zevin Kavindra
Usai berkumpul bersama di kediaman Zevin untuk mengucap syukur atas kehamilan istrinya. Kini kediaman mereka berdua lebih sering dikunjungi ibu Felisya dan Tuan Indra.
Tak tanggung-tanggung mereka sudah menyiapkan baju hamil serta kebutuhan Nazia lainnya. Tak mau ketinggalan ibu Mira juga menyempatkan diri datang bersama dokter Radit. Mereka semua berkumpul di kediaman pasangan dokter ini.
Nazia membuka satu persatu paper bag yang dibawa ibu Felisya dan Ibu Mira sepulang dari Mall. "Ini kebanyakan, Ma. Aku membutuhkan baju hamil nanti beberapa bulan ke depan."
"Tidak masalah sayang, mulai sekarang kamu pakai pakaian yang mama beli ya." Ibu Felisya mengurai rambut panjang menantunya.
"Mama Feli mu benar, Zi. Tidak salahnya kamu pakai sekarang." Sambung Ibu Mira.
"Ma, untuk perlengkapan bayi kami, biar aku dan Zi saja yang membelinya." Ucap Zevin. Ia tengah menikmati rujak yang baru saja dibeli ibu Felisya.
"Baiklah untuk itu mama serahkan untuk kalian berdua."
Kehamilan Nazia ini, Zevin lah yang mengalami mual dan muntah serta ngidamnya. Selalu Erik dan Ivan yang kena imbasnya untuk mencari yang diinginkannya.
...----------------...
Kantor Pusat J.G
Zevin kembali mengadakan pertemuan bersama Alby, membahas kekurangan diproyeknya.
"Selamat pagi Nona." Sapa Alby pada Ralda.
"Selamat pagi, anda sudah di tunggu tuan, Zev." Balas Ralda sopan tapi datar
Datar sekali
"Terimakasih, ah Nona ! di mana tempat tinggalmu?" Tanya Alby.
"Jangan mengganggu sekretarisku !" Seru Zevin keluar dari ruangan pak Indra.
Alby terkejut. "Ish ! Tidak pengertian !" Ia mencibir pada Zevin.
"Kita kesini bukan untuk menanyakan tempat tinggal Nona Ralda, Tuan. Tapi membahas kekurangan dari pekerjaan kita." Sahut Jimmy.
"Kau juga, sama saja !" Kata Alby kesal.
Zevin tertawa melihat Alby kesal. "Baiklah ayo kita keruang meeting." Ia melangkah lebih dulu.
Usai membicarakan masalah pekerjaan mereka, Zevin berniat mengajak Alby ke kantor polisi.
"Al, aku ingin mengajakmu ke kantor polisi. Ada yang ingin kutunjukkan padamu." Kata Zevin.
"Apa itu?" Tanya Alby.
__ADS_1
"Ikut saja dulu, nanti kita bicarakan di sana."
Alby dan Jimmy saling pandang sejenak seperti bertukar pikir.
"Baiklah, ayo !" Alby berdiri dari kursinya.
Mereka semua bersiap pergi ke kantor polisi, diperjalanan Erik menghubungi polisi untuk memberitahukan jika mereka akan ke sana.
Suasana menjadi hening dua buah mobil ini melaju dengan kecepatan rata-rata. Mereka semua larut dalam pemikirannya masing-masing hingga tanpa terasa jika mereka sudah sampai.
Mereka semua masuk dan duduk di ruang khusus. Tak jauh dari mereka dua orang polisi yang menangani kasus kecelakaan Zevin juga ada di sana.
"Al, aku ingin bicara serius padamu ! Tapi sebelumnya aku minta maaf yang sebesar-besarnya padamu." Mimik wajah Zevin menjadi serius dan tegas.
"Bicara saja, Zev. Aku akan mendengarkanmu." Alby menatap wajah Zevin.
Erik memberikan amplop coklat berukuran besar di atas meja sebelum pembicaraan yang dimaksud Zevin dimulai.
"Al, kamu pasti tahu beberapa minggu yang lalu papamu pernah membuat janji temu pada, Zi." Zevin memulai pembicaraan. Terdengar ia menghela nafas berat pertanda apa yang dikatakannya ini adalah hal sensitif.
"Ya, aku tahu, Zev. Beberapa kali aku sudah memperingati papaku jangan memaksa Zia, tapi dia tetap pada pendiriannya." Balas Alby lesu dan raut wajahnya juga sendu.
Zevin menyandarkan tubuhnya di kursi lalu berkata. "Apa kamu mendengarkan seluruh pembicaraan kami pada hari itu?"
"Tidak, aku hanya melihat papa satu meja dengan kalian, dugaanku pasti papa akan memaksa Zia menjual tanah itu kembali."
Alby dan Jimmy dapat mengenali dan mendengar suara pak Reza direkaman itu. Bagaimana papanya membujuk Nazia di sana, sampai pada kedatangan Zevin yang menyela obrolan pak Reza dan Nazia.
"Papa sudah keterlaluan !!" Geram Alby setelah selesai mendengar percakapan itu.
"Tuan, ini tidak bisa di biarkan ! Tuan Reza bisa melakukan hal yang tidak diinginkan." Jimmy angkat suara.
Zevin dan Erik tersenyum tipis dan saling pandang.
" Tanpa sepengetahuan kalian, pak Reza sudah melakukannya." Sahut Erik.
"Maksudmu?" Alby tak mengerti dan terkejut.
"Kecelakaan tuan, Zev. Tempo hari diatur oleh pak Reza."
"Jangan bicara sembarangan Erik !!" Bentak Jimmy.
"Kami bukan bicara omong kosong, bukalah amplop itu."
Alby meraih amplop itu, tangannya sedikit gemetar saat membuka tali amplop. Ada beberapa foto pelaku sabotase mobil Zevin dan juga barang bukti untuk merusak rem mobil lalu satu buah ponsel yang terdapat pesan dan daftar panggilan dari nomor pak Reza.
"Da—dari mana kalian mendapatkan semua ini?" Tanya Alby. Terlihat dari raut wajahnya marah bercampur kecewa.
__ADS_1
"Semua ini disita polisi dari pelakunya, sampai saat ini ! Ia belum menyebutkan nama orang yang menyuruhnya. Kenapa aku mencurigai ayahmu? Karena aku menemukan apartemen mewah tempat ayahmu untuk bertemu pria yang ada di foto. Tak hanya itu, Erik juga mendapatkan rekaman cctv-nya ketika Rio alias Rehan ini berkunjung ke apartemen itu di sana jelas tertangkap kemera wajah pak Reza lah yang berdiri di depan pintu unitnya. Dan nomor ponsel itu terdaftar atas nama papa mu." Jelas Zevin.
Alby menghela nafasnya guna menenangkan emosi dalam dadanya.
"Apartemen? Aku bahkan tidak tahu jika papa memiliki apartemen." Ia nampak kecewa dengan kenyataan yang baru saja di dengarnya.
"Aku minta maaf sekali lagi kasus kecelakaanku adalah pembunuhan berencana. Polisi juga sudah mengantongi bukti kejahatan ayahmu, hanya ponsel dan alat ini yang aku pinjam untuk memperlihatkan padamu, prosesnya pun tidak mudah untuk meminjam barang bukti ini. Aku tidak mau diantara kita ada kesalahpahaman." Kata Zevin.
Alby menundukkan kepalanya. Dirinya sangat terkejut dengan semua ini. Kemudian ia berkata.
"Kejahatan itu tidak hanya dilakukannya padamu, tapi juga kepadaku. Ternyata papa ku orang pendukung rencana Sherin untuk mengacau proyekku waktu itu."
"Apa?! Kenapa dia tega ?" Zevin tak percaya.
"Karena dia ingin aku meminta pertolongan pada Om Toni. Dengan cara menjodohkanku dengan Sherin. Maka Om Toni mau mengucurkan dana untuk kerugian yang aku alami bodohnya aku tergiur dengan semua itu. Tapi sebelum Om Toni memberikan uangnya. Aku bisa mengembalikan keadaan saat itu. Di otakku langsung berfikir jika aku menikahi Sherin maka bisa melebarkan sayap perusahaanku. Ternyata aku salah dana yang harusnya kudapatkan dari pernikahan itu ternyata di ambil alih oleh papaku." Cerita Alby.
"Aku tidak habis pikir dengan papamu itu ! Jadi masalah pribadimu dengan Sherin hanya faktor pendukung saja. Untuk jembatan perceraianmu?" Ucap Zevin.
"Iya, Karena Sherin hamil anak Hadi. Tidak hanya itu, aku juga mengetahui kebenaran papaku yang mendukungnya."
"Maaf jika aku melukai perasaanmu, Al. Aku ingin papamu mempertanggung jawabkan perbuatannya. Bukti ini sangat kuat. Kamu boleh mengunjungi Rehan untuk mengetahui kebenarannya lagi, maaf jika secepat ini. Sebenarnya aku ingin mengungkapkan semua ini setelah proyek kita selesai tapi aku tidak mau ambil resiko." Kata Zevin.
Alby mengembuskan nafas perlahan meski berat melihat seorang ayah mendekam di balik jeruji besi, tapi ia harus bersikap profesional kejahatan apa pun jika sudah menyangkut nyawa orang lain patut dipertimbangkan.
"Aku serahkan padamu. Aku percaya kamu bisa mengatasinya dengan baik. Setidaknya memberikan efek jera pada papaku."
"Baiklah, aku berterimakasih padamu karena berbesar hati menerima keputusanku. Aku juga mohon bantuanmu untuk menjelaskan dan memberikan pengertian pada ibu dan kakakmu." Ujar Zevin.
"Iya, aku akan menenangkan mereka. Atas nama papa, aku minta maaf padamu." Ucap Alby tulus.
Zevin mengangguk, ada perasaan tak tega pada Alby, tapi salah tetap saja salah dan harus dipertanggung jawabkan, Zevin tidak pernah main-main untuk itu.
Selesai membicarakan perihal pak Reza, Alby dan Jimmy pamit untuk kembali ke kantor. Begitu juga dengan Zevin, ia harus kembali ke rumah sakit untuk bertemu istrinya. Baru beberapa jam saja rasa rindunya pada Nazia sudah membuncah.
Sedih pasti dirasakan Alby, tapi jika dirinya diposisi Zevin pasti melakukan hal yang sama. Hanya perihal tanah, papanya berniat menghilangkan nyawa seseorang. Ia juga harus mencari tahu investor asing yang menjanjikan papanya ke untung besar itu. Apa benar orang itu memang ingin berbisnis dengan benar atau hanya ingin menjatuhkan pak Reza
Alby menatap luar jendela mengabsen bangunan yang berdiri di pinggir jalan. Jimmy melirik sekilas dari kaca, ia dapat memahami perasaan tuannya saat ini.
"Tuan, anda baik-baik saja?" Jimmy memecahkan keheningan mereka berdua.
"Hm, aku malu pada Zevin dan Zia." Jawab Alby tanpa mengalihkan pandangannya.
"Tapi kita patut bersyukur setidaknya dokter Zev memberitahu kita terlebih dulu, jadi kita bisa menerimanya dengan baik."
"Kamu benar ! Aku banyak belajar dari mantan rivalku itu. Walau sedikit aneh tapi dia selalu dewasa menyikapi tiap masalah." Alby tanpa sadar mengagumi sosok Zevin.
"Anda benar, Tuan."
__ADS_1
Tanpa terasa mobil mereka sampai tujuan. Jimmy memarkirkan mobil dengan baik baru membuka pintu untuk Alby. Mereka berdua masuk ke dalam kantor dengan berbagai macam perasaan.