
Selama seminggu Nazia sudah tidak terlalu berkomunikasi pada Zevin. Kecuali pada Rayya. Zevin merasakan perubahan gadis itu. Ia pun bertanya-tanya apakah kesalahannya ? Nazia memang bersikap seperti biasanya, tapi ia sedikit membatasi kedekatannya dengan Zevin.
"Zi, kamu dapat kartu undangan dari Alby dan Sherin?"
Nazia melepaskan pena dari tangannya lalu beralih melihat pada Rayya. "Dapat, Sherin langsung mengantarnya."
"Benarkah ? Niat sekali ingin menyakitimu. Kamu datang?"
"Tunjukkan jika kamu baik-baik saja ! Berangkat bersamaku." Seru Zevin.
Nazia mengalihkan pandangan pada.
"Maaf, Zev ! Aku akan pergi bersama Ivan saja"
Mendengar penolakan Nazia, pria itu langsung berdiri dari kursinya. "Zi ! Aku tidak mengerti permasalahan kamu, kenapa akhir-akhir ini kamu menjauhiku. Ada masalah apa sebenarnya?" Ujarnya bicara dengan wajah kesal.
Nazia tersenyum berusaha mencairkan suasana. "Aku tidak menjauhi kamu dan juga tidak ada masalah. Aku hanya ingin menunjukkan siapa Ivan pada Alby."
Zevin tersenyum tipis. "Jangan memberi alasan yang tidak bisa aku terima, Zi ! Datang bersama Ivan sama saja dengan membenarkan perkataan Alby yang menyebut kamu berkhianat."
Nazia terdiam benar kata Zevin. Tapi jika dia pergi bersamanya maka orang suruhan ibu Felisya akan melaporkannya dan akan menimbulkan masalah baru untuk Zevin dan dirinya sendiri. "Aku tidak akan pergi !" Putusnya tegas.
Zevin dan Rayya saling pandang lalu melihat pada Nazia. "Kamu yakin?" Tanya mereka berdua bersamaan.
Nazia mengangguk yakin dengan keputusannya. Untuk apa hadir di sana jika hanya menambah luka ? Zevin dan Rayya menghela nafas panjang lalu kembali ke meja mereka masing-masing.
...----------------...
Alby dan Jimmy baru saja menyelesaikan meeting penting bersama kliennya. Sampai saat ini proyek nyaris gagal itu masih berjalan lancar. Sesekali pak Toni datang berkunjung ke kantor Alby. Melihat keseriusan calon menantunya bekerja, Pak Toni semakin yakin menikahkan putrinya dengan Alby.
"Al, kita makan siang terlebih dulu"
"Iya, Om. Biar Jimmy memesankan tempatnya." Balas Alby.
Pak Toni mengangguk tanda menyetujui. Setelah Jimmy memesan tempat, mereka langsung menuju restoran itu. Namun sebelumnya mereka menjemput Sherin di kantor Pak Toni untuk ikut bersama mereka.
Sambil berbincang di perjalanan tanpa terasa mereka sudah sampai. Sherin bergelayut manja di lengan Alby.
Jimmy memperhatikan dari sudut matanya melihat reaksi tuan mudanya. Alby menghentikan langkahnya sebelum masuk ke dalam, ia mengedarkan pandangannya sejenak. Pria itu teringat kembali jika halaman restoran itulah tempatnya memukul pria yang di anggapnya sebagai selingkuhan Nazia.
Anda ingat sesuatu, tuan ?
Jimmy tersenyum tipis.
Setelah sampai di dalam mereka memesan makanan sesuai seleranya. Sambil menunggu makanan datang, perhatian Alby teralihkan pada seorang pria yang memakai pakaian koki sedang memberikan rantang makanan pada salah satu karyawannya
"Antar makanan ini ke rumah sakit berikan pada dokter, Zi. Jangan sampai salah." Ucap Ivan.
Bukankah, dia selingkuhan Nazia ? Jadi dia seorang koki. Cih, mau bersaing denganku ? Sayangnya tidak sebanding tapi cocok saja untuk wanita sekelas Nazia
Alby masih melihat punggung Ivan yang telah menghilang masuk kedalam sana.
"Kamu kenapa, Al?" Tanya Sherin.
Alby tersentak. "Ah, tidak apa-apa. Ayo kita makan." Ucapnya tersenyum tipis melihat pegawai resto meletakkan makanan.
"Benar nanti makanannya keburu dingin." Tambah Pak Toni.
Mereka makan sambil berbincang. Membahas pesta pernikahan Alby dan Sherin.
"Kak Vino, Mama !" Teriak Ivan heboh berdiri di pintu masuk. Setelah mendapat telpon jika ibu Mira dan Vino akan berkunjung. Ivan memilih menunggu di pintu masuk.
__ADS_1
"Aish, anak ini." Gerutu Vino sambil melangkah masuk.
"Kak Vino !" Ivan berhamburan memeluk kakak sepupu Nazia itu.
Vino hanya bisa pasrah menerima pelukan Ivan. Ibu Mira terkekeh langsung masuk kedalam ruangan.
"Sudah-sudah ayo kita masuk." Vino melepaskan pelukan Ivan.
Pria gemulai itu tersenyum lalu mengapit lengan Vino melangkah ke dalam melewati meja Alby dan yang lainnya. Pria itu merasa bingung bahkan Vino sahabat almarhum Abel pun tahu pada Ivan.
"Kakak kemana saja ? Aku sudah lama disini tapi kita belum bertemu."
"Kakak pindah tugas, baru dapat cuti. Kamu tinggal dimana?" Jawab Vino sekaligus bertanya.
"Di rumah mama Mira."
Alby masih mendengar percakapan Vino dan Ivan, ada tanda tanya besar di kepala nya. Sementara itu Sherin hanya fokus pada ponselnya tidak memperhatikan sekelilingnya. Bagaimana jika dia tahu pria yang di kiranya selingkuhan Nazia ada di sana ?
Cih wanita seperti ini yang anda jadikan istri tuan ! Ahh akhir-akhir ini aku sudah pandai mencibir
Batin Jimmy angkat bicara
...----------------...
Hari ini adalah pelaksanaan pernikahan Alby dan Sherin. Hampir semua media meliput acara pernikahan itu. Seluruh keluarga telah berkumpul memakai seragam yang sama, begitu juga dengan keamanan dalam gedung dan di luarnya, sudah berjejer rapi pada tempatnya masing-masing.
Alby berdiri memakai tuxedo hitam dengan rambut dibiarkan berponi di sisi kiri dan kanan wajahnya. Di hari pernikahannya sendiri, Alby nampak tidak bersemangat. Bukankah, ini yang diinginkannya ? Lalu kenapa wajahnya terlihat murung ? Tidak bahagia ? Hanya dia yang tahu jawabannya.
Berbeda dengan Sherin selalu menebar senyum bahagia menyambut ucapan selamat dari para tamu. Jika ditanya apa dia bahagia ? Tentu jawaban nya iya, tapi Sherin belum merasa puas karena tamu yang di tunggu-tunggunya belum juga muncul.
"Kamu bahagia?" Tanya pak Toni pada putrinya
"Iya, Pa. Aku sangat bahagia." Sherin tersenyum.
Berbeda lagi pada Erika dan ibu Anggi. Mereka merasa kecewa atas keputusan Alby. Dalam hati mereka berdoa agar Nazia tidak datang ke pernikahan itu karena mereka tidak tega jika dokter cantik itu semakin terluka.
Senyum Sherin mengembang melihat Rayya dan Vian hadir di gedung itu. Rayya merasa muak melihat wajah Sherin yang tersenyum tanpa henti. Ia dan Vian langsung menuju ke pelaminan tanpa ingin berlama-lama.
"Selamat untuk kalian berdua." Rayya mengulurkan tangannya dan di ikuti juga oleh Vian.
Sherin segera menyambut uluran tangan Rayya dengan senyum bahagia. "Terimakasih sudah datang. Dimana temanmu itu?"
Alby juga membalas uluran tangan Vian dan Rayya. "Terimakasih" Ucapnya tersenyum di paksakan.
"Kamu belum menjawab ku. Dimana Nazia, apa dia tidak datang?" Ujar Sherin mengulang.
"Dia ada panggilan darurat.
Di rumah sakit. Saat ini sedang melakukan operasi." Jawab Rayya seadanya.
"Kasian hari libur pun ia bekerja. Miris sekali karena gaji, ia harus bekerja keras." Sherin tersenyum mengejek.
"Sherin !" Bentak Alby. Dia merasa tidak suka Nazia di jadikan bahan olokan wanita berstatus istrinya itu.
Rayya merasa geram jika bukan di pesta ingin rasa nya menjambak rambut pengantin itu.
"Kamu benar ! Selain gaji yang di kejar nya. Zi juga punya jiwa mulia siap menolong orang di mana saja tidak mengenal waktu dan tempat. Meskipun orang itu asing baginya !" Kata Rayya melemparkan tatapan tajam pada Alby. Ia sengaja mengingatkan pertemuan pertama pria itu dan Nazia.
Merasa suasana memanas, Vian menengahi antara Rayya dan Sherin.
"Al, sepertinya kami harus kembali. Kasian Vira lama di tinggal, sekali lagi selamat untuk kalian berdua"
__ADS_1
Rayya dan Vian meninggalkan gedung itu dengan perasaan kesal. Syukur Nazia memutuskan tidak datang begitu pikir mereka.
...----------------...
Pesta berjalan dengan lancar. Alby mulai jenuh dan lelah duduk di pelaminan. Matanya masih mengawasi orang-orang yang datang .Ia berharap jika Nazia akan datang di pernikahannya. Ada Rindu terselip di hatinya untuk dokter cantik itu. Tanpa Alby sadari jika ketidak hadiran Nazia di sana di karenakan keinginan pria ini sendiri. Pesta telah usai kini Alby dan Sherin menempati kamar pengantin milik mereka.
"Al, bantu aku melepas gaun ini." Ucap Sherin. "Al, kamu mendengar ku?" Sambungnya kesal.
Alby mengalihkan pandangannya pada Sherin. Cantik tapi entah kenapa ia merasa biasa saja. "Akan aku panggilkan seseorang"
"Hei kamu suamiku. Al ! Kenapa meminta orang lain untuk membantuku?" Ucap Sherin semakin kesal karena suami nya bersikap abai.
"Aku butuh waktu, Sherin !"
Sherin menarik paksa gaunnya hingga sobek. Ia meluapkan kekesalannya dengan melepaskan gaun pengantinnya sendiri. Alby memalingkan wajahnya karena tubuh Sherin hampir terlihat semua.
"Kenapa berpaling, Al ? kamu boleh melihat semuanya." Goda Sherin setelah kekesalannya hilang. Alby berdecak kesal lalu meraih gagang pintu ingin keluar dari kamar itu.
"Al, ini malam pengantin kita." Gadis itu memeluk dari belakang.
Alby berusaha melepaskan tautan tangan Sherin di dadanya. Tapi ia kalah cepat selain mengeratkan pelukannya Sherin juga berjinjit mengecup leher Alby. Hembusan nafas Sherin sangat terasa hangat di kulit lehernya. Sherin pandai membangkitkan gairah di tubuh suaminya itu. Alby sebagai pria normal merasakan denyutan libido yang mulai naik karena sentuhan benda padat dan kenyal menempel di belakangnya.
Sherin sangat agresif berpindah berdiri di depan Alby dengan tubuh polos tanpa kain menutup. Mata Alby terbelalak, Sherin teman masa kecil yang telah jadi istrinya itu sangat liar, kebanyakan wanita malu-malu di malam pertama. Tapi Sherin menyerahkan dirinya tanpa malu.
Gadis itu menempelkan bibir nya di bibir Alby. Dengan perlahan ia menyesapnya, sedikit demi sedikit Alby terbuai dengan permainan Sherin. Entah bagaimana mereka sudah berada di atas kasur dan Alby sudah tidak mengenakan pakaian lagi. Kini Sherin sudah berada di bawah kungkungan Alby . Dengan penuh nafsu laki-laki itu mencoba menerobos gawang pertahanan lawannya itu.
Namun, tanpa di duga Alby menarik tubuhnya kembali, matanya menatap tajam pada Sherin. Ia mendapati jika jaring gawang lawannya sudah kebobolan entah pemain dari mana yang melakukannya. Alby sebagai striker merasa kecewa. Karena ada yang mendahuluinya mencetak gol itu. Ia langsung berdiri dan melenggang pergi ke kamar mandi untuk mencuci tubuhnya.
"Kenapa , Al ?" Tanya Sherin dengan suara seraknya. Setelah Alby keluar dari kamar mandi. Birahi wanita itu sudah ada di puncaknya. Namun, Alby tiba-tiba berhenti.
"Kamu menipuku !"
"Maksud mu ?" Sherin menarik selimut menutup tubuhnya.
Alby tertawa palsu. "SUDAH BERAPA PRIA MENIDURI MU ! " Teriak nya penuh emosi.
"Jangan munafik, Al ! Kamu juga pasti sering melakukannya dengan para wanita mu." Balas Sherin santai.
"AKU BUKAN DIRI MU WANITA MURAHAN ! Aku tidak sembarangan memberikan tubuh berharga ku pada wanita." Suara Alby Naik enam oktaf.
Senyum Sherin musnah, ia tiba-tiba gemetar dan takut menghadapi amarah Alby. "Ma—maafkan aku, Al. Jangan menceraikan aku. Aku mencintaimu." Ucapnya sambil menangis.
"Aku membenci mu ! Aku pikir kamu lebih baik dari Nazia, ternyata kamu lebih buruk ! Asal kamu tahu sampai saat ini aku masih mencintai Nazia walau dia mengkhianati ku. Aku menikahi mu karena ingin mendapatkan keuntungan dari pernikahan ini. Perusahaan ku lebih penting dari diri mu !" Kata Alby meninggalkan kamar itu.
Sherin menangis sejadi-jadinya. Jika bukan karena kebodohannya mengikuti pergaulan bebas. Mungkin, saat ini ia sudah mereguk manisnya malam pertama bersama pria yang di cintainya itu. Malam pengantin indah dalam bayangannya menjadi buruk karena dirinya sendiri.
...----------------...
Nazia telah menyelesaikan pekerjaannya. Ia meraih ponselnya dari atas kasur. Ada pesan dari ibu Felisya untuk mengajaknya bertemu esok hari.
"Kamu belum tidur?" Tanya Ivan membuka kamar Nazia.
"Aku belum mengantuk"
"Ada yang kamu pikirkan?" Tanya Ivan.
"Ibu Felisya ingin mengajak bertemu"
"Temui saja." Balas Ivan.
Nazia mengangguk lalu merebahkan tubuhnya di atas kasur. Sementara Ivan keluar dari kamar itu.
__ADS_1
"Apa lagi yang ingin dibahas Ibu Felisya?" gumam Nazia.