Suami Manja Dokter Zi

Suami Manja Dokter Zi
Cemburu Cantik


__ADS_3

Malam menjemput dengan indah malam ini, di atas langit ada bulan purnama memberikan cahayanya. Tak hanya itu, bintang pun juga ikut andil dalam penerangan malam ini.


Di ruang keluarga rumah ibu Mira, mereka berbincang seru bersama Zevin dan Nazia. Tak lupa ibu Mira juga menyampaikan rencananya untuk ikut dokter Radit kembali ke kotanya. Namun mereka berjanji satu bulan sekali akan pulang menemui Nazia dan Ivan.


Rumah sakit milik dokter Radit tidak bisa ditinggalkan lama begitu juga Ivan tidak bisa meninggalkan restoran miliknya untuk ikut pulang bersama papanya. Jadi mereka memutuskan Ivan tetap tinggal bersama Nazia dan Zevin.


Sejak tadi Zevin menahan kesal karena Ivan menempel terus pada istrinya seperti ulat bulu. Ivan bergelayut manja di lengan Nazia. Seperti tak ingin kalah Zevin pun melakukan hal yang sama.


"Jangan terlalu nempel pada, Zi." Bisik Zevin.


"Aku masih merindukannya." Balas Ivan tak mau kalah.


"Tapi jangan bergelayut begitu !" Kata Zevin.


"Kakak juga kenapa bergelayut di lengan Zizi." Balas Ivan


"Dia istriku !" Balas Zevin.


"Dia Kakakku !" Ujar Ivan


Dua pria ini saling berbisik, tanpa mendengarkan dokter Radit bicara


Dasar menantu dan anak durhaka umpat dokter Radit dalam hati


"Sudah malam, ayo kita istirahat." Ajak ibu Mira. Karena waktu memang menunjukkan pukul sembilan malam.


"Baiklah Ayo." Ucap dokter Radit.


Mereka berdua meninggalkan ruang tengah dan masuk ke kamar mereka.


"Zi, aku tidur denganmu ya." Rengek Ivan.


"Tidak boleh ! Tidur sendiri saja." Sahut Zevin.


"Malam ini saja, Kak. Aku ingin bercerita banyak dengan Zizi." Kata Ivan memelas.


"Tidak ! Lain waktu kalian bisa lanjut bercerita." Bantah Zevin.


"Nanti aku lupa, Kak." Balas Ivan tak mau mengalah.


Zevin semakin kesal. Ia menarik tubuh  Nazia ke dalam pelukannya.


"Kamu akan mengganggu aktivitas penting kunanti." Menggerutu pelan.


"Baiklah, ayo !" Nazia berdiri dari sofa.


Zevin membulatkan matanya, kenapa Nazia mengijinkan pria gemulai itu ikut ke kamar mereka?


"Tapi sayang, dia punya kamar sendiri !" Zevin masih berusaha menolak.


"Hanya malam ini." Kata Nazia. Ia menarik tangan Zevin untuk mengikutinya.


"Awas kamu menempel pada istriku nanti." Zevin mulai mengomel sendiri

__ADS_1


"Kak Zev menyebalkan ! " Balas Ivan tak mau kalah.


"Kamu yang menyebalkan ! Seperti tidak ada hari esok saja." Zevin masih menggerutu.


"Aku nanti lupa apa yang ingin kuceritakan." Balas Ivan.


"Sayang sudahlah." Seru Nazia.


Ivan tersenyum menang di belakang suami istri itu. Secepat kilat ia menyalip Nazia dan Zevin.  Ivan menjatuhkan tubuhnya di kasur Nazia dengan tersenyum lebar.


"Cuci kaki tangan dulu, Van !" Titah Nazia.


"Iya sayangku." Balas Ivan malas.


"Ish ! " Desis Zevin kesal.


Setelah selesai ritual ke kamar mandi, Ivan kembali berbaring. "Ayo, Zi ! Kita rebahan."


"Awas ! pakai guling pembatas." Zevin meletakkan guling diantara Nazia dan Ivan.


"Aku kesempitan, Kak." Kata Ivan tak  terima.


"Itu aturannya, jangan sampai menyentuh kulit istriku." Zevin merebahkan tubuhnya di samping Nazia. Senyumnya tersembunyi di ceruk leher istrinya. Setelah menarik selimut hingga batas lehernya Zevin kembali membenamkan wajahnya di ceruk leher Nazia. Ivan menggerutu karena tidak kebagian selimut.


Zevin memang licik selimut di belakangnya berlebih ke atas karpet di sisi kasur. Tangannya mulai nakal menggerayangi tubuh istrinya. Tapi Nazia tidak terpengaruh karena fokus mendengarkan cerita Ivan.Zevin kesal sendiri lalu ia memutuskan untuk tidur lebih dulu.


Hampir satu jam Nazia dan Ivan bercerita banyak hal akhirnya mereka merasa mengantuk. Dalam pendengaran Zevin sangat sepi tidak ada lagi suara istrinya mau pun Ivan. Perlahan ia membuka matanya dan benar saja sudah sepi. Bahkan Nazia mulai pulas tertidur.


"Kemana anak itu? Biarkan saja mungkin kembali ke kamarnya. Mimpi aku ya sayang jangan mimpi orang lain." Zevin mengecup kening istrinya lalu mengeratkan pelukan nya di tubuh Nazia dan kembali tidur.


...----------------...


Rumah Sakit Z.K


Istirahat siang, Zevin mengajak Nazia  dan Rayya untuk makan siang di restoran milik Vian. Selain ingin bertemu Vira, Zevin juga ingin bertemu temannya itu.


Mobil hitam milik Zevin terparkir sempurna. Nazia dan Rayya turun terlebih dulu lalu kemudian disusul Zevin. Sebelum melangkah masuk mereka terlebih dulu disambangi Yudha yang berdiri tak jauh dari mereka.


"Boleh bergabung?" Tanya Yudha. Sorot matanya mengarah pada Nazia.


Sekali lagi mata itu membuat Zevin kesal, suami Nazia ini memilih diam tak ingin menjawab.


"Kamu di sini juga? Baiklah ayo masuk. Nanti kukenalkan pada suamiku."  Rayya yang menjawab.


"Terimakasih ."


Mereka berempat duduk di kursi dan meja yang sama, Zevin memesan makanan untuk dirinya dan juga Nazia. Sambil menunggu makanan datang. Vian datang menghampiri mereka bersama Vira.


"Apa kabar, Zev?" Vian menyalami Zevin


"Kabarku baik. Sini putrimu, aku merindukannya." Zevin mengulurkan tangannya untuk meraih bayi perempuan itu.


Vian memberikan Vira pada Zevin. Yudha mengecek ponselnya sesekali ia mencuri pandang pada Nazia.  Vian berkenalan dengan Yudha dan berbincang sedikit untuk basa basi.

__ADS_1


Ponsel Zevin bergetar di saku celananya. Ia memberikan Vira pada Rayya. "Sayang aku jawab telpon dulu ya." Ucapnya pada Nazia. Pria ini sedikit menjauh dari meja, Nazia melihat heran tak biasanya Zevin menjauh saat menjawab telpon.


"Bagaimana?" Tanya Zevin setelah menekan tombol hijau di layar ponselnya.


"Informasi yang anda inginkan sudah saya dapatkan tuan. Kapan kita bisa bertemu? Saya sedang di kantor pusat." Jawa Erik. Dia lah yang menelpon saat ini.


"Besok saja, malam ini kami pulang ke rumah papa Bram." Jawab Zevin.


"Baiklah tuan, sampai bertemu di rumah baru anda."


"Jangan memforsir tenaga, Rik ! Aku tutup telponnya dulu." Kata Zevin.


Di meja, semua makan sudah tersaji. Nazia belum memulai makan karena menunggu Zevin. "Sayang ayo makan !" Laki-laki ini duduk kembali di kursinya.


Seperti biasa memberikan suapan pertama pada sang istri. Yudha tersenyum tipis melihat perhatian Zevin pada Nazia. Manis saja pikirnya bisa memanjakan istrinya.


Zevin selalu memperhatikan apa yang dimakan Nazia begitu pun sebaliknya. Pria ini bisa menempatkan diri jika di dalam atau di luar ruangan.


...----------------...


Di tempat lain, pak Reza meminta asistennya untuk mengatur jadwal bertemunya dengan Nazia. Dia juga ingin meminta asistennya itu agar menemui Nazia terlebih dulu untuk membuat janji.


"Pa, jangan mengganggu Zia !" Alby memperingatkan Papanya.


"Kamu cukup diam saja ! Setelah tanah itu papa beli,  kita tidak ada urusan lagi dengannya." Balas pak Reza.


"Jika dia menolak jangan paksa Zia, karena papa akan berhadapan denganku." Ancam Alby.


"Jangan bodoh, Al ! Dia sudah menikah untuk apa membelanya lagi tidak ada gunanya untukmu." Sinis pak Reza.


Alby mengepalkan tangannya, dirinya sangat kesal. Mungkin ia tidak lagi dapat memiliki Nazia. Tapi setidaknya bisa memberikan kesan yang baik untuk Nazia dan Zevin.


Walau bagaimana pun mereka pernah dekat dan berteman. Biarlah kesalahan dimasa lalu akan dijadikan pelajaran.


"Kita ke mana tuan?" Tanya Jimmy dengan pandangan lurus ke depan.


"Restoran Vian."


Hari ini mereka berkunjung ke kantor cabang. Alby mendesah pelan, hidupnya tidak lagi berwarna. Menempuh perjalanan beberapa menit mereka tiba di depan restoran Vian.


Seperti dejavu, Alby melangkahkan kakinya masuk ke dalam restoran. Namun langkahnya terhenti saat matanya tertuju pada meja yang tak jauh dari tempatnya berdiri


Wajah yang terus membayangi matanya, sosok yang masih dirindukannya ada di sana. Jimmy ikut menghentikan langkahnya. Matanya ikut mengarah pada pandangan Alby.


" Zia ! " Jimmy langsung menyapa


Suara Jimmy mengalihkan perhatian beberapa orang yang sedang makan di meja itu.


" Kak Jimmy, apa kabar? " Nazia Balas menyapa dan bertanya.


" Kabarku baik! Bagaimana denganmu? "


" Kabarku juga baik, Kak." Ujar Nazia.

__ADS_1


Alby memilih diam, cukup melihat mantan kekasihnya sedekat itu sudah membuatnya senang. Begitu juga Zevin hanya fokus menyuapi istrinya. Tanpa ingin ikut berbasa-basi.


__ADS_2