
Pria tua namun masih tampan ini, tidak main-main dengan kata-katanya. Sudah hampir tiga jam mengajak Nazia berkeliling. Tapi belum ada tanda-tanda ibu Mira menelponnya. Maka dengan terpaksa pak Indra menjalankan rencana B nya, yaitu menjadikan Nazia tawanannya.
"Om, aku mau pulang"
Pak Indra beralih melihat ke pada Nazia. "Bisa kita bekerja sama? Om hanya ingin mendapatkan maaf dari mama mu."
"Aku harus apa?"
"Tinggallah di rumah kami selama beberapa hari, sampai mama mu mau memaafkan om" Jawab Pak Indra dengan nada memohon.
"Tapi, aku praktek sore. Dan bagaimana dengan Zevin ? Dia pasti salah paham nanti"
"Kenapa kamu harus takut Zev salah faham ? Kamu tidak mencintainya"
Nazia terdiam, kalimat pak Indra baru saja mencubit hatinya. Kenapa ia harus takut kalau Zevin salah faham ? Kenapa ia ingin menjaga perasaan pria itu ? Mobil pak Indra masuk ke halaman rumahnya. Nazia kagum dengan tempat tinggal Pak Indra.
"Ayo turun."
"Tapi bagaimana dengan tante Feli?" Nazia ragu menurunkan kakinya dari mobil.
"Dia tidak akan marah."
Nazia memberanikan turun dan mengekor di belakang pak Indra. Baru berapa langkah mereka sudah di hadang Zevin.
Sorot matanya tajam kepada pak Indra. "Dari mana saja membawa, Zi ?" Suaranya terdengar datar dan dingin.
"Jalan-jalan."
"Kamu senang menghabiskan waktu bersama pria tua ini?" Tanya Zevin.
"Maafkan aku, Zev. Papa mu memaksaku untuk ikut." Jawab Nazia pelan.
"Tinggal jawab senang, apa susahnya !" Zevin keluar meninggalkan depan pintu.
Nazia tertunduk sedih, belum pernah Zevin bersikap seperti itu sebelumnya. Ada perasaan sakit menjalar di hatinya.
"Masuklah !" Seru pak Indra.
"Aku ingin pulang, Om." Kata Nazia. Bola matanya nampak memerah.
"Menginap di sini saja !" Ucap pak Indra melenggang masuk.
Nazia tak tahu harus berbuat apa? Satu sisi memikirkan Zevin dan sisi lainnya, ia takut pada pak Indra kalau mengganggu keluarga nya. Karena Nazia merasa sedikit aneh dengan cara permintaan maaf pak Indra yang menjadikan nya sandra.
"Ayo masuk sayang kenapa masih di situ?" Suara ibu Felisya mengejutkan Nazia.
"Ma—maafkan aku tante, aku tidak bermaksud mengacau di sini"
Ibu Felisya tersenyum. "Istirahatlah ! Nanti sore kamu praktek bukan ? Ayo tante antar ke kamar Zevin"
"Ta—tapi tante ak—"
__ADS_1
"Menurutlah" Potong Ibu Felisya . "Masuklah ! Kamu tidur di kamar ini karena kamar tamu sedang di perbaiki. Tidak usah sungkan segala keperluanmu sudah ada di sini" Jelas ibu Felisya langsung keluar dari kamar
Nazia mengangguk lalu duduk di atas kasur king size milik Zevin. Matanya mengitari seluruh isi kamar. Benar kata ibu Felisya, semua keperluannya telah mereka siapkan. Merasa lelah Nazia pergi ke kamar mandi membersihkan wajah, tangan dan kakinya. Lalu merangkak ke atas kasur.
"Wanginya lengket di guling ini" Gumam Nazia tersenyum. Terselip rindu di hatinya pada Zevin. Hari ini tidak seperti biasanya waktu bertemu mereka hanya sedikit dan tidak sesantai sebelumnya di tambah lagi Zevin marah kepada pak Indra. Nazia mengambil parfum milik Zevin di atas meja lalu menyemprotkannya pada bantal dan guling lalu tertawa dengan kekonyolannya. "Apa yang aku lalukan ? Kenapa sejak tadi dia mengusik ku." gumamnya sesaat sebelum memejamkan matanya.
...----------------...
Zevin gelisah dengan pikirannya sendiri. Apa benar papanya ingin menggantikan ibu Mira dengan Nazia ? Kenapa jadi rumit begini ? Itu yang dipikirkannya.
Merasa jenuh Zevin pergi ke rumah ibu Mira. Berharap bisa mendapatkan solusinya di sana. Mobilnya berhenti di depan rumah ibu Mira kebetulan dokter Radit duduk di luar.
"Zev, ayo masuk !"
"Terimakasih, Om." Balas Zevin.
Wajahnya lesu dan tak bersemangat.
"Kamu kenapa, Zev?"
Zevin menghembuskan nafasnya kasar. "Papa mengajak Zi jalan-jalan hampir seharian" Ibu Mira dan dokter Radit memilih diam agar dokter tampan ini mengeluarkan uneg-uneg nya. "Aku tidak suka seperti itu ! Zi, milikku tante. Apa dia tidak pulang?" Sambung Zevin berwajah manja
"Papa mu tidak akan mengantarkan Zi pulang, sebelum tante memaafkannya dan kamu juga sudah mendengar jika papa mu menyukai, Zi" Jawab ibu Mira berat hati.
"Zi, seperti sandra dan papa menyukainya ? Apa papa sudah pikun?" Zevin menjadi kesal.
"Om rasa begitu ! Mungkin dia menyesal melepaskan tante Mira di masa mudanya dan dia akan menebus kesalahannya itu pada Zizi." Sahut dokter Radit semakin memanaskan keadaan.
Ibu Mira menghela nafas. "Tante belum bisa memaafkan papa mu sepenuhnya. Tante sangat kecewa padanya."
"Lalu bagaimana aku dan Zi ? Aku tidak bisa menerima jika papa menyukai Zi." Zevin menunduk sedih.
"Istirahatlah ! Kamu pasti lelah." Kata ibu Mira.
"Maksud, Tante?"
"Karena papa mu menyandra, Zi. Jadi, tante juga menyandra mu, sebelum Zi pulang kamu tinggallah di sini tidur di kamar, Zi" Kata ibu Mira.
"Baiklah, Tante." Jawab Zevin patuh.
Semua gara-gara papa. Ah, kami seperti anak tertukar saja
Zevin masuk ke dalam kamar Nazia dan menelpon Erik, sambil berleyeh-leyeh di kasur. Zevin tidak seperti Nazia mengitari seluruh isi kamar karena sering masuk ke kamar itu.
"Iya tuan, apa yang bisa saya bantu?"
"Kemas baju-baju ku, masukkan ke dalam koper dan beberapa keperluanku. Antarkan ke rumah tante Mira." Perintah Zevin.
"Anda pindah, tuan ?"
"Aku jadi sandra tante Mira, karena papa juga menyandra, Zi." Jelas Zevin dengan nada kesal.
__ADS_1
"Permintaan maaf macam apa itu ? Baiklah tuan nikmati waktu anda sebagai sandra"
"Cari tahu kenapa ponsel Zi tidak aktif dan kamu datanglah ke rumah lihat Zi tidur di kamar mana?" Kata Zevin.
"Tenang tuan, saya sudah mencari informasi itu. Ponsel nona Zi di ambil sama tuan Indra, dan nona tidur di kamar anda"
"Benarkah ? Kenapa papa mengambil ponsel, Zi?" Tanya Zevin.
"Benar, Tuan indra sengaja menyimpan ponsel nona agar tidak menghubungi ibu Mira atau anda supaya tidak membantu nona kabur dari sana "
"Bisakah, kamu mengirimkan papa ke kutub selatan ? Untuk memecahkan batu-batu salju di sana." Zevin semakin greget.
"Saya tidak berani, Tuan ! Selamat beristirahat."
"Papa benar-benar mengajak ku perang ! Baiklah terimakasih informasinya. Aku akan membujuk tante Mira agar memaafkan pria tua itu." Ucap Zevin mematikan telpon.
...----------------...
Hari menjelang sore di tempat berbeda Nazia dan Zevin sama-sama bersiap untuk pergi ke rumah praktek tanpa mereka tahu jika jam praktek Zevin di setting oleh pak Indra agar mundur satu jam. Papan namanya juga sudah diganti oleh orang suruhan pak Indra.
Zevin mendengus kesal melihat jam prakteknya pada papan nama di halaman rumah praktek itu sudah berubah. Malas mempermasalahkan itu, Zevin pergi ke restoran Vian. Sampai di sana menceritakan semua pada Rayya dan Vian.
"Bersabarlah, Zev. Kamu harus membujuk tante Mira agar memaafkan papamu." Ucap Rayya.
"Aku merindukan, Zi !"
"Tinggal pulang ke rumah utama apa susah nya"
"Papa tidak memperbolehkan ku masuk, dia tahu aku pasti mengeluarkan Zi dari sana. Terlanjur aku pulang ke apartemen tadi." Keluh Zevin.
"Lucu ! Kalian sama-sama jadi Sandra" Seru Vian tertawa.
Setidaknya Zevin sedikit senang dengan Nazia menjadi tawanan pak Indra maka akan mempersulit langkah Alby. Jika dirinya saja tidak bisa bertemu pada Nazia apa lagi Alby hanya orang luar.
"Bagaimana ini, Ay?" Rengek Zevin.
"Biarkan aku berfikir, Zev !"
"Sayang, bagaimana jika kamu mengajak Zi jalan-jalan." Usul Vian.
"Ide buruk ! Om Indra tidak tahu kalau kita mengetahui Zevin putranya." Jawab Rayya.
"Kamu benar, Ay. Kalau begitu kamu telpon nomor asistennya minta disampaikan pada Zi kalau kamu hamil susah makan." Kata Zevin.
Lengan Zevin panas di pukul Rayya. "Apa tidak ada ide lebih buruk dari itu ?!"
Zevin terkekeh. "Aku pusing, Ay. Sekarang aku harus apa ? Ayo bantu aku"
"Kenapa dunia percintaan mu serumit ini ? Apa kalian di kehidupan sebelumnya suami istri ?" Tutur Rayya kesal.
Tak lama masuklah Erik menyusul ketempat itu. "Tuan, nona Zi sudah pulang ke rumah tuan Indra."
__ADS_1
"Baiklah, ayo kita ke rumah praktek. Aku sudah berdandan rapi malah tidak bisa bertemu dengan, Zi. Aku meragu apa tuan Indra itu benar papaku"