Suami Manja Dokter Zi

Suami Manja Dokter Zi
Kenapa harus pergi?


__ADS_3

Di salah satu ruang VIP restoran mewah, dua orang wanita tengah duduk berbincang sambil menikmati makan siang mereka. Tapi, tidak terasa nikmat untuk wanita muda yang duduk di hadapan ibu Felisya.


Sesuai pesan masuk kemarin, kini Nazia duduk satu meja bersama Nyonya Indra Jaya.  Nazia berusaha tetap sopan pada ibu temannya itu. Walau dalam hatinya kesal atas sikap Nyonya Indra padanya.


"Apa yang ingin anda sampaikan kepada saya?" Tanya Nazia mengisi hening nya ruangan itu.


Ibu Felisya melirik pada Nazia sambil tersenyum tipis. "Pergi dari kota ini !" Kalimat pendek terlontar dari bibirnya sukses membulatkan mata Nazia.


"Kenapa ? Apa kesalahan saya ? Untuk apa saya harus pergi dari kota ini?" Pangkal kening gadis itu berkerut menandakan ingin penjelasan lebih lanjut.


Ibu Felisya berdecak kesal. "Aku ingin kamu pergi sejauh-jauhnya dari kota ini ! Dengan begitu Zevin tidak lagi mendekati mu." Ujarnya membuang tatapan ke luar jendela.


Nazia tersenyum tipis. "Anda jangan cemas Nyonya. Sampai saat ini saya tidak memiliki perasaan apapun pada putra anda. Jadi jangan takut ! Saya tidak seburuk yang anda pikirkan. Percayalah ! Saya tidak akan mengganggu perjodohan Zevin putra anda." Tegasnya dengan mimik wajah berubah datar dan dingin.


"Baiklah ! Tapi, jika suatu hari nanti kata-kata mu berubah jangan salahkan saya jika berbuat lebih." Ibu Felisya memberikan senyum angkuhnya.


Nazia mengepalkan tangannya di bawa Meja. "Tenang saja, saya masih cerdas untuk tidak terlibat pada keluarga Indra !"


Ibu Felisya menatap Nazia sejenak sebelum melenggang pergi meninggalkan tempat itu. Dokter cantik ini menghembuskan nafas kasar lalu beranjak dari kursinya. Mereka meninggalkan restoran itu dengan perasaan masing-masing.


Di tengah perjalanan ibu Felisya bernafas lega. Setelah mendengar ucapan Nazia tadi. Artinya, dokter cantik itu bukan penghalang besar untuk perjodohan putranya.


Di sepanjang jalan Nazia larut dalam pikirannya. Kenapa harus pergi ? Kenapa harus meninggalkan kota ini ? Ia melajukan mobilnya kembali ke rumah sakit setelah mendapat telpon darurat dari sana.


...----------------...


Setelah kejadian malam pertama yang membuatnya kecewa, Alby memutuskan pulang ke apartemennya dan meninggalkan Sherin seorang diri di hotel.


Alby memberitahukan Jimmy untuk menjemput Sherin dan membawanya pulang ke apartemen. Alby sudah tidak memikirkan untuk membeli rumah baru untuk mereka berdua. Ia terlanjur kecewa bukan karena hanya malam pertama. Namun, ia kecewa pada wanita yang di kenalnya baik selama ini tapi tidak bisa menjaga dirinya sendiri.


Dalam sunyi nya Alby mengetuk- ngetuk pena di atas meja. Ada rindu di hatinya pada sosok Nazia. Senyumnya, suaranya yang lembut, kata-kata halusnya semua di rindukan Alby. Ingin rasanya berlari menemui mantan kekasihnya itu, tapi Alby terjebak dengan kata-katanya sendiri, dengan meminta pada Nazia bersikap tidak saling mengenali. Miris memang ketika ambisi lebih unggul dari segalanya maka penyesalan pun kian menyiksa setelahnya.


Bibirnya tersenyum tipis mengingat kenangannya bersama Nazia.


"Apa kabar kamu sekarang ? Berbulan-bulan aku tidak pernah melihat mu lagi."


"Permisi Tuan muda." Sapa Jimmy membuka gagang pintu.


"Masuk saja, Jim."


"Tuan, anda yakin akan tinggal disini ? Nona Sherin sudah ada di luar, dimana kamar yang akan kalian tempati?"


Alby terkekeh. "Apa yang kamu pikirkan, Jim ? Suruh dia menempati kamar tamu. Aku jijik satu kamar dengannya."


Jimmy terdiam. Ada apa dengan tuannya ? Begitu pikirnya. Ini pilihannya kenapa Alby harus menghindar dari istrinya ?


"Baiklah tuan saya permisi."


"Selesaikan urusan wanita itu dulu setelah itu kembali lagi kesini."


Jimmy mengangguk kemudian meninggalkan ruang kerja Alby untuk menemui Sherin. Nampak wanita itu duduk di sofa dengan wajah di tekuk. Mendengar suara langkah seseorang Sherin langsung mengangkat kepalanya. Ia berharap suaminya yang menyambut tapi ternyata Jimmy yang datang.


"Permisi nona, anda akan menempati kamar tamu."


"Apa ?! Jadi aku dan suamiku tidak satu kamar?" Tanya Sherin tak percaya.


"Benar Nona, silahkan bawa barang-barang anda." Jawab Jimmy tanpa berniat membantu nona mudanya.


Sherin melangkah kasar sambil menarik koper miliknya. Dengan wajah masam ia masuk ke kamarnya. Setelah menyusun barang bawaannya ia kemudian menemui Alby.


"Apa maksudnya kita pisah kamar?" Tanya Sherin membuka pintu ruang kerja Alby.


"Masuklah !"


Sherin dengan senang hati masuk ke dalam ruangan itu. Ia langsung berniat duduk di pangkuan Alby, bermaksud menggoda pria itu lagi.


"Al, aku merindukan mu." Sherin memasang wajah manjanya


"Jaga sikap mu Sherin!" Alby melayangkan tatapan tajam pada istrinya itu.

__ADS_1


"Kenapa ? kamu suamiku, Al."


"Istri ? Benar kamu memang istriku. Tapi, cuma di depan publik dan di atas kertas ! Aku tidak sudi memiliki istri bekas orang lain. Seandainya kamu bisa menjaga dirimu, mungkin aku bisa belajar mencintaimu. Tapi semua sudah terlambat tidak ada hal yang bisa membuatku menginginkan mu. Sebagai teman mu saja aku kecewa padamu, apa lagi sebagai suami. Cih menjijikan !" Kata Alby meluapkan emosinya.


Sherin tertunduk meremas ujung dress nya. Sakit rasanya mendengar ucapan Alby. Bayangan menjadi Nyonya Alby hidup bahagia kini pupus sudah. "Maafkan aku, Al" Ucap nya penuh penyesalan.


Alby berpindah duduk di sofa. "Sementara ini kita akan tinggal disini, jika ada yang bertanya jawab sebisa mu dan satu lagi jangan ikut campur urusanku!" Suara nya sedikit melunak.


Sherin hanya mengangguk pasrah sebelum meninggalkan ruangan Alby. Setiba di kamar Ia merebahkan tubuhnya di atas kasur menatap langit-langit kamarnya.


"Aku belum menyerah ! Sampai tahap ini aku sudah bersusah payah. Termasuk memisahkan Al dengan wanita itu. Aku akan mencoba cara lain untuk mendapatkan Alby seutuhnya." Gumam Sherin


Setelah memesan makan siang untuk Alby. Jimmy kembali masuk kedalam ruang kerja tuannya.


"Tuan kenapa tidak membeli rumah ? Apa nanti kata mertua anda jika putrinya tinggal di apartemen" Kata Jimmy


"Biarkan saja jawabannya ada padaku."


Mereka diam sejenak masing-masing larut dalam pikirannya. Alby berpindah ke sofa. "Atur bulan madu di tempat terdekat. Dan pesankan dua kamar aku akan mengatur semua nya agar terlihat rapi."  Titahnya lagi.


"Baik, Tuan."


"Terus cari dalang kekacauan yang terjadi beberapa bulan lalu." Sambung Alby.


"Iya tuan tunggu sebentar lagi semua akan terungkap"


Alby berbaring di ujung sofa. "Bagaimana kabar Nazia?" Tanyanya tiba-tiba.


Jimmy melihat kepada tuannya di ujung sofa. "Entahlah, saya juga belum pernah bertemu dengan nona Zia beberapa bulan ini"


Alby menghela nafas kecewa.


"Jim, bagaimana hubungannya dengan pria itu?" Bertanya karena sedikit penasaran.


Jimmy tersenyum tipis. "Namanya Ivan, seorang koki. Dia juga tinggal di rumah nona Zia. Usianya dibawah nona dalam kata lain, dia adik susu nona Zia putra asuh Ibu Mira"


"Anda menolaknya waktu itu, saat saya ingin mencari tahu" Jimmy tersenyum mengejek.


Alby mengusap kasar wajahnya. Ada penyesalan yang terdalam, apa boleh buat nasi sudah menjadi bubur.


"Lupakan saja ! Cepat atau lambat aku memang harus mengakhiri hubungan kami karena kembali lagi pada perusahaan, Nazia tidak bisa memberi pengaruh besar pada bisnisku." Ucapnya tanpa perasaan.


Jimmy mengangguk dengan perasaan kesal.


Tunggu sebentar lagi tuan muda. Anda akan tahu seberapa berharganya nona Zia


Terdengar bel berbunyi, Jimmy segera keluar ternyata makanan yang di pesannya sudah datang. Tidak lupa ia memberikan untuk Sherin sebelum menyiapkan untuk diri nya dan Alby.


...----------------...


Usai dengan rentetan pekerjaannya di rumah sakit.  Nazia pulang ke rumah dengan raut wajah yang tidak bisa di tebak. Ada kesedihan ada juga tidak. Nazia bingung mengambil sikap seperti apa ?


Satu sisi, ia ingin menjauhi Zevin karena tekanan dari ibu Felisya. Di sisi lainnya ia tidak tega dengan pria itu karena memang di antara mereka tidak ada hubungan apa-apa selain pertemanan.


Ibu Felisya melihat dari hasil penyelidikannya, hanya Nazia yang dekat pada putranya. Ia tahu bahwa putranya itu menyukai gadis itu.


Awalnya ibu Felisya ingin sekali Zevin cepat menikah tapi setelah tahu Nazia gadis dari keluarga sederhana, ibu Felisya berubah pikiran, apa yang bisa di banggakannya di depan teman sosialitanya jika Zevin menikahi dokter cantik itu.


...----------------...


Nazia dan Ivan sedang menikmati sarapan pagi mereka. Ibu Mira sudah di jemput pagi sekali oleh Vino. Ia berniat membawa ibu Mira ke tempat tugasnya untuk beberapa minggu ke depan. Vino tidak memiliki orang tua lagi maka Ibu Mira tempatnya berkeluh kesah. Wanita paru baya inilah yang telah membesarkannya selama ini.


"Zi, ponsel mu bergetar."


Nazia menoleh lalu melihat nama si pemanggil di ponselnya. "Iya, Zev."


"Buka pintunya."


"Haa ? Kamu dimana?" Tanya Nazia.

__ADS_1


"Ayolah sayang, aku di depan rumah mu. Bel rumah tidak bisa di pencet"


Nazia memutuskan panggilan. Lalu berdiri untuk membuka pintu. Zevin memberikan senyuman manisnya setelah pintu terbuka.


"Ayo masuk, ada apa sepagi ini sudah ada di sini?" Tanya Nazia menutup pintu kembali.


"Merindukan mu"


"Kak, Zev ! Aku juga rindu."


Ivan melihat kedatangan Zevin langsung berdiri ingin memeluknya.


Dokter ini memasang wajah siaga. "Jangan memeluk ku !" Pria itu bersembunyi di belakang Nazia.


"Sedikit saja, Kak." Goda Ivan mengerlingkan mata.


"Ayo sarapan." Ajak Nazia lembut.


"Iya, kemana tante Mira?"


"Di jemput kak Vino untuk ikut dia sementara."


Zevin mengangguk lalu menyuapi nasi goreng ke mulutnya. Lezat terasa karena Ivan yang memasaknya. Tapi jika ada ibu Mira maka, Ivan tidak mau berurusan dengan dapur.


"Zi, kak Zev ! Aku berangkat dulu" Pamit Ivan.


"Hm, hati-hati"


Ivan melenggang pergi meninggalkan dua orang itu di sana. Zevin memperhatikan sikap canggung Nazia sambil tersenyum tipis.


"Kamu selesai?"


"Iya, sini aku yang mencuci piringnya" Zevin mengambil alih piring kotor dari atas meja.


"Jangan Zev aku saja."


"Sebagai pasangan suami istri pekerjaan itu diselesaikan sama-sama, sayang !" Zevin tak memperdulikan kata-kata Nazia. Pria itu dengan cekatan mencuci piring bekas sarapan mereka, sementara Nazia bertugas membersihkan mejanya.


Zevin melirik dari sudut matanya. Lalu tersenyum.


Kita akan menyelesaikan pekerjaan rumah tangga  bersama


"Apa yang aku pikirkan?" Ia bergumam pelan.


Nazia menyelesaikan pekerjaannya lalu bersiap untuk pergi ke rumah sakit. Zevin menarik tangan gadis itu untuk keluar bersama dari rumah.


"Ehm ! Nazia calon suami mu romantis sekali, keluar dari rumah masih menggenggam tangan mu." Goda tetangga Nazia.


Nazia refleks menarik tangannya. Tapi genggaman Zevin semakin kuat.


"D—dia bukan ca—"


"Iya, Bu. Genggaman tangan calon istri saya adalah Vitamin ampuh buat kebugaran tubuh saya." Potong Zevin cepat.


"Manis sekali ! Kamu lihat, Pa. Mereka pasangan muda menggemaskan !" Ucap Ibu tetangga sambil bicara pada suaminya yang baru keluar.


"Permisi, Bu. kami berangkat dulu." Pamit Nazia.


Ibu tetangga mengangguk sambil melambaikan tangannya. Zevin memaksa Nazia ikut dengannya pergi ke rumah sakit. Di perjalanan gadis itu hanya diam menatap lurus ke depan.


"Kamu marah padaku?"


Nazia menghela nafas panjang.


"Tidak. Aku hanya tidak ingin ada kesalahpahaman orang-orang terhadap kita."


Zevin tersenyum lebar.


"Dan aku akan membuat kesalahpahaman orang-orang itu menjadi sebuah kenyataan."

__ADS_1


__ADS_2