Suami Manja Dokter Zi

Suami Manja Dokter Zi
Cantik Seperti Magnet


__ADS_3

Di dalam kamarnya Alby masih ingat pertemuan tak sengaja bersama Nazia di restoran Vian. Hatinya memanas setelah melihat Zevin bermanja-manja pada mantan kekasihnya itu.


Ingin rasanya Alby datang dan meminta maaf atas kesalahannya. Tapi dia cukup gengsi melakukan itu. Hingga, ia hanya melihat dari kejauhan. Alby gelisah, beberapa kali memejamkan matanya. Tapi sosok Nazia semakin datang mengganggu pikirannya. Wajah cantik bagai magnet itu, selalu membawanya ingin terus mengingatnya. Rasa cinta bercampur rasa bersalahnya semakin membuat Alby tidak bisa berbuat apa-apa pada hatinya sendiri.


Merasa tidak bisa tidur, ia pergi ke dapur untuk mengambil air dingin. Di ruang tengah Alby berpapasan dengan Sherin yang baru pulang. Wanita itu datang dengan wajah lelah.


"Kamu belum tidur?"


Alby menatap tajam pada istrinya itu. Tercium bau alkohol dari hembusan nafas  Sherin. "Ternyata ini asli dirimu !" Ucapnya melenggang ke dapur.


Sherin terkekeh. "Kamu saja pria rumahan !" Ia langsung melangkah  menuju kamarnya.


Alby duduk termenung di meja makan. Pikirannya melayang pada  nasib pernikahannya. Cukup lama larut dalam pikirannya, Alby masuk kembali ke dalam kamar nya.


Waktu sudah menunjukkan pukul 12 malam tapi matanya masih terjaga. Dengan hembusan nafas berat, Alby meraih kunci mobil dan jaket kulit miliknya.


Alby mencari udara tak jauh dari Apartemennya. Laki-laki itu duduk di kursi sebuah taman menyendiri. Lampu pijar di pasang di beberapa sudut menjadikan taman itu sedikit temaram. Hawa dingin semakin menusuk pori-pori kulitnya. Namun, Alby masih betah berdiam diri di sana.


Sunyi dalam kegelapan tubuh Alby mulai tidak mampu menerima rasa dingin itu. Ia memutuskan untuk pulang. Sesampai di apartemen Alby langsung masuk kedalam selimut tanpa melepaskan jaketnya terlebih dulu, dilihatnya jam menunjukkan jam 3 pagi. Cukup lama ia duduk di bangku taman itu.


...----------------...


Jimmy seperti biasa akan menjemput tuan mudanya terlebih dulu sebelum pergi ke kantor. Beberapa kali, ia memencet bel tapi belum ada tanda-tanda pintu terbuka. Akhirnya Jimmy membuka menggunakan kode yang di berikan Alby dulu


"Tuan anda sudah bangun?" Tanya Jimmy seraya mengetuk pintu kamar Alby. Sepi, tidak ada sahutan dari dalam. Jimmy kembali mengetuk pintu. "Tuan muda anda sudah bangun?"


Masih sama tidak ada sahutan.  Jimmy pergi ke ruang kerja Alby. Di Sana ia juga tidak menemukannya. Perasaan Jimmy jadi tidak tenang, ia kembali ke kamar Alby ingin membuka pintunya. Namun, pintu itu terkunci dari dalam. Jimmy terpaksa mendobrak pintu. Karena perawakannya tinggi besar hanya tiga kali tendangan, Jimmy bisa membuka pintu itu. Ia langsung masuk melihat tuannya meringkuk dalam selimut. Dengan cepat ia melangkah ke pinggir kasur lalu membuka selimut. "Tuan muda !! Anda kenapa?" Jimmy panik mendapati Alby pucat pasi di dalam selimut. Ia menempelkan punggung tangannya di kening Alby. "Anda demam tuan ! Kita ke rumah sakit"


Pria itu berlari keluar meminta bantuan beberapa orang yang melintas di depan unit atasannya itu  untuk membawa Alby keluar dari apartemen. Ia tidak sempat berfikir lagi untuk menelpon dokter keluarga melihat kondisi Alby menggigil kedinginan. Selama tinggal di apartemen tanpa ada yang berani protes dari pihak keluarganya atau pun Sherin. Bahkan di pikiran pak  Reza dan pak Toni bahwa anak menantu mereka sengaja ingin menghabiskan waktu berdua. Saat mereka mempertanyakannya Alby dan Sherin kompak untuk memberikan jawab yang sama. Karena semua sudah di atur oleh Alby.


Jimmy melajukan mobil dengan kecepatan tinggi, karena masih pagi jalanan dalam keadaan sepi. Tiga puluh menit mereka tiba di rumah sakit. Jimmy meminta brankar lalu membantu  perawat mengangkat tubuh Alby dari dalam mobil. Pria itu sudah tidak sadarkan diri di perjalanan ke rumah sakit.


Sambil menunggu Alby mendapatkan pertolongan. Jimmy mengabari keluarga atasannya itu. Tidak lupa ia juga meminta seseorang untuk memarkirkan mobilnya.


...----------------...


Zevin hampir tiap pagi menjemput Nazia ke rumahnya, jika gadis itu menolak maka ia akan mengempeskan ban mobil miliknya. Lalu mereka menaiki mobil Nazia. Ia punya seribu akal untuk selalu bersama gadisnya.


"Zev, singgah di toko roti itu ! Aku pengen roti yang masih hangat" Nazia menunjuk toko roti.


"Siap cinta." Zevin melirik ke kaca sambil menepi.


Nazia turun dari mobil lalu menghampiri si penjual roti itu.


"Selamat pagi Nona ! Selamat datang di toko kami. Silahkan pilih rotinya karena anda pengunjung pertama pagi ini kami akan kasih anda bonus" Sapa si penjual roti tersenyum ramah. Wajah penjual roti itu sangat tampan bisa di pastikan dia seusia Ivan.


Nazia membalasnya dengan senyuman. "Kamu tampan sekali ! Pasti  banyak orang mengantri disini hanya ingin melihat mu, sebagai bonusnya mereka akan membeli roti-roti ini."  Pujinya sambil memilih roti.


"Apa anda juga akan mengantri untuk bertemu dengan saya?" Goda si penjual. Ia pun mengangumi Nazia. Bahkan berfikir wanita di hadapannya ini seusianya.


"Tentu tidak ! Karena dia sudah memiliki pria tampan di rumahnya yaitu aku." Seru Zevin dari belakang Nazia. Penjual roti itu tersenyum sambil mengangguk kecil.


Nazia memilih beberapa roti yang disukainya, tidak lupa juga membelikan untuk Rayya. "Kamu mau yang mana, Zev?"


Merasa di perhatikan Zevin tersenyum senang. "Sama dengan mu, Sayang"


Nazia sudah terbiasa dengan panggilan Zevin yang berubah-ubah padanya.


Penjual roti memberikan satu roti sebagai bonus. "Terimakasih nona atas kunjungannya selamat menikmati" Ucapnya sambil memberikan plastik rotinya.


Nazia mengangguk setelah membayarnya, mereka melanjutkan perjalanan ke rumah sakit. Nazia sudah tidak sabar untuk mencicipi roti itu. Ia membuka satu lalu menyuapi ke mulutnya, memang benar-benar enak.  Ia sangat menikmati rotinya.


"Cinta, kamu tidak mau berbagi denganku?" Seru Zevin sambil mengemudi.


"Kamu mau ? Tapi kamu sedang mengemudi"


Zevin tersenyum. "Kamu bisa menyuapiku, sayang !"


"Ha ? Aku ?" Semenjak tahu Zevin menyukainya. Nazia selalu merasa canggung.


"Iya siapa lagi ? Ayo cepat suapi aku"


Nazia mengangguk lalu mengambil rotinya dan mulai menyuapi Zevin. Pria ini tersenyum senang menerima suapan roti itu langsung dari tangan gadis pujaannya itu.


"Lagi?"


Zevin mengangguk sambil menikmati tiap kunyahan roti di mulutnya. Tanpa terasa mereka sampai di rumah sakit. Nazia turun terlebih dulu dari mobil kemudian di susul oleh Zevin.

__ADS_1


"Ayo." 


"Tunggu."  Nazia menghentikan langkahnya. Zevin berdiri di hadapan gadis itu. Tubuhnya membeku saat tangan Nazia terangkat ke arah wajahnya. "Ada mentega di bibirmu" Nazia menggosok sisa mentega di sudut bibir Zevin.


Jantung pria itu berdetak lebih cepat saat merasakan tangan Nazia menyentuh bibirnya.


Hanya menyentuh  bibirku saja lututku rasanya lemas. Apa lagi dia menciumnya bisa-bisa aku pingsan


Wajah Zevin merona merah.


"Ayo"


"Ha ? A—ayo kita masuk" Zevin terbata


...----------------...


Alby sudah sadarkan diri. Ia juga sudah pindah ke ruang inap. Setelah menyesuaikan penglihatannya dengan cahaya di ruangan itu. Alby berusaha untuk duduk.


"Jangan duduk, Nak. kamu masih lemah" Ibu Anggi menahan tubuh putranya.


Alby kembali merebahkan tubuhnya agak menyandar. "Aku kenapa, Ma?"


"Kamu pingsan sayang. Demam mu tinggi"  Ibu Anggi menyesuaikan posisi ranjang.


Alby melihat di sekelilingnya. Di Sana telah berkumpul keluarganya.


"Kamu makan dulu, Al."


Alby membuang pandangannya dari Sherin. "Ma aku haus" Ucapnya melihat pada ibunya. Ibu Anggi mengangguk. Lalu mengambil gelas dan membantu Alby untuk minum. Merasa di acuhkan Sherin menjadi geram.


"Kamu makan, sayang?" Tanya ibu Anggi.


Alby mengangguk lalu mengambil alih mangkok bubur dari tangan Sherin. Pak Reza dan Pak Toni berpamitan pergi kekantor karena Alby sudah bangun.


"Cepat sembuh, Al." Ucap Pak Toni.


Alby membalas dengan anggukan.


Erika datang membawa buah-buahan. "Bagaimana kondisi mu?"


"Kepala ku masih pusing"


Alby merebahkan tubuhnya kembali setelah makan sedikit. "Aku hanya lelah."


Erika menatap tajam pada Sherin. "Kamu kemana saja sampai Alby sakit tidak tahu ? Aku tahu kalian pisah kamar tapi setidaknya kamu bisa memperhatikannya dari jauh. Aku jadi ragu apa benar kamu mencintainya atau hanya obsesi kamu semata" Ucapnya sinis.


Sherin diam membisu. Jika memang mencintai Alby setidaknya, ia berjuang menunjukkan rasa cintanya. Bukan membiarkannya dan melakukan hal yang membuat hubungannya dengan Alby merenggang.


...----------------...


Di gedung yang sama tapi di ruang berbeda. Zevin sedang mengatur ritme jantungnya setelah mendapat serangan kedua dari Nazia. Jika tadi ia merasakan tangan gadis iru menyentuh bibirnya, maka sekarang tanpa sengaja Nazia jatuh dari kursi saat mengambil buku di rak atas lalu menimpa tubuh Zevin yang tengah duduk di sofa.


"Kalian kenapa?" Di tengah kebisuan mereka berdua. Rayya masuk kedalam ruangan itu.


"Zi, jatuh"


"Apa ? Mana yang sakit" Rayya langsung meraba kaki tangan Nazia.


Zevin seakan tersadar dari keterkejutannya. Ternyata, ia lupa menanyakan keadaan Nazia.


"Aku baik-baik saja"


Zevin dan Rayya bernafas lega. Mereka memulai praktek di poli klinik. Zevin di panggil keruangan direktur. Lalu Rayya dan Nazia melangkah menuju ruangan mereka masing-masing. Mereka selalu bergiliran dengan dokter yang lain untuk praktek di poli klinik dan juga menjadi dokter jaga. Melayani pasien cukup lama. Sampai antrian habis, Nazia dan Rayya kembali keruangan mereka karena waktunya beristirahat.


"Ayo makan siang." Ajak Zevin baru kembali dari ruangan direktur.


"Ayo, di kantin saja ya. Aku malas keluar." Nazia meletakkan buku daftar pasiennya.


Zevin mengangguk sambil bersandar di tembok menunggu  Rayya dan Nazia. Mereka berdua melangkah keluar sambil membahas roti yang di beli Nazia. Tidak hanya itu, mereka berdua antusias menceritakan  ketampanan penjualnya.


"Puas memujinya" Seru Zevin kesal


"Kamu cemburu, Zev ?" Ejek Rayya.


"Iya, aku tidak mau Zi memuji pria lain" 


Rayya dan Nazia tersenyum. Masih belum move on dari penjual roti yang tampan itu, bercerita sambil berjalan mereka sampai di kantin. Zevin memesankan makanan untuk Nazia dan Rayya. Mereka makan diselingi dengan membahas rumah praktek Nazia.

__ADS_1


"Kak Jimmy " Kata Nazia.


"Boleh bergabung?" Tanya Jimmy tersenyum manis


"Silahkan pria menuju tua" Jawab Zevin santai.


Padahal dalam kalimatnya syarat akan makna untuk Jimmy. Jangan tersenyum pada Nazia begitu kira-kira maknanya. Jimmy tersenyum  tipis, lalu menarik kursinya untuk duduk.


"Kamu bekerja kantoran, kenapa makan siangnya di kantin rumah sakit?" Tanya Zevin.


Jimmy terkekeh mendengar pertanyaan Zevin. "Tuan Alby sakit dia dirawat disini sejak tadi pagi"


Mata Zevin mengarah pada Nazia ingin melihat reaksinya. "Cinta, apa kita menjenguknya?"


"Aku tidak mengenalnya"


Zevin tersenyum. Begitu pun Jimmy wajar saja Nazia membenci Alby pikir mereka.


"Hanya sebentar sayang, aku belum meminta maaf karena tidak datang ke pernikahannya." Zevin berusaha membujuk.


"Kamu saja ! Aku akan pulang naik taksi"


"Jangan ! Aku yang mengantar mu pulang." Balas Zevin cepat. Nyalinya menciut mendapatkan tatapan yang akan menghilangkan kesempatannya untuk pulang bersama. Zevin sangat yakin jika Nazia memang benar-benar melepaskan Alby.


"Panggilan mu manis sekali,  apa kalian memulai hubungan baru" Pertanyaan Jimmy tertuju pada Zevin.


"Kami akan menikah"


Nazia melotot kearah Zevin.


...----------------...


Usai makan siang Nazia dan Zevin bermaksud pulang ke rumah. Begitu juga Rayya. Jimmy kembali ke kantor setelah menjenguk Alby. Di perjalanan ponsel tiba-tiba Zevin bergetar.


"Iya, Pa."


"Datanglah ke kantor sebentar, ada yang ingin papa bahas sedikit "


"Baiklah" Jawab Zevin. Sementara gadis di sisinya hanya diam. Tanpa berniat bertanya. "Sayang kita ke kantor papa dulu." Sambung Zevin setelah menyimpan ponselnya.


"Kalau begitu turunkan aku di depan biar aku naik taksi"


"Tidak, kamu ikut denganku."


Mobil Zevin berhenti di depan kantor Indra Jaya. Ia mengajak Nazia masuk setelah melewati drama penolakan dokter cantik itu.


"Selamat siang Tuan,  Nona. Ada yang bisa kami bantu?" Tanya resepsionis ramah.


"Kami dari rumah sakit induk Indra Jaya. Ada janji temu dengan Pak Indra" Jawab Zevin.


"Silahkan tuan, rekan saya akan mengantar anda."


Zevin mengangguk sambil menggenggam tangan Nazia. Mereka berdua melangkah bersama.


"Kenapa tidak langsung masuk?" Tanya Nazia.


"Mereka tidak tahu aku putra pemilik tempat ini."


Mereka telah sampai di lantai tempat ruangan Presiden direktur. Zevin mengetuk pintu terlebih dulu setelah sekretaris mempersilahkan.


"Masuk."


Zevin mendorong gagang pintu. "Selamat siang, Pa."


"Selamat siang, Ayo masuk, Nak."


Zevin melangkah masuk lalu di ikuti Nazia. Pak indra menatap lekat wajah dokter cantik itu. Seperti terhipnotis Pak Indra tak berkedip melihatnya. Zevin merasa heran, kenapa papanya mematung melihat Nazia.


"Pa, kenalkan dia, Nazia." Zevin membangunkan Pak Indra dari dunianya.


"Ah iya. Maaf papa terkagum dia sangat cantik. Selamat datang, Nak ! Kenalkan, om Papanya Zev" Pak Indra mengulurkan tangan.


"Nazia, Om." Nazia membalas uluran tangan pak Indra.


"Pa, jangan lama-lama melihat wajah Zi." Seru Zevin merasa cemburu.


"Mengganggu saja" Gerutu pak Indra masih terdengar jelas.

__ADS_1


Nazia tersenyum, sekali lagi Pak Indra membisu. Ia menatap dalam wajah gadis itu.


Senyum yang manis, Mata yang indah dan suara lembut, kecantikan yang tidak membosankan. Dari mana kamu wariskan semua ini Nazia ?


__ADS_2