
Kediaman Zevin Kavindra
Dua Bulan Kemudian...
Pagi menjemput dengan cerah pagi ini. Nazia masih enggan untuk bangun, kehamilannya yang memasuki usia 7 bulan ini membuat dirinya semakin berat. Sesuai kesepakatan Nazia kini beristirahat di rumah sampai waktunya bersalin.
Zevin semakin gemas pada istrinya yang terlihat semakin seksi dengan perut membesar. "Sayang, bangun ! Aku punya sesuatu untukmu." Zevin mengecup pipi Nazia.
Nazia mengerjap.
"Maaf aku terlambat bangun. Kamu sudah mandi?" Ia berusaha duduk.
"Sudah sayang ! Aku ada sesuatu untukmu, ini." Zevin memberikan kotak berwarna maroon pada istrinya.
Nazia menerima kotak itu setelah duduk sempurna. "Apa ini?" Ia membuka kotak itu dengan hati-hati.
"Surprise !" Zevin tersenyum lebar.
Nazia tersenyum melihat seperangkat perhiasan yang sangat indah tertata di dalamnya. "Kamu yang membuat sketsanya?" Ucap lnya sambil mengambil satu - persatu kalung, gelang dan cincin serta anting yang ada di dalamnya.
"Tentu sayang, sekarang kamu mandi. Hari ini ! Aku akan mengajakmu jalan-jalan. Aku juga sudah menyiapkan gaun untukmu." Balas Zevin.
"Benarkah ? Baiklah terimakasih sayang. Aku suka perhiasannya." Ucap Nazia memeluk tubuh suaminya.
Usai bersiap, Nazia dan Zevin turun untuk sarapan. Demi istrinya Zevin sengaja tidak masuk ke kantor hari ini. Seperti biasa sarapan harus dibumbui dengan drama kemanjaan Zevin.
"Zi, aku berangkat dulu ya." Pamit Ivan.
"Hati-hati, Van."
"Kita belanja hari ini ya." Seru Zevin.
Nazia tersenyum.
"Masih 7 bulan sayang."
"Tidak masalah, kita cicil mulai hari ini belanjanya. Nanti jika kamu lelah kita istirahat. Karena semakin tua kehamilanmu maka semakin berat dan kamu cepat lelah." Jelas Zevin.
"Baiklah, aku bersiap dulu." Balas Nazia. Ia segera naik ke lantai atas untuk bersiap.
Zevin menanti dengan sabar, sambil memegang ponselnya. Setelah Nazia bersiap. Zevin menggandeng istrinya agar masuk ke dalam mobil yang telah disiapkan Erik.
"Silahkan Tuan, Nona." Erik mempersilahkan.
"Terimakasih, Rik." Ucap Zevin. Kali ini mereka menaiki mobil sport milik Zevin.
"Saya akan ke kantor dulu, nanti saya akan menyusul bersama kak Ralda."
"Baiklah, jangan terlambat." Balas Zevin.
Mobil Zevin melaju meninggalkan pekarangan rumahnya. Sepanjang perjalanan mereka berbincang membahas perlengkapan bayi mereka. Beberapa menit kemudian mobil Zevin berhenti di depan salah satu pusat perbelanjaan .
"Ayo sayang kita turun." Ajak Zevin. Dibalas anggukan dari Nazia.
Saling bergenggaman tangan mereka memasuki Mall itu dan masuk ke dalam toko perlengkapan bayi. Zevin dan Nazia merasa gemas melihat betapa lucunya sepatu dan baju bayi. Seluruh keluarga sudah sering bertanya jenis kelamin bayi mereka namun, Zevin dan Nazia memilih merahasiakannya.
"Ini lucu sayang, warnanya cocok." Zevin mengambil beberapa sepatu bayi.
"Iya, ambil saja."
Ibu-ibu yang bersamaan memilih pakaian bayi. Saling berbisik-bisik karena melihat Zevin lebih semangat dalam belanja. Nazia sengaja memberikan kesempatan untuk suaminya banyak memilih barang untuk bayi mereka.
Serasa sudah cukup dan lengkap Zevin mengajak Nazia untuk berisitirahat. "Sayang kita ke kafe itu ya." Tunjuk Zevin dengan sorot matanya.
"Iya, aku haus sekali."
Mereka berdua masuk ke dalam cafe usai mengirim barang belanjaan ke rumah mereka. Zevin mengangkat tangannya memanggil pelayan untuk memesan makanan dan minuman.
...----------------...
Hari menjelang sore, Nazia dan Zevin tengah bersiap untuk jalan-jalan sore. Namun, kali ini nampak berbeda. Sesuai permintaan suaminya Nazia pergi menggunakan gaun dilengkapi perhiasan yang baru saja diberikan Zevin.
Nazia mematut dirinya di kaca, meneliti penampilan sore ini. "Kita pergi kemana? Kenapa harus memakai gaun?"
__ADS_1
Zevin yang telah siap melangkah menghampiri Istrinya dan memeluknya dari belakang.
"Hari ini, spesial untukmu sayang." Ia mengecup pipi Nazia berulang-ulang.
"Baiklah, hari ini aku cukup mematuhimu. Ayo berangkat !" Ajak Nazia.
Zevin melepaskan pelukannya lalu menggenggam tangan Nazia keluar dari kamar mereka.
"Ki, nanti kamu menyusul ya." Seru Zevin.
"Iya, tuan hati-hati di jalan."
Nazia merasa bingung.
"Kiki nyusul kemana?"
"Rahasia sayangku." Ujar Zevin tersenyum.
Nazia tak lagi bertanya, ia mengikuti langkah Zevin menuju mobil yang di dalamnya Erik sudah menunggu.
"Kita jalan, Tuan." Ucap Erik.
"Iya, pelan-pelan saja."
Di mobil Nazia bersandar di dada suaminya, menikmati suasana sore meskipun dia belum tahu tujuan mereka. Semakin lama, Nazia mengenali arah perjalanan.
"Panti asuhan."
"Iya sayang, kita mampir sebentar tadi aku sudah meminta mobil box untuk membawakan beberapa pakaian dan peralatan sekolah." Jelas Zevin.
"Terimakasih."
Setelah menghabiskan waktu yang cukup lama di panti asuhan, kini Zevin dan Nazia meninggalkan tempat itu. Hari semakin sore, Nazia tidak lagi bertanya hanya mengikuti kemana saja Zevin membawanya.
"Kita turun sayang."Zevin menoleh pada istri nya.
"Studio foto"
"Iya, kita akan membuat moment kehamilan pertamamu." Jelas Zevin antusias.
"Terimakasih sayang, aku bahkan tidak terpikirkan tentang ini."
Zevin mengurai rambut panjang istrinya. "Kamu dan anak kita adalah harta berhargaku. Jadi tiap waktu adalah momen terpenting untukku."
"Terimakasih sudah memprioritaskan aku." Ucap Nazia menatap lekat wajah suaminya.
"Kamu yang utama Cinta." Zevin tersenyum.
Mereka memasuki studio foto. Di sana semua pegawai studio yang terlibat dalam pengambilan foto kali ini sudah siap menunggu. "Bisa kita mulai, Tuan ?" Tanya fotografernya.
"Iya, untuk gambar pertama pakai gaun yang dikenakan istriku saat ini."
"Baik, Tuan." Balas penata gaya.
Zevin dan Nazia berpose sesuai arahan penata gaya, beberapa kali pengambilan gambar kini mereka berganti pakaian lain. Zevin mengambil tema sesuai profesi mereka berdua sebelumnya.
Empat kali ganti pakaian akhirnya pengambilan foto selesai, Zevin meminta pihak studio mencetaknya dengan ukuran besar agar bisa dipajang di dinding rumahnya.
"Minum dulu sayang, maaf membuatmu lelah." Zevin memberikan botol air mineral untuk istrinya.
"Aku tidak lelah, hanya haus saja." Balas Nazia lembut.
"Setelah ini kita ke restoran Vian, aku lapar mau makan menu hari ini." Ujar Zevin menggenggam tangan istrinya.
"Baiklah, ayo ! aku juga lapar. Dia sudah menendangku sejak tadi." Balas Nazia mengusap perutnya dan merasakan tendangan bayi untuk kesekian kalinya.
"Benarkah ? Maafkan papa sayang ! Kamu pasti lapar ya?" Zevin Menjongkok ikut mengusap perut Nazia dan menciumnya. Sontak saja aksinya itu membuat pegawai wanita di studio merasa iri dan gemas.
Nazia terkekeh. "Lihatlah kamu jadi objek perhatian orang. Aku tidak
suka." Ucapnya posesif.
Wajah Zevin merona merah karena istrinya posesif. "Ayo kita jalan." Ia tersenyum menarik tangan Nazia melangkah keluar.
__ADS_1
Beberapa menit kemudian, mereka tiba di restoran Vian. Saat masuk Nazia dikejutkan dengan tampilan di dalam restoran itu nampak dihias dengan indah. Tak hanya itu, seluruh kerabat mereka juga sudah duduk di kursinya masing, Nazia menutup mulutnya takjub. Kapan suami manjanya itu mempersiapkan semuanya ?
"Acara untukmu sayang." Bisik Zevin tersenyum puas melihat wajah bahagia istrinya.
"Terimakasih . Aku bahagia sekali." Ucap Nazia berkaca-kaca haru.
Zevin tersenyum lalu mengecup kening Nazia. Suasana menjadi hening seketika, semua mata tertuju pada mereka.
"Terimakasih sudah memilihku dalam hidupmu, selalu ada untuk mendukungku serta tertawa dan sedih bersamaku. Terimakasih, telah menjadi sandaran tubuhku ketika lelah dan rapuh. Terimakasih, telah bersedia menjadi pendamping yang terbaik selama ini. Sampai detik ini aku masih seolah bermimpi jika kamu wanita yang menjadi istri dan ibu dari anak-anakku. Ketika cinta ku tak terlihat olehmu, sekuat hati aku menahan rasa sakit hati melihat orang lain menggenggam tanganmu. Tapi setelah kamu melihat cinta yang ku miliki dan menerimaku menjadi suamimu, sejak itu lah aku sebagai pemenang hatimu yang akan menggenggam tanganmu sepanjang hidupku. I love you my wife semoga kamu sehat sampai persalinan sayang." Ucap Zevin panjang lebar meraih Istrinya kedalam pelukannya.
Nazia mengangguk dan berkata
" I love you too, kamu yang terbaik sayang."
Zevin mengambil buket bunga yang telah disiapkan Erik lalu memberikannya pada Nazia dan berkata pada semua orang.
"Silahkan dinikmati acaranya. Hari ini adalah hari ketujuh bulan istri saya mengandung buah hati kami. Saya hanya meminta doanya agar istri saya sehat sampai persalinannya. Nikmati pesta makan-makannya !" Ucap Zevin kepada semua orang.
Tamu undangan Zevin saling berbaur dan mencicipi makanan yang tersedia. Ia sengaja mengadakan pesta kecil itu di restoran Vian. Untuk berbagi kebahagiaan, tak sedikit Nazia mendapatkan hadiah dari rekan kerja Zevin.
Tanpa terasa waktu menunjukkan jam sepuluh malam, semua orang satu persatu telah pulang ke rumah masing-masing.
"Zev, papa dan mama pulang lebih dulu ya. Zi, jangan sampai lelah ajak pulang sekarang !" Pamit pak Indra.
"Iya, Pa. Sebentar lagi kami pulang."
"Hati-hati. Pa, Ma." Ucap Nazia
"Iya sayang."
Alby tak bisa mengantar Ralda kali ini, karena baru saja mendapat kabar jika ibu Anggi demam. Ia ingin bergegas pulang.
"Ra, maaf aku tidak bisa mengantarmu pulang. Mama tiba-tiba demam, tidak apa-apa, 'kan?" Ucap Alby
"Iya, tidak apa-apa." Balas Ralda lembut.
Alby mengangguk dan berpamitan pada Zevin. Tak lupa ia memberitahukan tidak bisa mengantar Ralda pulang.
"Tidak masalah nanti aku yang mengantar Kakak" Sahut Erik
"Malam ini aku pulang ke rumah kalian saja. Tadi sudah ijin sama Nyonya Feli" Ujar Ralda.
"Baiklah, aku pamit dulu." Seru Alby.
"Ivan kamu pulang ikut kita." Ujar Nazia. Di balas anggukan Ivan.
Zevin dan Nazia pulang lebih dulu. Sementara itu, Erik dan Ralda membantu Vian membereskan restorannya, walau Vian memiliki karyawan tapi tetap mereka ingin membantu.
Waktu terus berputar, Nazia melirik jam di atas nakas sudah menunjukkan jam 12 malam. "Sayang, kenapa Erik dan Ralda belum pulang juga?" Tanya Nazia.
"Kamu benar, aku telpon Vian lebih dulu." Zevin meraih ponselnya mencoba menelpon nomor Erik dan Ralda. Namun, hasilnya nihil panggilan tidak terjawab. Tak lama, Zevin mencari nama Vian di layarnya.
"Iya Zev."
"Apa kamu sudah pulang?" Tanya Zevin.
"Sudah jam sebelas tadi."
"Di mana Erik dan Ralda? Mereka belum sampai di rumah." Ujar Zevin cemas.
"Apa ? Mereka sudah pulang satu jam lalu."
"Aku telpon papa dulu." Zevin segera mematikan telpon.
Zevin segera menelpon pak Indra menanyakan keberadaan Erik dan Ralda.
"Iya, Zev kenapa ?" Suara pak Indra terdengar serak.
"Pa, apa Erik dan Ralda pulang ke rumah papa?" Tanya Zevin.
"Tidak, Nak. Tadi Ralda sudah ijin akan menginap di rumahmu."
"Pah, tunggu aku di rumah. Zi dan Ivan akan kuantar ke sana aku akan mencari Erik dan Ralda." Ujar Zevin.
__ADS_1
"Baiklah hati-hati ! Bawa beberapa orang bersama kalian."