Suami Manja Dokter Zi

Suami Manja Dokter Zi
Rumah Baru Zev & Zi


__ADS_3

Setelah menyelesaikan aktivitas setengah hari. Tiap individu perlu mengistirahatkan tubuh mereka sejenak, sebelum melanjutkan untuk bekerja sampai sore hari. Mereka juga saling antri di kantin instansi tempat mereka berkerja. Selain kantin sasaran utama, para pekerja juga menyerbu kafe dan restoran terdekat.


Disaat makan siang mereka juga tak luput memberikan perhatian pada kekasih, orang tua, anak, istri dan suami. Hanya sekedar bertanya kabar atau saling mengingatkan melalui telpon. Kesempatan itu mereka gunakan sebaik mungkin sebelum setumpuk pekerjaan menyita perhatian mereka.


Begitu juga dengan keluarga Indra, siang ini mereka akan bertemu di rumah baru milik Zevin, beberapa saat lalu dia sudah mengirimkan alamatnya pada pak Indra. Dua buah mobil datang bersamaan di alamat yang dituju.


Mereka keluar dari mobilnya masing-masing dengan perasaan takjub, melihat rumah baru Zevin dan Nazia yang memiliki halaman luas itu. Rumah mewah dua lantai ini  dilengkapi sisi kiri kanannya garasi mobil dan motor. Jarak menuju gerbang utama  sepanjang 50 meter dihiasi lampu penerangan yang cantik.


Pagar pembatas kiri dan kanannya menjulang tinggi banyak pohon buah setekkan  yang tertanam rapi di samping tembok.


"Kamu suka cinta?" Tanya Zevin menggandeng tangan Nazia.


"Suka ! Terimakasih sayang."


"Ayo masuk !" Zevin menarik tangan Nazia. Ia juga memberikan kunci rumah itu pada istrinya.


Pak Indra tersenyum puas melihat rumah pilihan putranya, begitu juga yang di rasakan kakek Ardian ia bangga pada cucu kesayangannya itu.


"Putraku memang yang terbaik!" Puji pak Indra. Ikut melangkah mengikuti yang lainnya.


Setelah pintu dibuka, mereka kembali dibuat terperangah dengan tata ruang yang nyaris sempurna paduan warna yang tidak membosankan . Zevin menjelaskan tiap ruang dan fungsinya. Bahkan dia juga menyiapkan lift khusus jika dalam keadaan darurat seperti tiba-tiba sakit tidak bisa turun atau naik menggunakan tangga manual.


"Sempurna sayang !" Ucap Ibu Felisya bangga.


"Semua sudah kupersiapkan setahun yang lalu, Ma." Balas Zevin puas.


"Tunjukkan kamar utamanya." Kata pak Indra.


"Iya, Pa. Ayo kita ke atas !" Ajak Zevin.


Mereka mengikuti Zevin. Pria ini tak sekali pun melepaskan genggaman tangannya dari Nazia. Sejak tadi tangan itu masih bertaut mesra. Walau pak Indra menyindirnya dengan keras.


"Buka sayang kamarnya." Ucap Zevin.


Nazia mengangguk.


"Baiklah "


Tangannya membuka gagang pintu kamar itu, dirinya tersenyum lebar melihat kamar mereka begitu luas lengkap dengan perabotannya. Tak hanya itu, dinding Balkon berbatas kaca transparan sangat memanjakan mata. Mereka bisa melihat pemandangan malam dari atas kasur.


"Wah bagus sekali sayang ! Aku suka" Ucap Nazia senang.


"Semua untukmu cinta."Zevin tersenyum.


"Kamu betul mempersiapkan semuanya dengan baik, Nak." Ucap pak Indra.


"Papamu benar ! Lihatlah kita bisa melihat pemandangan luar dari sini." Sahut ibu Felisya.


"Kamu tidak hanya pintar membuat sketsa perhiasan saja. Tapi juga pandai mendesain." Puji kakek Ardian.


"Itu hanya hobi, Kek." Balas Zevin terkekeh.


Pak indra iri dengan desain kamar utama putranya itu. Di tambah lagi posisi rumah itu terletak ditengah-tengah antara kediaman Ibu Mira dan pak Indra.


"Papa dan mama juga bisa memilih kamar di lantai atas atau bawah. Jika menginap di sini kalian sudah memiliki kamar sendiri." Kata Zevin.


"Benarkah ? Baiklah. Ayo Pa kita lihat kamar kita ! Ayah juga pilih kamarnya." Ujar ibu Felisya semangat. Menarik tangan pak Indra dan kakek Ardian


"Baiklah, ayo !" Ucap pak Indra. Mengikuti langkah istrinya.


Pintu tertutup dari dalam. Pak indra menoleh kebelakang dengan kesal.  Begitu juga dengan ibu Felisya dan kakek Ardian mereka terkejut dengan suara pintu kamar tertutup di belakang mereka

__ADS_1


"Anak itu ! Apa tidak sabar ingin mencoba kasurnya." Gerutu pak Indra. Di iringi kekehan ibu Felisya.


Di kamar Nazia menggeleng kepalanya tak habis pikir dengan tingkah suaminya itu. Sementara itu Zevin tersenyum manis tanpa dosa setelah menutup pintu kamar dan menguncinya.


"Kamu suka warnanya ?" Zevin merebahkan tubuhnya di atas kasur .


" Suka." Nazia duduk di tepi kasur.


"Sini sayang,  peluk aku." Ucap Zevin manja.


Nazia menurut saja, ia berbaring disisi Zevin lalu melingkarkan tangan  nya di tubuh suaminya.


"Ayo kita keluar ! Tidak enak sama mama, papa dan kakek." Ajak Nazia.


"Nanti saja, aku merindukanmu. Di rumah sakit aku tidak leluasa menciummu, memelukmu." Balas Zevin mencurahkan rasa rindunya.


"Tidak leluasa apanya? Kamu sudah seperti lem terus menempel padaku."


Zevin terkekeh.


"Kamu tahu, bertahun-tahun aku menyimpan sakit di hatiku. Saat melihat pria lain mendapatkan cintamu, aku cemburu saat mereka menggenggam tanganmu, memelukmu di depanku. Tiap malam aku meratapi cintaku yang tak terlihat. Dan sekarang Tuhan berpihak padaku ! Maka dari itu, aku akan membayar rasa sakit itu dengan kebahagiaanku saat ini. Tetaplah bersamaku sampai kematian menjemputku, jika aku boleh memilih kita harus pergi bersama menghadap Tuhan. Karena aku tidak mau kamu sendirian di dunia ini dan juga aku tidak mau kesepian tanpa istriku  menjalani kehidupan." Kata Zevin menatap lekat bola mata istrinya.


Nazia menitikkan air matanya haru. Kata-kata yang baru saja dilontarkan suaminya menghujam dasar hatinya yang paling dalam.


"Jangan bicara seperti itu lagi. Kita akan tetap hidup dan menua bersama membesarkan anak-anak kita nanti. Tanpa kamu minta, aku tetap di sisimu sampai kematian itu datang." Balasnya membenamkan wajahnya di dada suaminya.


"Aku tidak mau kehilanganmu lagi." Zevin memeluk erat tubuh Nazia.


"Maka aku lebih takut kehilanganmu." Nazia tersenyum


Zevin tersenyum senang. Ia tidak menyia-nyiakan kesempatan bibir cantik milik istrinya itu, perlahan dilumatnya lembut. Saling membalas penuh kasih mereka hanyut dalam ciuman panasnya.


"Aku mencintaimu ! " Ucap Zevin sekali lagi. Nazia mengangguk dan tersenyum. Zevin melonggarkan pelukannya lalu  berkata.


Nazia tertawa, dia memang jarang mengucapkan kata cinta tapi lebih membuktikannya dengan bahasa tubuhnya. Seakan faham keinginan suaminya, Nazia menangkup kedua pipi Zevin dan berkata.


"Aku juga Sangat - sangat mencintaimu!" Mengecup bibir Zevin singkat.


Dada pria ini berdebar hebat, pipinya merona. Tak dapat disembunyikan jika ia sedang senang dan bahagia. Zevin membenamkan wajahnya di ceruk leher istrinya sambil tersenyum.


Nazia terkekeh di sini siapa sebenarnya jadi wanita? Merasa cukup mengelilingi rumah baru mereka. Zevin dan yang lainnya meninggalkan rumah itu. Pak Indra mengantarkan ibu Felisya dan kakek Ardian pulang ke rumah utama.


Zevin dan Nazia kembali ke rumah sakit. Walau Nazia habis jam prakteknya, Zevin minta ditemani keruangannya.


...----------------...


Hari menjelang sore, Zevin menyelesaikan pekerjaannya. Ia tersenyum melihat Nazia pulas tertidur di ruang pribadinya. Gemas rasanya melihat istrinya begitu cantik di atas kasur. Zevin merebahkan tubuhnya di samping Nazia dan memeluknya erat seperti guling.


"Cinta bangun ! Ayo kita pulang sayang." Bisik Zevin. Kemudian memberikan ciuman bertubi-tubi di pipi istrinya.


Merasa kenyal-kenyal di pipinya, Nazia terusik lalu membuka matanya perlahan.Tubuhnya terasa kaku dan sesak, karena Zevin memperlakukannya seperti guling.


"Kamu sudah selesai?"


"Hm, ayo pulang lanjut tidur di rumah." Zevin memindahkan kakinya dari tubuh istrinya.


"Sebentar aku cuci muka dulu." Balas Nazia.  Beranjak masuk ke kamar mandi. Setelah merasa segar Nazia dan Zevin keluar dari sana.


Di perjalanan Nazia meminta Zevin singgah di toko roti. Sore ini mereka pulang ke rumah ibu Mira.


"Kamu mau kasih oleh -olehnya ?" Tanya Zevin.

__ADS_1


"Iya, sekalian beli rotinya."


"Awas saja anak itu besar kepala !" Zevin menggerutu pelan.


Mobil Zevin berhenti di depan toko roti, dirinya lebih dulu turun  membuka pintu untuk Nazia. Tangannya kembali posesif menggenggam jemari istrinya. Nazia tak mempermasalahkan mungkin itu salah satu cara suaminya mencurahkan cintanya.


"Selamat sore ! Selamat datang di toko kami, silahkan pilih roti mana yang anda suka." Sapa seorang wanita muda penjaga toko. Matanya melirik ke arah Zevin yang terlihat cuek. Bahkan pria ini hanya bertugas melihat wajah istrinya saja dari samping.


"Selamat sore ! Saya mau roti yang masih hangat. Ah, dimana Haris?" Nazia langsung bertanya keberadaan Haris.


"Ada Nona di belakang. Saya akan bungkus roti yang masih hangat, tunggu sebentar." Balas wanita itu.


"Baiklah, tolong panggilkan Haris saya ingin bertemu."


Wanita itu mengangguk. Matanya kembali melirik pada Zevin yang tengah merapikan anak rambut Nazia yang menutupi pandangannya.  Suami Nazia itu terlihat cuek tak ingin melihat keberadaan orang lain hanya fokus pada istrinya.


"Nyonya, Zi. Tuan, Zev !" Sapa Haris datang dari dalam.


Zevin mengalihkan pandangannya pada Haris. Wanita muda di belakang Haris terheran karena Zevin mau melihat wajah Haris sementara dirinya sedikit pun Zevin tidak melihatnya.


"Istriku mau roti yang masih hangat, dia juga ingin memberikanmu sesuatu." Kata Zevin.


"Iya tuan saya akan bungkuskan ." Haris tersenyum ramah. Ia mengambil roti dari tangan wanita disampingnya. Dengan cekatan Haris membungkusnya. Lalu memberikan pada Nazia. "Ini nona rotinya." Haris memberikan kantong plastiknya.


Zevin mengambil kantong plastik roti dari tangan Haris. Nazia memberikan paper bag yang sejak tadi dipegangnya.


"Ini untukmu."


Haris menerimanya dengan heran.


"Apa ini nona?"


"Oleh-oleh untukmu."


"Terimakasih Nona, di undang ke pernikahan kalian kemarin saja saya sudah senang." Balas Haris berbinar.


"Semoga kamu suka, kami pamit pulang dulu." Ucap Nazia.


"Terimakasih Nona, Tuan."


Zevin dan Nazia meninggalkan toko roti itu dan pulang ke rumah ibu Mira. Di toko Haris membuka paper bag yang diberikan Nazia, ia mengambil kotak kecil yang ada di dalamnya. Dengan penuh hati-hati ia membukanya. Haris terkejut bercampur senang melihat jam dalam kotak itu.


"Jam tangan !" Ucap wanita disamping Haris.


"Iya, sangat bagus ini pasti mahal." Balas Haris.


"Kamu mengenal mereka?" Tanya wanita itu.


"Iya, mereka pelanggan roti di sini. Nyonya Zi suka dengan roti yang masih hangat." Jelas Haris.


Nazia dan Zevin telah sampai di halaman rumah ibu Mira. Ivan mendengar suara mobil berhenti di depan rumah mereka langsung saja melangkah membuka pintu.


"Zizi sayangku !! Aku merindukanmu." Ivan berlari berhamburan memeluk Nazia.


Zevin tersentak melihat istrinya sudah dipeluk Ivan.


Ish !!  Kalah cepat !


Gerutunya dalam hati.


"Kak, Zev !" Ivan beralih memeluk Zevin. Pria itu tak sempat menghindar dengan pasrah ia menerima pelukan Ivan.

__ADS_1


Mendengar suara Ivan melengking. Ibu Mira dan dokter Radit  ikut keluar. Mereka menyambut Zevin dan Nazia dengan pelukan penuh rindu.


__ADS_2