Suami Manja Dokter Zi

Suami Manja Dokter Zi
Salam Perpisahan Termanis


__ADS_3

Nazia melihat suaminya itu dari atas sampai bawah, ia berusaha bangkit dari tempatnya duduk dan tertatih menghampirinya.


Ia menjatuhkan tubuhnya di hadapan kursi roda Zevin. Air matanya mengalir deras, jari-jari lembut itu gemetar meraba wajah pucat suaminya. Tatapan itu begitu sedih dan tidak berdaya ada ketakutan yang luar biasa di sana. Zevin membiarkan istrinya menyentuh wajahnya, ia membiarkan Nazia meyakinkan dirinya sendiri bahwa semuanya baik-baik saja.


Nazia meletakkan kepalanya di pangkuan  Zevin, ia menangis tanpa suara. Semua orang tahu jika saat ini Nazia sedang meluapkan perasaanya. Tangan Zevin mengusap lembut kepala istrinya dengan penuh kasih sayang. Ia memberikan kesempatan Nazia menangis di pangkuannya sampai beberapa menit berlalu.


"Ayo kita masuk, sekarang kamu percaya, 'kan ? Aku baik-baik saja." Zevin tersenyum menghapus air mata di pipi istrinya.


Nazia terlihat sedikit tenang, tapi tidak dipungkiri jika jauh dalam lubuk hatinya ia masih takut. Ia hanya mengangguk tanda menyetujui ucapan Zevin.


Pak Indra mendorong kembali kursi roda putranya untuk masuk ke dalam kamar rawat. Ia juga membantu Zevin naik ke atas ranjang pasien.


"Istirahatlah Nak." Pak indra mengusap pucuk kepala Zevin.


" Iya, Papa dan Mama juga istirahatlah. Ada Ivan dan istriku di sini "


Pak Indra melangkah menuju sofa untuk duduk. "Baiklah, Papa juga harus ke kantor polisi menyusul Erik."


"Tidak perlu, Pa. Nanti Erik yang akan datang ke rumah. Kasian kakek sendirian." Zevin menarik tangan istrinya dan menggenggamnya.


"Kamu yakin ? Tidak apa-apa jika mama dan papa pulang." Seru ibu Felisya.


"Iya, Ma."Zevin tersenyum meyakinkan.


"Baiklah kalau begitu, Ayo, Ma ! Kita pulang nanti malam kita kemari lagi."


"Sayang Mama pulang dulu ya, jangan sedih lagi suamimu baik-baik saja." Ibu Felisya menghampiri Nazia  dan memeluknya.


Nazia hanya membalas dengan anggukan, mulutnya seakan terkunci untuk bicara dan ibu Felisya sangat memahami itu.


"Van, titip menantuku." Pak Indra menepuk pundak Ivan.


"Iya, Om. Istirahatlah !"


"Rayya, kami pulang dulu jika ada apa-apa kabari saja." Pamit pak Indra.


"Iya, Om. Hati-hati di jalan."


Pak Indra dan Ibu Felisya meninggalkan ruangan Zevin. Di sana tinggal Rayya dan Ivan selain pasangan suami istri itu. Nazia duduk di samping ranjang masih menggenggam erat tangan suaminya, Zevin juga dapat merasakan betapa dinginnya tangan Nazia saat ini.


"Zev ! Cepat sembuh ya. Hari sudah sore aku akan pulang dulu. Jika nanti cuaca bagus aku datang lagi bersama Vian." Ujar Rayya.


"Iya, Ay ! Terimakasih."


"Zi , kamu jangan khawatir lagi. Aku pulang dulu ya." Pamit Rayya berat hati.


Dengan kondisi Nazia seperti itu, ia sangat berat meninggalkan sahabatnya itu, tapi ia percaya ada Ivan di sana yang mampu menghibur Nazia.


Zevin merasakan kepalanya masih pusing dan dadanya juga sedikit sesak dan nyeri. Nazia menyadari itu lalu bergegas berdiri dari tempatnya duduk.


"Katakan yang mana sakit?" Kalimat terpanjang diucapkan Nazia setelah beberapa jam yang lalu.


"Hanya pusing sayang, jangan cemas." Zevin tersenyum menenangkan kecemasan istrinya.


Nazia menatap Zevin begitu lekat.


"Istirahatlah !" Mengecup lembut kening sang suami.


Zevin mengangguk.


"Baiklah, sebelum tidur beri aku ciuman disini ! Di sini dan di sini." Ia menunjuk kedua pipinya dan terakhir bibirnya.


Tubuh Nazia kaku, kalimat itu persis sama seperti kalimat tiga tahun lalu. Ia hanya diam menatap tak berkedip pada suaminya. Zevin menjadi bingung kenapa istrinya hanya diam membisu ?


"Kamu kenapa sayang?"

__ADS_1


Apa aku salah bicara ?


Nazia meletakkan telunjuknya di bibir Zevin pertanda meminta pria itu jangan banyak bicara. Ia menarik selimut sampai batas dada Zevin lalu duduk kembali sambil mengusap punggung tangan Zevin yang masih di genggamannya.


Ivan dan Zevin saling pandang dengan tatapan bingung, kenapa Nazia tidak menuruti keinginan Zevin? sesaat kemudian Zevin merasakan ngantuk, perlahan tapi pasti ia mulai terpejam. Nazia menatap lekat wajah suaminya yang memancarkan kedamaian saat tidur.


Maafkan aku sayang, bukan tidak ingin menurutimu. Kalimat yang baru saja kamu ucapkan sama persis saat Abel memintaku memeluk dan menciumnya. Tanpa ku sadari, permintaan itu sebagai salam perpisahan termanis untuk selamanya. Aku tidak mau kenangan manis itu menjadi kenangan terakhir, aku tidak yakin akan sanggup menghadapinya jika hal itu terjadi juga padamu.


Nazia berulang-ulang mengecup punggung tangan suaminya.


"Zi, kamu tidak apa-apa jika aku tinggal sendiri? Aku mau pulang dulu mengambil baju ganti kita."


Hari menjelang senja, Ivan berniat pulang mengambil beberapa keperluan mereka selama menjaga Zevin.


"Baiklah hati-hati."


"Iya, aku akan cepat kembali." Ivan melenggang meninggalkan ruangan Zevin.


Nazia duduk tak melepaskan genggaman tangannya pada tangan suaminya. Ia sangat berharap kejadian yang pernah di alaminya tidak akan terulang lagi.


Pintu terbuka. Dokter Yudha masuk ke dalam ruangan Zevin, ia tersenyum. Walau wajah Nazia kacau dan mata sembab tapi tidak mengurangi kecantikan istri Zevin itu, bahkan Nazia nampak menggemaskan dan imut dengan hidung merah karena bekas menangis.


"Apa yang dia keluhkan?" Dokter Yudha melihat ke pada Zevin.


"Pusing."


"Itu efek terbentur dan luka dipelipisnya. Pemeriksaan keseluruhan dokter Zev akan dilakukan besok pagi saja, karena dokter radiologi sudah pulang. Aku akan ambil tindakan rontgen dan CT scan Serta pemeriksaan lainnya." Jelas dokter Yudha.


"Apa dia parah?" Tanya Nazia tidak mengalihkan pandangan pada wajah Zevin yang terlelap.


"Hasil pemeriksaan sementara tidak ada yang serius. Maka dari itu, kita observasi dulu. Dilihat dari lukanya dokter Zev mengendarai mobil dengan kecepatan di bawah rata-rata. Jika dia mengendarai dengan kecepatan tinggi mungkin dia akan parah dan di larikan ke ICU." Jawab dokter Yudha panjang lebar.


"Kamu yakin"


"Terimakasih."


"Kalau begitu aku permisi, jika darurat hubungi saja aku. Jangan sungkan !" Ucap dokter Yudha meninggalkan ruangan Zevin


...----------------...


Nazia mengangguk, setelah kepergian dokter Yudha ia membuka gorden kamar Zevin, nampak dari kaca hari sudah menggelap.


"Zi "


Nazia menoleh ke asal suara nampak Ivan datang dengan koper kecil di tangannya. Pria itu sudah segar dan berganti baju.


"Cepat sekali."


"Mandilah, biar aku yang menjaga kak Zev." Ujar Ivan.


"Iya." Balas Nazia walau ragu meninggalkan Zevin.


Setelah Nazia masuk ke kamar mandi, Zevin perlahan membuka mata untuk bangun. Pria itu merasa bagian tubuhnya terasa sakit.


"Kak, Zev ! Sudah bangun ?" Ivan berdiri dari tempatnya duduk dan membantu Zevin untuk duduk bersandar.


Ia mengedarkan pandangannya mencari keberadaan istrinya.


"Di mana, Zi?"


"Mandi."


"Kamu bawa makanan?" Zevin melihat ada rantang makanan di atas meja sofa.


"Iya kak, Kiki yang masak."

__ADS_1


"Kamu bangun?" Seru Nazia. Ia nampak segar setelah mandi.


Zevin tersenyum senang wajah istrinya terlihat tenang dari sebelumnya. "Iya sayang sini peluk aku." Zevin manja merentangkan tangannya.


Nazia mendekat dan memeluk tubuh suaminya itu penuh rindu. Tapi dilakukannya perlahan takut jika menyakiti dada Zevin.


"Aku merindukanmu sayang." Zevin enggan melepaskan dekapannya.


"Akan kuseka tubuhmu, setelah itu makan ya." Balas Nazia lembut.


Zevin melepaskan pelukannya dan tersenyum lagi. "Cinta, sini lihat aku." Ia menggenggam kedua tangan istrinya. "Aku baik-baik saja, jangan takut ! bukankah ? Aku pernah mengatakan sebelumnya. Jika aku tidak mau istriku kesepian dan aku juga tidak mau menjalani kehidupan sendiri tanpa istriku. Maka dengan itu aku memohon pada Tuhan agar kita selalu bersama-sama."


"Aku takut kehilanganmu." Sahut Nazia dengan lelehan air matanya.


"Dan aku lebih takut lagi kehilanganmu, jangan sedih lagi aku di sini untukmu." Zevin mengecup kedua punggung tangan Istrinya.


"Maafkan aku tidak langsung menemuimu tadi. Rasa takut lebih menguasaiku, Aku takut kamu seperti Abel meninggalkanku, bangun hanya untuk pamit padaku. Jika dulu aku masih ada harapan untuk bisa bangkit. Namun jika itu terjadi lagi, entah ! Apa aku bisa keluar dari Zona keterpurukan itu atau tidak." Nazia terisak.


Dada Zevin bergemuruh hebat tak menyangka jika setakut itu istrinya kehilangan dirinya. "Kamu mencintaiku?"


Nazia mengangguk.


"Ya, Aku mencintaimu lebih dari yang kamu tahu Zevin Kavindra." Ada lengkungan senyum di bibir Nazia.


"Terimakasih sayang, setelah membersihkan tubuhku. Aku mau makan di suap oleh istriku." Zevin kembali manja.


Di sudut sofa Ivan menatap jengah bercampur haru. Terharu karena keduanya memiliki cinta yang tulus satu sama lain. Jengah karena Zevin selalu manja dalam kondisi apapun.


Nazia dengan perlahan menyeka tubuh suaminya mengunakan air hangat kuku dan handuk kecil. Ia juga dapat melihat memar di dada suaminya selebar dua jari.


"Apa ini sakit?" Nazia meletakan ujung telunjuknya di dada Zevin.


"Kalau ditekan sakit. Mungkin terbentur setir mobil." Jelas Zevin melihat arah telunjuk istrinya.


Nazia sangat hati-hati menggosok handuk itu setelah selesai ia memberikan salep ditempat yang memar. Karena Zevin tidak mau memakai baju khusus pasien terpaksa Nazia memasang piyama tidur untuk suaminya. Ivan membawa beberapa baju santai dan piyama untuk Zevin. Karena Kiki memberi tahukan jika putra tuan Indra itu tidak mau memakai pakaian rumah sakit.


"Aku tidak mau bubur ya sayang, aku mau makanan yang di bawa Ivan."


"Iya, apa kepalamu masih sakit?" Tanya Nazia saat menyisir rambut suaminya itu.


"Hanya sedikit."


Nazia meletakkan sisir ke atas nakas, ia mengambil makanan yang dibawa Ivan. Ternyata Kiki sangat faham hingga ia mengirim makanan yang cukup banyak.


Nazia menyuapi Zevin dengan telaten, tak lama masuklah pak Indra dan ibu Felisya.


"Bagaimana keadaanmu?" Pak Indra menghampiri putranya.


"Sudah sembuh." Jawab Zevin sambil mengunyah makanannya.


Pak Indra terkekeh.


"Lanjutkan makanmu"


Ibu Felisya meletakkan buah yang dibawanya. "Kamu sudah makan sayang?" Bertanya lembut pada Nazia.


"Nanti, Ma. Setelah suamiku."


"Makan berdua saja." Seru Zevin.


"Itu lebih baik." Sahut pak Indra.


"Ada kabar dari Erik ?" Zevin menyudahi makannya.


"Iya, polisi sudah menyelidikinya. Nanti tunggu Erik datang dia akan menjelaskan pada kita." Balas pak Indra duduk di sofa.

__ADS_1


__ADS_2