
Walau permasalahan yang menimpa pak Heru sudah lampau dan kini telah tiada, tapi beliau berhak mendapatkan keadilan karena memang tidak bersalah. Hari ini pak Indra akan membersihkan nama pak Heru setelah mengurus beberapa hal yang bersangkutan dengan itu semua.
Karena pada waktu itu pak Heru pasti menjadi sasaran empuk media atas kasus yang menimpanya, maka hari ini Pak indra akan membersihkan namanya melalui media pula. Pak indra duduk di dalam ruangan di dampingi oleh asistennya dan kakek Ardian. Para awak media sudah bersiap di tempatnya masing-masing. Mereka bersemangat meliput acara ini, berita lama yang pernah panas kini muncul lagi dan sekarang yang berbicara adalah pak Indra sendiri.
"Anda siap?" Tanya pak Ali asisten Pak Indra.
"Iya, saya siap."
Pak Ali meminta para awak media diam karena mereka masih bergumam masing-masing di tempatnya. Setelah keadaan cukup tenang pak Indra mulai bicara.
"Kalian pasti penasaran kenapa saya undang kesini?" Pak Indra memberi senyuman hangatnya. "Hari ini saya Indra Jaya presiden direktur perusahaan ini ingin membersihkan nama seseorang yang berharga dalam hidup saya. Tanpa beliau saya tidak akan menjadi sekarang ini. Waktu itu saya hanya pemuda tanpa ilmu, pria hebat itu mendidik saya dengan keras hingga menjadi seorang Indra yang berada di hadapan kalian saat ini." Pak Indra diam Sejenak. "Dua puluh sembilan tahun lalu, saya memiliki asisten bernama Heru Janitra yang terlibat kasus korupsi besar di perusahaan ini. Hari ini saya ingin memberitahukan kepada dunia bahwa beliau tidak bersalah sama sekali. Ada saksi yang mengetahui itu semua bahwa bukan beliau pelakunya. Seharusnya hal ini sejak lama sudah saya selesaikan, tapi karena sesuatu dan lain hal baru beberapa minggu ini terungkap." Pak Indra menunjukkan surat yang menyatakan pak Heru tidak bersalah. Pak Indra memberikan kesempatan pada Media mengambil gambar surat pernyataan yang dipegangnya itu. "Meski pun beliau sudah tiada, saya tetap akan meminta maaf di depan semua orang terlebih pada putrinya yang menanggung segalanya seorang diri. Mira tolong maafkan aku, walau kata itu tidak pantas untuk aku ucapkan. Tapi aku berharap besar agar kamu bisa memaafkanku. Ayah Heru maafkan aku" Pak Indra menunduk kepalanya.
Panggilan Ayah di akhir kalimatnya begitu menyentuh. Panggilan yang pernah ia sematkan pada pak Heru semasa hidup.
...----------------...
Di tempat berbeda ibu Mira, Nazia, dan Ibu Felisya menangis haru atas pernyataan dari pak Indra yang baru saja mereka tonton
Ibu Mira menangis di pelukan dokter Radit. Mereka bersama menonton televisi di ruang keluarga, dokter Radit mengusap lembut pundak ibu Mira agar merasa lebih baik. Sedikit demi sedikit rasa kecewa dari dalam diri ibu Mira berkurang.
"Semoga kakek bisa melihat semua ini ma" Ivan mengusap sudut matanya yang basah.
"Semoga saja, Nak." Balas ibu Mira membenarkan posisi duduknya.
"Apa rencana mu selanjutnya ? Zi, masih di rumah Indra"
"Aku ingin bertemu Indra. Apa boleh?" Tanya ibu Mira melihat kepada dokter Radit meminta persetujuan.
"Iya, aku akan menemani mu." dokter Radit tersenyum hangat.
Ibu Mira mengangguk menyetujui. "Terimakasih karena datang kedua kalinya dalam kehidupan ku"
"Ini semua takdir, aku dan Hendrik mencintai wanita yang sama. Tuhan menjodohkan mu dengan Hendrik, tapi Dia juga memberikan kesempatan padaku untuk berjodoh dengan mu. Walaupun usia kita tidak lagi muda, percayalah cinta yang kumiliki tetap sama seperti dulu." Ucap dokter Radit tersenyum.
Ibu Mira tersipu malu, tak hanya itu pipinya pun merona. Bagaimana tidak dokter Radit melontarkan kata-kata manisnya di depan Ivan putranya. Lihatlah mata Ivan membulat sempurna selama hidupnya belum pernah mendengar dokter Radit mengumbar kata-kata cinta.
__ADS_1
"Papa belajar dari mana? Apa kak Zev yang mengajari papa?" Tanya Ivan berbinar.
"Itu bakat tersembunyi ! Dan Zevin, dia belum mahir masalah cinta. Contohnya dia belum bisa memenangkan hati, Zi." Jawab dokter Radit sombong.
"Papa meremehkan kemampuan kak Zev ? Yakinlah dia pasti bisa mendapatkan cinta, Zi."
"Jadi kamu berada di teamnya Zevin ? Lalu siapa yang berada di team rivalnya itu ?" Ujar Dokter Radit
"Asistennya si Jimmy itu ! Siapa diantara kak Zev dan Alby jadi pria menyedihkan nanti ? Sekarang Alby gencar-gencarnya mendekati Zizi lagi" Ivan seolah berfikir menopang kedua tangannya ke dagu.
Ibu Mira terkekeh mendengar obrolan ayah dan anak itu. "Biarkan saja Tuhan yang mengatur siapa jodoh, Zi ? Seperti aku, Tuhan memberikan ku jodoh dua pria yang begitu baik dan mendekati kata sempurna. Jika dulu Tuhan hadirkan Hendrik sebagai sandaran dan teman hidupku, menemaniku menghadapi pahitnya masa mudaku. Maka sekarang, Tuhan mengirimku seorang dokter yang tampan menjadi teman hidupku di masa tua."
Jika tadi ibu mira yang tersipu malu maka sekarang dokter Radit yang merah merona. Ivan sebagai penonton tertawa senang dengan keharmonisan keluarganya.
...----------------...
Ibu Felisya menangis bersama Nazia di ruang keluarga. Tangannya terulur menyentuh pipi Nazia dan mengusap air matanya.
"Maafkan kakek Ardian" Ibu Felisya menggenggam tangan Nazia.
"Kamu benar, mungkin kakek sudah mendapatkan hukuman yang lebih berat dari kakek Heru selama ini"
Nazia mengangguk pelan. "Kakek sudah memaafkan orang telah memfitnahnya begitu kata mama. Itu artinya, kakek sudah memaafkan kakek Ardian meski pun kita tidak melihatnya."
"Semoga saja begitu."
Nazia ijin untuk masuk ke kamar karena ingin beristirahat sebentar. Ruang geraknya terbatas karena pak Indra menyiapkan dua bodyguard yang akan menemani Nazia kemana pun pergi. Di sandra di rumah mewah, hidup tanpa kebebasan dan ponsel. Tapi di perlakukan dengan baik oleh ibu Felisya dan pak Indra.
Selama tinggal di rumah besar itu Nazia belum bertemu Zevin. Sekarang ia benar-benar merindukan pria itu. Nazia mengambil kemeja putih milik Zevin lalu memakai nya. Konyol memang ! Tapi, dengan cara itu dia bisa mengurangi rasa rindunya. Nazia berharap sekali Zevin dan Ibu Mira datang menjemputnya pulang, kenyamanan yang di berikan keluarga pak Indra tidak bisa di tukar dengan kebebasannya di luar sana.
"Kenapa kamu tidak datang, Zev ?" Gumam Nazia pada foto Zevin di atas nakas.
...----------------...
Di rumah sakit Zevin selesai menangani pasiennya. Pria itu beristirahat sejenak sebelum pergi makan siang.
__ADS_1
"Kamu sudah menonton tv?" Tanya Rayya mengejutkan Zevin.
"Tidak, aku baru keluar dari ruang VIP"
"Papa mu sudah membersihkan nama kakek, Zi" Kata Rayya.
"Benarkah ?"
"Iya, sekarang bujuklah tante Mira agar memaafkan papa mu" Ucap Rayya.
"Aku masih membujuknya, Ay. Tapi tante Mira masih belum merespon. Aku tahu rasa sakit yang dirasakannya tidak setimpal dengan apa yang baru di lakukan papa. Aku tidak menyangka jika semua jadi seperti ini" Kata Zevin.
"Lebih semangat lagi, aku jadi merindukan, Zi. Apa kamu tidak bisa pulang ke rumah utama?" Rayya ikut bergabung duduk di sofa.
"Papa tidak membiarkan ku masuk." Zevin menyandarkan tubuhnya di ujung sofa.
"Kuncinya ada pada tante Mira"
Zevin mengangguk malas. "Ayo makan siang"
"Ayo di restoran Ivan saja." Rayya berdiri dari sofa.
Mereka berdua bersiap berangkat makan siang sama seperti sebelumnya. Mereka makan siang tanpa Nazia di tengah mereka. Setiba di sana mereka langsung memesan makanan.
"Di mana Ivan?" Tanya Rayya pada salah satu pelayan restoran.
"Tuan Ivan tidak masuk hari ini"
Rayya dan Zevin menunggu makanan mereka datang sambil berbincang, dari jarak yang tak jauh seseorang memperhatikan mereka. Lalu tak lama orang itu keluar dari sana.
Pria itu berhenti sejenak lalu mengeluarkan ponselnya menghubungi seseorang. "Tuan sepertinya nona Zia tidak ikut bersama mereka, di rumah prakteknya juga tidak terlihat" Ucap pria itu setelah telpon terjawab.
"Baiklah"
Pria itu adalah orang suruhan Alby untuk mencari tahu keberadaan Nazia.
__ADS_1