
Zevin dan Erik sudah berada di rumah, Zevin dikejutkan dengan kabar yang menimpa Ralda. Ia turun dengan tergesa-gesa dari lantai atas.
"Rik, Erik ! " Panggil Zevin dengan nada sedikit nyaring.
"Iya Kak, aku di sini." Erik keluar dari kamarnya. Sepertinya ia bersiap akan mandi.
"Rik, ayo ke rumah sakit ! Ralda dibawa ke sana. Ia hampir saja menjadi korban tabrakan." Jelas Zevin.
"A—apa?! " Erik terduduk lemas di sofa.
"Kita berangkat sekarang untuk melihat kondisi Ralda, pengemudinya juga dirawat di sana." Zevin kembali ke kamar mengambil kunci mobil dan berpamitan pada istrinya.
Zevin mengambil alih kemudi karena, Erik nampak syok sekali. Kehilangan kakak yang sangat disayanginya itu tak pernah terbayang sedikit pun olehnya. Ia sangat takut jika terjadi hal buruk menimpanya. Erik pasti hancur.
Di kediaman tuan Indra, sepasang paru baya itu juga tak kalah terkejutnya. Mereka juga segera berangkat ke rumah sakit.
Di tempat lain,
Alby sangat panik mendapat kabar dari Jo, ia mengemudikan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Walau Jo mengatakan kondisi Ralda hanya lecet karena terjatuh tapi tetap saja Alby sangat cemas sebelum melihat dengan mata kepalanya sendiri.
...----------------...
Rumah Sakit ZK
Mobil Alby dan Zevin datang bersamaan. Mereka tanpa saling sapa, hanya raut kecemasan yang terpancar dari mereka. Zevin sedikit tenang saat memasuki lorong rumah sakit laporan hasil pemeriksaan Ralda telah masuk ke ponselnya. Dokter rumah sakit miliknya telah faham, jika ada anggota keluarga Zevin yang dirawat. Maka mereka wajib memberikan laporannya pada Zevin. Erik dan Alby bersamaan mendorong pintu ruang IGD.
"Bagaimana keadaan kakak/Rara ?" Tanya Erik dan Alby bersamaan.
Dokter tersenyum lalu mempersilahkan dua pria ini duduk. "Keadaan Nona Ralda tidak ada yang serius. Hanya luka lecet , serta pelipisnya sedikit sobek terkena benturan." Jelas dokter.
"Syukurlah !"
Zevin tak ikut bertanya, ia segera melihat kondisi Ralda di balik tirai.
"Dokter, observasi saja disini. Takutnya benturan tadi keras."
"Baik dokter, Zev."
"Bagaimana kondis, Jo?" Tanya Alby.
"Tuan Jo, luka lecet di sikutnya. Tidak ada yang serius juga?" Jawab dokter IGD
"Di mana pengemudi mobil itu? Apa dia dirawat disini juga?" Tanya Erik.
"Iya, tapi sudah dipindahkan ke ruang inap." Jawab Dokter.
"Siapa namanya?" Tanya Zevin.
"Sherin "
Zevin segera membuka daftar nama pasien . Ia mengepalkan tangannya geram. Alby nampak mematung tak percaya sejauh ini usaha Sherin untuk kembali padanya. Sementara Erik memberikan tatapan tidak terbaca untuk Alby. Usai Ralda dipindahkan, tuan Indra dan Ibu Felisya juga tiba.
"Bagaimana kondisi Ralda?" Tanya ibu Felisya.
"Hanya luka lecet, tapi dia di observasi dulu karena ada benturan tadi di kepalanya hingga pelipisnya sobek." Jelas Zevin.
"Siapa pengemudi mobil itu? Apa dia mabuk?" Tanya pak Indra.
"Sherin putri tuan Toni."
"Kamu pasti tahu apa yang akan kamu lalukan !" Pak Indra menepuk pundak putranya.
Jo minta tidak dirawat, ia memutuskan rawat jalan saja di rumah dan Alby menyetujuinya. Jimmy datang untuk menjemput Jo di rumah sakit. Setelah mengurus kepulangan Jo, kini Alby dan Zevin mendatangi ruang inap Sherin. Di sana ada pengawal keluarga Indra dan beberapa polisi berjaga. Zevin dan Alby datang bertepatan dengan dokter juga keluar dari ruangan itu.
"Bagaimana kondisinya?" tanya Zevin.
"Dia shock dan luka ringan saja." Jelas dokter yang merawatnya.
"Di mana keluarganya?" Tanya Alby.
"Belum datang, Tuan"
"Terimakasih." Ucap Alby.
"Baiklah, kami permisi dulu." Pamit dokter itu.
"Dapatkan rekaman Cctv di tempat kejadian" Titah Zevin pada pengawalnya.
"Sudah Tuan, ini salinannya. Yang asli sudah saya berikan pada polisi untuk barang bukti. Melihat dari lajunya kendaraan yang dikendarai oleh Nona Sherin, ini seperti direncanakan. Karena posisi nona Ralda berada di zebra cross." Jawab pengawal keluarga Indra. Ia memperlihatkan vidio rekaman cctv-nya pada Zevin.
"Bagus pergerakkanmu cepat, apa kamu terluka? " Puji Zevin sekaligus bertanya.
"Tidak tuan, karena yang menolong Nona Ralda adalah Jo pengawal tuan Alby" Jawab pria itu.
"Terimakasih karena kalian ada tepat waktu. Sekarang kamu istirahat di rumah ya. Karena kalian juga akan menjadi saksi. Kirimkan vidio itu ke ponselku." Ucap Zevin.
"Baik tuan, saya permisi." Pengawal itu meninggalkan depan ruangan Sherin.
__ADS_1
Alby dan Zevin minta ijin pada Polisi jaga untuk masuk melihat kondisi Sherin. Hanya sebentar di sana Alby dan Zevin keluar dari ruangan itu bertepatan dengan kedua orang tua Sherin tiba.
Alby dan Zevin hanya mengangguk tanpa menyapa. Mereka masuk kembali ke dalam ruangan Ralda. Hari sudah menggelap, Zevin dan kedua orang tuanya pamit pulang.
"Jangan melakukan apapun, biar aku yang mengatasi ini." Zevin menepuk pundak Erik.
"Iya Kak, " Jawab Erik sendu. Pertama kalinya ia tak bisa berbuat apa-apa.
"Kabari aku jika terjadi sesuatu. Untuk kali ini kamu jadi penonton saja." Balas Zevin tersenyum, diangguki Erik.
Erik sadar seberapa kuat pun membela Kakaknya tetap ia tidak memiliki kemampuan seperti keluarga Sherin. Bisa saja keluarga Toni mengatasi perkara ini dengan mudah. Agar putrinya terhindar dari jeratan hukum.
"Al, kami pulang dulu. Tunggu kabar dariku." Ujar Zevin.
"Baiklah, Zev." Balas Alby
Ia juga berpikir sama dengan Erik, meski Alby pemilik perusahaan tergolong besar dan uang yang banyak tapi tetap tak sebanding dengan koneksi yang dimiliki pak Toni. Bahkan rekaman Cctv itu bisa saja mereka gunakan untuk membela diri.
"Nanti, Ivan mengantar keperluanmu." Zevin pamit bersama kedua orang tuanya
Dari arah luar Ibu Anggi masuk dengan tergesa-gesa bersama Erika. Setelah mendapat kabar dari Alby mereka bergegas berangkat ke rumah sakit, tak lupa mereka juga membawa keperluan Alby. Karena mereka yakin Alby tidak akan pulang.
"Bagaimana, kondisi Ralda?" Tanya ibu Anggi membelai lembut rambut calon menantunya itu.
"Hanya luka ringan. Dia juga shock sama seperti Sherin ." Jelas Alby.
"Sherin?" Ulang ibu Anggi.
"Iya Ma, Sherin melajukan mobilnya disaat Rara ingin menyeberang. Di lihat dari rekaman Cctv jalan. Ia sengaja ingin menabrak Rara, syukur Jo cepat menariknya." Kata Alby.
"Wanita itu !" Geram Erika.
Suasana menjadi hening, mereka larut dalam pemikirannya masing-masing.
...----------------...
Tanpa terasa waktu memasuki malam. Di ruangannya Sherin sudah sadarkan diri. Ia tak berani menatap wajah kedua orang tuanya yang menatap tajam.
Pak Toni duduk di sofa bersama ibu Siska. "Jelaskan !" Kalimat pak Toni terdengar dingin dan tegas.
"Aku sengaja ingin menabraknya, Pa. Aku tidak bisa menerima jika, Al. Menikahinya." Jelas Sherin dengan nada bergetar.
Pak Toni menghembus nafas berat.
"Kamu tahu akibat dari kesalahanmu? Dan efek untuk perusahaan kita. Jika ini tercium media hancur reputasi Papa Sherin !" Ia sedikit membentak pada putrinya.
"Maafkan aku Pa, aku tidak memikirkan sampai ke sana. Pa, tolong ! Aku tidak mau di penjara." Mohon Sherin.
Sherin berusaha duduk sambil berderai air mata. "Ma. Pa, aku mohon. Lakukan sesuatu untukku. Setelah ini aku janji. Aku dan putriku akan menetap di luar negeri." Kata Sherin.
Pak Toni menjadi iba atas nasib putrinya. "Baiklah, asal kamu menepati janjimu ! Papa akan meminta bantuan seseorang." Putus pak Toni.
"Terimakasih, Pa." Ucap Sherin senang.
Pak Toni meraih ponselnya dan mencari kontak seseorang.
"Iya, Pak Toni. Ada yang bisa saya bantu?"
"Begini, tadi sore putriku hampir saja menabrak seseorang dan orang itu terluka meski tidak parah karena ada yang menolongnya. Bisakah ? Kamu membantu agar putriku tidak terjerat kasus ini?" Tanya pak Toni.
"Pak Toni, putri anda melakukan ini dengan perencanaan. Dilihat dari rekaman cctv-nya dia sengaja melajukan mobilnya di Zebra Cross saat wanita itu ingin menyebrang Harusnya dia berhenti karena ada tanda untuk berhenti."
"Apa ?! Ba—bagaimana kamu tahu ?" Tanya Pak Toni gugup.
"Nyalakan telivisi anda Pak. Hampir semua stasiun menayangkan kejadian tadi sore. Maaf, saya tidak bisa membantu anda. Karena Cctv membuktikan jika Nona Sherin bersalah. Ia sengaja mengikuti wanita itu dari halaman kantor pusat Jaya Group."
"Ja—jaya Group?" Tubuh Pak Toni gemetar dengan perasaan tak karuan.
"Benar sekali, wanita itu adalah sekretaris putra tunggal Indra Jaya yaitu Dokter Zevin Kavindra."Jawab orang itu kembali. Ia harus mencari aman untuk dirinya sendiri.
Pak Toni terduduk lemas, Sherin dan ibu Siska menatap heran. Dengan tangan gemetar Pak Toni meraih remote televisi dan menyalakannya
Matanya terbelalak melihat tayangan di televisi yang memberitakan putrinya sebagai pelaku perencanaan penabrakan terhadap sekretaris perusahaan Jaya Group. Tak tanggung-tanggung, mereka juga memperlihatkan rekaman cctv-nya dari mobil Sherin mengintai di seberang jalan gedung Jaya Group. Hingga di tempat kejadian.
"SIAl !!! Pantas saja dokter Zev tadi datang ke ruangan ini ! " Teriak Pak Toni melempar remote ke dinding.
Sherin tak berkutik, ia tak menyangka jika akan berakhir seperti ini.
"Siapa yang melakukan ini, Pa? siapa yang membocorkan berita ini dengan cepat? Bukankah ? Baru tiga jam lalu." Tanya ibu Siska menangis.
"Entahlah, Ma. Papa tidak menyangka jika berita ini cepat menyebar. Kamu lihat Sherin ! Akibat perbuatanmu ?!" Geram Pak Toni
Sementara Alby dan Erik menatap tak percaya jika berita itu cepat menyebar. Alby juga yakin setelah ini akan terjadi kekacauan di perusahaan Pak Toni. Alby meraih ponselnya dan mencari kontak Zevin.
...----------------...
Kediaman Double Z
__ADS_1
Zevin tengah duduk di sofa menikmati secangkir teh hangatnya sembari menonton televisi.
"Sayang ponselmu sejak tadi bergetar. Sepertinya Alby menelponmu." Nazia memberikan ponsel itu pada suaminya.
Zevin tersenyum lalu berkata.
"Kamu suka pertunjukanku?" Ia terkekeh menjawab telpon Alby.
"Jadi, kamu yang melakukan ini?" Tanya Alby tak percaya.
"Iya, kamu tahu ? Pak Toni bukan lawan yang bisa dianggap remeh. Wanita itu bisa saja terhindar dari masalah ini karena bantuan koneksi papanya. Jadi sebelum mereka melangkah. Aku harus mencegatnya lebih dulu." Jelas Zevin dengan raut wajah serius.
"Terimakasih untuk semua nya."
"Sebentar lagi polisi akan datang ke sana." Ucap Zevin mematikan telpon. Ia tersenyum menatap layar televisi
"Jadi ini semua ulahmu?" Tanya Nazia.
"Iya sayang." Jawab Zevin tersenyum manis.
...----------------...
Kilas Balik
Dari rumah sakit, Zevin tidak langsung pulang. Ia pergi ke kantornya lebih dulu. Tak lupa ia juga menghubungi penjaga ruang cctv kantornya.
"Pak, masih di kantor?" Tanya Zevin setelah telpon tersambung. Ia sengaja menyimpan nomor ponsel orang-orang di kantornya di luar nomor pribadinya
"Masih tuan, ada beberapa karyawan belum pulang." Jawab petugas ruangan Cctv.
"Begini, tolong amankan rekaman Cctv dari jam 3 tadi sore sampai jam lima. Sebentar lagi saya akan sampai." Ucap Zevin.
"Baik, Tuan." Balas petugas itu tersenyum. Ia senang karena Zevin menelponnya secara langsung meskipun tidak menggunakan nomor pribadi bosnya itu.
Zevin memutuskan telpon, ia segera menelpon seorang polisi untuk datang ke kantornya.
"Kebetulan tuan, Zev. Kami juga bermaksud menghubungi anda" Ucap polisi di dalam telpon.
"Pak, datanglah ke kantor saya. Kita akan lihat rekaman Cctv saat sekretaris saya meninggalkan kantor." Ujar Zevin.
"Baik tuan, itu lah yang ingin saya sampaikan. Terimakasih kerja samanya." Ucap polisi.
"Sama-sama Pak. Saya sudah tiba di kantor." Balas Zevin.
"Ya, saya akan segera ke sana. Posisi saya tidak jauh dari kantor anda." Ujar polisi mematikan telpon.
Zevin sengaja menunggu polisi itu di halaman kantornya. Menunggu selama dua puluh menit, polisi itu datang bersama rekannya.
"Selamat sore tuan, Zev" Sapa polisi yang baru tiba itu.
"Selamat sore, Pak. Ayo ikut saya !" Ajak Zevin.
Mereka menaiki lift khusus presdir. Polisi itu terkagum dengan kemegahan kantor pusat Jaya Group. Mereka langsung menuju keruangan pemantau Cctv.
"Selamat sore tuan Zev." Sapa petugas ruangan itu.
"Selamat sore Pak, tunjukan rekaman yang saya minta tadi." Titah Zevin.
"Baik Tuan." Jawab petugasnya.
Mereka memperhatikan rekaman yang diputar itu. Nampak Ralda baru keluar dari gedung dan menuju pos luar.
"Stop" Ucap polisi. "Anda melihatnya, Tuan Zev?" Tanya polisi.
"Maksudnya?" Tanya Zevin tak mengerti.
"Perbesar ! Lihat sisi kanan ada mobil parkir dengan nomor plat yang sama dengan di kendarai nona Sherin." Jawab polisi memperlihatkan catatan di buku kecil miliknya.
"Benar, coba putar lagi." Balas Zevin.
Rekaman itu dilanjutkan terlihat mobil parkir tadi ikut bergerak di belakang mobil Ralda hingga rekaman itu terputus. Lalu dilanjutkan dengan rekaman Cctv jalan yang didapatkan polisi sebelumnya.
Nampak mobil Sherin masih mengikuti sampai pada akhirnya, Ralda berhenti dan memarkirkan mobilnya. Mobil Sherin juga berhenti tak jauh dari sana. Kemudian Ralda keluar dari mobil dan berdiri dekat Zebra cross seorang diri dan tak lama di belakangnya datang dua orang laki-laki yang dikenal Zevin mereka adalah Jo dan pengawalnya. Setelah tanda berganti Ralda ingin menyebrang namun tanpa diduga mobil Sherin melaju dan Ralda di tarik oleh Jo hingga mobil Sherin mendarat di atas trotoar pembatas ruas jalan. Sementara Jo dan Ralda terpental di atas aspal.
"Cukup ! Kejadian ini, di rencanakan oleh nona Sherin." Ucap polisi.
"Anda benar" Balas Zevin.
"Tuan Zev kami butuh rekaman ini, " Ucap polisi.
"Ambil saja yang aslinya, saya minta salinannya saja." Ujar Zevin.
"Baiklah Tuan, terimakasih ! Kami pamit dulu. Selamat sore." Ujar polisi itu.
Zevin tersenyum jahat.
Kamu hampir saja membunuh anggota keluargaku, maka akan kubuat kamu tidak berani melihat dunia luar hari esok
__ADS_1
Zevin mengirim file itu ke email stasiun televisi. Benar saja berita itu langsung di siarkan.
Kilas Balik Selesai