Suami Manja Dokter Zi

Suami Manja Dokter Zi
Identitas


__ADS_3

Tanpa terasa beberapa bulan berlalu setelah putus dengan Alby. Nazia perlahan menata hatinya kembali. Dia juga tidak lagi mengantar Ivan karena pria itu sudah bisa pergi sendiri. Kejadian yang menimpanya dan Nazia beberapa bulan lalu memicu  Ivan semakin semangat membentuk tubuh dan pribadinya. Pria gemulai itu ingin seperti Zevin menjadi pria yang kuat dan dewasa.


Dengan dibantu Nazia dan Zevin. Ivan sungguh-sungguh ingin berubah menjadi lebih baik. Selain untuk melindungi dirinya sendiri, ia juga harus melindungi Nazia. Tidak tanggung-tanggung Zevin menyiapkan seseorang untuk melatih Ivan agar menjadi pria sesungguhnya.


Setengah hari berkutat dengan pasien kini para dokter selesai dengan pekerjaan mereka. Nazia dan Rayya bersamaan masuk kedalam ruangan istirahat karena waktunya makan siang.


"Aku pulang dulu"


Rayya dan Zevin bersamaan melihat ke arah gadis itu. Hati mereka bertanya apa gerangan yang mengganggu Nazia hingga bersikap sedikit aneh.


"Kenapa pulang ? Biasanya kamu sampai sore." Tanya Rayya heran.


"Iya, dari hari ini aku berada di rumah sakit sampai jam praktekku saja."


"Kenapa?" Zevin angkat suara.


"Aku akan menyelesaikan pekerjaanku di rumah. Kecuali ada panggilan darurat aku akan datang lagi."


"Hati-hati di jalan."


Nazia mengangguk lalu meninggalkan ruangan itu. Tanpa menoleh atau tersenyum seperti biasanya. Zevin dan Rayya saling bertanya melalui sorot mata mereka.


"Aku juga akan pulang sebentar lagi ada janji bersama Vian." Ujar Rayya di balas anggukan dari Zevin.


Mobil Nazia melaju dengan pelan. Beragam macam pikiran hinggap di kepalanya, tapi satu pun tidak ada jawabannya. Mobil dokter cantik itu  berhenti  di komplek pemakaman yang berbeda


"Papa aku rindu." Nazia meletakkan bunga-bunga segar yang baru di belinya. Ia mencabut rumput-rumput kecil yang baru tumbuh di atas makam sang papa. Merasa teriknya matahari semakin membakar kulitnya. Ia bergegas meninggalkan tempat itu.


Sementara di rumah sakit, Zevin merasa tidak tenang langsung menyusul Nazia pulang ke rumahnya. Namun setelah sampai di sana, ia tidak menemui Nazia bahkan rumah itu nampak kosong. Ia langsung pergi ke restoran milik Ivan hasilnya juga sama, mobil Nazia tidak ada ditempat itu. Zevin kembali mencari di restoran milik Vian. Dengan wajah lelah dan cemas ia memasuki restoran ini.


"Apa Zi tadi kesini?"


Vian menggeleng sambil memperhatikan wajah Zevin. "Tidak ada, Zev. Kenapa tidak di telpon?"


Zevin mengusap wajahnya sambil duduk di sofa. "Ponselnya tidak aktif. Dia sudah pulang tapi di rumahnya tidak ada. Aku sudah mencarinya kemana-mana."


Vian duduk di sofa sambil memangku putri nya. "Mungkin, dia sedang ada urusan. Sabarlah jika tidak ada masalah jangan cemas dia akan pulang nanti"


Zevin berdiri. "Aku akan kembali ke rumah sakit."


...----------------...


Nazia memang pulang, tapi tidak ke rumah melainkan ke rumah pak Bram. Ibu Serly senang atas kedatangan wanita yang dianggapnya seperti putrinya itu. Mereka selesai makan siang kini Pak Bram, Ibu Serly dan Nazia bersantai di ruang keluarga.


"Kamu ingin bertanya apa, Nak?" Tanya Pak Bram.  Nazia memang mengatakan ingin bertanya sesuatu sebelum makan siang tadi.


"Apa papa tahu tentang Zevin?"


Pak Bram mengangguk. "Papa mengenalnya sama seperti kamu mengenalnya."


Nazia menatap serius. "Apa papa juga tahu jika dia menyukaiku?"


Pak Bram tersenyum.


"Sangat tahu. Dia menyayangimu, Nak. Tidak hanya itu, ia memiliki cinta yang besar padamu."


Nazia terdiam sejenak lalu berkata


"Tapi dia tidak mengatakan apa-apa padaku selama ini"


Kenapa cinta itu terbalas setelah rasa di hatiku sudah hilang untuknya


"Mungkin nunggu waktu yang tepat. Tapi papa sangat tahu dia menyukai mu."


"Tapi sayang, cintanya tidak mungkin terbalas karena aku tidak memiliki perasaan apapun untuknya."


Ibu Serly menyentuh pundak Nazia.


"Jika hatimu sudah sembuh dan siap, belajarlah ! membuka hati untuknya. Dia pantas mendapatkan balasan darimu."


Nazia menatap lekat pada ibu Serly dan Pak Bram bergantian. "Dia pantas menerima balasan atas perasaannya tapi aku tidak pantas menerima semua cinta darinya."


"Kenapa?"


"Karena dia jauh di atasku. Untuk seorang Zevin Kavindra, aku hanya butiran debu yang akan menempel di sepatunya." Ujar Nazia menatap lurus ke depan.


...----------------...


Kilas Balik

__ADS_1


Nazia telah selesai dari pekerjaannya. Hari ini ia membantu persalinan beberapa kali sampai menghabiskan waktu hingga sore berada di rumah sakit. Karena dokter kandungan selain dirinya sedang cuti melahirkan, Maka Nazia dan rekannya yang menangani pasiennya.


Dokter cantik itu bersiap untuk pulang. Ia melangkah mendekati mobilnya. Namun, sebelum membuka pintu. Nazia melihat bayangan wanita yang melangkah menghampirinya dari kaca mobil.


"Kamu Nazia?"


"Ia saya." Nazia berbalik menghadapi wanita itu.


Wanita itu nampak anggun. Cantik dan elegan. Dari tampilannya serta pakaian yang melekat di tubuhnya, dia sepertinya bukan dari kalangan biasa.


"Ada yang bisa saya bantu, Nyonya? Tanya Nazia melepaskan rasa kagumnya.


Wanita itu mengulurkan tangannya.


"Nama saya Felisya." Ucapnya tanpa basa basi.


Nazia membalas uluran tangan itu sambil tersenyum. Ia dapat merasakan kelembutan dari telapak tangan wanita itu. Dapat di pastikan jika tangan itu tidak pernah menyentuh benda-benda kasar.


"Kamu bisa ikut saya sebentar? Ada yang ingin saya bicarakan." Sambung Ibu Felisya.


"Iya, saya akan mengikuti anda dari belakang"


Ibu Felisya meminta sopirnya membawa mereka ke salah satu restoran mewah. Nazia mengikuti meski masih bingung dan bertanya-tanya. Untuk apa dia di bawa ke restoran ini.


"Silahkan duduk ! Pesanlah apa yang kamu inginkan" Ucap Ibu Felisya setelah tiba di sana.


Nazia mengambil buku menu lalu menyebutkan makanan yang diinginkannya pada pelayan restoran. Hal sama pun di lakukan oleh ibu Felisya.


" Anda ingin membicarakan apa, Nyonya?"


"Kita makan dulu setelah itu baru kita bicara." Jawab ibu Felisya.


Nazia mengangguk. Ia menjadi kaku sendiri karena merasakan aura yang berbeda dari wanita di hadapannya ini. Mereka makan dalam diam tanpa ada yang bicara. Beberapa menit kemudian Nazia menyudahi makannya begitu juga ibu Felisya.


"Kamu mengenal putra saya, bukan?"


"Putra?" Ucap Nazia tidak mengerti.


"Zevin Kavindra, dia putra saya." Jawab Ibu Felisya menekan kata putra


"Zev ! Bukankah, dia putra tante Nita?"


"Harta ? Pengasuh?" Nazia semakin tidak mengerti arah pembicaraan mereka.


"Jangan berpura-pura polos dokter, Zi. Putraku Zevin Kavindra adalah pewaris tunggal keluarga Indra Jaya dan rumah sakit tempatmu bekerja saat ini adalah milik pribadinya. Aku yakin kamu sudah mengetahuinya. Maka dari itu kamu memanfaatkan dia dengan dalih pertemanan. Aku sudah mengetahui jika Zev dekat denganmu, aku juga tahu dia menyukaimu. Tapi sayangnya, kamu bukan karakter menantu yang aku inginkan. Jadi, jauhi putraku karena dia akan menikahi wanita pilihanku. Jika kamu tidak menjauhinya akan sulit bagi Zevin menerima wanita itu. Sadarlah selama ini kamu sudah banyak merepotkan nya." Kata Ibu Felisya panjang lebar.


Nazia mematung, kalimat panjang lebar itu menohok ke dalam hatinya. Hingga membungkam mulutnya tak mampu mengeluarkan kata-kata. Ibu Felisya langsung pergi meninggalkan tempat itu tanpa pamit. Nazia menepuk dadanya berulang-ulang karena sesak setelah mengetahui fakta Zevin sebenarnya.


"Kenapa kamu menutupi identitas kamu, Zev ? Apa kamu takut aku memanfaatkan? Aku tidak sehina itu. Jika kamu benar menyukaiku kenapa baru sekarang ? Apa dulu kamu melihat aku sama seperti sudut pandang ibumu ? Maka dari itu kamu mengabaikan perasaanku dulu. Padahal aku sungguh tidak tahu siapa diri mu." Gumam Nazia lemah.


Gadis itu membawa tubuhnya pergi meninggalkan restoran dengan perasaan tidak dapat di artikan. Kenapa dirinya harus terlibat dengan orang-orang kaya seperti Alby dan Zevin.


Nazia tidak merasa marah pada Zevin karena sepengetahuannya keluarga Indra memang menutup rapat informasi tentang keluarganya. Tapi yang tidak habis pikir, kenapa ibu Felisya beranggapan ia tahu semua itu ? Mobil Nazia berhenti di depan rumahnya. Sampai di kamar, ia langsung membersihkan tubuhnya setelah nya langsung mencari keberadaan ibu Mira.


"Ma." Panggil Nazia.


Tidak ada sahutan. Ia membuka kamar milik ibu Mira tapi kosong.


"Mama" Panggilnya lagi membuka kamar Ivan.


Ibu Mira di sana sedang mengompres Ivan. Pria gemulai itu sudah ada di rumah karena demam. Nazia mengambil peralatan medisnya serta obat-obatan. Selesai memeriksa Ivan dan memberi obat. Nazia mulai menceritakan pertemuannya pada Ibu Felisya.


Sambil mengompres Ivan. Nazia menceritakan tentang Zevin. "Ma, tadi aku bertemu dengan mamanya, Zev. Ternyata selama ini dia menutupi identitasnya. Zevin berasal dari keluarga kaya. Mamanya meminta padaku untuk menjauhi, Zev. Karena dia akan menikahi wanita pilihan mamanya. Dia juga mengatakan Zev menyukaiku, tapi aku bukan tipe menantu idamannya dan mamanya juga beranggapan aku dekat dengan Zevin karena hartanya. Padahal tanpa dia tahu aku tidak memiliki perasaan apapun pada putranya "


Ibu Mira mengangguk.


"Bersikap saja tidak tahu di depan Zevin. Mungkin ada alasan tertentu dia menutupi identitasnya dan Jauhi sebisa kamu dengan perlahan, karena Zevin pantas mendapatkan yang terbaik."


Siapa orang tuan Zevin ? Besok saja aku tanyakan. Zi terlihat lelah


Nazia mengangguk, ia akan menjauhi Zevin agar pria itu bisa menerima wanita yang akan di jodohkan dengannya. Benar kata ibu Felisya jika Nazia selalu berada di dekat putranya maka akan sulit untuk Zevin menerima calon istrinya itu.


Kilas Balik Selesai


...----------------...


Pak Bram dan Ibu Serly terdiam setelah mendengarkan semua cerita Nazia. Mereka juga tidak ingin gadis itu terlibat dengan keluarga Indra.


"Mama setuju dengan ibumu" Ujar ibu Serly setelah memahami sorot mata suaminya.

__ADS_1


"Mama mu benar jika kamu tidak memiliki perasaan pada, Zev. Jangan memberi peluang harapan untuknya. Tapi jika kamu memiliki perasaan padanya, maka mulai saat ini kubur perasaanmu, karena mereka pasti tidak akan menerimamu hal itu akan membuatmu terluka" Sambung pak Bram. Ada kesedihan yang mendalam di mata pria paruh baya ini.


...----------------...


Alby tengah membaca dokumen penting tentang proyek pekerjaannya. Samar-samar terdengar ketukkan pintu dari luar.


"Masuk !" Titahnya tanpa menoleh


"Permisi, Tuan"


Alby meletakkan dokumennya lalu beralih melihat pada Jimmy.


"Ada apa, Jim?"


" Karyawan korban bangunan ambruk itu sampai saat ini masih meminta uang."


"Berikan saja, dia ingin memeras kita rupa nya"


" Anda benar, dia mengancam jika tidak memberikan uang maka dia akan membeberkan masalah ini ke media, itu akan mempengaruhi kinerja anda didepan para investor. Mereka bisa tidak mempercayai anda lagi" jelas Jimmy


Alby menghela nafas. "Berikan saja dulu padanya. Sementara kita masih mencari orang yang menyebabkan masalah ini"


Jimmy mengerti. Lalu pamit keluar dari sana. Di depan pintu, ia berpapasan dengan Sherin. Jimmy hanya mengangguk tanpa berniat menyapa.


"Hai sayang." Sapa Sherin manja.


Alby meletakkan dokumennya.


"Kamu sudah disini?"


"Ayo berangkat kita harus mencari cincin pernikahan  kita" Sherin duduk di pangkuan Alby.


"Iya tapi kamu turun dulu." Alby risih dengan bahasa tubuh gadis itu.


Sherin mencabik kesal lalu turun dari pangkuan Alby. Pria itu merapikan jasnya sebentar kemudian melangkah membuka pintu.


"Ayo "


Mereka pergi ke toko perhiasan untuk memesan cincin pernikahan. Sampai di sana Alby hanya termenung tanpa menjawab Sherin yang bertanya pendapatnya. Alby larut dalam kenangan saat dirinya memesan kalung liontin merah untuk Nazia dulu.


"Bagaimana, Al ? Kamu suka dengan pilihan ku?" Tanya Sherin berbinar


"Iya ambil saja." Jawab Alby tidak bersemangat. Sebenarnya dia tidak menyukai sifat manja Sherin.


Bersamaan itu pula, Rayya dan Vian juga masuk ke dalam toko yang sama. Sepasang suami istri ini selalu tampil mesra.


"Kalian disini ?" Sapa Alby ramah.


"Seperti yang kamu lihat."


Alby tersenyum dan menoleh pada Sherin. "Ayo kita pulang"


Sherin mengangguk. Sebelum melangkah, ia menghampiri Rayya dan Vian. "Satu minggu lagi datanglah ke pernikahan kami ajak juga temanmu itu" Ucapnya tersenyum angkuh. Alby hanya diam sambil menunggu Sherin selesai bicara.


Vian jadi teringat Nazia.


"Sayang, tadi siang Zevin mencari Zi ke restoran. Dia terlihat cemas. Di restoran Ivan juga tidak ada"


Langkah Alby terhenti saat Vian menyebutkan nama Nazia. Tidak di pungkiri rasa cinta itu masih ada. Hanya tertutup amarah yang menjebaknya sesaat.


"Tadi dia pulang cepat. Zevin juga meneleponku bertanya kalau Nazia ada bersamaku. Sayangnya, tidak ada. Aku juga bingung akhir-akhir ini dia terlihat menjauh dari kami."


Alby mematung di depan pintu. Hatinya serasa diremas mendengar kabar Nazia. Tapi ia teringat lagi pada foto dan Vidio di ponselnya membuat rasa bencinya muncul lagi. Alby bergegas menyusul Sherin yang melangkah lebih dulu.


Semenjak pertengkaran itu ia belum pernah bertemu lagi dengan Nazia. Apapun yang berkaitan dengan Nazia sudah di musnahkannya termasuk liontin yang di kembalikan Nazia.


...----------------...


Zevin tengah fokus mempelajari laporan kesehatan pasiennya di buyarkan oleh getaran ponselnya.


"Iya, Ma." Jawabnya lembut


"Siapkan dirimu ! Mama sudah mengatur pertemuan dengan teman mama tentang perjodohanmu "


"Ma, ini belum sampai pada batas waktu yang dijanjikan mama." Bantah Zevin.


"Mama tidak mau mendengarkan penolakan !"


Zevin meremas ponselnya kesal.

__ADS_1


"Tinggal beberapa minggu dari batas perjanjian, kenapa mama mempercepatnya?" Protesnya.


__ADS_2