
Matahari telah menampakkan sinarnya. Pertanda semua orang telah bersiap memulai aktivitas pagi. Baru dua minggu yang lalu, Nazia menyandang status istri. Tapi ia Sudah mempelajari banyak sifat dadakan suaminya. Zevin Kavindra sedikit berubah setelah berstatus menjadi suami Nazia. Jika dulu bermanja hanya sekedarnya. Maka sekarang ini. Pria itu bermanja sesuka hatinya. Segala sesuatunya harus bersama istri tercinta.
Nazia baru selesai membantu sang ibu mertua menyiapkan sarapan pagi di kediaman Indra Jaya. Tugas keduanya sudah menunggu, bayi besar di atas sana tidak akan bangun tanpa mendengar suara lembut Nazia di telinganya. Tapi jangan salah menduga ! Zevin tetaplah Zevin. Pria sulit untuk ditebak kadang tak terbaca. Hanya Nazia dan keluarga yang tahu sosok tampan ini seperti apa?
Nazia duduk di tepi kasur dan membungkukkan tubuhnya.
"Sayang, bangun !" Berbisik lembut dan memberikan ciuman selamat pagi diseluruh wajah suaminya.
"Lagi !" Zevin merengek minta ciuman lagi. Matanya masih belum terbuka.
Ciuman mendarat sekali lagi di pipi Zevin. "Ayo bangun sudah pagi !" Nazia berdiri lalu menggeser gorden dan mematikan AC serta membuka pintu balkon kamar membiarkan pertukaran udara pagi.
Zevin masih menggeliat di atas kasur belum juga duduk. Wajah tampan itu nampak menggemaskan terkena silau cahaya pagi. Ia perlahan turun dari kasur dan melangkah ke kamar mandi. Matanya terus mengikuti pergerakkan istrinya yang menyiapkan segala keperluan mereka berangkat ke rumah sakit. Pagi ini Zevin dan Nazia kembali menjalani aktivitas mereka.
Lima belas menit kemudian Zevin keluar dari kamar mandi menggunakan handuk. Ia melangkah lalu memeluk Nazia di depan kaca rias.
"Kenapa?" Nazia tersenyum pada pantulan suaminya di kaca cermin.
Zevin membungkuk
"Tidur lagi, yuk !" Mendaratkan ciuman dipucuk kepala Nazia.
"Haa? Kenapa kamu manja sekali sekarang?" Balas Nazia.
Zevin terkekeh.
"Itu, karena kamu terlalu lama membuatku menunggu." menatap lekat wajah istrinya.
"Ayo sini aku keringkan rambutmu, tapi pakai baju lebih dulu. Mama dan yang lainnya sudah menunggu kita untuk sarapan." Kata Nazia.
Zevin mengangguk. Satu-persatu pakaiannya sudah terpasang di tubuhnya. Usai mengeringkan rambut suaminya, Nazia memasangkan dasi di leher Zevin.
"Ayo sayang, kita turun !" Ucap Nazia. Merapikan dasi dan rambut suaminya.
" Iya cinta."
Zevin memberikan ciuman di kening istrinya. Mereka bersama-sama keluar dari kamar. Pak Indra melihat kedatangan anak menantunya tersenyum senang.
"Mereka bikin iri !" Gumam pak Indra pelan hampir tak terdengar.
"Pagi Semuanya."
"Pagi sayang." Balas ibu Felisya.
Zevin menarik kursi untuk Nazia sebelum ia duduk. Ibu Felisya bahagia menantunya ini melayani putranya dengan baik di meja makan.
"Bagaimana tidurmu, Zi. Nyenyak?" Tanya pak Indra
"Iya, Pa." Nazia tersenyum
"Syukurlah ! Kalau kamu tidak nyenyak masih ada kamar kosong di rumah ini. Kamu tinggal pilih saja." Canda pak Indra.
__ADS_1
Lihat wajah putranya langsung kesal. Apa maksud dari ucapan pak Indra?
"Maksud papa apa ? Mau minta aku pisah kamar sama istriku." Ucap Zevin kesal.
"Jaga-jaga kalau menantuku tidak tidur nyenyak." Balas pak Indra santai.
"Pa, Istriku tidak bisa tidur nyenyak kalau tidak kupeluk." Ujar Zevin percaya diri.
Nazia tersenyum malu. Bukankah sebaliknya, suami manjanya itu yang tidak akan tidur jika Nazia tidak bersamanya. Selama mereka menikah Zevin selalu menunggu Nazia untuk tidur.
"Zev, apa Erik sudah memberitahumu?" Tanya pak Indra lagi.
"Sudah, Pa." Jawab Zevin.
"Apa nanti sore kalian langsung pulang ke rumah Mira?" Tanya ibu Felisya.
"Iya, Ma. "
Ibu Felisya mengangguk tanda mengerti. Usai sarapan Nazia dan Zevin segera berangkat ke rumah sakit.
...----------------...
Rumah Sakit Z.K
"Zi !" Rayya memekik kegirangan. Ia merentangkan tangannya lebar-lebar.
" Ay !" Nazia membalas pelukan Rayya.
"Bagaimana kabar kalian?" Tanya Rayya.
"Kabar kami baik, Ay. Ini aku bawakan sesuatu untukmu, Vian dan juga Vira." Jawab Nazia. Ia memberikan paper bag pada Rayya.
"Apa ini?" Rayya menerima paper bag
"Buka saja, semoga kamu suka !" Balas Nazia tersenyum.
Zevin sesekali menyimak pembicaraan istrinya dan Rayya. Ia sedang mengecek ponselnya dan Nazia. Seperti razia dia selalu melihat isi dalam ponsel istrinya.
"Tas ! Bagus sekali, terimakasih Zi !" Ucap Rayya senang.
" Sama-sama, Ay. Apa jadwalmu hari ini?"
"Hari ini aku masuk ruangan bayi." Jawab Rayya.
"Ayo kita ke sana ! Aku juga masuk keruang kebidanan."
Zevin memasukan ponselnya kedalam saku. Lalu menarik lembut tangan istrinya dan berkata.
"Cinta, istirahat siang kita ada janji sama mama dan papa, tunggu aku di sini ya. Karena Ralda hari ini akan pindah aku ke ruangan direktur dulu." Mengecup lembut pipi Nazia.
Pintu terbuka. Seketika menarik perhatian tiga orang yang duduk di sofa itu. Nampak dokter Yudha tersenyum berdiri di ambang pintu.
__ADS_1
"Selamat pagi semuanya." Sapa Yudha melangkah masuk.
"Selamat pagi."
Yudha tersenyum ramah.
"Bagaimana kabar anda dokter, Zev?" Bertanya sambil mendaratkan tubuhnya di sebelah Zevin.
"Kabar saya baik, dokter Yudha." Jawab Zevin. Membalas uluran tangan Yudha.
"Saya dengar anda menggantikan direktur kita." Kata Yudha.
"Benar sekali."
"Selamat untuk Anda." Ucap Yudha.
"Terimakasih."
"Boleh saya bicara layaknya seumuran, sepertinya usia kita sama." Kata Yudha. Matanya beralih melihat pada Nazia yang fokus bicara pada Rayya.
"Terserah padamu." Balas Zevin malas.
Ia melihat pandangan Yudha pada istrinya, geram rasanya orang lain melihat kecantikan istrinya.
"Sudah jam delapan, ayo sayang ! pasien kamu sudah menunggu. Aku juga harus ke ruangan direktur." Zevin mencium pucuk kepala Nazia.
"Iya, Ayo Ay ! Kita bersiap. Permisi dokter Yudha kami duluan." Ucap Nazia.
"Silahkan dokter, Zi." Balas Yudha. Matanya lagi-lagi tak lepas melihat Nazia.
Zevin tidak suka dengan mata itu. Ia harus meminta bantuan Erik untuk mencari tahu latar belakang Yudha.
...----------------...
Kantor A.Z
Pak Reza tengah duduk satu meja dengan orang suruhannya.
"Informasi apa yang kamu dapatkan?" Tanya pak Reza.
"Tanah kosong itu, kepemilikan almarhum pak Heru mantan asisten tuan Indra Jaya. Beliau mengembalikan kepemilikan tanah itu pada putrinya yang bernama ibu Mira. Setelah klarifikasi waktu itu dan sekarang tanah itu diserahkan pada putrinya ibu Mira." Jawab pria bertubuh kurus ini.
"Siapa nama putri ibu Mira itu?"
Pria itu membuka lembaran kertas berikutnya.
"Dokter Nazia Mishall."
"Apan?! Wanita itu lagi." Pak Reza terkejut.
Sesaat kemudian dia tersenyum tipis. Lalu mempersilahkan orang suruhannya untuk meninggalkan ruangannya.
__ADS_1
"Nazia, Tak kusangka dia cucu dari pak Heru." Gumam pak Reza.