Suami Manja Dokter Zi

Suami Manja Dokter Zi
Pria Kiriman Alby


__ADS_3

Disaat semua orang berpetualang dalam dunia mimpi, di sinilah Zevin meluapkan kesedihannya yang mendalam. Di kamar sang kakek, ia duduk bersandar di atas kasur dengan pandangan lurus menatap pigura foto kakek Ardian di atas meja yang jauh darinya.


Banyak kenangan yang tersimpan bersama kakek Ardian, semenjak kecil Zevin selalu diperlakukan bak pangeran oleh kakeknya. Zevin berusaha menahan diri di depan semua orang agar tidak melihatnya rapuh sebagai pria.


"Kenapa semuanya begitu cepat ? Kakek belum sempat melihat cicitnya. Empat bulan lagi menunggunya Kek." Gumam Zevin sendu.


Satu persatu potret kenangannya bersama kakek Ardian terbongkar dari album foto milik kakek yang ada di dalam laci meja di sisi kasur. Waktu sudah menunjuk jam satu malam namun Zevin belum juga merasa mengantuk.


Berbeda hal di kamar miliknya, Nazia merasa kantung kemihnya penuh bangun dari tidurnya. Ia menoleh ke sisinya tidak ada Zevin di sana. Dengan perlahan Nazia turun dari kasur untuk pergi ke kamar mandi.


"Di mana dia?" Gumam Nazia setelah selesai dari kamar mandi.


Nazia keluar dari kamar mencari keberadaan suaminya. Tidak biasa Zevin seperti ini bangun di tengah malam dan menghilang dari kamar. Sambil memperhatikan langkahnya Nazia menuruni anak tangga karena rumah pak Indra tidak memiliki lift seperti di rumahnya.


Nazia melewati kamar kakek Ardian nampak lampu masih menyala dari ventilasi di atas pintu. Setelah dibuka terlihat Zevin sedang membuka album foto di atas kasur.


Nazia melangkah pelan menghampiri suaminya dan berkata.


"Sayang, ternyata kamu di sini?"


Suara Nazia mengejutkan Zevin.


"Cinta kenapa bangun ? Maaf meninggalkanmu di kamar sendirian." Ucapnya menyesal membantu Nazia duduk di atas kasur.


"Sudah larut, ayo tidur !" Nazia menyisipkan jepit rambut di poni suaminya. Ya, tadi Zevin memakai jepit rambut milik Nazia karena meminta istrinya membersihkan wajahnya


"Iya sayang, maaf mengabaikanmu dan bayi kita. Ayo tidur !" Zevin menyimpan kembali album foto ketempatnya semula .


Nazia  meletakan bantal dengan benar lalu berkata


"Berbaring sini." Menepuk bantal di samping suaminya.


"Kita tidur di sini?" Tanya Zevin seraya merebahkan diri mnya.


"Iya." Nazia juga berbaring dan membenamkan wajah mnya di dada suami mnya.


Zevin memeluk Nazia dengan menempelkan tangannya di perut istrinya. Terasa bayinya bergerak sedikit seketika senyumnya mengembang dengan posisi setengah duduk ia mengecup perut Nazia.


"Maafkan papa sayang, ayo kita tidur !" Ucap Zevin. Kembali berbaring.


...----------------...


Tiga Hari Kemudian...


Kantor pusat Jaya Group beserta cabangnya telah aktif kembali setelah melewati masa berkabung selama tiga hari. Para Karyawan mulai bekerja seperti biasa, tapi mereka cukup sibuk karena libur dadakan tiga hari membuat pekerjaan mereka menumpuk. Tapi tak khawatir, lelah mereka bekerja akan dibayar dengan fantastis.


"Sayang, nanti malam kita menginap di rumah mama ya." Kata Nazia sambil berkemas.


"Iya Cinta, ayo berangkat. Nanti setelah kandunganmu 7 bulan ambil cuti ya. Aku mau kamu habiskan waktu di rumah." Ujar Zevin menggandeng tangan istrinya.


"Iya."


Setelah sarapan seperti biasa Nazia dan Zevin berangkat ke tempat bekerja masing - masing. Selama kehamilannya, Nazia tidak lagi datang ke rumah prakteknya karena Zevin tidak ingin ia lelah.


Sekarang Nazia memberi kesempatan dokter-dokter junior untuk membuka praktek di luar rumah sakit dengan menyediakan tempat miliknya.


...----------------...


Di tempat lain...


Laki-laki berpakaian serba hitam sedang mengawasi mobil Ralda yang baru saja tiba di kantor. Pria itu tersenyum senang seolah menemukan tambang emasnya.


"Aku bisa memanfaatkan keadaan ini." Ucapnya pelan. Pria itu berlari kecil menghampiri Ralda.


"Selamat pagi keponakanku" Sapa Rudi. Ya, dia yang mengawasi Ralda sejak tadi.


"Ka—kau ! Kenapa kesini?"

__ADS_1


Rudi tersenyum sinis.


"Dasar durhaka ! Kamu tidak memiliki sopan santun padaku."


"Saya tidak mengenali anda. Jadi pergilah dari sini ! Sebelum saya memanggil keamanan kantor ini." Ancam Ralda.


"Kamu sombong sekali Ralda ! Baru saja menjadi istri orang kaya, sudah melupakan pamanmu sendiri !" Bentak Rudi.


"Dia bukan suamiku !"


"Jangan berbohong ! Dari mana kamu dapatkan fasilitas ini kalau bukan dari pria di bar itu !" Ujar Rudi.


"Terserah paman mau berfikiran seperti apa ?! Yang jelas dia bukan  suamiku dan jangan mengganggunya ! Karena aku tidak bisa menebak apa yang bisa ia lakukan pada paman. Sekarang pergilah !" Jelas Ralda sekaligus mengusir.


"Berani sekali kau mengusir ku !" Rudi mengangkat tangannya ingin menampar wajah Ralda.


"Jaga tangan anda tuan, jika ingin masih menempel di tubuh anda !!" Suara berat seorang pria menyadarkan Ralda dari ketakutannya.


"Jangan ikut campur !" Bentak Rudi.


"Jika menyangkut Nona Ralda maka anda berurusan dengan saya." Balas Pria itu dingin. Ia melepaskan genggaman tangan nya kasar hingga tubuh Rudi terhuyung.


Rudi memilih aman dan pergi dari tempat itu dengan hati dongkol, belum sempat ia mendapatkan uang sudah terusir dari sana.


"Anda terluka Nona ?" Tanya pria asing itu.


"Tidak, terimakasih sudah menolongku." Ucap Ralda tulus.


"Itu kewajiban kami menjaga anda. Sekarang masuklah sebentar lagi tuan Zev juga tiba." Balas pria itu langsung melangkah menjauhi Ralda.


Setelah merasa lebih baik, Ralda masuk ke dalam kantor. Di dalam tasnya terdengar deringan ponsel, Ia merogoh ponsel itu ada panggilan dari nomor baru di layarnya.


"Hallo." Jawab Ralda.


"Selamat pagi Ralda ! Apa kau terluka?"


Terdengar kekehan di seberang sana.


"Kamu tidak mengenali suaraku?"


"Tuan Alby?" Tebak Ralda.


Alby terkekeh senang


"Kamu benar cantik ! Simpan nomor ponselku. Semangat berkerja, jangan mengabaikan makan siangmu !"


Jantung Ralda berdegup kencang. Tiba-tiba dapat perhatian seperti itu.


"Baiklah tuan selamat bekerja juga untuk anda." Balas Ralda menekan rasa gugupnya.


"Jangan memanggilku Tuan ! Dan juga bapak ! Tapi panggil saja senyamanmu selain dua  panggilan itu. Atau panggil sayang juga boleh."


"A—akan saya pikirkan panggilan yang cocok untuk anda. Maaf saya harus mulai bekerja karena tuan Zev sudah datang." Balas Ralda melihat kedatangan Zevin dan Erik.


"Baiklah aku tutup telponnya."


Ralda menyimpan nomor Alby di ponselnya.


Siapa pria yang membantuku tadi ?


Zevin dan Erik sampai di depan ruangan dan berhenti di meja Ralda.


"Selamat pagi tuan."


"Pagi, Ra." Balas Zevinn mengamati wajah Ralda terlihat tegang. Hal sama ternyata dilakukan Erik.


"Apa yang terjadi, Kak?"

__ADS_1


"Tadi ada paman datang ke sini. Entah apa maksudnya aku belum tahu. Aku mengusirnya karena itu dia marah dan ingin memukul, tapi tiba-tiba datang seseorang yang mencegahnya." Jawab Ralda


"Dia semakin berani !" Geram Erik mengepalkan tangannya.


"Kamu kenal pria itu?" Tanya Zevin penasaran.


"Tidak tuan, dia juga bukan keamanan kantor ini."


"Baiklah, sekarang mulai bekerja ! Jangan terlalu dipikirkan aku akan menyuruh seseorang mengawasinya dan menjagamu." Ujar Zevin.


"Dan kakak harus menurut." Sambung Erik.


"Baiklah, tapi anda juga hati-hati, Tuan"


"Aku? Kenapa?" Zevin terlihat bingung.


" Karena dia mengira anda suami saya." Ralda menunduk takut.


"Dia melibatkan anda, Tuan." Seru Erik tak enak hati.


Zevin tersenyum


"Jangan khawatir, kita hadapi sama-sama karena aku memang terlibat dari awal. Jangan mencemaskanku." Ia merangkul pundak Erik.


"Terimakasih Tuan, bolehkah ? Saya menemuinya untuk memberikan peringatan padanya." Ujar Erik.


"Baiklah, bawa beberapa orang bersamamu."


"Untuk saat ini biar saya sendiri dulu tuan." Ujar Erik kembali ke luar kantor.


Zevin menatap kepergian Erik lalu berpaling pada Ralda.


"Kirimkan jadwalku." Titahnya. Ia lebih senang membaca jadwalnya sendiri.


"Baik, Tuan."


Waktu terus berputar diam-diam Zevin sangat penasaran kejadian pagi ini. Ia mengecek CCTV di halaman kantornya. Sekarang ia bisa menebak asal mula pria yang menolong Ralda. Zevin merogoh ponselnya dan mencari nama seseorang di kontaknya.


...----------------...


Alby tengah sibuk mempelajari beberapa laporan keuangan di kantornya dikejutkan dengan getar ponselnya.


Ia tersenyum tipis melihat nama si pemanggil. "Ada yang ingin kau tanyakan?" Tebak Alby secara langsung.


"Menyebalkan, tidak ada basa basi ! Apa pria pagi tadi orangmu?"


"Iya, dia salah satu keamananku. Apa calon kekasihku mengetahuinya?" Ujar Alby penuh percaya diri.


"Calon kekasih ! Yakinkan dulu adiknya. Baru kamu mengklaim kakaknya."


"Aku akan menaklukkan anak singa itu. Percayalah pada kemampuanku." Balas Alby.


"Terserah padamu, Aku akan menambah satu orang bersama orangmu, karena tidak mungkin dia masuk ke dalam lingkungan Indra Jaya. Sementara mereka memiliki tanda pengenal khusus."


"Aku lupa tentang itu. Baiklah terimakasih, boleh jam makan siang aku mengajak Rara keluar." Ujar Alby.


"Rara? Siapa dia?! Jangan macam-macam, Al ! Aku tidak mengijinkan kamu mendekati Ralda lagi jika ada wanita lain."


"Rara itu Ralda ! Rara adalah panggilanku untuknya. Begitu saja kau tidak mengerti dasar payah." Umpat Alby.


"Hei aku tidak payah, kecerdasanku di atas rata-rata. Aku menjalani dua profesi sebagai dokter dan juga presiden direktur !"


"Iya-iya terserah padamu ! Semoga saja anakmu dikandungan Zia tidak mirip denganmu." Ucap Alby.


"Aku memang tidak berharap wajah bayiku mirip denganku jika dia laki-laki, karena dia harus mirip dengan istriku. Aku tidak mau ketampananku tersaingi. Dan aku juga berharap jika dia bayi perempuan harus mirip denganku karena aku tidak mau kecantikan istriku tersaingi."


"Ya Tuhan ada manusia aneh sepertimu !" Balas Alby kesal.

__ADS_1


__ADS_2