Suami Manja Dokter Zi

Suami Manja Dokter Zi
Memperbaiki


__ADS_3

Setelah mendapat telpon dari IGD. Nazia duduk termenung di kursinya. Kenapa keadaan seperti mengikatnya erat dengan masa lalu yang telah di tinggalkannya ? Sementara ia telah berjuang untuk melepasnya.


"Kenapa?" Zevin menyentuh pundak Nazia.


"Hari ini jadwal aku jaga. Dokter Lina praktek di poli"


"Kenapa terlihat bingung?" Zevin duduk di depan meja.


"Ada pasien baru masuk rujukan dari IGD. Dia pingsan pagi tadi hasil pemeriksaan dokter IGD dia Hamil . Namanya Sherin" Jelas Nazia.


"Apa mungkin istri, Alby?"


"Iya, kamu benar. Aku harus apa?" Nazia menatap penuh kebingungan.


"Rawat saja dia ! Posisi mu seorang dokter. Kesampingkan masalah pribadi, aku akan menemani mu"


"Ya, baiklah. Aku akan ke sana." Ia bergegas menyiapkan tas kerjanya untuk pergi ke ruang kebidanan. Dengan langkah yakin, ia melewati tiap lorong rumah sakit. Tak jauh dari posisinya di depan ruangan kebidanan keluarga Sherin menunggu di kursi tunggu.


"Nazia." Sapa ibu Anggi.


Nazia mengangguk memberikan senyum tulusnya lalu masuk kedalam  ruangan. Alby terperangah melihat sosok dokter yang datang. Antara senang, rindu dan malu bercampur jadi satu. Hingga lidahnya kelu hanya untuk menyapa.


Sherin melihat kedatangan Nazia membuang wajahnya kesamping, rasa bencinya semakin kuat pada Nazia. Bahkan kesalahan yang telah ia lakukan seperti terlempar begitu saja pada Nazia. Karena tidak terimanya pada hubungan Nazia dan Alby, ia sampai melakukan hal nekat seperti itu. Begitu pendapatnya. Dia benci pada Nazia yang telah mendahuluinya memiliki cinta Alby.


"Aku tidak mau dia yang merawat ku !" Sanggah Sherin terlebih dulu tanpa melihat pada Nazia


"Jangan macam-macam Sherin !" Bentak Alby.


"Nak, biarkan dia memeriksa mu lebih dulu. Dia dokter kandungan." Ucap Ibu Siska.


"Aku tidak mau, Ma. Dia yang mendahului aku mendapatkan, Al. Jika bukan karena dia tidak mungkin aku melakukan ini semua !" Sherin menatap benci pada Nazia.


"Jaga bicaramu, Sherin !" Alby membentak lagi.


" Tuan dan Nyonya mohon perhatikan sikap anda. Ini rumah sakit. Dokter kandungan jaga hari ini adalah dokter, Zi." Bidan senior angkat bicara.


"Apa tidak ada dokter lain?" Tanya ibu Siska.


"Dokter Lina praktek di poli kandungan. Lalu dokter Farida cuti melahirkan. Dokter Hendra dinas keluar kota dan dokter jaga hari ini adalah dokter, Zi. Besok baru dokter Lina giliran jaga." Zevin datang menjelaskan.


Semua orang terkejut dengan kedatangan Zevin terkecuali Nazia, ia sudah melihat jika pria itu masuk.


"Pilihan ada di tanganmu Sherin. Jika tidak ! Maka silahkan urus administrasi pulang dan kamu ingat urusan kita belum selesai" Kata Alby.


Sherin mengangguk kecil tanda menyetujui. "Baiklah aku mau di periksa olehnya. Tapi kamu menemani ku"


Alby tak merespon. Matanya  masih tertuju pada Nazia yang bersikap acuh. Ibu Siska memilih menunggu di luar agar Nazia memulai pemeriksaan.


"Aku kembali keruangan. Semangat dokter, Zi." Zevin tersenyum mengusap pucuk kepala gadisnya.


Alby menatap tak senang pada Zevin. Ada aura permusuhan di matanya, rasa cemburu dan iri bercampur dalam dirinya.


"Selamat pagi Nyonya Sherin ! Apa yang anda rasakan sebelumnya?" Nazia mulai rangkaian pemeriksaan.


"Aku pusing dan akhir-akhir ini aku cepat lelah. Tiap pagi mual, sensitif pada aroma masakan" Jelas Sherin singkat dengan nada suara tidak bersahabat.


"Terakhir tamu bulanan anda?" Nazia melanjutkan pertanyaan.


"A—aku lupa." Kata Sherin gugup.


"Baiklah, kalau begitu kita USG ya biar tahu perkembangan janinnya. Karena hasil pemeriksaan dokter sebelumnya anda hamil. Jadi kita lihat lagi melalui USG" Jelas Nazia. Perawat membantu menyiapkan keperluan USG. Sementara Alby bertopang dagu menatap lekat wajah Nazia tanpa bersuara. "Nyonya Sherin. Dari sini terlihat dari ukuran dan berat nya. Kehamilan anda sudah usia tiga bulan ya, janinnya juga sehat " Jelas Nazia. Sherin menatap takut pada Alby. Ia tidak fokus mendengarkan penjelasan Nazia seputar kehamilannya. Alby tak menghiraukan ketakutan Sherin, dirinya masih fokus pada dokter cantik itu saja. "Sekali lagi, selamat untuk anda berdua, karena kondisi nyonya kurang baik. Jadi harus dirawat beberapa hari dulu di sini." Nazia tersenyum lembut.


Sherin mengangguk patuh tanpa bersuara, bahkan ia atau pun Alby tidak terlalu merespon Nazia. Perawat siap memindahkan Sherin menuju ruang rawat inap.


...----------------...


Entah senang atau pun sedih dua keluarga itu duduk hening tanpa suara di dalam ruangan Sherin cukup lama. Alby dan Jimmy sejak tadi duduk di pojokan memperhatikan raut wajah orang-orang di sana.


"Papa mengira hubungan kalian selama ini baik-baik saja" Seru pak Reza.


"Maafkan aku, Pa. Awalnya aku serius dengan pernikahan ini. Tapi setelah aku tahu jika Sherin tidak bisa menjaga kehormatannya dengan baik. Aku kecewa di tambah lagi dengan masalah yang baru saja terungkap" Kata Alby.


"Pernikahan ini baru berjalan dua bulan dan usia kehamilan Sherin sudah tiga bulan. Siapa ayah bayi itu?" Ibu Anggi bertanya.


"Tanyakan setelah dia bangun, aku akan keluar sebentar"  Kata Alby lalu melangkah keluar dari ruangan.


Jimmy mengikuti langkah Alby keluar. Ada rasa senang ada juga tidak yang dirasakannya melihat keadaan yang membuatnya menghela nafas panjang. Tak kurang memberi nasehat pada tuannya selama ini.


"Anda mau kemana, Tuan?"


"Ke kantin, ayo kita minum kopi." Ajak Alby.


Jimmy membalas dengan anggukan. Mereka melewati ruang kebidanan, Alby menghentikan langkahnya sejenak lalu menoleh pada gagang pintu ruangan itu. Tangannya tergerak untuk membukanya. Namun dengan cepat diurungkannya lagi.


"Ada apa, tuan?"


"Lupakan ! Ayo" Alby melangkah kembali.

__ADS_1


"Iya."


Alby dan Jimmy berpapasan dengan Zevin di lorong rumah sakit. Mata mereka saling menatap penuh arti. Tanpa bertegur sapa, mereka melanjutkan langkah masing-masing. Zevin tersenyum tipis di belakang Alby seolah mentertawakan kekacauan pria itu.


Alby dan Jimmy masing-masing memesan minuman hangat untuk mereka berdua. Hari memang menjelang siang. Tapi Alby butuh minuman hangat karena cuaca sedikit mendung.


"Apa rencana selanjutnya?" Tanya Jimmy.


Alby melihat kepulan asap dari dalam gelas nya. "Ingin rasanya aku mengirim Sherin ke penjara. Tapi kondisinya sedang tidak memungkinkan." Ucapnya sembari menghela nafas panjang.


"Lalu bayi yang di kandungannya?" Jimmy menyesap kopi hitam miliknya.


Alby tersenyum hambar. "Aku akan mengurus surat perpisahan"


"Anda yakin papa dan mertua anda membiarkan hal itu?" Tanya Jimmy ragu.


"Aku tidak akan mengakui anak yang bukan darah dagingku."


"Saya hanya mendukung keputusan anda." Balas Jimmy.


Mereka berdua kembali diam, menikmati secangkir kopi hitam. Cuaca yang dingin lumayan menusuk ke dalam kulit. Alby sengaja tidak datang ke kantor karena ingin tahu siapa ayah dari bayi yang di kandung Sherin. Kantin cukup sepi karena belum masuk jam makan siang.


"Nazia semakin cantik, dia juga terlihat keren tadi"


Jimmy melihat kepada Alby.


"Anda benar, dia cocok menjadi dokter. Kepribadian yang tenang memberi rasa nyaman jika di dekatnya." Menimpali pujian tuan mudanya.


"Setelah kejadian ini aku banyak belajar. Materi bisa di cari kapan saja tapi kesetiaan, kejujuran dan kebaikan susah untuk di dapatkan. Zia wanita hebat, mandiri. Sekarang aku baru sadar dia sangat beharga." Ungkap Alby. Tatapan matanya tersirat kepedihan dan kekecewaan pada dirinya sendiri. Jimmy tersenyum tipis mendengar Alby bicara. Sebenarnya ia pun mengagumi sosok Nazia. "Aku ingin memperbaiki semuanya" Kata Alby menghirup sisa kopi di gelasnya.


...----------------...


Di ruangannya Sherin sudah bangun, ia tengah memakan buah yang telah di kupas ibu siska ke dalam piring. Suasana agak canggung antara ibu Anggi dan ibu Siska. Malu bercampur marah menyesakkan dada kedua ibu itu. Pernikahan yang baru berusia dua bulan ini akan terancam kandas. Pintu terbuka dari luar, Alby dan Jimmy berdiri di depan pintu.


"Dia sudah bangun?" Alby melangkah masuk.


"Kamu kemana saja, Al?" Sherin bertanya manja.


Alby memasang wajah datar lalu duduk di sofa. Jimmy berpamitan pada Alby karena akan ke kantor. Tak lama masuklah pak Reza dan Pak Toni kedalam ruangan itu.


Di Sana mereka sudah berkumpul. Alby memanfaatkan waktu ini untuk bertanya ayah bayi di kandungan Sherin.


"Siapa ayah bayi itu?" Suara Alby mengalihkan perhatian semua orang.


Sherin menunduk takut. Awalnya ingin memanfaatkan keadaan untuk meluluhkan Alby. Ternyata ia salah pria itu sudah lebih dulu memasang tembok pembatas yang amat tinggi.


"Katakan Sherin siapa ayah bayi mu. Aku bisa menjamin itu bukan bayi putraku karena pernikahan kalian baru dua bulan. Tapi, kandungan mu sudah tiga bulan" Seru ibu Anggi di ujung sofa.


"Kamu pikir dokter itu salah ! tidak tahu dengan usia kehamilan mu !" Bentak ibu Anggi.


"Jika kamu meragukan dokter Nazia, aku akan cari dokter kandungan lain. Tapi jika hasilnya sama. Aku akan menuntut mu karena melakukan kejahatan pada proyek Alby." Sambung Erika yang baru masuk.


Sherin mengepalkan tangannya gelisah. Matanya menatap takut pada Erika. Pak Toni dan ibu Siska tidak bisa berkata apa-apa lagi. Putri yang mereka bangga-banggakan sudah mencoreng nama baik keluarga.


"Katakan siapa ayah bayi itu?" Tegas Alby.


Sherin menunduk. "Ha—hadi" jawabnya lirih.


Pak Toni mengusap wajahnya kasar duduk di sofa, wajahnya merah menahan malu dan amarah. Ibu Siska duduk mendekat pada suaminya berusaha menenangkan.


"Sejak kapan kamu mengenal pria itu Sherin?" Lirih pak Toni.


Sherin  tak berani menjawab hanya air mata sebagai perwakilan hatinya. Lidahnya terkunci, Ibu Siska menghampiri putrinya lalu memeluknya memberi sebuah ketenangan.


Suasana tiba-tiba hening. Keadaan semakin runyam setelah semua mengetahui ayah dari bayi kandungan Sherin.


Alby menegakkan tubuhnya duduk lalu berkata. "Aku tidak akan menyeret mu ke penjara. Tapi aku akan mengurus perpisahan kita"


Kepala Sherin terangkat melihat ke arah Alby duduk. Sorot matanya mengiba. "Jangan lakukan itu, Al. Aku mencintai mu." Ucapnya terisak.


"Apa hubungan mu dan Hadi?" Tanya Erika.


"Dia mantan kekasihku kami putus seminggu sebelum pernikahan." Jelas Sherin lemah.


"Pantas saja dia mau mengungkap kejahatan mu, ternyata dia kamu khianati. Aku mengerti sekarang" Ungkap Erika geram.


"Setelah kamu sehat pulanglah ke rumah orang tua mu. Setelah Hadi bebas menikahlah dengannya. Aku akan mengurus semuanya " Putus Alby.


Semua orang terdiam. Pak Toni dan ibu Siska hanya berdiam diri, begitu juga pak Reza. Ia merasa bersalah pada putranya karena mengusulkan perjodohan itu.


Pintu terbuka. "Selamat siang semuanya" Sapa Nazia ramah.


Alby refleks berdiri melihat kedatangan Nazia. Ibu Anggi dan Erika langsung menghampiri dokter cantik itu.


"Bagaimana kabar mu ?" Erika tersenyum hangat.


"Sangat Baik, saya hanya ingin melihat kondisi Nyonya Sherin"

__ADS_1


Tatapan Erika sendu. Nazia sudah menganggapnya seperti orang asing. Begitu juga dengan ibu Anggi.  Melihat Nazia masuk pak Reza dan Pak Toni memilih pergi ke kantin. Di tempatnya Alby terpaku melihat sikap mantan kekasihnya itu. Sherin meremas selimutnya melihat tatapan Alby untuk Nazia. Kobaran kebencian itu semakin membesar.


"Ada keluhan Nyonya? Kita cek lagi ya." Tanya Nazia ramah. Ia memperhatikan catatan perkembangan kesehatan Sherin yang dibawa asistennya. "Aaaaahhh." Jeritnya nyaring


Tanpa di duga Sherin menjambak rambut Nazia yang terikat satu di belakang. Semua orang terkejut karena kejadian itu.


"Lepaskan, Sherin !" Bentak Alby mencoba melepaskan genggaman Sherin di rambut Nazia.


"Aku membencimu, Nazia ! Aku membencimu ! Harusnya kamu mati saja !!" Sherin memaki dan tangannya menjambak kuat rambut panjang itu


"Lepaskan dia, Sherin !" Alby berusaha melepaskan jari-jari Sherin.


"NYONYA LEPASKAN DOKTER, ZI" Teriak asisten Nazia.


"Lepaskan saya !" Bentak Nazia sambil meringis kesakitan.


Tapi wanita itu sangat kuat. Ibu Anggi dan Ibu Siska berusaha menenangkan Sherin. Namun tidak berhasil. Nazia semakin kesakitan karena rambutnya di tarik bahkan kepalanya berdenyut saking sakitnya. Melihat hal itu asistennya berlari keruangan dokter.


"Dokter, Zev ! Bantu dokter, Zi. Dia diserang pasien !" Asisten dokter itu tersengal karena berlari. Zevin langsung berlari menuju bangsal wanita hamil.


"Aku tidak akan melepaskan mu !!" Sherin masih belum melepaskan rambut Nazia.


"Lepaskan Sherin atau aku akan menyakiti mu !" Alby mencengkram pergelangan Sherin


Wajah Sherin di tampar Erika. Tangannya refleks melepas rambut Nazia karena merasakan panas dan perih di pipinya.


Nazia berjongkok di lantai sambil menyentuh kepalanya yang terasa sangat sakit. Air mata kesakitannya meleleh lancar di pipinya. Alby berjongkok ingin membantu Nazia berdiri.


"Maafkan aku sayang, sangat terlambat, jangan takut aku disini" Zevin meraih Nazia kedalam pelukannya.


Alby menatap tak suka pada Zevin yang tiba-tiba datang langsung memeluk Nazia. Sementara Sherin terdiam mengusap pipinya yang sakit.


Zevin melepaskan ikat rambut Nazia yang berantakan karena ulah Sherin. Tangannya memijat pelan kepala Nazia agar mengurangi rasa denyutan di kulit kepalanya. Zevin membenamkan wajah Nazia di dadanya. Pria itu dapat merasakan tubuh Nazia yang gemetar.


"Masih sakit?" Ibu Anggi mendekat ingin mengusap kepala Nazia.


"Maaf Nyonya jangan menyentuh, Zi" Zevin memperingatkan.


Mata dokter tampan itu sudah memerah menahan emosinya sorot matanya juga tidak bersahabat.


"Hei, mama hanya ingin menyentuhnya. Kenapa kamu melarangnya !" Alby tak terima atas penolakan Zevin.


"Aku melarang siapa pun menyentuh milikku tanpa ijin dariku" Balas Zevin dingin.


"Ibuku hanya ingin membantu Nazia" Seru Erika ikut emosi.


Zevin tak menggubrisnya. Ia masih menenangkan Nazia sambil mengusap lembut rambut nya.


Setelah sedikit tenang Nazia ingin melepaskan dirinya dari pelukan Zevin. Namun pria itu  tidak melepaskannya begitu saja, tangannya masih melingkar kuat di tubuh Nazia.


"Nyonya Sherin ! Saya bisa menuntut anda dengan kasus penganiayaan. Pilihan ada di tangan anda. Berdamai dan minta maaf atau berakhir di jalur hukum" Kata Zevin tegas


Alby sejak tadi diam masih menatap lekat Nazia di pelukan Zevin. Ingin rasanya menarik tubuh dokter cantik itu di pelukannya.


"Maafkan aku" Ucap Sherin tertunduk.


"Minta maaf dengan benar ! jika tidak mau saat ini juga saya pastikan anda membayarnya dengan sangat mahal" Ancam Zevin.


Nazia mengangkat wajahnya lalu menatap lekat bola mata  Zevin.  Hanya ada pancaran keseriusan di sana. Wajah tampan itu merah dan datar.


"Zev, jangan terlalu keras dia sedang hamil" Ucap Nazia lembut.


"Karena dia wanita hamil aku berusaha tidak membalas perbuatannya pada mu. Aku memberinya pilihan yang baik" Suara Zevin terdengar dingin.


Nazia dapat merasakan nafas Zevin turun naik karena emosi. Tangannya mengepal di belakang Nazia. Sorot mata itu merah dan tajam. Nazia mengerti kenapa Zevin mengeratkan pelukannya, mungkin agar dia tidak lepas kendali terhadap Sherin.


"Nazia maafkan aku." Ucap Sherin


Nazia melonggarkan pelukan Zevin. Lalu berpindah menggenggam tangannya. Kedua dokter ini saling menguatkan dan mengendalikan.


"Saya tidak tahu apa permasalahan anda. Tapi alangkah baiknya kalian selesaikan masalah kalian sendiri" Ujar Nazia datar.


"Anda sebagai suaminya. Didik dia lebih bermoral lagi" Sambung Zevin yang tertuju untuk Alby.


Rahang Alby mengeras tak terima dengan ucapan Zevin.


"Saya akan mengganti dokter kandungan untuknya. Saya akan merekomendasikan dokter Hendra nanti malam dia akan pulang" Ujar Zevin.


" Apa hak mu untuk mengganti dokternya?" Alby kesal dengan keputusan Zevin.


Zevin tersenyum tipis tanpa menjawab


"Tapi Zev dia pasienku" Kata Nazia.


"Sayang, aku tidak mau terjadi apa-apa pada mu. Aku tidak yakin bisa mengendalikan diri ku lagi setelah dia menyerang mu tadi" Balas Zevin. Dokter cantik ini mengangguk lalu menarik Zevin untuk keluar dari ruangan itu.


"Nazia..." Panggil Alby .

__ADS_1


Nazia dan Zevin menghentikan langkah mereka. Tanpa menoleh kebelakang.


Alby melangkah mendekat menghampiri. "Berikan aku kesempatan untuk memperbaiki semuanya"


__ADS_2