Suami Manja Dokter Zi

Suami Manja Dokter Zi
Pulang Kerumah


__ADS_3

Satu Bulan Kemudian...


Di kamar besar milik pria yang kini mengunci pikirannya. Nazia termenung di balkon kamar Zevin berdiri menatap indahnya malam yang bertabur bintang.


Angin begitu menggelitik kulitnya agar terasa dingin, sedingin hatinya yang dilanda rindu. Sebulan lamanya menjadi tawanan tuan Indra cukup menyiksa perasaan Nazia di rumah besar itu.


Bukan karena perlakuan yang buruk, tapi karena hati yang mendambakan kehadiran seseorang. Rindunya berkumpul bersama keluarga dan sahabat mencubit dirinya agar merengek esok hari pada tuan rumah agar mengantarnya pulang.


Selama sebulan aktivitasnya begitu terjadwal, tidak tanggung-tanggung pak Indra memperkerjakan satu asisten pribadi untuk Nazia. Walau praktek bersama di satu tempat dengan Zevin, tapi tidak membuat mereka bisa bertemu. Karena selesai praktek Nazia langsung di giring pulang.


"Kamu belum tidur ?" Suara ibu Felisya membuyarkan lamunan Nazia.


"Tante, aku belum mengantuk"


"Memikirkan apa?" Ibu Felisya bertanya lembut sambil merapikan anak rambut Nazia.


"Aku kepikiran mama, sudah sebulan aku disini aku merindukan mereka"


Ibu Felisya tersenyum. "Termasuk ,Zev?"


"Iya, aku sangat merindukannya. Semua tentang dia." Jawab Nazia tanpa sadar dan tersenyum.


"Istirahatlah !" Ibu Felisya menepuk pundak Nazia lembut lalu meninggalkan kamar itu.


...----------------...


Di kamar yang berbeda Zevin juga merasakan hal yang sama satu bulan tidak bertemu Nazia membuatnya uring-uringan. Beberapa kali menemui pak Indra di kantornya untuk membujuk memulangkan Nazia tapi tidak berhasil.


Bukan hanya Nazia bisa melakukan sesuatu yang konyol tapi Zevin juga melakukan hal serupa. Seperti saat ini ia sedang mengganti seprai kasur Nazia dengan yang baru. Hampir satu botol parfum milik Nazia dihabiskannya untuk menyemprot seprai itu. Tak hanya itu bantal, guling dan selimut tak luput dari parfum.


Jika dulu dinding kamar Nazia pink polos maka saat ini kamar Nazia penuh dengan foto milik Zevin yang bermacam ukuran.


"Kak Zev belum tidur?" Ivan memasukkan kepalanya di pintu kamar.


"Belum, ayo masuk !"


Ivan melangkahkan kakinya masuk lalu duduk di atas kasur. "Wangi sekali, apa Zi tadi pulang ? Kenapa aku tidak bertemu dengannya?" Mencerca dengan pertanyaan.


"Zi, belum pulang sudah satu bulan aku tidak melihatnya, aku merindukannya." Zevin menjatuhkan tubuhnya di kasur.


"Lalu kenapa wangi seperti ini?" Ivan juga ikut rebahan di kasur itu.


"Ini !" Zevin menunjukkan parfum milik Nazia.


"Kakak cerdas ! Aku juga merindukan Zizi. Lama tidak bermanja-manja dengannya." Ivan memasang wajah imutnya.


"Bermanja-manja ? Tidak boleh ! Hanya aku yang boleh begitu pada, Zi !" Zevin memberikan tatapan tajamnya.


"Ih, cemburu ! Aku sudah sering bermanja-manja dengan, Zi. Bersandar di bahu nya, tidur berpelukan, makan dan berenang bersama." Ivan menerawang ke langit- langit kamar mengingat kebersamaannya dengan Nazia.


"Keluar sana ! Aku ngantuk." Zevin menendang pelan pantat Ivan  lalu menarik selimut sampai menutupi kepalanya. Ivan yang melihatnya tertawa senang sambil berlari kecil keluar dari kamar Nazia


"Awas saja kalau kamu berani bermanja dengan Zi di depanku ! Aish, menyebalkan ! Hanya aku yang boleh seperti itu, Zi milik ku ! " Zevin menggerutu kesal dalam selimut.


Menjadi sandra mirip dengan cerita anak yang tertukar. Zevin tinggal di rumah ibu Mira dan menempati kamar Nazia begitu juga sebaliknya. Nazia tinggal di rumah pak Indra menempati kamar Zevin.


...----------------...


Di Apartemennya  Alby tidak berkonsentrasi dengan pekerjaannya. Sebulan lamanya tidak tahu kabar berita Nazia membuatnya marah-marah tidak jelas.


"Jim, di mana menurutmu, Nazia?" Tanya Alby meletakkan penanya.


"Tidak tahu tuan muda."


"Tidak bisakah, Kamu memberikan jawaban yang lain ?!" Alby mulai kesal.


Jimmy memilih diam karena dia tahu emosi Alby tidak stabil. Tangannya masih membolak-balik lembaran dokumen di hadapannya. Pekerjaan yang harusnya terselesaikan hari ini jadi tertunda karena suasana hati tuannya yang tidak baik.


"Jim, aku merindukannya. Apa dia juga merindukanku ? Kemana dia? Aku yakin Zia masih mencintaiku"


"Anda yakin tuan ? Setelah apa yang terjadi nona Zia masih menyimpan perasaan pada anda? Bukan apa-apa tuan, saya hanya ingin anda tidak berharap padanya." Sahut Jimmy.


Alby mendengus kesal. "Perkataan mu melukai hatiku, Jim."


Jimmy tersenyum paksa melihat kegalauan tuannya. Alby sudah berpindah duduk disisi Jimmy. Ia mulai merengek seperti dulu lagi pada asistennya itu. Ada kesungguhan dalam matanya yang terlihat oleh Jimmy. Alby juga nampak berubah tidak lagi seperti dulu, mungkin ia pantas mendapatkan kesempatan kedua begitu pikir Jimmy.


Walau awalnya Jimmy telah berjanji tidak akan membantu atau menjadi  penghalang tuannya mendapatkan Nazia kembali. Hari ini ia terpaksa mencabut janjinya itu.


"Tuan sabarlah saya akan berusaha menemukan nona Zia"


Kalimat ampuh untuk tuan mudanya, terbukti Alby berpindah ke kursi miliknya dan melanjutkan pekerjaannya .


...----------------...


Nazia sudah bergabung bersama keluarga pak Indra untuk sarapan pagi. Hari ini ia ingin meminta ijin pulang ke rumahnya pada pak Indra. Nazia sudah tidak betah lama-lama menjadi tawanan pak Indra.


"Om, aku ingin pulang." Ucap Nazia ketika semua orang sudah menyelesaikan sarapannya.


"Pulang?" Pak Indra menatap lekat


"Iya om, aku merindukan mama. Nanti aku akan membujuk mama untuk memaafkan Om"


"Baiklah nanti sore Om antar, hari ini kamu libur praktek, 'kan ? Jadi, bersiaplah nanti sore." Ujar pak Indra.


"Baiklah terimakasih, Om."


Pak Indra masuk ke kamarnya tak lama keluar lagi membawa ponsel Nazia. "Ini ponsel mu, telpon Mira katakan kamu akan pulang sore"


Nazia membalas dengan anggukan. Ibu Felisya pamit pergi keluar begitu juga pak Indra pamit ke kantor sementara kakek Ardian pergi beristirahat ke kamarnya. Nazia masuk kembali kedalam kamar menghubungi ibu Mira


"Ma, aku pulang sore ini" Ucap Nazia penuh rindu di telpon.


"Iya sayang, syukurlah Indra mengijinkan mu pulang, jadi Zevin juga bisa pulang ke apartemen atau ke rumah mereka"


"Apa ? Zevin tinggal di rumah kita !" Kata Nazia.

__ADS_1


"Iya Nak, karena papanya mengurung mu. Jadi, mama meminta Zevin tinggal disini sampai kamu kembali. Maafkan mama dia juga menempati kamar mu tanpa minta ijin pada mu terlebih dulu "


"Tidak masalah, Ma. Aku juga menempati kamar Zev disini" Balas Nazia.


"Baiklah, mama akan bersiap-siap dulu ingin pergi berbelanja"


"Iya, hati-hati Ma. Aku tutup telponnya" Balas Nazia.


Nazia merebahkan tubuhnya di atas kasur mengitari tiap sudut kamar itu. Berharap dia tidak lupa akan kenangan satu bulan menempati kamar Zevin.


Mata Nazia menangkap sudut kamar yang belum pernah di sentuhnya selama di sana. Tubuhnya tergerak untuk bangun lalu melangkah mendekati pintu itu dan membuka gagang pintunya.


Nazia menutup mulut dengan dua telapak tangannya saat masuk ke dalam ruangan itu. Ia melihat banyak foto dirinya yang menempel di dinding. Sangat terawat bahkan barang-barang pemberiannya untuk Zevin tertata sempurna di sana. Hanya satu yang tidak terlihat di sana jepit rambut miliknya yang selalu di pakai Zevin. Mungkin pria itu membawanya ke apartemen. Tanpa sadar air matanya menetes begitu saja melihat bola basket yang di belinya beberapa tahun lalu masih bagus dan tertulis namanya dengan rapi di bola itu.


Tak hanya itu di dalam ruangan itu juga terdapat lcd. Nazia menekan tombol powernya muncullah vidio dirinya sejak beberapa tahun lalu, berbagai aktivitas di luar rumah ada di dalam vidio itu.  Nazia duduk di kursi menonton Vidio itu sampai habis.


...----------------...


Sesuai janji pak Indra ketika sore hari, kini mereka siap untuk pergi ke rumah ibu Mira untuk mengantarkan Nazia. Ibu Felisya terlihat cantik begitu juga dengan pak Indra dan kakek Ardian mereka seperti akan menghadiri acara resmi saja. Tapi Nazia tidak terlalu memikirkannya, mungkin begitulah orang kaya jika ingin bertamu begitu pikirnya.


"Kenapa tidak memakai gaun yang tante siapkan, Nak ?" Tanya ibu Felisya.


"Gaun?"


"Iya, tante sudah siapkan gaun di lemari. Ayo ganti baju mu pakai gaunnya jangan menolak kalau tidak kamu tetap disini tak akan pulang" ibu Felisya menuntun tangan Nazia kembali ke kamar.


"Iya, Tante."


Sepuluh menit kemudian Nazia begitu cantik setelah memakai gaun yang disiapkan ibu Felisya.


"Sudah siap ayo berangkat" Ajak pak Indra. Mereka semua melangkah keluar rumah menuju kediaman Nazia.


Di rumah ibu Mira, Zevin sedikit bingung semua orang terlihat sibuk. Di Sana tidak hanya dirinya tapi juga ada pak Bram dan Ibu Sherly.


"Zev, kenapa tidak ganti baju. Nak ?" Tanya ibu Mira.


"Memang kita mau kemana?"


"Zi, pulang hari ini." Jawab ibu Mira.


"Zi, pulang ? Kenapa tidak memberitahu ku? Aku harus bersiap ! Erik, bantu aku ayo"  Kata Zevin senang.


Dirinya mulai heboh karena tertinggal informasi, beruntung Erik datang sore tadi mengantarkan beberapa laporan rumah sakit. Semua orang terlihat rapi mungkin malam ini makan malam bersama keluarganya begitu pikir Zevin. Karena sejak tadi ibu Mira dan ibu Sherly sibuk membantu Ivan.


"Bagaimana?" Tanya Zevin


"Sempurna, Tuan."


"Baiklah, apa nanti Nazia terpesona padaku?" Tanya Zevin berdiri didepan cermin.


"Saya tidak tahu, Tuan."


"Aku lupa kamu pria bukan mata wanita" Balas Zevin santai.


Deru mobil terdengar berhenti di depan rumah ibu Mira. Semua orang bersiap di ruang keluarga. Ivan segera berlari ke depan pintu.


Andai tidak ada pak Indra mungkin gadis itu tergeletak di tanah karena dorongan tubuh Ivan.


"Aku juga merindukanmu"


Mereka berpelukan cukup lama melepas rindu. Zevin melihat adegan itu langsung keluar dan menarik baju Ivan dari belakang.


"Jangan peluk Zi, dia milik ku ! Cinta aku rindu." Wajah Zevin terlihat manja lalu menggantikan Ivan untuk memeluk Nazia.


"Jangan memeluk Zi, dia milik papa !" Pak Indra mendorong tubuh Zevin pelan.


"Papa aku merindukan Zi." Zevin tak terima.


Pak Indra melenggang masuk menarik tangan Nazia agar mengikutinya. Zevin menjadi kesal. Mereka disambut hangat oleh keluarga ibu Mira.


"Puas mengurung putriku?" Sinis pak Bram.


"Putrimu ! "


"Zi, adalah milik kami sebelumnya, karena putraku yang telah tiada jadi dia jadi putri kami." Jelas pak Bram.


"Aku turut berduka atas kejadian itu." Ucap pak Indra tulus.


"Maka dari itu mari kita berbagi putramu"


"Ambil saja !" Balas pak Indra santai.


Ternyata aku baru tahu papa ini jahat ! Apa dia pikir aku roti manis bisa di bagi?


Wajah Zevin kesal melihat kearah pak Indra.


"Bagaimana kabar mu, Nak?" Tanya ibu Sherly pada Nazia.


"Baik, Ma."


Ivan sudah menempel seperti prangko pada Nazia melihat hal itu Zevin juga menempel pada gadisnya. Matanya bahkan tidak berpindah dari wajah Nazia.


"Zev, kamu membuat Zi malu" Seru dokter Radit.


"Om, belum pernah merasakan rindu selama sebulan"


"Baru sebulan apa apalagi om yang bertahun-tahun" Cibir dokter Radit.


Ibu Mira ikut bergabung lalu memeluk putri kesayangannya itu. Kemudian ia beralih melihat pada pak Indra. "Kenapa baru mengembalikan putriku?" Sinisnya tajam


"Jika bisa tidak akan aku kembalikan"


"Papa."


Kakek Ardian terharu dengan kebersamaan itu. Jauh dalam hatinya begitu rindu hadirnya pak Heru di tengah-tengah mereka.

__ADS_1


"Mira maafkan paman, Nak." Seru kakek Ardian menarik perhatian semua orang.


Ibu Mira berpindah tempat duduk di samping kakek Ardian. "Aku sudah memaafkan paman. Lupakan semuanya nikmati masa tua paman sekarang." Ucapnya menggenggam tangan kakek Ardian.


"Terimakasih, Mir. Kamu sudah memaafkan ayahku" Ucap ibu Felisya.


Zevin merasa senang tangannya sejak tadi masih betah menggenggam tangan Nazia.


"Aku juga minta maaf sekali lagi padamu, meskipun kata maaf ini berulang kali aku ucap tak merubah apapun luka yang tertanam di hatimu selama bertahun-tahun. Ijinkan aku memperbaiki semuanya walau tak sepenuhnya." Ujar pak Indra.


Ibu Mira tersenyum melihat pada Zevin, lagi-lagi dokter muda itu jadi kelemahannya. Semua orang mengikuti arah pandang ibu Mira. Zevin menjadi bingung kenapa semua orang melihat ke arahnya.


"Aku sudah memaafkanmu, Indra. Tapi jangan merampas apa yang akan kumiliki nanti." Ujar ibu Mira.


"Kamu ingin apa dariku?" Tanya Pak Indra berbinar.


"Putramu !"


"Aku ? Kenapa semua orang menginginkan aku" Seru Zevin


"Ambil saja !" Jawab pak Indra enteng.


Semudah itu papa memberikan aku pada orang lain, lihatlah ! Aku sudah dewasa bahkan mampu membuat cucu untuknya. Aku jadi curiga apa aku benar putranya?


Zevin memicingkan matanya menatap kesal pak Indra.


"Jangan melihat papa seperti itu kamu darah daging ku, apa kamu tidak tahu papa bekerja keras membuat anak sepertimu." Ujar pak Indra langsung mendapatkan cubitan dari ibu Felisya.


"Kenapa bukan om Radit saja jadi papaku" Celetuk Zevin pelan.


"Kakak ingin jadi saudaraku." Ivan bertepuk tangan senang.


"Tidak mau !"


Di luar rumah ada suara mobil berhenti. Beberapa saat kemudian masuklah Rayya dan Vian berserta putri mereka Vira.


"Apa kami terlambat?" Tanya Vian.


"Tidak juga, om sudah mengulur waktu" Jawab pak Indra.


"Syukurlah !" Balas Rayya.


Beberapa hari lalu pak Indra membuat janji temu pada Rayya dan Vian untuk berkenalan dengan teman putranya itu.


"Sepertinya kita makan malam lebih dulu baru lanjutkan lagi nanti." Ujar Pak Radit.


Mereka semua setuju, Nazia menjadi lebih diam masih memahami keadaan kenapa semua orang berkumpul  di rumahnya. Sebelum menyusul ke meja makan Rayya dan Nazia melepas rindu terlebih dulu.


Begitu juga Zevin masih belum puas melihat Nazia. "Sayang, besok datanglah ke rumah sakit, aku akan menjemput mu besok pagi. Malam ini aku kembali ke rumah utama"


Nazia mengangguk sambil menggendong Vira. Mereka menyusul untuk bergabung di meja makan. Makan malam di selingan candaan dari tuan Indra dan tingkah maja Zevin di meja makan. Seperti biasa ia akan meminta Nazia melayani di meja makan. Sebelum makan malam berakhir Erik juga ikut bergabung setelah mendapat tugas dari pak Indra.


"Radit, Mira aku ingin bicara serius." Ucap Pak Indra duduk dengan tegap di ruang keluarga.


"Bicaralah !"


"Malam ini selain mengantar Nazia pulang, aku juga akan melamarnya" Ucap pak Indra.


"Melamar?" Zevin terkejut.


"Iya melamarnya" Pak Indra mempertegas kata-katanya.


"Apa papa sadar dengan yang baru papa katakan?" Tanya Zevin mulai kesal.


"Sangat sadar ! Bukankah ? Papa sudah pernah mengatakan jika papa pernah melepaskan ibunya maka papa harus mendapatkan putrinya " Wajah pak Indra sangat serius.


"Papa menyukai, Zi?" Wajah Zevin sudah semerah tomat menahan emosi.


"Iya papa menyukai, Zi ! Kamu keberatan?"


Suasana santai tadi berubah tengang, karena perbincangan ayah dan anak itu.


"Sangat keberatan ! Zi, pantas jadi putri papa ! Aku mencintai Zi"


"Papa tidak perduli. Pertanyaannya apa Zi mencintai mu?" Tanya pak Indra.


Zevin tertunduk diam lalu mengepalkan tangan nya. Jawaban itulah yang belum di dapatkannya dari Nazia.


"Bagaimana, Dit, Mir ? Kalian menerima lamaranku?" Tanya pak Indra.


"Om apa-apaan ini, bukankah ? tadi hanya mengantarkan ku pulang. Lalu... kenapa ada acara lamaran seperti ini?" Tanya Nazia juga kesal.


"Semua jawaban ada pada, Zi" Balas Ibu Mira.


Zevin beranjak dari kursinya lalu masuk ke dalam kamar Nazia menggeret kopernya melewati ruang keluarga.


"Zev, tunggu. Nak !"


Zevin tak menggubrisnya, ia masih melangkah menuju luar.


"Zev, stop di situ !" Kata Nazia.


"Zev, tunggu dulu." Vian berusaha menahan.


"Lepaskan Vi ! Aku akan pulang" Zevin berusaha melepaskan cengkraman Vian di lengannya.


"Ayo kembali duduk."


"Untuk apa ? Mendengar jawaban lamaran papa ?!" Zevin semakin kesal lalu melangkah lagi.


"ZEVIN KAVINDRA ! TUNGGU !"


"Berhenti, untuk apa?" Tanya Zevin tanpa menoleh kebelakang.


"Dengarkan penjelasanku, aku tidak mengerti semua ini."

__ADS_1


"Lalu kamu meminta aku percaya?" Zevin meneruskan langkahnya.


__ADS_2