Suami Manja Dokter Zi

Suami Manja Dokter Zi
Putra Anggara


__ADS_3

Kediaman Indra Jaya


Seluruh keluarga dan kerabat sudah berkumpul di kediaman mewah milik pak Indra. Sejak tadi para pengawal berjaga ketat di sana, jenazah kakek Ardian dibaringkan di ruang tengah rumah itu. Ucapan belasungkawa dan karangan bunga berdatangan dari berbagai rekan bisnis tuan Indra dan Zevin.


Nazia duduk disalah satu sofa dengan berselunjuran kaki, melihat hal itu Ivan merasa Iba dan berinisiatif memijit kaki saudaranya itu.


"Sayang, istirahatlah ! Kakimu pegal pasti banyak berdiri tadi." Zevin menghampiri istrinya dan Ivan. Tak lupa memberikan kecupan penuh kasih sayang dipucuk kepala istrinya.


"Sepertinya begitu, baiklah aku akan naik ke kamar."


"Aku antar, Zi." Seru Ivan berbinar. Ia bermaksud untuk ikut tidur


"Aku saja." Sahut Zevin.


Pasti dia ingin ikut tidur di samping istriku


Nazia berpamitan dengan semua orang yang ikut duduk di sofa. Di sana ada pak Bram dan ibu Sherly, mereka sangat senang atas kehamilan Nazia. Mereka baru saja tiba setelah mendapat kabar dari Nazia. Selama ini mereka pulang pergi ke luar kota untuk menyelesaikan pekerjaan di salah satu anak cabang perusahaan milik pak Bram.


"Sayang bila perlu sesuatu telpon aku ya. Atau pencet alarmnya, aku tinggal dulu ya kebawah." Pamit Zevin meninggalkan kecupan manis di kening dan perut istrinya.


"Kendalikan dirimu ya, kasian mama dan papa."


"Iya cinta." Zevin turun dari kasur lalu kembali ke bawah bergabung dengan yang lainnya di ruang tengah.


Alby dan Jimmy juga hadir di sana setelah mendapat kabar jika perusahaan Indra Jaya Group diliburkan karena dalam masa berkabung.


Erik datang membawa satu piring nasi berserta lauknya untuk Zevin. Setelah mendapat pesan dari Nazia.


"Tuan, makanlah ! Anda belum makan sejak tadi. Nona baru saja mengirim pesan." Erik memberikan piring nasi itu.


Zevin menghela nafas panjang dan berkata. "Sebenarnya aku tidak lapar, tepatnya tidak berselera." Ia menerima piring itu.


Erik duduk di samping Zevin.


"Minta saja Nona Zi menyuapi anda." Ucapnya tersenyum.


"Aku suap sendiri saja, kasian istriku pasti lelah. Belum lagi bayiku mulai nakal menendangnya seharian ini." Zevin menyuapi nasi kedalam mulutnya.


Di tempat lain Alby duduk bersebelahan dengan Ralda. Ia sangat senang bisa sedekat itu dengan wanita pujaan hatinya.


"Kamu pasti lelah, istirahatlah. Ajak juga tante Mira, ibu Sherly dan Ibu Felisya. Sepertinya Zia sudah istirahat lebih dulu." Alby bicara menghadap Ralda.


"Baiklah, aku akan mengajak mereka istirahat dulu." Ralda beranjak dari tempatnya duduk.


Secara bersamaan Zevin juga meminta para ibunya agar beristirahat karena waktu sudah menunjukkan pukul sepuluh malam. Dengan terpaksa mereka menuruti biarlah para laki-laki yang berjaga malam ini.


...----------------...


Pagi menjemput dengan sinarnya. Tidak ada lagi tangis seperti hari kemarin, keluarga Indra melepaskan kepergian kakek Ardian dengan ikhlas.


Di sinilah mereka mengantarkan kakek Ardian ke tempat peristirahatan terakhirnya. Entah kapan beliau menyiapkan tanah pemakamannya di samping makam kakek Heru. Karena selama ini tidak ada yang tahu jika tidak pengurus pemakaman memberitahukan pak Indra.


Tanah basah ditutupi kelopak bunga-bunga segar menandakan jika  pemakaman telah selesai. Ibu Mira kembali terharu dua orang bersahabat itu berdampingan makamnya.


Setelah semua selesai mereka memutuskan pulang ke rumah masing-masing, tapi tidak untuk keluarga inti. Mereka berkumpul kembali di kediaman pak Indra Jaya.


Usai membersihkan tubuh, para pria akan beristirahat sejenak karena semalam tidak tertidur. Sambil menunggu waktu pengiriman doa untuk kakek Ardian.


"Sayang kamu tidur dulu ya, semalaman kamu berjaga." Nazia mengeringkan rambut suaminya.


"Iya Cinta, tapi aku kepingin makan lontong sayur." Wajah Zevin memohon dengan manja.


"Aku akan meminta Ivan membelinya." Nazia menyisir rambut suaminya lalu menggiringnya ke atas kasur.


"Aku tunggu ya sayang, jangan lama turunnya aku ingin tidur memelukmu."


Nazia mengangguk lalu menutup pintu kamar. Ia mencari keberadaan  Ivan, matanya tertuju di ruang keluarga di sana Ivan tengah berbaring di pangkuan ibu Mira.


"Van " Panggil Nazia seraya berjalan menghampiri.

__ADS_1


"Iya Zi ada apa?"


Nazia ikut duduk di samping Ivan lalu berkata. "Aku minta tolong belikan lontong sayur, Zev kepingin makan itu." Pintanya lembut.


"Baiklah, jika bukan karena keponakanku. Tidak mau aku menuruti kemauan kak Zev !" Ivan menggerutu sambil melangkah keluar.


Ibu Mira tersenyum lalu mengusap pelan perut putrinya. "Apa cucu mama sehat?" Tanyanya.


"Sangat sehat, Ma."


"Syukurlah, di sana mama mengkhawatirkan kamu." Ibu Mira terlihat sedih.


"Jangan khawatir, Mir. Putrimu akan baik-baik saja." Sahut ibu Felisya ikut bergabung.


"Terimakasih, sudah memperhatikan Zi." Ucap Ibu Mira tulus.


"Dia tidak hanya menantu tapi juga putriku." Ibu  Felisya menyurai rambut panjang menantunya.


Di sudut tangga seorang pria dengan wajah cemberut turun ke bawah, ia mendapati istrinya tengah berbincang bersama mama dan ibu mertuanya. Zevin menyusul Nazia ke bawah karena istrinya tak kunjung kembali.


"Sayang..." Panggil Zevin memaksakan duduk di tengah ibu Felisya dan Nazia.


"Maaf, aku tidak cepat kembali ke atas tadi. Aku berbincang dengan kedua mama kita."


Zevin menjatuhkan kepalanya di pundak Nazia dengan mata setengah terpejam. "Aku mau tidur peluk kamu." Ucapnya manja.


"Ya Tuhan, Zev ! Kenapa tambah hari tambah manja ! Kamu sebentar lagi jadi papa." Omel ibu Felisya. Ia lupa jika sedang bersedih setelah melihat tingkah putranya.


"Nanti dia merebut perhatian istriku, Ma." Adu Zevin sambil menempelkan tangannya diperut Nazia.


Ibu Mira terkekeh. "Mana ada seperti itu Zev, istrimu juga akan memperhatikanmu."


"Janji ya Cinta, kamu harus adil antara aku dan bayi kita."


"Iya, sini tidur dulu sambil menunggu Ivan datang." Nazia menepuk pahanya. Setelah ibu Felisya berpindah tempat duduk.


Dengan senang hati Zevin meletakkan kepalanya di pangkuan Nazia. Wajahnya menghadap pada perut istrinya.


...----------------...


Malam harinya usai pengiriman doa, semua orang berkumpul setelah makan malam. Selanjutnya bersantai di ruang keluarga sambil mengingat kenangan kakek Ardian dan kakek Heru semasa hidup. Kadang tertawa dan kadang juga mengeluarkan air mata.


"Ma..." Panggil Nazia pada ibu Mira.


"Iya Nak ada apa?"


Semua mata melihat pada Nazia, begitu juga Zevin yang tengah melingkarkan tangannya di tubuh istrinya.


"Mama mengenal dia?" Tunjuk Nazia dengan sorot matanya.


Semua orang mengikuti arah pandang mata Nazia, di sofa tunggal ada dokter Yudha duduk dengan senyum tipisnya.


Ibu Mira memperhatikannya dengan lekat. "Tidak asing, sepertinya kita pernah bertemu ! Tapi di mana?" Ia berusaha mengingat wajah laki-kaki yang tersenyum padanya.


Yudha beralih tempat duduk, ia mendekat pada ibu Mira. Tangan ibu Mira terulur menyentuh wajah Yudha, ada perasaan berbeda saat menyentuhnya. Seolah ia sudah lama mengenal wajah itu


Yudha tersenyum, ia menahan tangan ibu Mira yang menyentuh pipinya. Mata Yudha berkaca-kaca haru, diraihnya tangan ibu Mira lalu menciumnya. Ada perasaan hangat yang selalu dirindukan Yudha saat menyentuh tangan yang dulu sering mengusap lembut pucuk kepalanya. Tangan yang selalu terulur membantu memberikannya makan. Bahkan merawatnya ketika demam karena lelah berjualan kue.Tangan Ibu Mira yang selalu siap menerimanya ketika dalam keadaan apa pun.


Yudha tersenyum lebar hingga memperlihatkan gigi gingsul nya dan berkata. "Tante tidak lupa padaku hanya saja tidak mengenaliku. Karena sekarang aku bertumbuh dengan baik dan juga tampan mengalahkan ketampanan menantu Tante. Jauh dalam lubuk hati Tante ada namaku yang tersimpan di sana." Ia menggenggam kedua tangan ibu Mira.


Mata Zevin melotot.


"Hei aku lebih tampan darimu ! " Ucapnya kesal.


"Pras... Kamu Pras, Nak !" Lirih ibu Mira.


"Iya Tante ini aku, terimakasih karena tidak melupakanku." Yudha memeluk ibu Mira.


Ibu Mira tersenyum.

__ADS_1


"Kamu sudah dewasa, Nak. Kamu memang tampan. Bagaimana kabarmu?" Ibu Mira mengusap punggung Yudha.


"Kabarku baik tante, terimakasih atas malam itu. Maaf, kepergianku tanpa pamit." Yudha melepaskan pelukannya.


"Tante mengerti, Nak. Terimakasih juga karena masih mengingat tante dan, Zi." Ucap Ibu Mira.


Yudha melirik Nazia dan tersenyum kembali, betapa manja si Zevin sejak tadi menempel terus pada istrinya


"Aku tidak akan pernah lupa, pada orang yang berjasa dalam hidupku."


"Apa keluarga ayahmu masih mencarimu?" Tanya ibu Mira.


"Tidak Tante,  kata paman mereka tidak lagi mencariku." Jawab Yudha. Ia ingat sekali jika Neneknya berusaha merebut dirinya dari sang ibu. Hingga mereka harus berpindah-pindah tempat.


"Nak, sesekali temui mereka ! Tante yakin, mereka juga merindukanmu. Mungkin mereka sudah menerima ibumu." Saran ibu Mira


Yudha tersenyum kecut.


"Mereka tidak menyukai mama, jadi untuk apa aku menemui mereka? Nenek egois hanya menginginkanku tapi tidak untuk Almarhumah mama."


"Almarhum?"


"Iya Tante, mama meninggal di rumah sakit setelah satu hari kedatangan paman. Aku pernah dibawa paksa Nenek, tapi aku melarikan diri dari rumahnya." Jelas Yudha.


Ibu Mira menepuk pundak Yudha dan berkata. "Maafkan Tante sayang, Sabarlah ! Tante turut berduka. Mungkin saat ini Nenekmu sudah menyesal telah mencampakkan kamu dan almarhumah mamamu. Kasihan Rendy, ia pasti sedih karena anak istrinya tersisih dari rumahnya sendiri." Wajah ibu Mira begitu murung.


" Rendy ?" Sahut pak Indra. Semua mata mengarah pada pak Indra.


"Iya, kamu pasti mengenalnya. Karena aku juga mengenalnya." Ucap Ibu Mira.


Pak Indra menghampiri Yudha lalu duduk di sebelahnya. "Jadi kamu Putra Rendy Anggara?"


Yudha mengangguk.


"Benar, apa Om mengenal papaku?"


"Sangat mengenalnya, selamat datang, Nak ! Di rumah om." Pak Indra membawa Yudha kedalam pelukannya.


"Pa, aku juga mau dipeluk." Seru Zevin.


"Ish, sudah bermanja dengan istrimu, masih mau bermanja-manja pada papa juga. Malu pada bayimu !" Cibir pak Indra disambut gelak tawa semua orang.


"Jadi dokter Yudha putra dari Rendy dan Nela?" Tanya ibu Felisya.


"Iya, Rendy sahabat papa. Setelah dia meninggal papa tidak lagi berkomunikasi dengan keluarganya. Maafkan Om, Nak. Tidak menyadari keberadaanmu dan tidak mencari tahu kehidupanmu dan mamamu." Jelas pak Indra. da sesal dimatanya setelah putus komunikasi pada mendiang sahabatnya itu.


"Om adalah sahabat papa?" Tanya  Yudha berbinar


"Iya, Nak. Selain itu papamu juga bersahabat dengan Om Bram. Kami bertiga adalah sahabat. Tapi karena kesalahan Om pada Tante Mira, hubungan Om dan Om Bram tidak dekat lagi. Mereka sangat sayang pada Tante Mira. Papamu, dia selalu berhubungan baik dengan Om atau dengan Om Bram. Saat kelahiranmu dan Zev, Om Bram tidak datang makanya dia tidak mengenali kalian berdua karena tidak pernah bertemu. tapi sekarang semua sudah membaik." Cerita pak Indra. Nampak guratan sedih terpancar di wajahnya, mengingat masa lalu yang kurang baik.


"Kamu tinggal di mana, Nak? Wajahmu mirip seperti Rendy." Tanya pak Bram yang sejak tadi menyimak. Ia beranjak dari tempat duduknya dan memeluk Yudha.


"Di apartemen, Om."


"Besok berkemaslah ! Kamu tinggal bersama Om saja. Jadilah anak Om. Setelah kepergian Abel kami merasa kesepian." Ujar pak Bram. Di setujui ibu Sherly.


"Abel ?" Yudha merasa tidak asing dengan nama itu.


"Tunangan istriku yang telah meninggal." Sahut Zevin.


"Ya, aku mendengar nama itu dari teman - teman alumni kampus kita."


"Mau ya, Nak ! Rumah terlalu sepi, jadi tante kadang ikut Om pergi keluar kota jika ada pekerjaan." Ucap Ibu Sherly.


"Baiklah Tante, Om. Besok aku berkemas." Balas Yudha senang.


"Terimakasih, Nak ! Pa.... Kita punya putra lagi." Pekik Ibu Sherly senang. Ia berhamburan memeluk Yudha


Yudha membalas pelukan ibu Sherly dengan terharu.

__ADS_1


Pa, ma...lihatlah banyak orang yang menyayangiku dan menginginkanku. Tidak seperti Nenek yang membedakan kasta mama dan papa. Hidup seperti ini saja sudah membuatku bahagia, tidak perlu menjadi pewaris dari keluarga Anggara.


__ADS_2