
Rumah Sakit Z.K
Ditengah perbincangan pak Indra dan yang lainnya di dalam ruangan Zevin, masuklah dua orang polisi bersama Erik.
"Selamat malam Tuan" Sapa salah satunya. Wajah mereka terlihat bingung kenapa ada tuan Indra di sana?
"Selamat malam silahkan duduk ." Pak Indra mempersilahkan dua orang polisi itu duduk.
"Terimakasih, maaf malam seperti ini kami harus datang kemari."
"Tidak masalah, bagaimana ada perkembangan kasus kecelakaan putra saya?" Tanya pak Indra.
Dua polisi itu melihat ke arah Zevin yang tengah berbincang dengan Erik.
"Dokter, Zev !" Pekik polisi bernama Bambang.
Mendengar namanya disebut, Zevin mengalihkan pandangannya pada arah suara. "Iya, anda mengenal saya?" Menunjuk dirinya sendiri.
"Iya, saya pernah berobat dengan anda." Jawab polisi itu tersenyum senang.
"Oh begitu, maaf saya tidak terlalu menghafal pasien saya." Zevin balas tersenyum tak enak hati.
"Tolong rahasiakan " Seru pak Indra.
"Baiklah, Pak. Kecelakaan itu karena kerusakan dari rem mobil. Hasil pemeriksaan juga menyatakan dokter Zev bebas alkohol." Jelas dua polisi itu.
"Tapi mobil saya dalam keadaan baik-baik saja sewaktu berangkat dari rumah ke rumah sakit." Seru Zevin.
Semua mata mengarah pada Zevin mendengarkan penjelasannya. Nazia duduk di atas kasur dengan perasaan tidak tenang, siapa yang ingin menjahati mereka? Begitu pikirnya.
"Kamu yakin, Nak?" Tanya ibu Felisya.
"Yakin, Ma. Pagi tadi Erik dan Ivan yang menyiapkan mobil kami." Jawab Zevin.
"Benar tante semua kami periksa baik-baik saja." Seru Ivan.
"Setiap pagi kami akan memeriksa kondisi mobil sebelum bepergian, termasuk mobil Nona, Zi. Walau pun tidak dipakai." Tambah Erik.
Semua orang mengangguk mendengar keterangan dari tiga pria itu.
"Jadi, setelah tiba di rumah sakit apa anda bepergian lagi?"
"Tidak, setelah mendapat telpon dari Papa. Baru saya keluar lagi dan saat hampir berhenti di lampu merah rem mobilnya tidak berfungsi dari pada menabrak mengendara lain yang berhenti di depan. Saya membanting setir menabrak pembatas jalan." Terang Zevin.
"Kalau begitu kami ingin melihat rekaman CCTV di basemen rumah sakit ini. Berdasarkan hasil pemeriksaan saya curiga mobil anda disabotase."
"APA ?! si—siapa yang ingin mencelakakan kita ?" Nazia terkejut.
__ADS_1
"Tenang, Nak. Itu hanya dugaan sementara." Ibu Felisya menenangkan menantunya.
Nazia mengangguk, ia beralih melihat pada suaminya. Zevin tersenyum menggenggam tangan istrinya itu.
" Jangan takut ! Ada aku, siapa pun dia tidak akan lolos begitu saja." Ia meraih tubuh gemetar Nazia ke dalam pelukannya.
Aku akan membalasnya sayang, karena dia telah membuatmu menangis dan ketakutan hari in
"Saya akan mengantar kalian." Seru Erik.
"Baiklah kalau begitu kami pamit dulu, besok kami ke sini lagi."
"Terimakasih." Balas pak Indra.
Setelah kepergian Erik bersama dua polisi itu, pak Indra mulai berpikir siapa yang mencoba mengusik putranya?
"Jangan kalian pikirkan ! Biar ini jadi urusan Papa. Sekarang, istirahatlah ! Papa dan Mama akan pulang. Untuk Zi jangan takut, Nak ! kami ada bersamamu." Kata pak Indra.
"Iya, Pa."
"Apa ada yang ingin papa bicarakan padaku tadi siang?" Zevin baru teringat tujuannya di minta datang ke kantor.
"Benar tapi nanti saja."
"Baiklah, Pa. Setelah tahu siapa pelakunya serahkan semuanya padaku. Mungkin saatnya aku keluar dari Zona nyamanku saat ini." Zevin tersenyum pada pak Indra.
"Kalau begitu Mama pulang dulu ya." Pamit ibu Felisya memeluk anak dan menantunya bergantian.
"Hati-hati ! Ma, Pa." Seru Nazia.
"Van, kamu juga boleh tidur di rumah." Kata Zevin.
"Tapi bagaimana dengan kalian?"
"Tidak apa-apa biar Erik nanti di sini kamu boleh pulang istirahat di rumah." Jawab Zevin.
"Baiklah Kak aku juga pulang."
"Hati-hati, setelah sampai telpon aku." Ucap Nazia.
...----------------...
Pagi menjemput dengan sinarnya disertai cuaca sedikit mendung di luar gedung rumah sakit. Hiruk pikuk kendaraan sudah memenuhi badan jalanan. Berbeda dengan keadaan dalam satu ruangan rawat inap VIP. Mereka baru saja tertidur setelah melewati drama kesakitan si empu rumah sakit.
Zevin baru saja tertidur jam 3 malam setelah perawat menyuntikkan pereda nyerinya di selang infus. Pria ini merasakan kesakitan disekujur tubuhnya setelah mengalami kecelakaan pada sore hari kemarin.
Hampir tiap jam Zevin merintih dadanya sesak dan nyeri. Belum lagi bagian tubuhnya yang lain, tidak ada luka gesekan atau menganga di tubuhnya. Tapi sendinya berdenyut seakan menghisap sampai ke tulang-tulangnya. Suhu tubuhnya juga panas bisa dikatakan dirinya demam.
__ADS_1
Nazia tidak berani memejamkan matanya lama, ketika rintihan terdengar dari mulut suaminya, ia bergegas bangun dan melakukan apa saja yang ia bisa untuk mengurangi rasa sakit Zevin. Hal sama pun dilakukan Erik ia selalu sigap berdiri di samping Tuannya sambil memberikan pijatan ringan dibagian yang sakit.
Nazia baru selesai membersihkan tubuhnya di kamar mandi, hari ini ia mengambil ijin untuk menjaga suaminya. "Kamu sudah bangun?" Ia melihat pada Erik yang duduk di sofa.
"Ia Nona, saya akan ke kantin. Apa anda mau minuman hangat?" Erik menyimpan ponselnya ke dalam saku jaketnya.
"Iya, belikan juga beberapa roti atau makanan untuk sarapan. Zev pasti tidak mau makan bubur rumah sakit, belikan bubur di luar saja."
Erik pergi ke kamar mandi terlebih dulu untuk mencuci mukanya. Pria ini nampak lelah karena hampir semalam tidak tidur. "Baiklah nona sebelum Tuan bangun, lebih baik anda tidur lagi. Nanti saya bangunkan jika sudah kembali ke sini."
"Iya."
...----------------...
Di Apartemen mewah seorang pria paru baya memaki habis-habisan pria muda di hadapannya itu. Ia terlihat sangat marah walau pun pria itu sudah melakukan pekerjaannya dengan benar tapi hasilnya tidak sesuai keinginannya.
"Sekarang kamu pergi jauh dari kota ini ! Sebelum mereka mencarimu." Ucap pria paru baya itu.
"Baik Tuan, saya akan pergi sekarang juga."
"Ingat, jangan kata apapun." Pria paru baya itu mengingatkannya.
Pria muda itu mengangguk lalu meninggalkan apartemen, dengan tergesa-gesa ia pergi dari sana berharap pagi ini bisa pergi jauh hingga tidak ada satu orang pun yang menemuinya.
...----------------...
Erik baru saja selesai membeli minuman hangat dan sarapan.
"Nona ini minuman anda susu coklat hangat." Erik memberikan cup minuman.
"Terimakasih, Rik. Bagaimana sudah ada titik terang pelakunya dari CCTV basemen rumah sakit?"
"Saya belum dapat kabar Nona, tapi mereka akan menyelidikinya tadi malam. Semoga saja pagi ini ada kabar baiknya." Jawab Erik.
"Semoga saja, siapa yang ingin melakukan ini ? Aku benar-benar takut." Nazia menatap wajah damai suaminya yang masih pulas.
Erik beralih melihat wajah Nazia dengan lekat. "Jangan takut nona karena orang lain bisa memanfaatkan rasa takut anda."
"Maksudmu?" Nazia berpaling melihat pada Erik hingga mata keduanya bertemu.
Erik tersenyum lalu memutuskan pandangan mereka berdua dan berkata. "Jangan terlihat lemah dan takut. Semakin anda terlihat seperti itu maka akan banyak pula orang memanfaat situasi anda."
"Kamu benar ! Aku mengerti sekarang. Terimakasih sudah mengingatkanku." Balas Nazia tersenyum.
"Ayo sarapan dulu, setelah itu saya akan pergi ke kantor polisi." Erik membuka kotak makanan yang telah dibelinya.
Aku mengerti perasaanmu Nona, Zi. Sakit rasanya jika kehilangan orang yang kita cintai tapi tidak bisa melihat raganya lebih baik kehilangannya karena kebencian tapi masih bisa melihatnya dari kejauhan. Aku merindukannya
__ADS_1