Suami Manja Dokter Zi

Suami Manja Dokter Zi
Genit


__ADS_3

Kantor pusat Jaya Group


Pak Indra duduk di kursi kebesarannya mengecek beberapa laporan ditemani pak Ali. Ia juga memanggil beberapa orang yang melakukan kesalahan dalam mengerjakan laporan.


"Laporan kalian banyak kesalahan."


"Maafkan kami, Pak." Balas salah satu karyawan itu.


Pak Indra bersandar di kursinya menghadap pada dua karyawannya itu. "Diperbaiki dulu baru bawa lagi kesini, jangan terburu-buru kerjakan dengan teliti. Dan satu lagi jangan biasakan menunda pekerjaan agar tidak tergesa-gesa dalam mengerjakannya." Ia memberikan laporan itu kembali.


"Iya, pak ! Terimakasih. Kami akan memperbaikinya dulu. Kami permisi."


Pak Indra mengangguk. "Silahkan."


Mereka meninggalkan ruang kerja pak Indra dengan perasaan lega, mereka berdua merupakan karyawan baru di kantor itu.


"Pak Ali, apa mereka karyawan baru?" Tanya pak Indra.


"Benar tuan"


"Minta pihak HRD training mereka tiga bulan lagi. "Titah pak Indra.


"Baik tuan saya segera mengurusnya"


Pak Indra kembali membuka dokumen lainnya. "Apa jadwal selanjutnya?"


"Anu tuan—"


"Anu apa pak Ali?" Potong pak Indra.


"Tuan Alby ingin bertemu anda."


Pak Indra  melihat pada pak Ali. "Mau bertemu di mana?"


"Di restoran milik teman tuan, Zev. Resto milik Vian." Jawab pak Ali.


"Baiklah, kita akan datang apa yang ingin disampaikannya kepada kita?"


"Sepertinya akan mengajukan kerjasama tuan." Jawab Ali.


"Hm, menarik bersiaplah ! Ajak Erik juga biar Ralda tetap di sini."


...----------------...


Rumah Sakit Z.K


Hari ini pekerjaan Zevin sedikit senggang hanya melayani pasien di ruang VIP. Saatnya menemui istri tercinta begitu pikirnya. Sebelumnya Zevin merapikan mejanya terlebih dulu sambil bersenandung kecil ia melangkahkan kakinya keluar ruangan.


Zevin membuka pintu ruangan.


"Eh, dimana istriku?" Ia bergumam sendiri sampai di sana tidak melihat istrinya.


Zevin kembali menutup pintu ruangan itu, ia langsung menuju ruang praktek istrinya di poli klinik. Benar saja masih ada beberapa pasien yang  menunggu di depan pintu.


Melihat kedatangan Zevin, seorang wanita muda berdiri dari kursinya dan menghampiri. "Apa anda juga dokter kandungan? Kalau iya, saya mau melahirkan ditangani oleh anda saja." Ia tersenyum manis.


"Ha?"


"Anda sangat tampan dokter." Wanita muda tengah hamil itu tersenyum genit ingin menyentuh wajah Zevin.


Dokter tampan itu refleks mundur kebelakang, dengan tatapan datarnya. "Saya bukan dokter kandungan, dokter cantik di dalam ruangan ini adalah istri saya. Jadi saya ingin menemuinya, tapi karena pasiennya masih ada nanti saja saya kembali lagi." Jelasnya


Ia melihat depan ruangan poli anak sudah kosong, kakinya langsung melangkah masuk ke dalam ruangan itu. Zevin membuka dan menutup pintu dengan cepat.


"Ada apa, Zev ? Kamu mengejutkanku." Ucap Rayya kebetulan giliran dirinya praktek di poli anak hari ini.


Zevin bergidik ngeri dengan wajah tegang. "Ada wanita hamil agresif di depan ruangan Zi. Hampir saja dia meraba wajahku." Ia duduk di kursi depan meja.


Rayya terpingkal-pingkal tertawa melihat raut wajah Zevin yang ketakutan. "Mungkin bawaan bayinya, Zev." Serunya masih terkekeh.

__ADS_1


"Cih, alasan bawaan bayi ! Dia mengira aku dokter kandungan bahkan wanita itu mau melahirkan denganku. Hentikan tawamu itu !" Ucap Zevin kesal.


"Baiklah, sekarang kita tunggu di sini saja.  Berapa orang sisa pasiennya?"


"Sisa tiga orang."


**D**erita jadi orang tampan


Zevin menghembuskan nafasnya pelan.


Setelah melayani pasiennya. Nazia keluar dari ruangannya langsung menuju poli anak. "Kamu di sini ?" Ia melihat ada Zevin di dalam ruangan poli anak.


"Iya sayang apa wanita itu sudah pulang?"


"Wanita? "


"Pasienmu Zi. Wanita muda yang tengah hamil." Seru Rayya.


Nazia mengerti. "Ah iya, sudah pulang."


"Dia hampir menyentuhku sayang." Adu Zevin. Wajahnya terlihat menggemaskan.


Nazia terkekeh. "Hanya hampir, 'kan ? Ya sudah ayo kita makan siang aku sudah lapar."


"Ayo, Ay ! istriku sudah lapar."


Mereka bertiga keluar dari sana dan langsung menuju kantin rumah sakit.


...----------------...


Di tempat lain....


Pak Indra, Pak Ali dan Erik sudah datang ke restoran Vian. Di sana Alby menunggu bersama Jimmy.


Alby berdiri dari tempatnya duduk menyambut kedatangan pak Indra.


"Sama-sama, saya juga senang bisa bertemu dengan pengusaha hebat seperti anda. Masih muda tapi sudah sukses mencapai rangking ke tiga di dunia usaha ini." Pak Indra menyambut tangan Alby.


Jimmy juga memperkenal dirinya begitu juga Pak Ali dan Erik. Jimmy sejak tadi memperhatikan Erik wajah yang tidak asing. Apa mereka pernah bertemu ? Begitu pikirnya. Melihat gelagat Jimmy yang memperhatikannya, Erik hanya tersenyum tipis. Jelas saja ia tahu siapa Alby dan Jimmy. Bahkan Erik sempat menghajar mantan kekasih istri atasannya itu.


"Kita mulai saja pak Indra."


"Silahkan."


"Kami ingin mengajukan kerja sama pada perusahaan anda, saya bawa berkasnya. Silahkan anda lihat dulu." Alby menyodorkan dokumen itu. Ia juga mempresentasikannya di depan pak Indra.


Pak Indra mengambil berkas itu lalu membacanya. Setelah memahaminya ia tersenyum melihat Alby lalu mendekat pada Erik dan berkata.


"Apa dia yang jadi rival putraku itu?" Berbisik pelan pada Erik.


Erik mengangguk "Benar Tuan"


"Ehm, baiklah pak Ali siapkan kontraknya." Titah pak Indra.


"Baik Tuan."


"Jadi, anda menerimanya?" Tanya Alby berbinar.


"Iya, semoga kerja sama kita lancar." Pak Indra menyalami


"Terimakasih Pak Indra." Ucap Alby senang. Mimpi yang sudah lama ingin bekerja sama dengan perusahaan besar itu akhirnya terwujud


Jimmy tidak lagi bisa menahan rasa penasarannya. "Pak Indra boleh saya bertanya?"


"Silahkan "


"Apa Erik ini putra anda ? Karena sampai saat ini kami belum pernah melihat putra anda dan kemarin kami melihat Tuan di rumah dokter Zevin" Ujar Jimmy.


"Erik putra kedua saya ketemu besar dan kalau di rumah Dokter Zev. Saya sengaja datang ke sana karena ingin melihat istri cantiknya ." Jelas pak Indra.

__ADS_1


"Haa ? Istri cantiknya?" Alby nampak penasaran.


"Iya, saya benar, 'kan ? Istri dokter Zevin itu cantik?" Pak Indra tersenyum melihat wajah bingung Alby dan Jimmy.


Ihh sudah bau tanah masih saja genit !


Cibir Jimmy dalam hati.


"Tuan Indra bercanda. Beliau sengaja di undangan dokter Zev dan Nona Zi karena dulu kakeknya nona pernah jadi asistennya pak Indra." Jelas Erik.


"Oh begitu, Kemarin  Zevin menjelaskan seperti itu juga." Balas Alby.


Usai pembicaraan tentang urusan kantor mereka lanjut makan siang di sana.


...----------------...


Rumah Sakit Z.K


Ponsel Zevin bergetar di atas meja kerjanya tertera nama pak Indra di sana.


"Iya pa." Dokter itu menjawab.


"Kalau tidak sibuk datanglah ke kantor papa, ada yang ingin papa bicarakan."


"Iya, Pa ! Aku akan ke sana tapi pamit sama Zi dulu." Balas Zevin.


"Baiklah papa tunggu."


Setelah panggilan terputus Zevin menekan nama istrinya di layar ponsel.


"Sayang aku mau ke kantor papa, kamu ikut?" Tanya Zevin setelah panggilan terjawab.


"Sepertinya tidak, aku ingin bertemu dengan dokter Hendra ada yang kami bahas."


"Apa, Dokter Hendra ?"


Dia' kan genit


"Apa, Ay. Ada di situ?" Tanya Zevin.


"Ada ! kamu ingin bicara dengannya?"


"Iya sayang." Jawab Zevin.


"Ada apa, Zev ?"


Nazia memberikan ponselnya pada Rayya, setelah berbincang-bincang sebentar Rayya mengembalikan ponsel itu.


"Aku berangkat ya sayang nanti pulangnya aku jemput." Kata Zevin


"Hati-hati.


Telpon terputus, Rayya menjatuhkan tubuhnya di sofa. "Zev memintaku untuk menemanimu bertemu dokter Hendra."


"Benarkah ? Baiklah ayo !"


"Apa perlu juga kutemani?" Seru dokter Yudha.


"Terimakasih Yud, biar aku saja yang menemani Zi." Tolak Rayya.


Bisa mati aku diamuk manusia aneh itu


Yudha tersenyum lembut. "Baiklah kalau begitu."


...----------------...


Di perjalanan Zevin melajukan mobilnya dengan kecepatan dibawah rata-rata. Posisi kantor pusat dengan rumah sakit miliknya  searah membuat Zevin tidak terburu-buru. Dari jarak beberapa meter lampu lalu lintas berubah merah Zevin menginjak rem untuk berhenti.


"Apa yang terjadi ? Kenapa remnya tidak berfungsi?" Gumam Zevin sementara mobilnya sudah mendekat dengan lampu merah dan kendaraan dari arah kanan dan kiri mulai bergerak.

__ADS_1


__ADS_2