Suami Manja Dokter Zi

Suami Manja Dokter Zi
Hadir nya sang pewaris


__ADS_3

Hari-hari berganti dengan cepat, detik menit tanpa terasa berdetak dalam dua puluh empat jam. Hingga minggu berganti menjadi bulan, banyak sesuatu yang dilalui. Baik dengan suasana bagus maupun tidak.


Tanpa terasa kehamilan Nazia sudah memasuki usia bulan ke lima. Zevin juga sudah kembali normal tidak lagi muntah walau pun, ngidamnya masih ada.


Sejak peresmian proyeknya bersama Alby satu bulan lalu, kini Zevin resmi menjabat sebagai presiden direktur perusahaan mendiang kakeknya itu. Zevin tak dapat menolak lagi karena pak Indra sudah memohon untuk mengistirahatkan tubuh dan otaknya. Pak Indra memilih mengisi masa tuanya dengan bekerja di anak cabang perusahaannya.


Kepemilikan warisan keluarga itu telah berpindah menjadi milik Zevin Kavindra. Munculnya sang pewaris ini bulan lalu cukup menggemparkan dunia per-bisnisan, rasa penasaran mereka selama ini terbayarkan saat peresmian waktu itu. Itu pun hanya kalangan tertentu yang bisa bertemu langsung. Sebagian orang lagi hanya mendengar kabarnya tanpa tahu siapa orangnya


Rekan bisnis keluarga Indra di undang saat persemian, Zevin diperkenalkan sebagai presiden direktur baru di kantor pusat dan Nazia sebagai istrinya, banyak yang terkejut ternyata seorang dokter Zevin Kavindra adalah putra tunggal Tuan Indra Jaya.


Rumah sakit milik Zevin di ambil alih oleh Yudha sebagai orang kepercayaan menjadi direkturnya. Pria itu sangat senang bisa merasakan kesuksesan dalam berkarirnya. Bukan tidak memberikan kepercayaan pada Rayya selaku sahabat Zevin dan Nazia, tapi memang dirinya yang menolak. Karena tidak ingin kesibukkannya banyak menyita waktu untuk suami dan putrinya.


Bisnis perhiasan yang telah dibangun Zevin dan berkantor di atas tanah kosong milik Nazia mulai berjalan. Orang-orang yang telah direkrutnya sudah menempati posisinya masing-masing, termasuk Haris sudah di tarik Zevin dari toko roti milik Yudha untuk bekerja di kantor barunya sebagai direktur. Haris sempat menolak karena tidak percaya diri, tapi Yudha dan Zevin berhasil meyakinkannya.


...----------------...


Setelah sidang terakhir pak Reza empat bulan lalu, kini ia sedang menjalani masa tahanannya sesuai vonis hakim atas kesalahannya. Alby juga sudah menemui pria yang sengaja mendorong pak Reza untuk memuaskan ambisinya itu.


Wildan Renaldi tertawa puas setelah menyaksikan sendiri pak Reza mendekam di balik jeruji. Dendam yang ia simpan lama telah terbayar lunas.


Di saat keterpurukannya menghadapi kondisi perusahaan yang hampir gulung tikar, Wildan kehilangan sosok ayah yang sangat dihormatinya.  Hal itulah memicunya harus sukses dan mengembalikan semuanya, tanpa Wildan sadari jika yang membantunya setelah penolakan pak Reza selaku sahabat ayahnya itu adalah perusahaan cabang milik tuan Indra Jaya.


Hingga sampai pada malam persemian itu, ia baru tahu jika di balik kesuksesannya ada perusahaan pak Indra yang menaunginya. Wildan sempat menyesal karena pembalasannya pada pak Reza tanpa sengaja menyebabkan kecelakaan yang menimpa Zevin.


Wildan  sengaja ingin menjalin kerja sama dengan pak Reza maka dari itu, ia memintanya untuk mencari lahan kosong untuk mendirikan pusat perbelanjaan dan hotel yang akan didirikan dalam satu lokasi dengan begitu lambat laut Wildan akan menguasainya sendiri. Pak Reza yang sangat berambisi mendengar keuntungan yang didapat dari kerja sama itu, malah memicunya untuk merencanakan pembunuhan pada Zevin.


Dalam otak pak Reza jika, dokter tampan itu tewas dalam kecelakaan maka ia bisa menikah paksakan Nazia dan Alby dengan kata lain, pak Reza bisa mendapatkan tanah kosong milik Nazia secara cuma-cuma. Siapa tidak tergiur dengan tanah ribuan hektar yang strategis memang sangat menjanjikan hasil.


Dari kejadian tersebut Alby mendewasakan diri dan tidak ingin membalasnya, setelah ditelisik dengan benar ternyata hubungan Pak Reza dan Ayah Wildan adalah teman baik, maka dari itu ia berani meminta bantuan pada pak Reza, tapi tak disangka respon pak Reza sangat buruk ke pada mereka. Alby dapat menyimpulkan jika ayahnya lah yang tidak memiliki hubungan pertemanan dengan tulus.


...----------------...


"Jam berapa sekarang?" Alby bertanya pada Jimmy. Padahal di tangannya melingkar  jam mewah.


"Jam sebelas, Tuan."


"Ayo berangkat !" Ajak Alby seraya merapikan meja kerja nya


"Kemana, Tuan?" Jimmy merasa tidak ada kunjungan keluar hari ini.


"Ke kantor, Zev !" Alby merapikan jas di tubuhnya.


"Apa kita ada janji? " Tanya  Jimmy lagi


"Ini lebih dari sekedar janji." Alby tersenyum.


Jimmy mengangguk lalu merapikan mejanya, tak lama dua orang ini bersiap pergi ke kantor JG pusat. Tak lupa, Alby singgah disalah satu resto memesan makanan untuk dibawa ke sana.


Senyum di wajahnya mengembang sempurna, binar matanya nampak sekali jika ia sangat bersemangat. Ya, Alby tengah berjuang meluluhkan gunung es di hati Ralda. Sosok cantik itu hanya menampilkan wajah datarnya saja jika sedang berhadapan dengan Alby.


"Kita sampai, Tuan."


Alby tersentak dari lamunannya. Lalu melihat sekeliling mereka benar saja mobilnya telah sampai di depan kantor milik Zevin.


"Ayo turun." Ajak Alby membuka pintu mobil sendiri.

__ADS_1


Jimmy mengangguk, ia juga menyusul keluar setelah memastikan mobil terkunci dengan aman. Mereka memasuki gedung itu, tapi sebelumnya menemui resepsionis terlebih dulu.


"Selamat siang tuan ! Ada yang bisa kami bantu tuan, Al?" Tanya resepsionis bernama Maura itu. Namun Alby hanya diam saja.


"Apa tuan Zev ada?" Jawab Jimmy sekaligus bertanya mewakilkan Alby.


"Ada, Tuan !"


"Terimakasih "


Alby melangkah lebih dulu menuju lift, seperti biasa tatapan kagum dari kaum hawa seolah mengintai tiap langkah Alby dan Jimmy.


Lift berhenti di lantai yang dituju Alby dan Jimmy, mereka sama-sama melangkahkan kaki keluar dari sana lalu mengedarkan penglihatan masing-masing.


"Di mana dia?" Gumam Alby melihat meja sekretaris kosong.


"Siapa, Tuan?"


"Ralda." Jawab Alby seraya menoleh ke sana kemari.


Jimmy tak lagi bertanya ia membantu Alby mencari sosok yang mengusik tuannya beberapa bulan ini.


Dada Alby sesak ketika matanya menangkap sosok yang dicarinya tengah  tertawa lepas bersama seorang pria yang dikenalnya. Dia adalah Erik dan Ralda baru kembali dari pantri.


"Apa anda ingin bertemu dengan tuan, Zev?" Tanya Erik setelah mereka tiba di hadapan Alby dan Jimmy.


Mata  Alby menatap sendu pada Ralda yang telah merubah ekspresi datar kembali.


"Kami kesini ingin mengajak kalian makan siang." Jawab Jimmy memecahkan suasana hening di antara mereka.


"Tapi, kami sudah memesan makanan."


Semua orang melihat pada Zevin yang tengah bersandar berpangku tangan di pintu ruangannya.  Senyum Alby mengembang selagi belum ada undangan sampai di tangannya. Ia bertekad merebut Ralda dari tangan Erik yang disangkanya kekasih Ralda.


"Baik, Tuan." Jawab Erik membantu Ralda menyiapkan makan siang mereka.


"Kenapa kamu sering kesini?" Bisik Zevin.


"Jawabannya tetap sama, aku menyukai sekretarismu !"Alby juga berbisik.


"Ish, merepotkan saja."


"Salahmu sendiri, karena kamu menikahi mantan kekasihku." Balas Alby tersenyum.


"Zi, itu jodohku yang kau jaga sementara waktu !" Ucap Zevin kesal.


Alby terkekeh, setelah semua siap mereka meraih piring satu persatu melahap makan siang mereka. Meski pun awal mulanya berat untuk Zevin makan siang tanpa istrinya, tapi lama-lama juga ia mulai terbiasa.


Ralda merasa canggung karena berada diantara pria itu, ingin rasanya ia segera keluar dari ruangan Zevin. Untuk menghindari satu pasang mata yang sering mencuri pandang padanya.


Zevin sejak tadi memperhatikan gelagat Alby yang selalu menatap lekat pada Ralda lalu berkata.


"Hei tuan, jaga bola matamu, kalau tidak mau menggelinding keluar."


Alby tersedak sambal dicampur nasi yang ada dalam mulutnya. Matanya berair, hidungnya pedas dan tenggorokannya panas.

__ADS_1


"Pelan-pelan makannya, Tuan" Jimmy menyodorkan gelas air putih.


Alby meraih gelas itu lalu menenggaknya sampai habis. Tenggorokannya masih saja panas dan pedas, Erik dan Zevin tersenyum melihat penderitaan Alby, tiba-tiba Ralda menyodorkan  gelas lain, Alby mendongakkan kepalanya ke atas melihat si pemberi gelas. Tangannya kaku menatap wajah cantik yang begitu dekat dengannya.


"Minumlah, ini air hangat kuku bisa mengurangi pedasnya."


Alby masih mematung menerima perhatian kecil dari Ralda, dalam hatinya sangat bahagia. Melihat Alby terdiam, Erik ingin meraih gelas dari tangan Ralda. Tapi Alby tiba-tiba sadar dan menyambar gelas itu dan meminumnya hingga habis.


"Terimakasih." Alby tersenyum. Di balas anggukan dari  Ralda.


"Bagaimana keren, 'kan ? cara ku. Lihat dia langsung memberikan perhatiannya padamu." Bisik Zevin. Tersenyum jahil.


"Keren apanya !! Kamu hampir saja membunuhku." Balas Alby kesal.


Tiga orang lainnya saling pandang tak mendengar bisikan Zevin dan Alby. Sungguh tidak sopan dua presdir ini bicaranya bisik-bisik. Sungguh tidak elit cara menarik perhatian Ralda.


...----------------...


Rumah Sakit Z.K


Usai makan siang, Alby dan Jimmy kembali ke kantor dan Zevin berangkat menjemput istrinya di rumah sakit. Ia tidak ingin istrinya pulang ke rumah naik taksi atau menyetir sendiri, Zevin setiap hari meluangkan waktu untuk menjemput istrinya dan mengantarkan  pulang.


Walau sudah menjabat sebagai presiden direktur, Zevin tetap tidak didampingi oleh pengawal jarak dekat. Mereka selalu membayangi langkah tuannya kemana saja secara terpisah. Tapi percayalah  para pengawal keluarga Indra pasti ada jika tuannya dalam masalah.


Mobil Zevin memasuki basemen  rumah sakit dengan langkah lebar ia masuk lorong rumah sakit setelah memarkirkan mobilnya dengan benar. Rindu sejak tadi pagi pada istrinya sudah tidak sabar ia luapkan.


Pintu terbuka.


"Sayang, aku merindukanmu." Zevin melangkah masuk dan menghampiri istrinya yang duduk di sofa.


"Kamu sudah makan?" Tanya Nazia lembut.


"Sudah sayang, makan bersama Alby dan Jimmy."


"Mereka ke kantor lagi?"


"Iya sayang, sini aku ingin memelukmu. Apa bayiku nakal hari ini?" Zevin menarik tubuh Nazia kedalam pelukannya.


"Tidak juga tapi aku sudah merasakan dia bergerak sedikit-sedikit." Jawab Nazia tersenyum.


Zevin mengusap lembut bulatan perut istrinya,  Nazia sangat cantik menggunakan baju hamil di balut jas dokter.


"Ayo pulang, kamu harus istirahat di rumah." Ajak Zevin.


"Baiklah, kita tunggu Ay dulu sebentar."


Zevin mengangguk, ia sangat gemas pada perut istrinya itu. Nazia sangat menikmati aroma tubuh suaminya yang memberikan ketenangan dan kehangatan.


Dada bidang suaminya adalah tempat bersandar tidur yang paling nyaman dirasakannya selama kehamilan ini. Bahkan detak jantung Zevin seolah irama yang menuntunnya agar nyenyak tidur dalam pelukan suaminya.


"Ehm, enak sekali kalian bermesraan di sini." Seru Rayya di depan pintu.


Zevin menoleh pada Rayya.


"Aku merindukan istriku, Ay !" Ia tersenyum mencium pucuk kepala istrinya.

__ADS_1


"Kami pulang duluan ya."


"Iya, Zi. Kamu istirahat saja di rumah." Balas Rayya. Ia tahu sepasang suami istri itu menunggunya untuk berpamitan seperti biasa.


__ADS_2