Suami Manja Dokter Zi

Suami Manja Dokter Zi
Dilema


__ADS_3

☘Kediaman Zevin Kavindra☘


Usai melakukan aktivitas seharian Nazia dan Zevin kembali pulang ke rumah. Dua dokter ini membatasi jam praktek mereka di rumah praktek.


"Sayang mandilah, aku ke bawah dulu membantu Kiki menyiapkan makan malam." Ucap Nazia sudah selesai membersihkan dirinya.


"Iya, jangan terlalu lelah!" Zevin memberikan kecupan manis di kening istrinya.


Nazia mengangguk lalu meninggalkan suaminya itu di kamar. Zevin meraih ponselnya untuk mengubungi Erik.


"Iya tuan."


"Kamu dimana?" Tanya Zevin.


"Sebentar lagi sampai di rumah."


"Baiklah kita bicarakan di rumah saja." Zevin memutuskan telpon lalu pergi ke kamar mandi.


Tubuhnya sangat lelah hari ini, begitu juga dengan emosinya yang naik turun. Zevin perlu berendam sejenak untuk merelaksasikan pikiran dan tubuhnya.


Pikiran Zevin mulai terpecah, sisi lain hatinya masih terpanggil untuk menjadi seorang dokter. Tapi di sisi lainnya ia ingin mengambil alih kepemimpinan pak Indra.


Pertemuannya beberapa hari lalu dengan pak Reza mengusik hati Zevin, ingin rasanya ia membalas pria itu. Jujur saja dirinya tidak suka jika istri cantiknya itu diganggu orang lain.


...----------------...


Kediaman Indra Jaya


Presdir ternama ini duduk di kursi ruang kerjanya sedang menerima laporan dari anak buah asistennya pak Ali.


"Ada kabar apa hari ini?" Tanya pak Indra beralih duduk di sofa


"Sepertinya tuan  Zev sedang kebingungan, pertemuan mereka beberapa hari lalu dengan pak Reza sedikit mengusik ketenangan putra anda ." Jawab Pria paru baya itu melonggarkan dasinya yang terasa mencekik.


"Kita lihat saja dulu langkah apa yang akan di ambil Reza. Dia tidak pernah berubah ambisi masih saja menguasainya." Kata Pak Indra.


"Benar tuan, tapi sampai saat ini tuan Alby dan tuan Zev masih berhubungan baik. Walau pun putra anda mulai mengawasinya." Balas pria itu.


"Iya, Istirahatlah aku yakin. Zev bisa mengatasinya jika ada masalah menghampiri mereka. Perketat keamanan untuk menantuku, dia sudah menolah keamanan yang ditawarkan putraku. Lalukan tanpa sepengetahuannya." Ucap Pak Indra.


"Baik tuan saya pamit dulu."


Pak indra mengangguk dan mempersilahkan.


Reza ! Jika kamu mengusik anak dan menantuku. Maka kita akan bertemu kembali.


...----------------...


Kediaman Zevin Kavindra

__ADS_1


Pria ini tengah menunggu di ruang kerjanya. Tak lama datanglah Erik menemuinya.


"Bagaimana, Rik ? Apa Alby terlibat  dengan rencana ayahnya itu ? Jika dilihat sikapnya tempo hari sepertinya, ia bertentangan dengan ayahnya itu. " Tanya Zevin. Pria ini nampak segar setelah berendam.


"Tidak, Tuan ! Saya sudah mengeceknya. Tuan Alby tidak terlibat."


"Syukurlah" Zevin senang Erik selalu mengambil langkah cepat.


"Ada yang anda pikirkan, Tuan?" Erik memperhatikan gelagat Zevin yang sedikit pendiam


Zevin tersenyum tipis.


"Tidak ada, kamu mandilah !"


Erik mengangguk lalu meninggalkan ruangan kerja Zevin. Tak lama masuklah Nazia ke dalam sana.


"Ayo makan malam !"


"Baiklah sayangku." Zevin tersenyum lalu memeluk istrinya itu sebentar.


Di meja makan sudah ada Ivan menunggu mereka. Ia terlihat kesal karena lama menunggu.


"Kalian lama sekali !"


" Ya sudah ayo makan, di mana Erik ?"


Mereka semua sudah berkumpul di meja makan ada Kiki juga di sana. Mereka menikmati makan malam tanpa suara. Usai makan malam, Erik dan Ivan kembali ke kamar masing-masing begitu juga dengan Nazia dan Zevin akan naik ke kamar mereka .


"Sayang aku mau teh hangat, tubuhku pegal semua kenapa ya?"


"Kamu tunggu di kamar akan aku buatkan dulu tehnya, apa kamu mau dipijit ? Tapi aku tidak bisa memijit." Balas Nazia.


"Sepertinya tidak perlu dipijit, minum teh hangat saja nanti." Zevin menaiki anak tangga.


Beberapa menit kemudian Nazia menyusul ke kamar utama membawa secangkir teh. Di sana Zevin duduk di sofa dan ada laptop menyala di atas meja.


"Ini tehnya." Nazia meletakkan gelas itu di atas meja.


"Iya istirahatlah aku bekerja sebentar."


"Aku mau menelpon mama dulu."


Hampir menghabiskan waktu tiga puluh menit, Nazia telah selesai menelpon ibu Mira. Begitu juga dengan Zevin ia sudah mematikan  laptopnya, teh digelas juga sudah dihabiskan.


Zevin merangkak di atas kasur menyusul istrinya yang berbaring lebih dulu menghadap ke balkon kamar. Malam ini langit nampak indah dan bersih.


Zevin memeluk Nazia dari  belakang lalu menarik selimut hingga batas dada mereka. Posisi Zevin lebih tinggi sedikit agar mempermudahnya mencium pucuk kepala istrinya itu.


Nazia tersenyum merasakan tangan kekar suaminya melingkar di tubuhnya. "Malam ini cantik ya."

__ADS_1


"Hm"  Zevin mengikuti arah pandang istrinya lalu mencium pucuk kepalanya.


Nazia merasakan tangan Zevin semakin erat memeluknya. "Ada yang kamu pikirkan?"


"Aku ingin bertanya pendapatmu sayang."


"Apa?"


"Kemarin papa memintaku untuk menggantikannya di kantor pusat, tapi aku juga masih  ingin menjadi dokter karena itu impianku sejak kecil. Jadi menurutmu aku pilih yang mana?" Kata Zevin.


"Apa papa sudah berniat pensiun?" Tanya Nazia.


"Tidak juga, papa akan mengurus cabang dari kantor pusat. Aku bisa saja berbisnis tapi aku masih ingin bekerja di rumah sakit." Jelas Zevin.


"Kamu minta waktu saja sama papa, tanya juga sama beliau apa masih kuat memimpin ? Jika beliau sudah lelah maka mau tidak mau kamu harus menggantikan papa. Karena bagaimana mana pun juga papa sudah tua."


"Kamu benar, tapi jika aku menggantikan papa otomatis waktuku tidak sebebas sekarang. Dan waktu kita bertemu juga sedikit karena dalam 12 jam aku harus bekerja di kantor belum lagi urusan di luar  kantor bertemu klien pasti banyak menyita waktuku. Apa kamu siap?"


Nazia terkekeh.


"Hanya 12 jam bukan? Aku sudah terbiasa menunggu dan sendiri dalam waktu yang lama. Sebelum bersama denganmu."


"Aku salut padamu sayang.  Di tinggal bertugas berbulan-bulan tanpa kabar. Kamu sanggup dan setia, aku jadi ingat Abel. Apa kamu merindukannya?" Zevin mengecup kembali pucuk kepala istrinya.


Nazia harus peka terhadap perasaan suaminya ini. "Boleh aku jujur?" Ia tidak menjawab langsung.


"Jujur saja"


"Iya aku merindukan Abel." Ucap Nazia.


Zevin menarik tubuh Nazia semakin menempel padanya lalu membenamkan wajah di ceruk leher istrinya itu dan berkata.


"Aku juga merindukannya, besok kita berkunjung ke sana. Sayang, apa kamu tidak tersinggung dengan orang-orang merendahkan penghasilanku yang tak sebanding dengan seorang pengusaha?"


"Kenapa harus tersinggung? Penghasilan yang didapat seseorang sesuai standar pekerjaan dan kemampuannya."  Ucap Nazia.


"Kartu yang kuberikan padamu itu murni dari hasilku sendiri. Apa cukup ? Jika kurang ada kartu lain yang kumiliki kamu bisa menggunakannya."


"Sangat cukup, aku juga memiliki kartu dari papa Indra dan papa Radit. Berapa pun penghasilan suamiku maka aku harus menerimanya. Aku suka kita menjalankan hidup seperti ini. Dan satu lagi aku selalu menggunakan kartu Abel yang diberikan papa Bram untuk keperluan panti." Kata Nazia.


"Jadi kamu juga memegang kartu milik Abel?"


"Iya, maaf aku lupa memberi tahumu. Kartu itu sudah lama aku simpan dan menggunakannya untuk membelikan keperluan anak-anak panti dan juga panti jompo. Papa Bram tiap bulan mentransfernya." Jelas Nazia.


"Tidak masalah sayang setidaknya kita bisa menyalurkan kebaikan Abel dari uangnya."  Zevin merasa senang dengan sifat istrinya.


"Kamu benar, jadi jangan lagi kepikiran dengan perkataan orang tentang kehidupan kita. Biarkan saja mereka hidup dalam penilaian mereka sendiri. Aku juga tahu suamiku ini kaya hanya tidak nampak saja." Ujar Nazia terkekeh.


Zevin berbalik mengungkung tubuh istrinya itu. "Ayo kita istirahat, waktunya aku menyiram bibitku di dalam sana." 

__ADS_1


__ADS_2