Suami Manja Dokter Zi

Suami Manja Dokter Zi
Berkunjung Berdua


__ADS_3

Beberapa Tahun lalu....


Di bawah pohon rindang namun tidak tinggi, tak jauh dari bangsal ibu hamil. Dua pria tengah duduk di kursi melihat ke arah wanita pujaan hati mereka berdiri di lorong rumah sakit.


Senyuman dari seorang wanita yang berprofesi sebagai dokter kandungan itu sangat manis. Saat dirinya menjawab pertanyaan dari suami ibu hamil yang berpamitan pulang padanya.


Mereka adalah Abel dan Zevin yang menatap penuh cinta pada Nazia. Daun-daun berguguran tidak menutupi sedikit pun pandangan mereka berdua. Tatapan penuh damba dan hangat tak lepas sejak satu jam lalu.


Dua pria berbeda seragam ini  bersandar di belakang kursi kayu serta melipat tangan di dada. Tak memperdulikan decak kagum para perawat yang berlalu lalang. Fokus mereka hanya satu yaitu Nazia.


"Dia cantik, 'kan?" Kata Abel tak lepas memandang calon istrinya itu.


"Sangat cantik !" Zevin tersenyum melihat teman sekaligus wanita yang dicintainya disana.


"Berhenti mencintai calon istriku !" Ucap Abel tanpa melirik pada lawan bicaranya.


"Tidak bisa ! Perasaanku sangat dalam padanya." Zevin tersenyum.


"Cih, menyebalkan ! Batasmu sampai kami menikah. Setelah itu belajarlah menghapus perasaanmu padanya." Kata Abel menatap lekat pada Nazia yang tak jauh dari mereka.


"Jahat sekali tuan tentara ini ! Maafkan perasaanku yang datang terlambat. Tapi asal kamu tahu aku adalah cinta pertama, Zi." Zevin sengaja menggoda.


"Dan akulah ! Yang meleburkan namamu di hatinya lalu menggantinya dengan nama dan cintaku. Siapa suruh kamu tidak peduli pada perasaannya." Ejek Abel sambil tersenyum menang.


"Tidak masalah ! Mungkin, tempatku sebagai cinta pertamanya sudah tergantikan dengan cinta kedua. Tapi aku berharap akan menjadi cinta terakhirnya." Zevin membalas ejekan.


Abel terkekeh. "Sebelum itu terjadi, kamu sudah aku tembak mati !"


"Hal sama pun akan kulakukan, jika kamu menyakitinya maka kamu akan aku suntik mati !" Balas Zevin ikut tertawa.


Saling tonjok mereka tertawa dengan kekonyolan mereka berdua.


"Kita mencintai wanita yang sama ! Tapi, aku minta padamu relakan dia untukku." Ucap Abel sungguh-sungguh.


"Aku sudah merelakannya. Ayo kita bahagiakan dia dengan cara masing-masing ! Percayalah, aku tidak akan merebutnya darimu." Sahut Zevin meyakinkan.


Tapi aku akan mencintainya dengan caraku sendiri sampai, Zi. Benar-benar bahagia bersamamu


"Aku percaya kamu pria sejati !" Alby menepuk pundak Zevin.


Meski kutahu ini berat untukmu. Semoga Tuhan hadirkan Nazia yang lain untukmu.


Begitulah pertemanan Abel dan Zevin selalu baik-baik saja. Meskipun Abel termasuk baru masuk ke dalam kumpulan Zevin dan teman-teman. Tapi karena dirinya berteman dengan Vino hal itu mempermudah langkahnya untuk akrab bersama mereka.


Tidak ada perselisihan diantara Zevin dan Abel selain ejekan yang sengaja membuat mereka saling cemburu. Zevin selalu bisa membawa diri agar Abel tidak cemburu begitu juga sebaliknya, Abel akan menjaga sikapnya agar tidak membuat Zevin semakin terluka.


Cinta yang terlambat Zevin pedulikan, meski tahu Nazia pernah menyukainya. Kini harus siap merasakan sakitnya melihat Nazia bersama Abel. Karena pikiran buruknya akhirnya Nazia melabuhkan hati pada Abel tentara tampan.


Saling terbuka itulah yang dijalani Abel, Zevin dan Vian. Tidak ada rahasia yang mereka simpan maka dari itu, Zevin memilih jujur agar Abel tidak salah faham padanya.


Karena Abel memilik tingkat kepercayaan yang sangat besar pada Zevin, maka dari itu Zevin memilih menjaga kepercayaan itu dengan baik.


...----------------...


Kembali ke masa sekarang....


Nazia sedang praktek sore hari, begitu juga Zevin di sebelah ruangannya lalu ada Rayya yang ikut buka praktek.


Ivan menjadi asisten Nazia untuk membuka loket pendaftaran. Dan Erik menjadi asisten Zevin. Sementara Rayya membawa asistennya yang bekerja di rumah sakit. Kini tiba giliran Sherin masuk ke dalam ruangan.

__ADS_1


"Selamat sore."


"Selamat sore, Zia." Balas Sherin tersenyum ramah.


"Bagaimana kabarmu ? Apa kamu sering kontrol pada dokter Hendra?"


Sherin menggeleng lemah dengan wajah sedih dan berkata. "Tidak pernah, terakhir kali aku bertemu dengannya saat aku di rawat di rumah sakit."


"Ayo timbang berat badanmu dulu nanti kita USG untuk melihat perkembangan bayimu." Ujar Nazia menuntun Sherin naik ke atas timbangan.


Sherin mengikuti apa saja yang diucapkan Nazia. Dia juga menurut untuk di USG. "Bagaimana?" Tanyanya. Saat ini ia sebenarnya takut jika ada yang tidak beres dengan bayinya.


"Bayimu sehat, detak jantungnya normal pertumbuhannya sesuai usia kandunganmu. Aku akan siapkan vitamin dan susu ibu hamil untukmu, nanti bulan depan ikutlah kelas ibu hamil yang ada di rumah sakit. Kamu kurus dari sebelumnya. Aku juga menyiapkan pil tambah darah untukmu tekanan darahmu menurun."


"Aku tidak pernah minum susu ibu hamil, vitamin atau pil penambah darah. Pantas saja aku merasa sedikit pusing dan cepat lelah." Ujar Sherin sedih.


"Kenapa ? Dia juga butuh asupan gizi dan vitamin untuk membantu perkembangan otak dan tulangnya."


"Mama dan papa mengacuhkan aku selama ini, aku merasa sendiri tidak ada yang memperhatikanku." Sherin menunduk lesu.


"Jangan pernah merasa sendiri jika kesepian datanglah ke rumahku." Nazia menepuk punggung tangan Sherin.


"Benarkah ? Terimakasih Zia kamu baik sekali padaku. Aku akan datang ke rumahmu." Balas Sherin berbinar.


"Aku tunggu ! Tidak penasaran sama jenis kelamin bayimu?"


"Biar untuk kejutan saja ! Baiklah aku akan pulang terimakasih untuk hari ini." Ucap Sherin tulus.


Nazia mengangguk lalu meletakkan kresek yang berisi susu dan Vitamin.


"Bawalah ! Hati-hati di jalan."


...----------------...


Zevin dan Nazia berserta Rayya sudah selesai dengan pekerjaan mereka siang hari.


"Sudah selesai?" Tanya Zevin pada Nazia


"Iya, ayo pulang !"


"Sayang, sebelum kita menikah apa kamu mau mengunjungi seseorang?" Tanya Zevin.


"Iya, kamu tahu isi pikiranku !" Jawab Nazia senang.


Zevin mengusap lembut pucuk kepala Nazia penuh kasih. Mereka berpisah di parkiran. Rayya dijemput oleh Vian dan Vira. Di perjalanan Nazia meminta berhenti sebentar ke toko bunga. Setelah selesai membelinya mereka melanjutkan perjalanan. Menempuh waktu tiga pulu menit mobil Zevin berhenti di komplek pemakaman.


"Ayo turun !"


Nazia mengangguk lalu membuka pintu mobil sebelahnya.  Tiga puluh meter dari jalan utama kini mereka sampai di makam Abel. Disana ada bunga yang masih segar. Mungkin pak Bram dan Ibu Sherly yang berkunjung ke sana.


Nazia meletakkan bunga itu dan menyusunnya dengan rapi. Ia duduk di sisi makam itu bersama Zevin. "Apa kabar kamu di sana ? Maaf aku jarang mengunjungimu akhir-akhir ini. Maaf telah mengkhianati dirimu lagi. Tapi aku masih bolehkan ? Untuk bahagia. Sebentar lagi aku menikah dari tempatmu yang jauh berilah aku restumu." Ucapnya menunduk menyembunyikan air matanya.


Zevin mengusap pundak Nazia lalu mengecup pucuk kepalanya. "Abel istirahatlah ! Aku tidak bermaksud mengkhianati kamu. Maaf, aku tidak bisa berhenti mencintai calon istrimu ini. Sekarang, dia jadi calon istriku, terdengar jahat bukan? Tapi percayalah aku akan membahagiakan wanita yang kita cintai ini. Sekarang kamu percayakan dia padaku." Ujar Zevin ikut bicara.


Nazia tersenyum kepada Zevin lalu berkata. "Terimakasih selalu ada untukku, terimakasih sudah menemaniku dimasa-masa terberatku." Ucapnya menjatuhkan kepalanya di bahu Zevin.


"Itu kewajiban aku, sayang. Jika Abel masih hidup maka dia akan melakukan hal yang sama."


Setelah cukup lama mereka disana Zevin dan Nazia kembali pulang ke rumah. Mereka langsung menuju rumah ibu Mira. Di sana Ivan juga sudah kembali dari restoran. Mobil Zevin berhenti di depan rumah Ibu Mira. Lalu Nazia turun dari mobil dan di ikuti Zevin.

__ADS_1


"Ma, aku pulang !"


Ibu Mira keluar dari dapur membawa nampan air putih dan meletakkannya di atas meja makan. "Minumlah sayang, kalian pasti lelah." Ucapnya memberikan gelas air putih pada Nazia dan Zevin.


"Terimakasih, Tante."


"Sebelum pulang kita makan malam dulu ,Nak. Om Radit juga sebentar lagi tiba dari luar kota." Ujar Ibu Mira bicara pada Zevin.


"Iya, Tante."


"Aku mandi dulu ya, sudah gerah." Kata Nazia


"Iya, gantian nanti ya sayang. Aku juga gerah."


Setelah lamaran waktu itu, koper Zevin tidak jadi dibawa pulang. Karena dia sering berkunjung ke rumah Nazia kadang juga mandi disana. Jadi ia memerlukan pakaian ganti. Ivan melihat Zevin duduk sendiri langsung menghampirinya.


"Kak, Zev ! Kenapa sendiri? Dimana, Zi?" Tanya Ivan.


"Mandi."


"Kapan kak Erik melatihku lagi. Ini sudah satu bulan kami tidak pernah latihan."


Zevin meletakkan ponselnya lalu melihat ke pada Ivan. "Tubuhmu sudah bagus, nanti aku bicarakan dengan Erik karena saat ini dia sedang sibuk."


"Baiklah, aku akan sabar menunggu."


Nazia sudah segar selesai mandi ikut bergabung bersama Ivan dan Zevin.


"Mandilah ! Pakaianmu sudah aku siapkan."


Zevin mengangguk lalu meninggalkan Nazia dan Ivan di ruang keluarga. Mereka bersantai sejenak sambil menunggu dokter Radit datang. Ibu Mira baru saja menyelesaikan pekerjaannya. Lalu masuk ke kamarnya.


Ivan merebahkan kepalanya di bahu Nazia sambil menonton televisi. Hari mulai menggelap tapi dokter Radit belum juga datang. Dari depan kamar Nazia. Zevin dapat melihat kepala Ivan bersandar di bahu calon istrinya itu.


Zevin melangkah cepat menghampiri Nazia dan Ivan. "Minggir !" Ucapnya menarik tangan laki-laki itu gemulai untuk menjauh.


"Ish, kakak mengganggu saja !" Gerutu Ivan tapi matanya tak lepas dari televisi di depannya.


Zevin merebahkan tubuhnya di sofa lalu meletakkan kepalanya dipangkuan Nazia dan kakinya dipangkuan Ivan.


"Pijit kakiku !" Titah Zevin pada Ivan.


Enak saja bermanja-manja pada calon istriku


Zevin tersenyum senang karena Ivan mulai memijit kakinya.


Tanpa menjawab Ivan melakukan perintah Zevin. Nazia tak menggubris dua pria itu, ia fokus menonton televisi. Suara mobil berhenti di depan rumah ibu Mira. Zevin segera duduk kembali. Mereka melihat dokter Radit yang baru datang. Ivan langsung memeluk ayahnya itu seperti anak kecil.


"Kalian berkumpul disini?" Ucap Dokter Radit melihat ke ruang keluarga.


"Iya om." Zevin tersenyum.


"Mandilah ! pakaian dan air hangat sudah aku siapkan." Ucap ibu Mira mengambil alih tas di tangan dokter Radit.


"Terimakasih sayang."


"Dan kalian ayo kita ke meja makan." Ajak Ibu Mira.


"Iya ma."

__ADS_1


Setelah dokter Radit bergabung mereka langung makan malam bersama karena memang waktunya makan malam.


__ADS_2