
Kediaman Double Z
Erik memiliki waktu luang malam ini, ia berinisiatif membuka beberapa kotak hadiah yang di bawa Zevin saat dia sakit kemarin.
Ia membuka satu persatu hadiah itu. Ada berupa kemeja, sepatu dan dasi. Di dalam nya ada selembar kartu yang bertuliskan tinta berwarna pink.
š Untuk kamu yang tengah terbaring sakit. Cepatlah untuk sembuh ! Jangan biarkan hari ini kosong tanpa melihat siluet mu berlalu di depan ku. Meski tak menyapa, namun kamu meninggalkan jejak aroma khas diri mu yang selalu ku rindukan. Sembuhlah ! Agar hari ku lebih berwarna walau hanya mengangumi dari kejauhan.
Begitulah kalimat tertulis di atas kartu itu, Erik tersenyum tipis. Pilihan model warna barang yang ada di dalam kotak-kotak itu semua kesukaan nya. Seperti nya orang yang mengirim nya sangat tahu tentang Erik.
Setelah merapikan semua barang-barang itu. Erik membuka dompetnya dan mengambil selembar foto yang ia simpan rapi di dalam nya.
Ia tersenyum menatap foto itu, tanpa terasa ada buliran bening yang mengalir begitu saja di pipi nya.
"Orang itu sangat tahu aku selain kamu. Apa kamu sengaja lahir kembali dengan sosok baru?" Erik bicara pada foto itu.
Cukup lama menyalurkan kerinduan nya pada foto itu, Erik menyimpan nya kembali dengan baik. Ya , di foto itu adalah sesosok wanita cantik yang pernah dekat dengan Erik di tahun pertama di bangku kuliah. Karena kejahatan Rudi, mengharuskan Erik bekerja hingga ia putus kuliah dan tidak pernah lagi menemui wanita itu lagi.
Dimana dia ? dan seperti apa kehidupan nya ? Erik tak pernah tahu. Cukup lama Erik mencari tahu keberadaan nya hingga akhir nya fakta memberitahunya. Wanita itu telah tiada, ia meninggal karena kecelakaan dua tahun lalu.
Belum sempat Erik, mengutarakan perasaan nya. Tuhan telah menjemput wanita itu lebih dulu. Sakit memang saat kehilangan orang yang telah lama menjadi penghuni hati nya itu. Hingga saat ini, Erik belum pernah membuka hati pada siapa pun.
Apakah pengagum dalam diam itu mampu membuka tabir gelap dalam hati Erik??
Lelah termenung mengingat kenangan lama, Erik perlahan menutup matanya mulai berpetualang dalam mimpi berharap wanita itu datang menyapa nya walau hanya sekedar dalam tidurnya.
Di kamar lain...
Nazia dan Zevin belum juga tidur mereka berbaring saling berpelukan melihat ke atas langit melalui balkon kamar mereka .
"Aku tidak menyangka, jika Sherin berulah lagi." Seru Nazia.
"Biarkan saja, selagi dia tidak menyentuh kita. Abaikan saja." Balas Zevin.
"Tapi, bagaimana jika dia datang mengganggu Ralda?" Tanya Nazia.
"Aku akan membalas nya. Kamu tahu selama ini aku hanya menghargainya. Aku belum percaya jika dia memang berubah, aku sangat tahu tatapan nya untuk Al, masih sama penuh obsesi." Jelas Zevin.
"Padahal dia wanita yang cantik dan cerdas." Kata Nazia.
"Lupakan dia, sekarang kita tidur." Zevin mengeratkan lingkaran tangannya di tubuh Nazia.
...----------------...
Pagi Hari....
Semua orang sudah bangun bersiap untuk berangkat bekerja.
__ADS_1
Nazia sedang memasang dasi suami nya. Seperti biasa mereka berdiri saling berhadapan. Jika Nazia bertugas memasang dasi, maka Zevin bertugas mengamati wajah istri nya sambil tersenyum, serta tangan yang selalu melingkar manja di pinggul Nazia. Pria ini tak sehari pun melewati waktu tanpa menempel pada istri nya. Bak perangko ia selalu lengket pada Nazia.
"Sayang aku mencintai mu." Zevin tersenyum sembari mengecup singkat bibir istri nya.
"Aku juga lebih mencintai mu." Balas Nazia.
Zevin tersenyum malu, wajah nya merona ia menundukkan wajah nya di pundak Nazia. Hanya balasan kata cinta dari istri nya sudah membuat Zevin mabuk kepayang.
Nazia sangat heran bukankah, Alby yang tengah di mabuk cinta? Kenapa suami nya yang terlihat lebih mabuk?? Setelah di fahami nya ternyata Zevin sudah menjadi bucin akut pada diri nya. Nazia sangat bersyukur dicintai oleh pria seperti Zevin.
Usai sarapan bersama, tiga pria di rumah Nazia ini, bersiap pergi bekerja.
"Sayang aku berangkat dulu ya, hati-hati di rumah. Jangan menerima tamu yang tidak di kenal." Zevin mengecup kening Nazia lalu berpindah keperut nya.
"Kamu juga hati-hati," Balas Nazia.
"Zi, aku berangkat ya." Pamit Ivan.
"Jangan cium istri ku !" Pekik Zevin kecolongan.
Ivan setelah mencium pipi Nazia langsung berlari masuk ke mobil nya, sambil tertawa senang melihat wajah masam suami Nazia itu.
"Sayang, sini aku bersihkan bekas bibir Ivan." Zevin masuk kembali mengambil tisu basah yang tersedia di ruang keluarga. Nazia terkekeh, memang suami nya dan Ivan seperti tikus dan kucing.
Zevin mengecup pipi Nazia lalu masuk ke dalam mobil nya. Erik hanya menggeleng kepala atas tingkah Zevin.
"Kamu sudah membuka hadiah mu?" Tanya Zevin.
"Iya Kak, isi nya kemeja, Dasi dan sepatu." Jawab Erik.
"Sepatu? Wah dia benar-benar fans mu ! Sampai nomor sepatu mu saja dia tahu." Ujar Zevin tersenyum
"Tak hanya itu, dia juga tahu jenis kemeja dan warna yang aku sukai." Tambah Erik.
"Benarkah?! Siapa dia ?" Zevin juga ikut penasaran.
"Nanti aku cek cctv basemen." Erik memarkirkan mobil tanpa terasa mereka sudah sampai. Jarak kantor Zevin dan rumah mereka sangat dekat.
"Selamat pagi tuan Zev, tuan Erik." Sapa Maura.
"Pagi Maura." Balas Zevin.
Erik seperti biasa hanya memberikan senyuman sangat tipis. Ia hari ini akan mengecek cctv ingin melihat siapa yang menitipkan hadiah-hadiah itu di meja petugas keamanan.
Detik menit mereka lalui dengan menatap layar komputer dan kertas di atas meja. Erik kembali dengan wajah bingung dari ruang pemantau cctv. Ia tak menduga jika orang yang mengirimnya hadiah itu hafal letak cctv basemen hingga hanya tubuh bagian belakang nya saja yang terlihat.
"Siapa fans mu itu?" Tanya Zevin di sela kesibukannya.
__ADS_1
"Orang itu tahu letak cctv nya, ia menggunakan jaket untuk menutup kepala nya. Hanya tubuh bagian belakang saja yang terlihat." Jelas Erik.
Zevin terbahak. "Aku semakin penasaran, ternyata ada juga yang menggilai mu, pria berwajah datar !" Ejeknya
"Lebih baik datar dari pada bersifat susah di tebak." Balas Erik mengejek.
Zevin terkekeh, tak membalas lagi karena mendapatkan telpon dari pak Indra.
...----------------...
Sherin tengah memohon pada ayah nya saat ini. Ia kembali menginginkan Alby.
"Pa, sekali ini saja lakukan sesuatu untuk ku. Jatuhkan saham Al, agar dia memohon untuk kembali pada ku." Ucap Sherin memohon.
"Apa kamu memikirkan ribuan karyawan, Al.Ā Yang bergantung pada nya mencari nafkah?!" Balas pak Toni kesal.
"Aku mencintai, Al . Sekali ini saja ! Setelah dia kembali pada ku, maka kembalikan keadaan perusahaan nya seperti semula." Mohon Sherin.
"Maaf Sherin, papa tidak bisa melakukan nya. Asal kamu tahu sekarang perusahaan Al, bekerja sama dengan Jaya Group. Itu arti nya tak semudah yang kamu pikirkan untuk menggoyahkan, Al." Jelas pak Toni.
"Papa jahat ! Apa papa tidak kasian pada putri ku. Dia butuh seorang ayah." Nada suara Sherin sedikit meninggi.
"Cukup Sherin !! Putri mu memiliki ayah kandung. Lebih baik kamu menunggu Hadi bebas, setelah itu menikahlah dengan nya. Itu pilihan mu bukan? Hingga kamu memiliki putri dari nya !" Bentak pak Toni.
Sherin keluar dari ruangan pak Toni dengan perasaan kesal. Pertama kali nya pak Toni tidak menuruti kehendak putri nya, meski pun ia iba.
Waktu beranjak sore semua orang telah bersiap untuk pulang ke rumah masing-masing. Ralda juga sudah berkemas dan berpamitan pada Zevin dan Erik. Ia mengendarai mobil nya sendiriĀ namun sebelum pulang ke rumah. Ia mampir dulu ke supermarket.
Ralda mengemudi mobil nya dengan kecepatan rata-rata. Ia berhenti di seberang jalan karena malas memutar balik.Ā Ia keluar dari mobil berniat untuk menyebrang. Namun tanpa di duga ada mobil tengah melaju.
"NONA AWAS !!!" teriak Jo dan pengawal keluarga indra jaya bersamaan.
Mobil putih yang tengah melajuĀ itu mendarat ke atas trotoar pembatas ruas jalan. Warga sekitar berlarian mengerubungi pengendara mobil itu.
"Nona, bangun ayo ke rumah sakit !" Jo menggendong tubuh Ralda yang terkulai lemas tak sadarkan diri.
"Syukurlah ! Nona tidak terluka parah." Ucap pengawal keluarga Indra bernafas lega.
Ralda terselamatkan karena tarikan Jo, mereka berdua sama-sama jatuh di pinggir jalan. Hingga pelipis Ralda terkena aspal dan berdarah.
"Siapa kamu?" Tanya Jo waspada.
"Saya pengawal keluarga Indra yang di tugaskan mengawal nona Ralda. Kamu bawalah nona ke rumah sakit, biar saya mengurus disini dan mengabari tuan Zev."Ā Jelas pria itu menunjukan kartu tanda pengenal nya.
"Baiklah, aku percaya pada mu." Ujar Jo sembari meninggalkan tempat itu.
Pengawal yang tinggal di situ segera menelpon polisi dan melihat siapa pengemudi yang berniat menabrak Ralda.
__ADS_1