
Setelah menjalani perawatan satu hari di rumah sakit, Zevin kembali pulang ke rumahnya. Meski pun dadanya masih memar dan sedikit berdenyut, tidak menghalanginya untuk mengunjungi orang yang telah membuatnya celaka.
Di sinilah, Zevin dan Erik berada di ruangan yang dihuni beberapa orang tahanan jaksa. Ia menatap tajam pria yang duduk dibalik kaca pembatas. Dia adalah Rio alias Rehan.
"Katakan siapa yang membayarmu? Aku dengar kamu masih tidak memberitahu polisi siapa yang menyuruhmu."
Rehan kehilangan rasa takutnya lalu terkekeh. "Ternyata anda banyak nyawa dokter ! Itu kemauan saya sendiri." Ia menatap tak kalah tajamnya dari Zevin.
Zevin mengubah raut wajahnya sedikit santai. "Alasannya?" Ia bersandar di kursinya sambil berpangku tangan.
Rehan tersenyum tipis.
"Saya menyukai istri anda."
"Jaga bicaramu !!" Sentak Erik dingin.
Rehan terbahak senang melihat Erik emosi. "Kenapa ? Tidak percaya ?"
"Tentu aku percaya, istriku cantik tak dipungkiri jika banyak pria yang mendambakannya. Termasuk dirimu ! Masalahnya niatmu bukan itu, tapi ingin melenyapkanku karena ada seseorang menginginkan kematianku. Bagaimana tebakanku benar ?!" Zevin tersenyum.
Wajah Rehan alias Rio memucat, pria di hadapannya ini bukan tipe orang yang mudah digertak. Bibirnya terkatup rapat, mata galaknya tadi berubah sayu.
"Apa kau manusia?"
Zevin tertawa seolah pertanyaan Rehan itu lucu. "Menurutmu ? Jika aku hantu mana mungkin aku bisa menikah ! Tinggallah di sini lebih lama. Untuk saat ini aku tidak membalas dengan kekerasan padamu ! karena kau hanya menyentuhku. Tapi jika saja di dalam mobil itu juga ada istriku maka kupastikan hatimu berpindah tempat menjadi makanan anjingnya Erik !! "
Erik membungkuk lalu berbisik. "Saya tidak punya anjing tuan."
"Ikuti saja alurnya." Balas Zevin.
Erik mengangguk lalu duduk seperti semula. Zevin kembali melihat pada Rehan. "Istirahatlah." Ia berdiri lalu melangkah keluar.
Erik mendekatkan wajahnya ke pinggir kac melihat pada Rehan. "Manusia bodoh yang pernah kutemui adalah dirimu ! Kau menderita kesepian di sini dan Tuanmu bebas menghirup udara di luar sana. Akan kuberi tahu siapa nama Tuanmu itu..." Ia tersenyum melihat wajah tegang Rehan.
Erik menyusul Zevin yang lebih dulu keluar, sekarang tujuan mereka adalah kantor pusat JG. Erik dan Zevin bukan seperti bos dan asisten, karena dimana pun mereka bersama. Zevin memperlakukannya seperti teman contohnya saat ini mereka duduk berdampingan di mobil. Walau Erik beberapa kali meminta Zevin duduk di belakang, tapi dokter itu berkeras hati untuk di depan bersama Erik.
"Kamu yakin tua bangka itu pelakunya?" Tanya Zevin memecahkan keheningan mereka berdua.
"Benar Tuan, karena orang yang saat ini sedikit bermasalah dengan anda dan Nona adalah dia ! Saya sudah mengecek properti pribadi miliknya, selain rumah utama mereka. Dia selalu datang ke apartemennya jika ada sesuatu yang dibahas bersama orang-orangnya, saya juga sudah mendapatkan rekaman CCTV depan unitnya, di sana sangat jelas Rehan datang menemuinya. Saya juga sudah menyerahkan aslinya pada polisi." Jelas Erik.
"Baiklah, sekarang kita ikuti saja permainannya. Biarkan Rehan bertahan dengan pendiriannya. Bekerja samalah dengan polisi untuk mengumpulkan bukti kejahatannya, setelah semuanya siap kita jatuhkan dia."
Beberapa menit kemudian mobil mereka sampai di kantor pusat JG. Zevin dan Erik turun bersama, hampir semua pasangan mata melihat kedatangan mereka. Kehadiran seorang Zevin ke kantor pusat JG selalu ditunggu para karyawan wanita. Mereka mengenal Zevin sebagai dokter pribadi keluarga Indra namun mereka tidak tahu jika Zevin adalah putra pemilik perusahaan itu.
Berbeda dengan Erik, mereka hampir tiap hari melihatnya. Hanya berani mengangumi dari jarak jauh, sifatnya yang dingin dan pendiam seolah menjadi tembok pembatas yang sulit dirobohkan.
"Tuan." Sapa Ralda.
"Papa ada?"
"Tuan Besar ada di dalam, silahkan masuk." Balas Ralda.
Erik tidak langsung masuk menyusul, ia berhenti sebentar bersama Ralda. "Kak, kamu betah tinggal bersama Tuan Indra?"
"Betah, mereka sangat baik padaku."
"Syukurlah ! Nanti sore kami pulang ke rumah utama. Nyonya Felisya meminta Nona dan Tuan Zev menginap." Kata Erik.
"Baiklah, aku pulang cepat hari ini. Nyonya pasti menyiapkan jamuan untuk anak menantunya."
"Iya, aku masuk dulu, Kak. Jaga kesehatanmu." Ujar Erik.
Di dalam ruangan Pak Indra. Zevin dan Erik duduk di sofa. "Apa yang ingin papa bicarakan?"
__ADS_1
"Kemarin Alby mengajukan berkas kerja sama. Proyek ini cukup besar."
"Papa menerimanya ?" Zevin mengalihkan pandangannya pada Pak Indra.
"Iya, kemarin Papa bertemu dengannya bersama Erik dan Pak Ali. Papa ingin menawarimu bagaimana jika proyek ini kamu yang mengerjakannya bersama Alby."
Zevin tersenyum dan berfikir sejenak lalu berkata. "Baiklah aku akan memberikannya kejutan."
Pak Indra dan Erik tersenyum senang.
"Syukurlah, tapi lebih baik kamu bicarakan dulu pada, Zi. Karena dengan kamu terjun ke dunia bisnis waktu dan perhatianmu sedikit tersita."
"Istriku sudah setuju, Pa."
...----------------...
Kediaman Indra Jaya
Zevin dan Nazia menepati janjinya untuk menginap di rumah Pak Indra, Ibu Felisya dan Ralda baru saja selesai membantu asisten rumah tangga mereka memasak makan malam.
Mobil Zevin berhenti sempurna di depan rumah Tuan Indra, Zevin turun lebih dulu lalu membuka pintu sebelahnya untuk Nazia. Sementara Erik, mengeluarkan barang bawaan mereka. Di perjalanan mereka singgah di toko roti tempat Haris bekerja. Sejak kemarin Zevin sering meminta roti hangat yang agak gosong.
"Kalian sudah datang." Ibu Felisya menyambut anak menantunya dengan pelukan.
"Bagaimana kabar Mama?" Tanya Zevin.
"Kabar Mama baik sayang, ayo masuk ! Mama sudah masak makan malam kita." Ibu Felisya menggiring Zevin dan Nazia masuk.
"Ma, apa di dapur ada jeruk?" Zevin langsung melangkah menuju kulkas.
"Lihat di kulkas, Zev."
"Kamu kenapa?" Nazia menyusul Zevin ke dapur.
Nazia dan ibu Felisya menatap Zevin heran, tak lama Pak Indra bergabung bersama kakek Ardian.
"Ayo kita makan malam dulu ! Kamu kenapa makan jeruk malam-malam, Zev?" Kata pak Indra sambil menarik kursi untuknya duduk.
"Lidahku tidak enak, Pa." Zevin sudah menghabiskan satu biji buah jeruk.
"Kamu masih sakit ?" Kakek Ardian juga ikut bertanya.
"Tidak, Kek."
"Ya sudah ayo kita makan dulu." Seru ibu Felisya.
Di sana Erik dan Ralda juga ikut bergabung, seperti biasa Zevin tidak pernah melewati drama kemanjaannya.
" Sayang aku makan sama kamu ya." Zevin mendekatkan kursinya pada Nazia.
"Zev, istrimu juga harus makan." Sahut pak Indra.
"Tidak apa-apa, Pa. Kami bisa makan bersama." Balas Nazia lembut.
Zevin sumringah, ia makan bersama Nazia dalam satu piring. Tangannya selalu menempel pada jemari istrinya. Selesai makan malam mereka semua berkumpul di ruang keluarga.
"Rik, roti gosongku kamu taruh di mana?" Zevin mencari-cari roti yang dibelinya tadi.
" Ada Tuan, saya simpan di tempat roti." Erik bergegas mengambil tempat roti.
"Kamu tidak kenyang, Zev?" Tanya Pak Indra.
"Kenyang, Pa. Tapi kepingin roti saja." Zevin bersandar manja di tubuh Nazia.
__ADS_1
Nazia tersenyum melihat tingkah suaminya itu, sifatnya yang selalu menempel dan tidak suka diacuhkan sudah ada sejak mereka sama-sama kuliah. Walau pun bahasa tubuh mereka tidak se-intim sekarang ini karena Zevin selalu ingat batasannya meskipun sering mengekor Nazia.
"Ra, jam berapa pertemuan besok?" Tanya Zevin.
"Jam sepuluh Tuan ! Di kantor kita."
"Baiklah sebelumnya aku mampir ke rumah sakit dulu, mana berkas-berkasnya biar kupelajari malam ini." Pinta Zevin.
"Ada tuan nanti saya ambil." Sahut Erik.
Zevin tersenyum. "Aku tidak sabar melihat reaksi Alby dan pria menuju tua itu."
"Saya juga Tuan, kemarin mereka sempat mengira saya putra Tuan besar " Kata Erik ikut tertawa.
"Benarkah? Pasti seru melihat wajah mereka." Zevin terkekeh senang.
"Besok anda di dampingi Kak Ralda." Ucap Erik.
"Iya, ayo sayang turun dikarpet aku mau tiduran dipangkuanmu." Zevin menarik tangan istrinya ke atas karpet bulu.
"Apa pelaku sabotase mobilmu sudah ditemukan?" Tanya kakek Ardian.
"Sudah, Kek. Tapi dia tidak mau memberitahu siapa menyuruhnya." Jawab Zevin.
"Zev, hati-hati jika di luar rumah Mama takut hal buruk menimpamu lagi." Ujar Ibu Felisya khawatir.
"Tenang, Ma. Aku sudah tahu orang yang menyuruhnya."
"Siapa sayang?" Tanya Nazia.
Zevin tersenyum menatap wajah istrinya. "Jangan dipikirkan ya, biar aku yang menyelesaikannya."
Nazia mengangguk, percaya jika semua bisa di atasi dengan baik.
"Papa sudah tahu masalahnya, apa kamu ingin langsung mengantarnya ke pintu penjara?" Seru pak Indra.
Zevin dan Erik saling pandang
"Tunggu, Pa. Setelah proyek ini selesai, aku akan memberikannya kejutan"
"Baiklah papa akan menunggu kabar baiknya, jika kamu gagal biar papa yang menyelesaikannya." Balas pak Indra.
...----------------...
Alby sudah menyelesaikan urusannya bersama Sherin, hari ini sidang keputusan perpisahannya.Tidak ada kesedihan dalam hatinya, itu tandanya ia memang tidak memiliki perasaan lebih pada Sherin.
"Jim, sampai mana persiapan kerja sama kita dengan Jaya Group ?"
"Rampung Tuan, tinggal pelaksanaannya saja. Saya dengar proyek ini diserahkan pada putranya Pak Indra." Jawab Jimmy.
Alby melepaskan kaca matanya lalu mengalihkan pandangannya pada Jimmy. "Putra Pak Indra? Kamu yakin dia bisa menjalankan proyek ini?" Ia meragu karena tidak pernah mendengar kabar pewaris indra Jaya group itu muncul di dunia usaha.
"Jika Pak Indra menyerahkan proyek ini pada putranya, maka beliau yakin dengan kemampuannya. Saya sangat penasaran seperti apa wajah putra Pak Indra itu?"
"Dari kabar yang beredar, putra Pak Indra itu buruk rupa maka dari itu. Ia tidak pernah muncul di mana-mana." Alby terkekeh dengan opini masyarakat.
"Tidak hanya itu Tuan, istri Pak Indra juga tidak pernah tampil di majalah atau televisi, yang saya dengar ibu Felisya itu cantik." Ujar Jimmy.
Alby tertawa. "Kapan pertemuan kita dengan Putra Pak Indra itu?"
"Besok, Tuan."
Dua pria ini harus lembur karena waktu bekerja mereka tersita saat menghadiri sidang perceraian Alby tadi siang.
__ADS_1