Suami Manja Dokter Zi

Suami Manja Dokter Zi
Panti Asuhan


__ADS_3

Kilas Balik


Di sinilah restoran tempat janji temu ibu Mira dan pak Indra. Selepas mengumumkan pengembalian nama baik pak Heru, ibu Mira  minta ijin pada dokter Radit untuk bertemu. Dengan senang hati suami ibu Mira itu menyetujui dan menemaninya.


Di meja sudah menunggu pak Indra dan kakek Ardian, lima belas menit kemudian tibalah ibu Mira dan dokter Radit.


"Maaf membuat kalian lama menunggu." Ucap dokter Radit.


"Tidak masalah." Jawab Pak Indra. Lalu beralih melihat kepada ibu Mira.


"Bagaimana kabar, Zi?" Tanya ibu Mira .


"Baik, dia akan betah tinggal di sana."


"Nak, maafkan paman, seharusnya ini sejak lama di ungkapkan tapi paman tidak memiliki keberanian. Maafkan paman." Ucap kakek Ardian tulus.


"Paman aku sudah memaafkan paman, begitu juga ayah... beliau pasti sudah memaafkan paman. Aku ingin berterima kasih kepada kalian karena sudah membersihkan nama ayah." Kata Ibu Mira


"Yang aku lakukan saat ini hanya sebagian saja Mir, karena kesalahanku itu sangat besar secuil kebaikan yang kulakukan tidak akan mampu menghapus seluruh penderitaanmu di zaman itu." Ujar pak Indra penuh sesal.


"Indra... kamu sudah melakukan yang terbaik, meski terlambat setidaknya tidak ada dendam di antara kalian." Seru dokter Radit.


"Kamu benar ! Mulai sekarang jika kalian setuju. Ayo kita memulai sesuatu yang baik untuk menggantikan dua puluh sembilan tahun yang terlewati." Kata pak Indra. Kembali bersemangat.


"Maksudmu?"


"Zevin putraku, dia sangat menyukai, Zi ! Jadi, aku berencana untuk tetap menahan putrimu di rumahku. Dengan cara itu kita bisa melihat apa dia memiliki rasa yang sama pada Zevin." Jelas pak Indra.


"Tapi bagaimana jika, Zi. Memang tidak memiliki perasaan lebih pada, Zev ! Selain rasa pertemanan?" Kata Ibu Mira.


"Di jodohkan saja !" Sambung kakek Ardian


"Aku setuju ayah ! Jika Zevin saja tidak rela Zi jadi milik orang lain, maka aku pun sama. Zi ! akan tetap jadi menantuku." Ujar pak Indra.


"Baiklah aku setuju ! Tapi jika memang Zi menolak maka aku tidak bisa memaksanya." Balas ibu Mira.


"Apa yang harus kita lakukan?" Tanya dokter Radit.


"Aku akan menahan Zi di rumah, dia akan keluar sesuai jam prakteknya. Aku juga akan mempekerjakan dua bodyguard dan satu asisten pribadi untuknya. Agar lebih menyakinkan lagi, aku akan menyimpan ponselnya. Jadi Zevin tidak bisa menghubunginya." Jelas pak Indra.


"Apa itu tidak berlebihan?" Tanya ibu Mira.


"Tidak, kamu belum tahu siapa sebenarnya putraku. Dengan atau tanpa Erik bersamanya, dia tetap bisa melakukan apapun. Tapi dengan diperketat seperti ini ia akan mati langkah. Karena aku tidak membiarkan Zev melewati pintu gerbang rumahku." Ujar pak Indra tersenyum. Dalam benak nya sudah terbayang wajah kesal Zevin dan menggerutu manja di depannya.


"Baiklah"


Begitulah akhirnya kesepakatan para orang tua itu. Demi kebahagiaan putra semata wayangnya pak Indra rela melakukan apapun termasuk hal konyol seperti ini.


"Selain itu aku juga ingin menunjukkan sesuatu." Ucap pak Indra. Setelah menyelesaikan makan siangnya.


"Apa itu?" Tanya ibu Mira.


"Ikutlah denganku."


Ibu Mira mengangguk. Mereka bersama keluar dari restoran dan menaiki mobil masing-masing. Dokter Radit mengikuti mobil pak Indra dari belakang. Di tengah perjalanan ibu Mira mulai mengingat jalan yang mereka lewati. Banyak yang berubah di sana dari bangunan hotel, toko, serta Mall yang sudah mulai ramai. Ibu Mira berdebar tapi tak ingin menebak.


"Kamu kenapa?" Tanya dokter Radit.


"Tidak apa-apa."


"Kamu mengingat sesuatu?" Pancing dokter Radit.


"Ya, ini jalan menuju rumah lama kami yang di ambil oleh Indra." Jawab ibu Mira pelan.


"Tenanglah... semua akan baik-baik saja."


Hampir empat puluh lima menit mobil mereka tiba di halaman rumah yang luas. Rumah dua lantai tergolong mewah pada Zamannya. Cat yang masih sama seperti dua puluh sembilan tahun lalu.

__ADS_1


Hanya sedikit perubahan yaitu halaman yang luas di buat seperti taman bermain. Ibu Mira terisak pelan, tangannya menutup mulut agar tidak terdengar suara tangisnya, saat membaca tulisan PANTI ASUHAN HERU JANITRA.


Rumah penuh kenangan, rumah pak Heru dan ibu Mira. Tempat ibu Mira di besarkan dan bercengkrama dengan kedua orang tuanya untuk menghabiskan hari libur.


"Masuklah !" Ajak pak Indra.


Ibu Mira mengusap pelan air matanya. Kakinya sedikit lemas melangkah masuk mengikuti pak Indra dan kakek Ardian.


"Selamat datang, Tuan." Sapa ibu panti sebaya dengan ibu Mira.


"Dimana anak-anak? " Tanya pak Indra.


"Ada di dalam, tuan."


Pak indra mempersilahkan ibu Mira dan dokter Radit duduk di ruang tamu. Lagi-lagi ibu Mira terisak tata ruang rumah itu masih sama hanya ada beberapa perabotan yang bertambah dan di ganti mungkin sudah usang tidak layak di pakai. Di ruang tamu itu terdapat foto pak Heru yang di bingkai besar menempel di dinding.


"Bisa jelaskan padaku semua ini?" Tanya ibu Mira setelah bisa menguasai perasaannya.


"Saat rumah ini aku ambil, aku  bingung untuk dijadikan apa ? Walau aku kecewa pada ayah Heru tapi dalam hatiku tetap menyayanginya, setelah terdengar kabar beliau meninggal dunia, aku merasakan kehilangan yang amat dalam. Karena rasa kecewa yang terlalu besar aku mengurungkan niat untuk datang ke pemakamannya, maafkan aku Mira. Akhirnya sebagai bentuk rasa sayangku padanya tempat ini aku jadikan sebagai panti asuhan. Rumah ini masih kepemilikan ayah Heru dan pendiri panti asuhan ini tetap memakai namanya dalam artian panti asuhan ini atas nama Ayah Heru." Jelas pak Indra.


Ibu Mira hanya menangis haru tanpa mampu berkata-kata. Dokter Radit membuka botol air mineral yang di ambilnya dari mobil.


"Minumlah !" Dokter Radit  memberikan botol air itu pada ibu Mira.


Ibu Mira menghabiskan hampir setengah botol air. Setelah merasa tenang ibu Mira ingin berkeliling di dalam rumah itu. Dengan senang hati pak Indra menemani. Cukup lama mereka berbincang seputar panti Asuhan itu. Kini mereka kembali duduk di ruang tamu.


"Mira hari ini aku akan mengembalikan rumah yang telah akunjadikan panti asuhan ini, beserta aset yang lainnya.  Semua masih utuh karena aku hanya menyimpannya. Dan untuk rumah ini maafkan aku telah menjadikannya panti asuhan" Ujar pak Indra.


"Biarkan saja seperti ini setidaknya dengan begini kenangan ayah akan tetap ada dan terimakasih karena masih menjaganya sampai saat ini."


"Mulai sekarang kamu yang berhak mengurus tempat ini. Masalah Donatur tetap aku." Ujar pak Indra. Menyerahkan berkas kepemilikan.


Ibu Mira menerimanya dengan senang hati. Setelah berkenalan  dengan pengurus rumah itu dan anak-anak, mereka berpamitan untuk pulang. Bahagia yang dirasakan ibu Mira. Ia tak menyangka jika rumah yang telah di tinggalkannya itu masih ada hingga saat ini.


Kilas balik selesai


...----------------...


"Sayang, kita makan di sini saja ya."


"Iya." Jawab Nazia masih fokus membaca riwayat kesehatan pasiennya.


"Zev, aku tidak menyangka kamu bisa membuat sketsa perhiasan." Ujar Rayya masih terkejut dengan bakat terpendam temannya itu.


Zevin tersenyum. "Itu hobiku sejak kecil, Ay. Perhiasan mama juga aku yang membuat sketsanya."


"Benarkah ? Ayo Zev buat sketsa untukku." Ucap Rayya bersemangat.


"Tunggu di perayaan ulang tahun pernikahanmu sebagai kado dariku."


Rayya bertepuk tangan girang. Zevin memang hobi menggambar selain membuat sketsa perhiasan juga pandai mendesain. Bakat terpendam itu akan jadi senjata setelah berhenti menjadi dokter untuk menembus dunia bisnis. Bukan tidak ingin mewarisi kekayaan pak Indra Jaya tapi Zevin juga ingin berkarya sendiri.


Pewaris tetaplah pewaris, maka Zevin harus siap menerima itu semua dikala pak Indra meminta pensiun nanti. Cukup lama menunggu pesanan akhirnya makanan tiba di ruangan mereka.


"Cinta, ayo cuci tanganmu."


Nazia mengangguk lalu mencuci tangannya dan ikut bergabung bersama Rayya dan Zevin.


"Zev, nanti ketika pulang singgah sebentar ke toko roti ya. Aku pingin rotinya."Ucap Nazia.


"Pengen rotinya atau pingin ketemu penjualnya?" Zevin mulai menyelidiki.


"Dua-duanya." Jawab Nazia tersenyum tiba-tiba ingin menggoda calon suaminya itu.


"Tidak boleh ! Kamu tunggu di mobil saja biar aku yang membelinya." Zevin mulai cemburu.


"Ya ampun, Zev. Tidak mungkin juga penjual roti itu merebut Zi darimu." Seru Rayya.

__ADS_1


"Aku hanya antisipasi."


"Tenanglah aku hanya membeli rotinya." Kata Nazia.


"Baiklah sayang, kamu ikut turun bersamaku." Ujar Zevin setuju.


"Kapan kalian menikah?"


"Satu bulan lagi, aku sedang memesan cincin pernikahan kami kemungkinan selesai bulan depan." Jawab Zevin.


"Kamu manis sekali." Ucap Rayya gemas mencubit kedua pipi Zevin lalu menggelengkan nya ke kiri dan ke kanan. Nazia terkekeh, Rayya memang suka mencubit atau memukul Zevin karena gemas.


"Sakit, Ay ! Sayang...wanita jahat ini menganiaya aku, kamu tidak cemburu Ay menyentuhku?" Ujar Zevin mengadu.


"Tidak."


"Kamu tidak cemburu ? Apa kamu tidak sayang padaku?" Wajah Zevin berubah kesal dan sedih.


"Aku menyayangimu, mencintaimu dan selalu merindukanmu." Jawab Nazia cepat.


Zevin kegirangan wajahnya sudah memerah. Ia membenamkan wajahnya di pundak Nazia dan menggigit gemas bahu kecil itu.


...----------------...


Zevin mengantar Nazia pulang tak lupa mereka singgah ke toko roti si tampan begitu Nazia memberi gelar.


"Ayo sayang !" Ucap Zevin setelah memarkirkan mobilnya dengan benar.


"Ayo"


Mereka bersama turun dan melangkah masuk. Zevin mulai posesif tangannya melingkar manja di pinggang Nazia. Senyumnya selalu mengembang, jika dulu hanya menggenggam tangannya sebagai teman, maka sekarang ia menggandengnya sebagai calon istri.


"Selamat sore Nona, Tuan. Selamat datang di toko kami, silahkan pilih roti yang anda sukai." Ucap si tampan penjual roti tersenyum manis


Zevin memasang wajah tak bersahabat karena penjual roti memberikan senyum termanisnya pada Nazia.


Menyadari jika pria disisinya tengah cemburu Nazia tersenyum lalu berkata. "Kamu mau roti yang mana, sayang?"


Zevin refleks menarik tubuh Nazia semakin menempel karena bahagia atas panggilan untuknya. "Apapun pilihanmu, cinta. Aku akan memakannya." Ujarnya sambil mencium pucuk kepala Nazia.


Dokter cantik itu menjadi salah tingkah karena mendapatkan ciuman dadakan dari Zevin yang tengah kesenangan. Setelah memilih rotinya Zevin mengeluarkan beberapa lembar uang untuk membayar roti itu.


"Siapa nama mu?" Tanya Zevin datar pada si penjual roti.


"Nama saya Haris, Tuan."


"Simpan ini jangan sampai hilang." Zevin memberikan kartu namanya.


"Iya tuan, saya akan menyimpannya dengan baik." Jawab Haris


Zevin tersenyum. "Terimakasih sudah membuat roti enak disini karena calon istriku ini sangat menyukainya." Ucapnya tulus dan mengusap lembut pucuk kepala Nazia.


Di balas anggukan dan senyuman dari Haris. "Terimakasih tuan, nona atas kunjungannya ke toko kami selamat menikmati." Ucapnya senang.


Di perjalanan Nazia yang tak sabaran langsung membuka rotinya tak lupa mensterilkan tangannya terlebih dulu.


"Mau Cinta..."


Nazia menyuapi Zevin menggunakan tangannya tanpa canggung seperti sebelum nya. "Kenapa memberi kartu nama mu padanya?"


"Aku sengaja. Karena aku akan mengumpulkan orang berbakat sepertinya. Dia tidak hanya cerdas tapi juga bertanggung jawab" Jelas Zevin.


"Kamu mengenalnya?"


"Tidak, tapi aku sudah meminta Erik mencari tahu latar belakangnya saat kita pertama bertemu dengan nya. Usianya sama dengan Ivan." Jawab Zevin.


Nazia tidak lagi bertanya. Ia melanjutkan memakan roti sambil menyuapi Zevin.

__ADS_1


__ADS_2