Suami Manja Dokter Zi

Suami Manja Dokter Zi
Tangisan Zevin


__ADS_3

Kediaman Double Z


Malam ini rumah Zevin kembali ramai karena, Alby dan penghuni rumahnya sedang makan malam di rumah Zevin.


"Zev, nanti jika aku renovasi rumah. Kamu yang desain ya." Kata Alby.


"Berani bayar berapa?" Tanya Zevin.


"Ayolah, Zev ! Untuk yang ini, gratis saja. Anggap hadiah pernikahanku kamu belum memberikan hadiah pernikahan padaku." Bujuk Alby.


"Aku sudah memberikan hadiahku, tanyakan saja pada istrimu." Ujar Zevin.


Alby menoleh pada pada Ralda.


"Benar sayang?"


Ralda mengangguk. "Benar, Villa tempat mereka bulan madu kemarin." Jawab Ralda.


Alby kembali melihat pada Zevin.


"Aku iri melihat rumahmu." Ucapnya setengah mohon.


"Baiklah." Balas Zevin mengalah biar mereka cepat pulang pikirnya.


Alby tersenyum senang.


"Kamu yang terbaik." Ia refleks memeluk Zevin.


"Jangan memelukku !" Pekik Zevin


Alby terkekeh dan berkata.

__ADS_1


"Refleks, Zev !"


Zevin menggenggam tangan istrinya. "Sayang, peluk aku ! Hapus bekas pelukan pria itu." Ia memasang wajah manja nan menggemaskan.


Nazia tersenyum lalu memeluk suaminya, tak lupa ia mengecup pipi Zevin sangat lembut. Alby dan yang lainnya menatap jengah pada Zevin yang merona karena mendapatkan ciuman di pipinya.


"Zia, apa kamu tidak risih dengan suamimu yang seperti bayi itu?" Tanya Jimmy.


Nazia melepaskan pelukannya.


"Aku sudah terbiasa, Kak. Karena sebelum menikah dia memang manja tapi tidak separah ini." Balas Nazia tersenyum.


Zevin tersenyum bangga. Ia sangat ingat jika, Nazia tak bisa menolak keinginannya. Malam semakin larut, perbincangan dua keluarga itu semakin seru dari seputar bisnis sampai urusan rumah tangga. Nazia mulai merasa aneh pada tubuhnya.


"Kamu kenapa sayang?" Zevin menangkap raut wajah tak nyaman istrinya.


"Aku mau ke kamar." Balas Nazia.


Melihat kondisi Nazia, Alby dan yang lainnya pamit pulang. Erik mengantar mereka melewati pintu samping.


Di kamarnya Nazia meluruskan kakinya di atas kasur. Zevin melihat hal itu langsung memijit kaki istrinya.


"Kamu sakit?" Tanya Zevin.


"Perutku, tidak nyaman rasanya." Balas Nazia.


Zevin membenarkan posisi bantal.


"Berbaringlah." Ia membantu Nazia berbaring tangannya mengusap perut istrinya itu dengan lembut.


Perlahan mata Nazia terpejam. Ia merasakan perutnya kembali nyaman, Zevin berpindah ikut berbaring berhadapan dengan istrinya.

__ADS_1


"Istirahatlah  sayang, aku  disini." Zevin mengecup kening istrinya sangat lama.


...----------------...


Zevin tiba-tiba merasakan takut yang amat luar biasa. Tak pernah ia setakut ini, matanya masih mengamati wajah istrinya yang terlelap.


Perasaan Zevin tak karuan, air matanya menetes. Diraihnya tangan Nazia lalu di letakan di atas pipinya, mata Zevin tak berkedip menatap lekat wajah istrinya. perlahan-lahan ia merasakan kehangatan di tangan Nazia memudar. Ia refleks duduk dan mengamati wajah istrinya yang memucat.


"Sa—sayang, ke—kenapa kamu pucat? Apa perut mu sakit?" Zevin meraba wajah Nazia.


Dada Zevin berdegup kencang tulang-tulangnya gemetar dan lemas. Nafasnya tak beraturan. Saat melihat ada sisa tetesan air mata di sudut mata istrinya.


"Sayang, bangun ! Kenapa tidak memberitahuku, jika kamu kesakitan." Zevin mulai panik meraba perut istrinya tidak ada pergerakan bayinya di dalam.


Zevin mengambil peralatan medisnya. Ia langsung meletakkan stetoskop di dada istrinya.


Tak terdengar detak jantung Nazia, Zevin semakin takut. Nafasnya mulai sesak, air mata tak terbendung lagi.


"Sayang jangan membuat ku takut." Zevin meletakkan tangannya di pergelangan Nazia.


Denyut nadi pun tak lagi terasa. Zevin kembali menempelkan tangan nya di perut Nazia, merasa tak ada pergerakan bayi nya. Zevin mengambil CTG (alat yang di gunakan untuk memantau aktivitas denyut jantung janin)


Zevin tak mendengar detak jantung bayi nya. "Tidak mungkin ! Ini tidak nyata. Nak jangan membuat papa takut." Zevin menangis menempelkan alat itu mencari detak jantung bayi nya.


Zevin meraung sendiri di kamar utama mendapati istrinya tak bernafas lagi, ia tidak bisa mencari tahu penyebabnya. Diri nya begitu takut dan panik.


"Sayang bangun,  jangan seperti ini. Jangan tinggalkan aku ! Apa yang kamu rasakan katakan pada ku !  Sayang bangun !" Zevin mengguncang tubuh Nazia.


Ia menangis , menyesal karena tidak tahu apa penyakit yang di derita istri nya hingga merenggut dua nyawa kesayangan nya itu.


"Apa aku suami yang buruk? Sampai kamu tidak mau berbagi duka mu pada ku. Apa kamu meragukan ku sayang?" Zevin sesegukkan. Hingga jatuh di sisi istri nya tak sadarkan diri.

__ADS_1


☘Menuju Ending ya 🤭☘


__ADS_2