Suami Manja Dokter Zi

Suami Manja Dokter Zi
Bonchap 3


__ADS_3

Setelah makan siang di resto Vian, Zevin beserta Erik dan Haris kembali ke kantor.


"Rik, ikut ke ruanganku !" Titah Zevin mengayunkan langkah tegap yang berkharisma.


"Baik tuan" Jawab Erik segera mengekor pimpinannya itu.


Zevin dan Erik kini telah berada di dalam ruangan. Suami Nazia itu duduk di sofa dan meletakkan ponselnya di atas meja. Sebelumnya, dia membuka folder tempatnya menyimpan vidio.


"Lihatlah !" Zevin mempersilahkan Erik melihat vidio di ponselnya.


Erik meraih ponsel itu dan menonton vidio yang mulai terputar. Dia berkata tanpa mengalihkan pandangannya. "Maura ! Jadi selama ini memang dia. Apa tujuannya?" Ia nampak tak percaya karena selama ini Maura bersikap biasa saja jika bertemu dengannya.


"Ini tugasmu, tak hanya itu. Dia juga bisa meretas. Makanya kamu tidak mendapatkan apa-apa di Cctv tersembunyi."


"Meretas ? Apa dia berniat jahat?" Erik terkejut segera mengirim vidio itu ke ponselnya.


"Kita tidak tahu, kamu temui dia ! bawa ke ruangan tertutup bahas ini bersamanya. Tapi ingat ! Dengan kepala dingin agar dia tidak tersinggung atau malu." Ujar Zevin memberi nasehat.


"Baik Kak. Sekarang juga akan aku urus." Erik berdiri dari sofa.


"Rik, jika kamu tidak menyukainya, tolak dia dengan halus." Pesan Zevin.


"Iya Kak. Aku kebawah dulu."


Sesampai di bawah, Erik segera menemui Maura. Dari kejauhan dia dapat melihat. Jika resepsionis kantor itu berkepribadian ramah dan ceria. Maura tengah berbincang dengan temannya dikejutkan dengan kedatangan Erik.


Maura terpaku di tempatnya duduk, bibirnya sedikit terbuka kagum. Tak menyangka hadirnya idola hati tepat di hadapannya saat ini.


"Nona Maura, saya ingin bicara dengan anda. Bisa ikut saya sebentar?" Erik langsung bicara tanpa basa basi.


"Ah, i—iya tuan ! Mari." Maura gelagapan nampak gugup setengah mati.


Erik membawa Maura ke salah satu ruang kosong namun transparan. Ia sengaja memilih ruangan itu agar bisa dilihat dari luar dan tidak akan menjadi fitnah.


Tanpa membuka mulutnya Erik mempersilahkan Maura duduk di kursi seberang meja hanya bicara melalui isyarat tangannya.


"Nona Maura, maaf saya membawa anda bicara di sini." Erik memulai pembicaraan.


"Tidak masalah, katakan saja apa yang ingin anda sampaikan !" Balas Maura tersenyum seperti biasa. Namun di bawah meja telapak tangannya sudah lembab karena grogi.


"Begini, akhir-akhir ini saya sering mendapatkan paket berisi hadiah. Apa itu dari anda pengirimnya?" Tanya Erik dengan mata mengintimidasi lawan bicaranya itu agar berkata jujur.


Reaksi Maura nampak terkejut. "Ma—maaf !" Hanya kata itu terucap dari bibirnya. Maura menundukkan wajah tak berani menatap mata Erik.


"Anda juga meretas Cctv tersembunyi."


Maura membeku meremas kedua tangannya takut. "Maafkan saya." Ucapnya lirih.


"Saya tidak tahu tujuan anda di balik itu semua. Tapi bisakah anda berhenti mengirim hadiah untuk saya? Jujur saja saya tidak nyaman dengan semua itu. Untuk masalah anda meretas Cctv saya juga tidak mengerti tujuan anda. Bisa dijelaskan, Nona Maura !" Nada bicara Erik terdengar santai namun tegas meski panjang lebar.


Maura memberanikan diri untuk mengangkat wajah. "Maaf jika hadiah saya mengganggu anda. Saya berjanji tidak akan mengirimnya lagi. Untuk Cctv saya sengaja meretasnya saat menaruh hadiah itu. Karena saya malu jika ada yang melihatnya."

__ADS_1


"Anda yakin hanya itu alasannya?" Tanya Erik memastikan.


Maura tersenyum meski hatinya berdenyut nyeri saat tahu, jika hadiah yang dikirim nya mengganggu ketenangan Erik.


"Benar tuan, maaf jika cara saya salah. Saya berjanji tidak mengulanginya. Jujur saya tidak memiliki tujuan lain." Yakin Maura.


"Kenapa anda malu memberikan hadiah itu secara langsung pada saya?" Erik mulai mengorek isi hati Maura. Mimik wajahnya juga tidak datar seperti tadi.


"Sa—saya tidak percaya diri." Balas Maura gugup.


"Terimakasih hadiahnya, terimakasih juga karena sudah mengatakannya dengan jujur. Sekarang kembali lah bekerja !" Erik berdiri dari kursi dan melangkah ingin membuka pintu.


Maura menatap punggung Erik sendu lalu berkata. "Tuan, saya menyukai anda." Ungkapnya bernada rendah.


Erik terhenti melangkah memegang gagang pintu tanpa menoleh ke belakangan. Ia bingung harus menjawab seperti apa ? Sementara dirinya tidak memiliki perasaan apa-apa. Hatinya masih terkunci untuk mahkluk bernama wanita.


Erik tak menjawab lalu meneruskan langkah meninggalkan Maura yang masih menatapnya penuh harap. Di kursinya resepsionis itu seketika murung karena tidak mendapatkan jawaban. Sesaat kemudian, Maura tersenyum manis.


"Karena anda sudah tahu, maka mulai sekarang saya akan menunjukkan perasaan ini dengan nyata."


...----------------...


Kediaman Family Z


Zevin dan putranya bermain di ruang keluarga, ia baru saja membersihkan diri selepas pulang dari kantor. Baby Zayyan mulai bisa diajak bercanda hal itu membuat Zevin gemas dan ingin cepat pulang dari kantor tiap hari.


"Sayang, kita menginap di rumah mama ya." Nazia membelai rambut suaminya yang tengah berbaring di pangkuan.


"Kalau begitu aku bersiap dulu." Nazia mengecup kening dua lelaki kesayangannya itu.


"Iya, aku dan putra kita panen buah di depan ya." Zevin segera duduk dan menggendong bayinya.


Mereka melakukan tugas masing-masing. Setelah bersiap Nazia dan Zevin berpamitan pada Erik dan Kiki.


"Sayang kita ke toko kue dulu ya."


"Iya." Balas Zevin menggenggam tangan istrinya lalu mengecup punggung tangannya.


Pria ini selalu romantis setiap waktu. Bahasa tubuh mereka sepertinya tidak berubah dari awal menikah. Zevin selalu menempel pada istrinya di mana saja mereka berada.


Mobil berhenti di depan toko kue milik Yudha. Seperti biasa wajah suami Nazia ini jadi tontonan pegawai toko kaum hawa. Tapi bukan Zevin namanya jika membalas pandangan para wanita itu. Ia tak melepaskan genggaman tangannya dari sang istri. Bahkan mata Zevin tak beralih dari wajah putranya yang terlelap di gendongan Nazia.


"Kamu mau kue apa, sayang?" Nazia menanyakan pada suaminya.


"Apapun pilihanmu cinta." Jawab Zevin sangat lembut. Tangannya terangkat merapikan helaian rambut Nazia.


Pemandangan itu membuat pegawai toko iri dan kesal. Karena ayah satu anak itu tak menoleh pada siapa pun selain wajah istri dan putranya.


"Kue yang masih hangat campur saja ya."


"Baik Nyonya tunggu sebentar." Ucap pegawai toko seolah tak rela meninggalkan etalase roti. Menunggu selama beberapa menit, pegawai toko telah selesai membungkus roti. "Ini Nyonya rotinya." Pegawai toko meletakkan di atas meja.

__ADS_1


"Terimakasih " Nazia membayar roti dan mereka meninggalkan toko itu.


Mobil Zevin melaju dengan perlahan menuju kediaman ibu Mira, sudah menjadi hal rutin jika weekend. family Z ini akan menginap di rumah orang tua mereka secara bergantian.


"Kesayanganku !" Pekik Ivan menyambangi mobil family Z yang baru tiba.


"Berisik !" Sahut Zevin.


"Kak Zev. Aku merindukanmu !" Ivan berhamburan memeluk tubuh Zevin. Seperti biasa ia tak bersiap dan Ivan berhasil memeluknya.


"Sayang, dia memelu ku" Rengek Zevin. Di balas senyuman manis dari sang istri.


Ivan terkekeh. "Aku juga merindukan Zizi." Ucap nya sembari memeluk Nazia dan mencium pipi kanan dan kiri saudarinya itu.


"Jangan peluk dan cium istriku !" Pekik Zevin tak terima. Wajahnya menjadi masam.


Nazia tersenyum lalu memberikan putranya pada ibu Mira yang sejak tadi menonton tingkah laku anak-anaknya itu.


"Sini cucu Nenek kita masuk ya." Ibu Mira membawa baby Zayyan ke ruang keluarga.


Nazia menghampiri suaminya yang merajuk di samping mobil. Zevin menekuk wajahnya manja tak beranjak dari samping mobil setelah mengeluarkan barang bawaan mereka.


"Ayo sini." Bujuk Nazia lembut menggandeng tangan suaminya untuk masuk.


Di ruang tengah, mereka berpapasan dengan Ivan. Pria gemulai itu tersenyum manis pada Zevin. Sebaliknya suami Nazia ini memasang wajah sebal pada Ivan.


Sesampainya di kamar, Nazia meletakkan tas bayi. Lalu berdiri di hadapan suaminya dan berkata. "Sini aku hapus jejaknya sayang."


Ia memeluk tubuh suaminya itu dan mencium tiap inci wajah Zevin penuh cinta.Yang terakhir mellumat lembut bibir suaminya.


Mendapatkan perlakuan seperti itu, Zevin tidak membuang kesempatan membalas dengan cepat ciuman sang istri.


"Ayo keluar !" Ajak Nazia menyudahi ciumannya.


Zevin mengangguk, dia seakan kehabisan energi karena bahagia. Nazia menciumnya lebih dulu menghapus jejak Ivan di tubuh mereka berdua. Wajah Zevin sudah merona merah karena senang dan malu.


Di ruang keluarga, dokter Radit, Ibu Mira dan Ivan menonton tv sambil mengajak baby Zayyan bicara karena sudah bangun.


"Mama sudah masak?" Tanya Nazia.


"Sudah sayang, sebentar lagi kita makan malam." Balas Nazia.


"Wajah kak Zev kenapa merah?" Celetuk Ivan memperhatikan.


Semua orang melihat pada Zevin termasuk Nazia. Ia terkekeh pelan pasti suaminya itu bersemu seperti biasa. Merasa di perhatikan, Zevin membenamkan wajahnya di pundak Nazia karena malu. Setelah menenangkan rasa malunya laki-laki itu mengangkat wajah.


"Aku harus berterimakasih padamu hari ini."


"Terimakasih untuk apa?" Tanya Ivan dan dokter Radit bersamaan.


"Pokoknya berterimakasih saja." Jawab Zevin terkekeh.

__ADS_1


Karena kamu mencium istriku, dia membalasnya berkali lipat padaku, secara tidak langsung aku menang banyak dari kamu


__ADS_2