Suami Manja Dokter Zi

Suami Manja Dokter Zi
Tentangga Baru Tak Terduga


__ADS_3

Dua Bulan Kemudian...


Waktu bergulir dengan cepat, dua bulan sudah pernikahan Alby dan Ralda. Saat ini Ralda masih menjadi sekretaris Zevin. Ia memberikan waktu sampai Zevin mendapatkan sekretaris baru.


"Rik, bagaimana jika Haris saja menjadi sekretarisku?" Tanya Zevin. Ia tengah fokus menatap dokumen di tangannya.


"Boleh juga, kenapa tidak cari yang wanita saja?" Balas Erik menoleh pada Zevin.


"Aku tidak mau mempekerjakan wanita sebagai sekretarisku." Ujar Zevin tegas.


"Baiklah, aku akan mengaturnya. Tapi siapa yang akan menggantikan posisi Haris?" Tanya Erik sembari mengembalikan buku ketempat nya semula.


"Putra Pak Ali. Dia seusia kamu besok dia akan datang dari luar Negeri. Karena cabang milik kita di sana, Papa serahkan pada orang kepercayaannya untuk mengelola sementara waktu." Kata Zevin meletakan dokumen itu di atas meja.


"Apa dia dapat dipercaya?" Tanya Erik memastikan.


Zevin berpindah duduk di sofa seberang Erik.


"Bisa, dia akan bekerja di bawah pengawasan Pak Ali." Yakinnya.


"Tapi, kantor yang di pimpin Haris itu usahanya di bidang perhiasan." Erik masih terlihat ragu.


"Tenanglah, aku memberi wewenang untuk Pak Ali mengawasi putranya secara langsung. Pak Ali adalah asisten kepercayaan Papa selama ini." Jelas Zevin mantap.


"Baiklah, aku akan mengurus kepindahan Haris kesini, setelah kita bertemu dengan putra Pak Ali." ujar Erik.


"Iya, kamu juga boleh memimpin kantor itu." Ucap Zevin tersenyum.


"Tidak mau, aku sudah nyaman bersama kakak." Tolak Erik.


Zevin terkekeh. "Baiklah, jika  kamu berubah pikiran kata saja."


Erik mengangguk. Ia kembali keruangannya melanjutkan kembali pekerjaannya.


...----------------...


Rotasi waktu mengantarkan mereka pada sore hari. Semenjak kehamilan Nazia memasuki usia ke sembilan bulan. Zevin pulang jam tiga atau jam empat sore, ia sengaja menggantikan jam kerjanya di rumah bersama Erik. Ia akan merasa tenang bekerja sambil melihat istrinya.


"Sudah pulang." Nazia menghampiri Zevin di depan pintu.


"Kenapa, berdiri disini sayang?" Zevin mengecup kening Nazia. Lalu mengelus perutnya sejenak dengan senyum penuh kasih sayang.


"Aku hanya melihat buah lengkeng, siapa tahu sudah matang." Balas Nazia bergegas ke dapur mengambil air putih untuk suaminya.


Zevin meminum air itu sampai habis.


"Sini sayang !" Ia menarik tangan istrinya agar duduk di sampingnya.


Nazia menurut tapi duduk di karpet bulu. "Berbaringlah." Ia meminta Zevin berbaring di pangkuannya.


Zevin tersenyum lalu menjatuhkan kepalanya dipangkuan Nazia. Ia membenamkan wajahnya di bulatan perut istrinya. "Apa dia semakin keras menendangmu?" Zevin menatap lekat wajah istrinya. Meski hamil tapi tubuh Nazia tidak berubah.


"Iya, bayimu tak hanya menendang tapi juga menyikut." Nazia tersenyum memijit kepala Zevin dengan lembut.


Zevin menikmati pijitan istrinya sambil terpejam. Tangannya menempel pada perut Nazia, ia tersenyum disaat merasakan pergerakan bayinya di dalam sana.


"Tuan, Nyonya, ini teh manisnya." Kiki meletakkan cangkir teh di atas meja.

__ADS_1


"Terimakasih, Ki." Ucap Nazia.


"Nyonya makan malam, mau dimasak apa?" Tanya Kiki.


"Terserah kamu saja yang penting berkuah. " Balas Nazia.


"Iya Nyonya, saya ke dapur dulu." Pamit Kiki.


Nazia menunduk, melihat wajah damai suaminya. Ia membiarkan Zevin terlelap  di pangkuannya. Waktu masih menunjukkan jam empat sore. Biarkan Zevin istirahat sejenak.


Tak lama, Zevin perlahan membuka matanya, ia menatap wajah cantik istrinya yang melihat ke arah televisi. Wajah yang selalu dirindukannya tiap waktu, wajah yang mendamaikan ketika dia sedang gelisah, wajah yang meneduhkan dikala dia merasa suntuk.


Merasa diperhatikan Nazia menunduk ke bawah. "Sudah bangun? Minum teh manisnya dulu biar segar. Sudah lumayan dingin." Ucapnya tersenyum lembut.


Zevin bangun dari posisinya, ia duduk dan meraih tubuh Nazia agar bersandar di dadanya. "Maaf ketiduran." Ucapnya sembari mengecup pucuk kepala Nazia.


"Tidak masalah, sekarang kamu minum tehnya. Setelah itu mandi." Ujar Nazia. Di balas anggukan Zevin.


"Aku pulang !" Ucap Erik. Ia menjatuhkan tubuhnya di sofa.


"Kamu pasti lelah, mandi air hangat. Nanti aku minta Kiki membuatkan teh manis." Ujar Nazia.


"Iya, Kak." Balas Erik.


"Ki, tolong buatkan teh  manis untuk Erik." Pinta Nazia.


"Iya, Nyonya."


Sambil menunggu Kiki membuatkan teh, Erik dan Zevin berbincang sebentar.


"Ini tehnya Tuan." Kiki meletakkan teh itu.


"Bawalah ke kamarmu, aku mau mandi dulu." Ujar Zevin.


"Iya, Kak." Balas Erik.


Mereka masing-masing meninggalkan ruang tengah. Sambil menunggu Zevin mandi. Nazia berdiri di balkon kamarnya. Ia menoleh ke samping bangunan rumahnya. Rumah kosong di sebelahnya nampak ramai.


"Kamu disini" Zevin melingkarkan tangannya memeluk Nazia dari belakang.


"Kamu sudah selesai"


"Iya sayang, Apa yang kamu lihat?" Tanya Zevin mengikuti arah pandang istrinya.


"Sepertinya kita punya tetangga baru. Rumah itukan kosong?" Jawab Nazia.


"Kamu benar, besok-besok kita berkenalan. Tapi jika penghuninya laki-laki tidak usah." Ujar Zevin. Mood cemburunya aktif kembali.


Nazia tertawa, ia menoleh ke sisi sebelahnya ternyata Erik juga berdiri di balkon. Pria itu nampak segar. Sejak seminggu yang lalu ia dan Ivan pindah ke kamar lantai atas.


"Hei tetangga baruku !" Sapa seseorang berteriak yang tak asing suaranya.


Zevin refleks menoleh ke asal suara.


"Kamu ?! Kenapa di situ ?" Zevin juga berteriak. Ia melihat Alby melambaikan tangannya sambil tersenyum lebar.


Nazia dan Erik ikut menoleh.

__ADS_1


"Al / Kak ipar !"


Alby tertawa melihat wajah heran lawan bicaranya itu. "Mulai hari ini kita bertetangga." Ucapnya lagi.


"Ha?? Tidak mau ! pulang sana !" Zevin tak terima.


"Pulang kemana? Ini rumahku !" Balas Alby.


Kedua pria ini bicara sambil berteriak karena posisinya sedikit jauh. Mereka persis ibu-ibu yang sedang bertengkar. Namun kali ini posisi kedua pria itu tidak saling lempar sayur atau semacamnya.


"Tuan, kalau tidak adu jotos sepertinya kurang lengkap." Seru Jimmy juga menyusul Alby berdiri di balkon kamarnya.


"Hei, kamu pria menuju tua ! jangan katakan kau juga ikut pindah kesitu" Teriak Zevin.


"Tebakan anda benar dokter !" Ucap Jimmy tersenyum.


"Pindah lagi, aku tidak mau bertetangga dengan kalian ! " Zevin memasang wajah kesal.


"Tidak mau ! Aku sudah menghabiskan uang banyak membeli rumah ini" Balas Alby tak mau kalah.


Apa yang terjadi pada dua laki-laki ini? Wajah mereka seperti anak SD yang berebut mainan. Di seberang sana Alby berdiri sambil berpegangan di pagar balkon sementara Zevin berdiri di belakang Nazia dan memeluk istrinya.


Tak lama Ralda keluar dan melambaikan tangannya pada Erik dan Nazia. "Hai." Sapa Ralda tersenyum.


"Tunggu aku !" Balas Erik bergegas masuk ke kamar. Ia bermaksud menemui Ralda.


"Adik ipar yang pintar" Puji Alby tersenyum.


"Menyebalkan !" Gerutu Zevin. Meski sedang berteriak tapi sedetik pun tak merenggangkan pelukannya pada Nazia.


"Hei tetangga, kamu harus menjamu kami." Seru Alby.


"Eh, penghuni baru ! Kalian yang harus menjamu kami." Balas Zevin tak mau kalah.


"Kak, Ralda !" Pekik Ivan melambaikan tangan nya.


Ralda tersenyum. "Ayo kemari !" Ucapnya melambaikan tangan.


"Baiklah, tunggu aku." Ivan terlihat senang.


Zevin menatap Ivan kesal.


"Ikut pindah sana ! Jangan kembali kesini." Gerutu Zevin. Sebenarnya ia cemburu pada Erik dan Ivan karena bergegas pergi ke rumah Alby.


Setelah berbicara sambil sedikit berteriak. Zevin dan Nazia menyusul Erik dan Ivan. Mereka juga akan mengundang penghuni baru itu makan malam bersama mereka. Nazia sangat tahu pasti mereka lelah. Walau banyak pekerja yang membantu mereka.


"Ki, kamu masak banyak?" Tanya Nazia.


"Iya, Nyonya." Jawab Kiki.


"Baguslah, nanti kita makan malam sama penghuni sebelah. Kami ke situ dulu, lihat suamiku sudah tidak sabaran ingin bertemu mereka." Ujar Nazia tertawa.


"Baik, Nyonya." Jawab Kiki.


"Sayang, mereka nanti mengambil Erik. Aku tidak mau pisah sama Erik. Tapi kalau mereka mau memungut Ivan biarkan saja. Asal jangan Erik." Adu Zevin manja.


"Tidak akan, ayo kita ke sana jalan kaki saja lewat pintu samping." Ajak Nazia.

__ADS_1


Zevin menggandeng tangan Nazia untuk ke rumah Alby. Mereka melewati pintu samping. Zevin sengaja membuat pintu samping tembok rumahnya. Agar mereka tidak terjebak di dalam lingkungan rumahnya jika terjadi sesuatu yang tak terduga.


__ADS_2