Suami Manja Dokter Zi

Suami Manja Dokter Zi
Perubahan Alby


__ADS_3

Beberapa Hari Kemudian....


Nazia tidak lagi menghubungi Alby. Ia sengaja memberi waktu untuk kekasihnya itu menyelesaikan pekerjaannya tanpa ada gangguan dari dirinya. Hanya Jimmy yang sering mengirim pesan pada Nazia untuk memberikan kabar pada kekasih tuannya itu. Ia juga kecewa atas sikap Alby yang mengabaikan Nazia. Bukankah, Alby sangat tergila-gila pada dokter cantik itu sebelumnya ? Lalu kenapa sekarang mengacuhkannya? Mungkin Nazia tidak memiliki materi yang bisa membantunya. Namun Nazia punya perhatian tulus yang bisa memberikannya ketenangan agar bisa berfikir tenang.


Jimmy tersenyum setelah mengirim pesan pada Nazia, jika mereka akan kembali dalam beberapa hari karena permasalahan di sana sudah selesai atas bantuan papa Sherin dan pak Reza. Pengkhianat itu di temukan.


Walau Nazia tidak pernah membalas pesannya tapi Jimmy yakin gadis itu sangat senang.


Jika tuan melepaskan wanita sebaik anda, maka saya berjanji tidak akan membantunya lagi untuk mendapatkan anda Nona Zia


...----------------...


Nazia tersenyum senang namun juga sedih bercampur kecewa karena bukan Alby yang memberi tahunya kabar kepulangan mereka.


Rayya ikut sedih melihat hubungan sahabatnya dan Alby merenggang. Karena Nazia itu terlihat murung beberapa hari ini. Gadis itu mengeluarkan kotak musik milik Zevin lalu menghidupkannya. Tenang, itu yang dirasakannya setelah mendengar alunan nada dari kotak musik itu.


Selesai praktek Nazia akan berkunjung makam Abel. Tiba-tiba rindu yang ia rasakan padahal baru beberapa hari yang lalu ia mengunjunginya. Mobil Nazia berhenti di tempat penjual bunga selesai membeli, ia langsung melaju ke komplek pemakaman.


Di sinilah Nazia duduk menata bunga-bunga segar yang dibawanya.


"Tidak ada yang sepertimu. Hari ini aku tiba-tiba merindukanmu. Aku mohon datanglah walau hanya sekali. Kamu tahu akhir-akhir ini dia mengabaikan ku, datanglah temani aku, beri aku pelukan yang bisa menenangkan. Hanya kamu yang bisa melakukannya. Abel, aku merindukannya tapi seperti ada rindu lain yang tidak aku mengerti dalam hatiku. Tidurlah sayang, jangan  mendengarkan ocehan yang tidak penting ini." Nazia tersenyum dan mengecup ukiran nama Abel. Setelah merasa puas ia meninggal tempat itu.


Di tengah perjalanan Nazia merindukan suasana dermaga. Sudah lama ia tidak merasakan angin danau di sana menerpa tubuhnya. Gadis itu memarkirkan mobilnya dibawa pohon. Lalu keluar melangkah menuju Dermaga. Sepi itu yang tertangkap di matanya, banyak daun-daun kering berjatuhan di sana menandakan tidak ada yang memperhatikan tempat itu, tangannya menyentuh pagar pembatas sambil tersenyum, ia menghirup udara di sana sebanyak-banyaknya.


"Menenangkan !" Celetuk Nazia meraup oksigen sebanyak-banyaknya.


Setelah sampai di ujung dermaga ia menurunkan kakinya kedalam air. Merasakan sensasi dingin  menyentuh kulit putihnya. Memandang jauh hamparan air yang luas serta burung-burung elang berterbangan mencari makan. Sungguh, membuat Nazia merasa senang.


Langit senja membawa warna sendiri. Bias cahayanya sangat cantik di atas awan sore. Nazia sangat menikmatinya meski dalam kesendirian.


"Zizi."


Tubuh Nazia mematung semoga saja ini benar, rindu yang tidak dimengerti akan terjawab. Ataukah ada rindu yang lain lagi ? Nazia enggan berbalik takut jika dirinya hanya berhalusinasi.


"Zizi"


Suara yang sama. Nazia berdiri lalu berbalik. Nampak punggung pria jangkung yang membelakanginya. Nazia mendekat sambil berusaha mengenali punggung laki-laki itu.


"Zizi." Pria itu berbalik sambil tersenyum manis.


Nazia mendekat berusaha meyakinkan dirinya jika ini benar nyata. Tangannya terangkat untuk menyentuh wajah pria yang menatapnya ini. Lain halnya pria itu menahan tawa melihat wajah Nazia yang seakan tidak percaya.


"I—ivan ! Benar kamu, Ivan?"


"Kamu sudah mengenali ku? Ya Tuhan kamu sudah tumbuh besar dan cantik." Ivan heboh berhamburan memeluk Nazia.

__ADS_1


"Aku sangat mengenal mu, aku merindukan mu. Kenapa baru saat ini kamu datang ? Banyak hal berat yang aku lalui setelah perpisahan kita." Kata Nazia terisak di pelukan laki-laki itu.


"Maafkan aku. Mulai saat ini, aku akan selalu disini bersama mu." Ivan juga menangis bahkan suaranya lebih nyaring dari Nazia.


Mereka berdua saling melepas rindu. Selama enam belas tahun tidak pernah bertemu. Nazia melepaskan pelukannya lalu melangkah mengelilingi tubuh Ivan. Pria itu tumbuh sangat tinggi dan tampan tapi yang membuat Nazia penasaran. Apakan Ivan masih sama seperti dulu ?


"Zi, jangan membuat ku malu." Ivan menutup wajahnya dengan telapak tangannya sambil menghentakkan kakinya di lantai dermaga.


Nazia terbahak. "Kamu masih seperti yang dulu"


Ivan menurunkan tangannya lalu mengerucutkan bibirnya. Menatap sebal pada Nazia. "Puas ?!"


Nazia menarik tubuh Ivan agar duduk di lantai jembatan. "Dari mana kamu tahu aku ada disini?"


"Mama Mira, aku datang tadi pagi kami menghabiskan waktu banyak. Lalu aku menyusul mu ke rumah sakit, tapi kata orang di sana kamu sudah pulang. Aku telpon mama katanya kamu biasanya ke danau jadi aku kesini naik taksi." Jelas Ivan


"Bagaimana kabar, om ?"


"Papa sehat tapi menyebalkan, dia terus saja memaksa ku untuk menggantikannya. Aku tidak berniat jadi aku lari kesini." Jawab Ivan senang.


Nazia terkekeh. "Kamu akan tinggal dimana?"


"Di rumah mu memang di mana lagi"


Nazia mengangguk senang mereka berdua saling bercerita kadang tertawa kadang juga menangis bersama. Tanpa terasa hari semakin gelap. Nazia dan Ivan memutuskan pulang ke rumah.


"Mama aku pulang !" Teriak Ivan lalu berlari memeluk ibu Mira. Nazia menggelengkan kepalanya melihat tingkah Ivan.


Ibu Mira menepuk pundak pria itu. "Mandilah setelah itu kita makan malam."


"Iya, Ma."


Nazia membulatkan matanya melihat kamarnya penuh oleh barang-barang Ivan, yang paling menjengkelkan adalah ada boneka beruang yang sangat besar di atas kasur.


"Jangan bingung ! Kita akan berbagi kamar seperti dulu." Seru Ivan dari belakang.


"Kamu yakin ? Sekarang kamu sudah sebesar ini bahkan jauh lebih tinggi dari ku."


"Iya, kita berbagi kamar tapi tidak berbagi kasur. Lihatlah aku sudah membagi kasurnya jadi dua." Ivan menjatuhkan tubuhnya.


Nazia menggelengkan kepalanya. Mereka berdua selesai membersihkan tubuh masing-masing. Mata Nazia terbelalak saat melihat piyama berwarna pink motif doraemon di atas kasur.


"Zi, pakai ini biar kita sama. Mulai hari ini kita akan memakai barang yang sama." Ujar Ivan dengan lembut.


Nazia meraih baju itu lalu pergi ke kamar mandi untuk menggantinya. Kini mereka keluar dari kamar, ibu Mira terkekeh melihat penampilan Nazia dan Ivan memakai baju warna senada motif yang sama dan bando melingkar di kepala mereka berdua.

__ADS_1


"Aku lapar." Ucap Ivan sambil duduk.


Mereka makan malam dengan riang sesekali, Ivan membuat mereka tertawa lepas. Tidak lupa ia juga menceritakan tujuannya datang ke kota itu. Ivan memiliki usaha sendiri di sana tanpa sepengetahuan ayahnya.


...----------------...


Alby meremas ponsel di tangannya saat melihat foto Nazia berpelukan dengan pria lain di dermaga. Dadanya memanas, beraninya Nazia selingkuh di belakangnya.


"Jim ! Persiapkan kepulangan kita besok pagi"


"Baik tuan muda" Jimmy Masih heran kenapa raut wajah tuannya seperti menahan amarah. Namun, ia enggan bertanya karena atasannya itu langsung pergi.


Sebelumnya Alby ingin menghubungi Nazia ingin meminta maaf karena telah mengabaikannya beberapa hari ini. Namun saat bersamaan juga notifikasi pesan masuk di ponselnya berbunyi. Matanya melotot sempurna setelah melihat foto yang baru di kirim Sherin.


Sherin sengaja mengikuti mobil Nazia karena ia ingin bicara lagi mengenai perasaan nya pada Alby. Namun ia seperti menemukan tambang emas saat melihat Nazia berpelukan pada pria lain di dermaga. Tidak membuang kesempatan ia mengambil foto itu dan mengirimnya pada Alby.


Merasa tidak tenang Alby mencoba menghubungi Nazia. Tapi tidak terjawab, hal itu membuat Alby semakin marah. "Kamu mengkhianati ku Zia !"


...----------------...


Usai makan malam Nazia dan Ivan kembali ke kamar. Mereka berdua di sibukkan menata barang milik Ivan. Nazia melihat ada panggilan tak terjawab dari Alby. Ia mencoba menghubunginya kembali.


"Apa yang kamu lakukan di belakang ku ?"


Nazia terdiam sejenak berusaha mencerna pertanyaan Alby. "Maksud mu ?" Tanyanya tidak mengerti. Karena tiba-tiba kekasihnya itu langsung melontarkan pertanyaan.


"Siapa pria yang bersama mu di dermaga ? Kalian sangat mesra ! Ternyata itu yang kamu lakukan jika aku tidak bersama mu !"


"Kamu memata-matai ku?" Nazia malah bertanya bukan menjawab. Ia kecewa, Alby tidak mempercayainya sampai meminta orang menguntitnya.


"Kamu tidak bisa menjawab ?!" Ujar Alby dengan intonasi sedikit tinggi.


Nazia menghela nafas. "Al, dia Ivan tetangga ku dulu. Dia baru datang pagi tadi. Dia anak as—"


"Jangan menjelaskan sebuah kebohongan pada ku" Potong Alby cepat.


Panggilan terputus. Nazia menjatuhkan tubuhnya di atas kasur. Masih belum menerima ketidak percayaan Alby pada nya.


"Dia cemburu?" Tanya Ivan selesai merapikan barang-barangnya.


Nazia mengangguk lemah. "Dia tidak mempercayai ku sampai menyuruh orang mengikuti ku."


Ivan duduk di sebelah Nazia. Sambil memeluk boneka beruangnya. "Pria semacam dia ?! Hempaskan saja ! Cih, jika dia menjadi kekasihku akan aku gulung menjadi bolu." Ucapnya menggebu.


Nazia tertawa, kesedihan sempat singgah sebentar tadi menghilang begitu saja. Ivan memberikan sikat gigi warna serupa dan bermotif sama tidak lupa ia memberi namanya di sana.

__ADS_1


"Zi, malam ini aku tidur sama mama, besok malam aku akan tidur disini." Ucap Ivan sambil menggendong boneka beruangnya keluar.


Nazia mengangguk. Tidak berubah pikirnya pria bertubuh tinggi itu masih saja berhati wanita.


__ADS_2