Suamiku Bukan CEO

Suamiku Bukan CEO
Sepuluh


__ADS_3

Di antara sekian banyak hadiah yang Rama berikan, aku hanya menyimpan origami berwarna kuning masih lengkap dengan surat di dalamnya. Surat itu usang dimakan usia tapi tulisan tangannya belum luntur sama sekali, mungkin ditulis dengan bolpoin yang harganya mahal.


Aku jadi penasaran apakah origami ini bisa berpendar di kegelapan seperti milik Rafka, Rama juga tak pernah memberitahuku. Walaupun sudah mengingatnya tetap saja, Rama tak pernah membahas ini denganku. Aku tidak bisa melupakan setiap momen kebersamaan ku dengan Rama, jadi jika Rama memang pernah memberitahu, aku tak mungkin lupa.


"Lusa gue nikah?" Aku menghela napas panjang, apakah orang yang hendak menikah memang selalu merasa galau seperti ini. Padahal satu bulan ini aku menikmati kesibukan ku dengan Rafka mengurus segala keperluan pernikahan. Untungnya persiapan kali ini tak seribet dulu saat aku hendak menikah dengan Rama.


Lucu sekali jika dipikir, aku sudah menyiapkan pernikahan untuk yang kedua kalinya. Semoga Rafka tidak hilang tiba-tiba seperti Rama, jika itu terjadi aku akan bunuh diri saja. Aku tak sanggup menahan malu lagi.


Kita akan mengadakan pernikahannya bulan depan.


Ucapan Rafka tiba-tiba berkelebat di pikiranku. Waktu itu aku merasa satu bulan terlalu cepat, aku butuh waktu lebih lama untuk PDKT dengannya tapi sekarang aku merasa satu bulan itu lebih dari cukup. Walaupun tak banyak hal yang aku ketahui dari Rafka, tapi ini sudah cukup. Aku akan berusaha mengenalnya selama pernikahan kami seumur hidupku.


"Kenapa aku senyum?" Aku terkejut melihat pantulan diriku di depan cermin tak sadar bibir itu menyunggingkan senyum, jangan-jangan aku sudah jatuh cinta pada si robot optimus, ah maksudku Rafka. Memangnya kenapa kalau aku jatuh cinta dengan calon suamiku sendiri?


Rafka jatuh cinta juga nggak sama lu?


"Jangan senyum, stop." Aku menepuk-nepuk bibirku sendiri agar berhenti tersenyum.


Kalau Rafka belum jatuh cinta maka aku tidak akan jatuh cinta duluan. Ya kali seorang Caramel jatuh cinta dengan si robot, tidak boleh. Pokoknya Rafka harus jatuh cinta padaku lebih dulu.


Aku kembali meletakkan origami ke tempat semula, di laci meja rias paling bawah agar aku tak sering melihat wujudnya. Sebentar lagi hidup baru dimulai, aku tak akan dihantui Rama lagi.


"Selamat pagi Eneng yang lusa mau nikah!"


Tanpa melihat aku sudah tahu kalau itu adalah suara Jane yang hobinya menerobos masuk kamar. Pasti sebentar lagi suara Kayla lalu dua krucil yang akan membuat kamar ku berantakan seperti kapal pecah. Hei ini hari Sabtu, kenapa mereka kesini?


"Ngapain lu ngelamun aja!" Tuh kan suara Kayla.


Aku memutar badan melihat kedatangan dua sahabat ku yang sedang meletakkan tas mereka di atas tempat tidur.


"Mana Riko dan Mila, kok kalian cuma berdua?" Tidak ada 2 bocah hiperaktif itu padahal aku sudah menyiapkan telinga untuk mendengar suara teriakan ceria mereka.


"Ada sama nanny nya." Jane menjawab. "Kita kesini mau bantu lulurin badan sama manicure pedicure kuku kamu tuh biar kinclong dikit." Jahe mengeluarkan seperangkat alat manicure dan dua jar lulur yang tidak ku kenal mereknya.


"Kagak mau gue." Aku menolak keras. "selama ini gue udah rajin scrub badan nggak perlu lah pakai begituan, lagian kuku gue nggak buluk-buluk amat kok."


"Lu bakal nyesel kalau nggak manicure, nanti pas Rafka pasang cincin di jari elu, kameramen bakal ngezoom bagian jari doang."


Aku menghela napas, baiklah mereka memang lebih berpengalaman soal pernikahan. Padahal menurutku jari lentik ini sudah cantik tampil di depan kamera walaupun tanpa perawatan.


"Buruan ganti baju!" Kayla menyampirkan kain ke leher dan mendorongku masuk ke kamar mandi.


Ini pemaksaan nama nya tapi aku menurut saja dari pada mereka bawel. Dulu juga aku sering memaksa Jane menjadi bahan percobaan make-up ku. Atau Kayla yang selalu ku warnai rambutnya tapi sekarang tidak lagi. Bisa digetok suami mereka nanti karena aku sudah menganiaya istri nya.


"Gue mau pakai ini aja." Aku melemparkan jar body scrub milik ku ke arah Jane yang dengan cekatan langsung menangkap nya.


"Kenapa nggak ini aja?" Kayla mengacungkan lulur milik Jane.


"Gue biasa pakai Victoria's Secret, nanti kalau pakai itu mereka bisa berantem di badan gue." Seloroh ku sembari mengencangkan kain linen bermotif floral yang melilit tubuh ku.


"Sombong amat lu!" Jane merapatkan giginya menoyor kepalaku lebih nafsu.

__ADS_1


Aku nyengir, memang begitu kenyataannya. Untuk apa kerja hingga sore jika tidak memanjakan diri sendiri dengan menggunakan produk bagus dan mahal.


Aku memposisikan diri tengkurap di atas tempat tidurku yang empuk membiarkan Jane dan Kayla berbuat sesuka mereka. Jane merapikan kuku sedangkan Kayla mengoleskan body scrub ke punggung ku.


"Angkatlah sel kulit mati itu asal jangan kulit ari gue yang lu kelupas." Aku memejamkan mata menikmati treatment dadakan ini.


Sepertinya Kayla punya bakat terpendam yakni memijat, aku sampai mengantuk merasakan pijatan nya di punggung ku.


"Car, jangan lupa mulai hari lu pakai sabun khusus yang gue kasih waktu itu." Jane merendahkan suaranya takut ada seseorang yang mendengar di luar kamar.


"Iya deh beres, semua saran kalian gue turutin, mandi kembang aja yang enggak."


"Dih sejak kapan kita nyaranin lu mandi kembang?" Seru Kayla.


"Pokoknya ya, Rafka bakal jatuh cinta kalau dimalam pertama lu bisa kasih dia sesuatu yang spesial."


"Spesial? Pakai dua telor?" Aku terkekeh, ada-ada saja mereka. Aku bosan dengan pembahasan ini, ingin tidur saja.


"Caramel."


Aku membuka mata mendengar suara tersebut, suara yang tak asing di telingaku. Suara seseorang yang selama ini mengisi kehidupanku, seseorang yang akan menikah denganku lusa. Kenapa dia kesini!


"Siapa tuh?" Kayla mengangkat tangannya dari punggung ku. Begitu juga dengan Jane.


"Eh kalian kunci pintunya nggak?" Mendadak aku beranjak dari tempat tidur.


"Enggak." Jane menggeleng dengan wajah polos.


"Caramel, ini saya." Rafka bersuara lagi. Iya tahu elu Rafka, siapa lagi di dunia ini yang bicara seformal itu dengan calon istrinya.


"Buruan kalian ke depan pintu, gue mau ganti baju dulu." Aku melesat ke kamar mandi untuk mengenakan baju.


Kenapa Rafka tidak memberitahu ku sebelum kesini padahal ia bisa saja menelepon ku. Rafka! gue cincang sampe halus jadi bakso lu.


Wajah datar Rafka menyambut ku saat aku membuka pintu kamar.


"Ada apa?" Aku berusaha tetap cool walaupun sebenarnya ngos-ngosan akibat terburu-buru ganti baju baru saja. "Lain kali kalau mau kesini tuh kasih tahu dulu, buat apa iPhone XS lu kalau telepon aja nggak bisa." Nada ku tinggi, emosi ku meluap melihat Rafka dengan wajah datar nya itu.


"Saya sudah telepon Cara berkali-kali tapi tidak diangkat."


Aku mendelik, pasti dia berbohong. Bagaimana mungkin ponsel ku tidak berbunyi jika Rafka memang menelepon berkali-kali.


"Emangnya ada apa kesini?" Aku mengangkat dagu, tidak lagi membahas soal telepon, jika Rafka tidak berbohong, aku bisa malu setengah mati.


"Ini, " Rafka menyodorkan sebuah paper bag Grand Indonesia kepadaku.


"Oh." Kepalaku langsung dingin seketika, padahal baru saja emosi ku meluap hingga ke ubun-ubun. Aku memang tidak mau fitting baju dan sebagainya, jadi semua serba mendadak. Rafka mempersiapkan satu dress yang sampai sekarang aku tidak tahu bentuknya. Aku berharap Rafka bisa diandalkan, tidak mungkin ia mempermalukan calon istrinya di depan orang banyak.


"Silahkan dicoba, semoga ukurannya pas."


"Kalau nggak?"

__ADS_1


"Harus pas, itu adalah dress terbaik."


Lah, kok maksa si robot nih!


"Kamu langsung pulang?" Tanyaku, bukan karena aku ingin dia lebih lama tapi aku harus menyelesaikan treatment dadakan itu bersama Jane dan Kayla.


"Iya." Rafka mengangguk.


"Ya udah ayo aku anterin." Aku menggandeng tangan Rafka membawanya turun melalui tangga. Ia diam saja saat aku menggandeng tangannya seperti ini, Rafka memang robot sejati.


Semoga Rafka tidak melihat kamarku yang berantakan karena pagi ini aku memang sedang membongkar semua make-up di meja rias. Aku memilih beberapa yang sering ku pakai dan memasukkannya ke dalam koper. Ya, aku sudah siap pindah ke Kempinski!


"Loh Rafka udah mau pulang?" Suara mama membuat Rafka dan aku menghentikan langkah sampai di depan pintu, kami memutar badan.


"Iya." Aku menjawab walaupun mama bertanya pada Rafka.


"Nggak sarapan dulu disini?"


"Rafka udah sarapan, ya kan Ka." Aku masih menempel pada robot kesayanganku, ia mengangguk menjawab pertanyaanku.


"Ya udah hati-hati di jalan." Kata mama.


Aku kembali menarik Rafka keluar rumah. "Kamu udah latihan ngucapin akad belum?" Tanyaku.


"Tidak."


"Ih kok nggak latihan sih, kalau salah gimana?" Aku memukul lengan Rafka.


"Tidak akan salah, saya terima nikahnya Caramel Indira Aditama binti Reynaldi Aditama dengan mas kawin tersebut tunai."


Aku terdiam mendengar Rafka mengucapkan Qabul, seharusnya ia tak perlu mencontohkannya padaku, itu membuatku berdebar.


"Dengan mas kawin cincin berlian dua gram senilai dua puluh juta." Timpal ku sambil nyengir.


"Tidak, itu bukan mas kawin nya."


"Lalu apa?" Aku melepaskan peganganku pada tangan Rafka, jangan bilang ia mau memberikan cincin itu kepada orang lain. Aku terlalu banyak menonton sinetron makanya jadi over thinking begini.


"Apartemen itu."


"Apa, apartemen mana?" Aku membuka gerbang, ternyata Rafka tidak memarkirkan mobilnya di luar pagar.


"Apartemen yang akan kita tinggali."


Tanganku menggantung di udara, aktivitas ku membuka gerbang tertunda karena ucapan Rafka yang berhasil membuatku tertegun beberapa saat.


"Jangan bohong."


"Saya tidak pernah berbohong." Rafka mendorong gerbang itu dan berjalan melewatiku.


"Tapi kenapa?" Tanyaku masih tidak percaya, selama aku mengenalnya Rafka tak pernah berbohong.

__ADS_1


"Karena itu tempat tinggal impianmu." Jawab Rafka seraya masuk ke dalam mobilnya meninggalkanku yang menganga di depan gerbang. Kenapa ia begitu gegabah memberikan apartemen milliaran itu padaku padahal kami baru mengenal satu bulan ini, ia tak tahu kepribadianku. Bagaimana jika aku berniat jahat dan menceraikannya setelah mendapatkan apartemen itu. Rafka begitu naif, membuatku semakin ingin jatuh cinta atau aku memang sudah jatuh cinta. Ah tidak mungkin! tidak mau.


__ADS_2