Suamiku Bukan CEO

Suamiku Bukan CEO
Enam Puluh Tiga


__ADS_3

Bagi orang ekstrovert dan takut hantu seperti Caramel, kesendirian adalah sesuatu yang paling dihindarinya. Apalagi semalam Caramel menonton the Empty Man-film horor supernatural yang rilis sejak 4 Desember kemarin. Alasan Caramel menonton film hingga larut malam adalah karena ia sulit tidur. Posisi tidur apapun jadi tidak nyaman karena perutnya semakin membesar. Setelah menghabiskan 1 film akhirnya ia bisa tidur di pelukan Rafka.


Caramel memutar kepala karena merasa ada seseorang yang mengikutinya saat ia melewati koridor apartemen yang sepi. Caramel baru saja membeli sate taichan tak jauh dari apartemennya untuk makan malam. Caramel ingat Rafka akan makan mie sebelum pulang jadi ia akan menghabiskan 2 porsi sate itu sendiri.


"Gara-gara nonton semalem nih." Caramel bergumam sendiri sambil menyentuh tengkuknya karena merinding, seperti ada angin yang tiba-tiba bertiup ke arahnya.


Caramel buru-buru masuk apartemen dan menutup pintu, setiap kali menonton film horor pasti ia jadi lebih parno dan mudah berhalusinasi. Namun anehnya ia tidak pernah kapok nonton film horor lagi dan lagi.


Caramel memindahkan sate taichan ke piring bersama lontong dan sambal, ditambah jeruk nipis yang menambah cita rasa segar saat dimakan.


"Mandi dulu kali ya." Caramel menutup sate tersebut dengan tudung saji dan melangkah ke kamar. Ia melepas pakaian dan menggantinya dengan bathrobe.


Ritual sore yang hampir tidak pernah Caramel lewatkan adalah berendam. Tidak lupa menyalakan lilin aromaterapi dan musik kesukaannya. Sepertinya ia akan rindu bathtub ini setelah pergi ke Bali, semewah apapun bathtub hotel rasanya tidak akan nyaman seperti di rumah.


"Semoga aja Rafka nggak nyasar." Caramel memejamkan mata membenamkan tubuh di dalam busa yang lembut memeluknya. Ia sudah mengajari Rafka cara menggunakan google maps saat mencari suatu tempat. Rafka bilang gambar peta tidak asing untuknya tapi Caramel tetap mengajari sang suami menggunakan aplikasi tersebut. "Lagi pula what's up cafe nggak jauh dari sini."


Caramel tertawa sendiri saat sosok Rafka berkelebat di benaknya, bahkan walaupun ia memejamkan mata Rafka tetap terlihat—menguasai pikirannya.


Pokoknya gue nggak bisa hidup sama orang yang kaku, kudet, lugu, atau apapun lah itu namanya.


Jangan bilang gitu, siapa tahu suami lu nanti kayak begitu


Nggak mungkin lah, bulan depan gue udah nikah sama Rama.


Serah lu deh!


Caramel mengingat percakapannya dengan Kayla satu bulan sebelum hari pernikahannya dengan Rama. Dan sekarang Caramel menikah dengan si lugu, kudet dan kaku itu. Awalnya Caramel pikir ia tidak akan betah tapi sikap lugu Rafka justru membuatnya semakin jatuh cinta.


Jika ditanya apa yang paling Caramel suka dari Rafka maka ia akan menjawab keluguannya. Dan yang paling penting Rafka tidak pernah berbohong. Rafka sudah seperti spesies langka yang harus Caramel lindungi agar tidak punah.


"Spesies Rafka nggak bakal punah karena sebentar lagi gue melahirkan generasi baru." Caramel mengusap perutnya yang dibalut bathrobe.


Caramel menatap pantulan dirinya melalui cermin kamar mandi, bagaimana mungkin ia bisa sebahagia ini melihat perutnya yang semakin membuncit. Berbeda dengan sebelum menikah Caramel akan olahraga berat demi mempertahankan perut rata nya.


Caramel menyisir rambutnya sambil bersenandung kecil mengikuti alunan lagu yang terdengar dari sound kecil di sudut bathtub.


"Ahh pake jatuh segala lu ya." Caramel menghentakkan kaki ke lantai saat sisirnya terlepas dari pegangan hingga jatuh ke lantai. Dulu mungkin itu adalah sesuatu yang biasa tapi sejak perut Caramel semakin buncit, ia sangat kesal saat barang yang dipegangnya jatuh.


Caramel menunduk meraih sisir di atas lantai dengan susah payah, sesuatu yang dulu sangat mudah dilakukan kini seperti mustahil bagi Caramel melakukannya tanpa bantuan.


"Eh Rafka, bantuin ambil sisir aku dong." Pinta Caramel saat ada yang memeluknya dari belakang. "Gimana mie nya?" Ia kembali menegakkan tubuhnya karena sudah ada Rafka yang akan mengambil sisir untuknya.


"Nggak enak?" Tanya Caramel sekali lagi karena Rafka tidak menjawab pertanyaannya justru mengeratkan pelukan pada perutnya. "Kamu kenapa sih dari kemarin peluknya kenceng banget?" Caramel hendak berbalik tapi pelukan itu sangat kuat hingga ia tak berdaya. Tubuh Caramel menegang melihat pantulan tangan seseorang yang memeluknya.


Wajah Caramel berubah pucat, ia yakin orang ini bukan Rafka lalu siapa? jantungnya berdegup kencang, tangannya mengepal kuat hingga gemetar.


"Kita ketemu lagi."


Suara itu tidak asing di telinga Caramel, bagaimana mungkin ia lupa pada seseorang yang sampai sekarang menjadi trauma terbesar untuknya.


"Kamu sama sekali nggak berubah, nggak berani tutup pintu kamar mandi."


"Kenapa lu bisa masuk?"


Pertanyaan Caramel dijawab suara tawa menggelegar yang menggema ke seluruh penjuru kamar mandi. Caramel memekik ketika tubuhnya diputar dengan cepat hingga menghadap seseorang yang telah berani memeluknya. Rama?


"Aku bilang kamu bakal nyesel udah nolak bantuan aku kemarin."


Caramel menatap tajam kepada Rama yang entah bagaimana caranya ada di depan matanya sekarang.

__ADS_1


"Aku nunggu lama supaya bisa masuk kesini tanpa halangan." Rama tersenyum miring ketika Caramel melangkah mundur menjauhinya. "Ternyata nggak sesulit perkiraan ku."


Caramel mencengkram wastafel di belakangnya, ia tak tahu maksud Rama menerobos ke apartemennya.


"Waktu itu hari ulang tahunmu, aku menawarkan bantuan dan kamu menerimanya begitu saja, aku langsung tahu kalau pin masuk apartemen ini ternyata gampang banget."


Caramel ingat waktu itu Rama membantunya membawa barang-barang milik Jane hingga masuk ke apartemen. Caramel tak pernah berpikir bahwa waktu itu Rama memiliki maksud lain yakni mengetahui pin akses masuk apartemennya.


"Elu belum puas nyakitin gue dengan selingkuh dan sekarang lu mau ganggu rumah tangga gue juga, dasar lu ya." Caramel memaki Rama sambil menunjuk wajah lelaki yang bersikap seolah-olah tidak punya dosa.


"Aku nggak bisa lupain kamu Car, aku masih cinta sama kamu." Rama maju selangkah membuat Caramel ikut mundur.


"Gue nggak peduli sama perasaan lu itu, yang jelas sekarang stop gangguin hidup gue, anggap ajah lagi nebus dosa lu selama ini sama gue."


"Dosa ku biar Tuhan yang ngurus, sekarang aku cuma mau satu hal dari kamu." Rama kembali melangkah.


"Keluar nggak dari sini!" Caramel berteriak dan mundur hingga membentur dinding. Kini ia tidak bisa berkutik saat Rama menangkup dagu nya.


"Kamu nggak tahu betapa frustrasinya aku waktu itu, aku diusir dari rumah karena Adena hamil dan gagal nikah sama kamu, bahkan aku belum pernah mencicipi bibir ini." Rama mencium bibir Caramel dengan paksa yang tentu saja mendapat penolakan keras dari wanita itu.


Caramel berusaha mendorong tubuh Rama tapi tenaganya tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan pria itu. Kristal bening mengalir membasahi pipi Caramel saat Rama memberinya ciuman panas yang sungguh menjijikan.


Kurang ajar lu! Dasar cowok brengsek!


Caramel menggigit dengan kuat lidah Rama yang masuk ke rongga mulutnya.


"Ahh sialan!" Rama mengumpat mengakhiri ciuman sepihak itu jika tidak ingin lidahnya putus.


Selama Rama lengah, Caramel segera berlari keluar kamar mandi mencari ponsel miliknya untuk menelepon Rafka. Caramel memeriksa meja rias, nakas hingga bawah bantal tapi tidak menemukan benda tipis itu.


"Lu nggak bakal bisa lari kemana-mana." Rama tertawa tak jauh di belakang Caramel.


Caramel berlari ke ruang makan, ia ingat meletakkan ponsel disana. Tangannya gemetar mencari nama Rafka di panggilan terakhir.


Caramel melempari Rama dengan apapun yang ada di hadapannya, mulai dari tudung saji, piring, gelas, wadah selai hingga pisau roti.


"Stop stop!" Rama kewalahan mengindari barang yang Caramel lemparkan.


"Halo." Terdengar suara perempuan menjawab telepon Caramel.


"Halo halo, Irene ini Irene kan, aku minta tolong suruh Rafka pulang sekarang juga aku mohon Irene!" Caramel menangis hingga suaranya tersendat.


"Aku bukan Irene."


"Tolong siapapun, aku butuh bantuan bilang Rafka pulang sekarang juga aku mohon." Pandangan Caramel fokus pada sate taichan yang belum ia makan satu pun, tak ada lagi barang di meja makan untuk ia lempar.


"Rafka nggak ada, lagi di toilet."


"Rafka belum pulang dari kantor?" Caramel ragu jika Rafka belum pulang karena ini sudah lewat jam kerja.


"Rafka sama aku lagi di what's up cafe, kami sangat menikmati makanannya."


Caramel memejamkan mata, ia tak peduli dengan cerita wanita itu, ia hanya ingin Rafka segera pulang.


"Kamu lupa sama suaraku?"


"Aku nggak peduli kamu siapa, aku mau ngomong sama Rafka."


"Aku Elsa, jangan ganggu acara makan kami." Sambungan terputus begitu saja sebelum Caramel membalas kalimat itu.

__ADS_1


Caramel melempar satu barang terakhir yang tersisa di meja makan. Sambal sate taichan mengenai baju Rama bersamaan dengan piring yang jatuh ke lantai terpecah menjadi beberapa bagian hingga menimbulkan suara cukup keras.


"Mana Rafka kamu yang nggak bisa apa-apa itu? coba panggil kesini." Rama tertawa melangkah mendekati Caramel.


Ponsel Caramel terjatuh, ia tidak memiliki harapan lagi. Mengapa disaat seperti ini Rafka justru tidak pulang.


"Kamu nggak tahu betapa susahnya nyari momen kamu sendirian di rumah, bahkan aku rela bayar mahal untuk Joni dan Anna supaya mereka mau tinggal disini ngawasin kamu."


Ternyata kecurigaan Rafka terhadap Joni dan Anna selama ini benar. Mereka memiliki maksud lain tinggal di sebelah mereka. Mengapa Caramel dengan polosnya menerima mereka sebagai tetangga sekaligus teman baru.


"Rafka hampir nggak pernah membiarkan istrinya yang cantik ini sendirian di apartemen, kamu selalu dikelilingi orangtua, mertua dan dua sahabat baik mu itu sampai aku harus nunggu lebih lama tapi aku tahu hari ini pasti akan terjadi, ini hari keberuntungan ku." Rama menyeringai.


"Dari awal seharusnya kamu milik aku Car, nggak ada yang boleh milikin kamu selain aku."


Tubuh Caramel basah karena keringat, air mata bercampur dengan tetesan air dari rambutnya yang belum sempat dikeringkan.


"Sadar Ram, dari awal seharusnya kita nggak pernah ketemu, hubungan kita emang nggak seharusnya terjalin, pertemuan kita cuma kesalahpahaman." Caramel bergerak perlahan memutari meja makan saat Rama melangkah ke arahnya.


Rama menggeleng, "aku nggak setuju." Ia melangkah mengikuti Caramel memutari meja makan.


"Dihari pertemuan kita, seharusnya gue ketemu sama Rafka bukan lu."


"Itu artinya kamu ditakdirkan ketemu sama aku."


Caramel menggeleng kuat saat Rama semakin dekat dengannya, ia berlari menjauh keluar menuju balkon melalui jendela kaca yang terbuka. Rama hanya tertawa karena kemanapun Caramel pergi ia tetap akan mendapatkannya.


"Ya Tuhan!" Caramel berhenti saat tubuhnya membentur pagar pembatas balkon. Ia tidak bisa kemana-mana lagi.


"Kamu pilih jatuh dari lantai sebelas ini atau making love sama aku?" Rama mencengkram rambut Caramel dengan kuat, ia tidak mau bermain-main lagi dengan wanita yang dulu pernah menjadi kekasihnya  itu. "Aku nggak minta banyak, satu atau dua kali aja udah cukup lagi pula sebentar lagi Rafka bakal dateng."


"Jangan, gue nggak mau!" Caramel berteriak.


"Menurut artikel yang aku baca, wanita akan lebih jago di ranjang saat mereka hamil."


"Rama gue mohon, jangan gini." Caramel menggigit bibir bawahnya menahan tangis walaupun itu hanya sia-sia.


"Cukup, aku nggak mau negoisasi lagi sama kamu." Rama mengangkat tubuh Caramel dan menghempaskan nya di sofa ruang tamu. Ia semakin gelap mata melihat bathrobe Caramel sedikit terbuka.


"Cowok brengsek!" Caramel mendorong tubuh Rama dengan kakinya.


"Mari buat ini jadi lebih mudah, jangan nyusahin diri sendiri." Rama meraih tali bathrobe yang membalut tubuh Caramel dan menariknya, ia memegang kedua tangan Caramel dan menahannya.


"Aaaaa!" Caramel memejamkan mata berteriak sekencang mungkin walaupun itu tidak banyak membantu karena apartemen ini kedap suara.


"Aku nggak minta banyak, just once." Rama menyeringai mengecup leher Caramel dan turun ke bagian dada yang sedikit terlihat karena ia sudah melepas tali bathrobe nya. Namun sebelum Rama berhasil memberikan kecupan di bagian itu, seseorang lebih dulu menariknya dari belakang dengan kuat.


Caramel membuka mata mendapati Rafka sudah melempar tubuh Rama hingga membentur dinding.


"Sialan kamu!" Rafka berteriak, ia menarik baju Rama agar berdiri dan melayangkan tinju berkali-kali di wajah dan badannya tanpa ampun. "Kali ini aku nggak akan biarin kamu tidur dengan tenang, kamu harus merasakan dinginnya lantai penjara."


Caramel buru-buru mengambil tali bathrobe nya yang tergeletak di lantai dan memasangnya lagi.


"Ampun, Ka." Rama mengangkat tangannya memohon ampun agar Rafka menghentikan pukulannya.


"Beraninya kamu bilang gitu!" Rafka mengepalkan tangannya kuat dan meninju wajah Rama hingga darah menyembur dari hidung dan mulutnya. "Tapi kamu nggak boleh mati sekarang."


Tubuh Rama membentur dinding sekali lagi lalu merosot ke lantai, tak ada perlawanan sama sekali darinya. Pandangannya kabur tapi ia tetap berusaha membuka mata selebar mungkin.


"Kamu harus membusuk di penjara!" Rafka menegakkan badan Rama dan meninjunya lagi, ini pantas didapatkan oleh pria yang telah berani macam-macam pada Caramel.

__ADS_1


Rama berada di fase antara sadar dan tidak sadar, ia tidak bisa lagi melihat dengan jelas.


"Sekali lagi berani sentuh Caramel, kamu akan habis di tanganku." Satu tinjuan keras melayang di pipi kanan Rama hingga membuat lelaki itu terhuyung tidak sadarkan diri.


__ADS_2