Suamiku Bukan CEO

Suamiku Bukan CEO
Enam Puluh Empat


__ADS_3

Asap mengepul dari Indomie kuah tomyam yang baru disajikan oleh waiter. Air liur seketika memenuhi mulut Rafka kala melihat mie dengan toping udang tersebut. Ia mengaduk-aduk mie sebelum memakannya.


Tidak butuh waktu lama bagi Rafka untuk menemukan what's up cafe karena ia menggunakan google maps, selain itu lokasi cafe tersebut masih berada di sekitar tempat tinggalnya.


Rafka memejamkan mata menikmati Indomie berpadu dengan kuah kental dan gurihnya udang, sepertinya ini akan menjadi makanan favoritnya setelah sayur asem mulai sekarang.


"Kenapa aku baru tahu ada makanan seenak ini." Rafka tersenyum bahagia, tidak sia-sia merekomendasikan tempat ini untuknya karena makanannya memang cocok di lidah Rafka. Sayang sekali Caramel tidak bisa makan bersama Rafka disini karena ia paling anti mencium aroma mie instan.


"Hai, kebetulan kita ketemu disini." Seorang wanita menghampiri meja Rafka. "Rafka?"


Si pemilik nama yang sedang asyik menikmati mie terpaksa menghentikan aktivitasnya mendongak melihat seseorang yang menyapanya barusan. Rafka tidak punya banyak teman sehingga ia tak terlalu peduli pada wanita itu.


"Aku tidak berniat menyebut ini sebagai pertemuan." Rafka memasang wajah datar seperti biasa saat tahu wanita itu adalah Elsa.


"Boleh aku duduk disini?" Elsa mengabaikan raut wajah Rafka yang menunjukkan ketidaksukaan padanya. Asal bisa duduk satu meja dengan Rafka, Elsa rela membuang jauh harga dirinya.


Rafka menoleh ke kanan, ia melihat banyak meja kosong disana.


"Tidak." Jawab Rafka tapi lagi-lagi Elsa mengabaikannya. Wanita itu duduk di hadapan Rafka dan memanggil pelayan untuk memesan makanan.


"Gimana kabar mu, kita lama nggak ketemu." Elsa menatap lurus Rafka serta menebar senyum manis, ia menyangga dagu dengan kedua tangan di atas meja agar lebih dekat dengan Rafka.


"Jangan bersikap seperti kita saling kenal." Ujar Rafka dingin tanpa melihat Elsa. "Diam lah jika kau ingin tetap duduk disini."


Elsa langsung mengatup bibir dan menurunkan tangannya dari meja. Elsa menyesal telah menyapa Rafka lebih dulu, jika tahu sikap Rafka akan sedingin ini pasti tadi ia duduk di meja terpisah. Elsa pikir Rafka telah melupakan kejadian dimana ia menghina Caramel tapi ternyata tidak sama sekali.


Rafka menghabiskan makannya dengan cepat, ia tidak mau membuat Caramel menunggu terlalu lama di rumah. Pasti saat ini Caramel sedang menunggu Rafka pulang. Apalagi semalam Caramel menonton film horor hingga larut, jadi Rafka harus pulang dengan cepat.


Rafka beranjak setelah menghabiskan Indomie hingga tak tersisa, ia pergi ke toilet membawa tas kerjanya. Rafka akan mengganti pakaian karena aroma mie pasti menempel di badannya. Caramel pasti akan langsung bisa mencium aroma mie yang menempel di baju Rafka.


Sementara itu perhatian Elsa teralihkan pada layar ponsel Rafka yang menyala, ia bergerak cepat meraih ponsel yang ditinggal Rafka di atas meja.


"Caramel?" Elsa memiringkan kepala, "nggak ada panggilan sayang apa? kaku banget." Jari lentik Elsa bergerak anggun mengetik ikon telepon warna hijau menjawab telepon Caramel.


"Halo." Elsa sengaja membuat suaranya semanis mungkin.


"Halo halo, Irene ini Irene kan, aku minta tolong suruh Rafka pulang sekarang juga aku mohon Irene!"


"Aku bukan Irene." Jawab Elsa.


"Tolong siapapun, aku butuh bantuan bilang Rafka pulang sekarang juga aku mohon."


"Rafka nggak ada, lagi di toilet." Elsa memainkan kukunya yang baru saja dicat dengan warna merah menyala.


"Rafka belum pulang dari kantor?"


"Rafka sama aku lagi di what's up cafe, kami sangat menikmati makanannya." Elsa menahan tawa, ternyata ia sangat pandai bersandiwara.  "Kamu lupa sama suaraku?" Mereka pernah bertemu beberapa kali dan Elsa telah memberikan kesan buruk pada Caramel, tidak mungkin ia mudah dilupakan.


"Aku nggak peduli kamu siapa, aku mau ngomong sama Rafka."


"Aku Elsa, jangan ganggu acara makan kami." Elsa memutuskan sambungan dengan senyum puas, ia tidak tahu apa yang terjadi pada Caramel. Namun sepertinya wanita itu sedang dalam bahaya, Elsa tidak peduli. "Dibilangin Rafka nggak ada kok nyolot." Ia meletakkan ponsel Rafka ke tempatnya, takut jika si pemilik datang.


"Silahkan Mbak." Seorang pelayan meletakkan pesanan Elsa dan mengambil mangkok bekas Indomie milik Rafka yang sudah kosong.


"Makasih." Elsa menebar senyum, ia memang suka menebar senyum kepada semua orang.


Elsa melihat Rafka kembali dengan pakaian yang berbeda, lelaki itu mengambil ponselnya yang tertinggal dan segera pergi tanpa mengucapkan apapun lagi.


"Eh!" Elsa hendak memberitahu Rafka bahwa Caramel menelepon tapi lelaki itu sudah keluar dari cafe.

__ADS_1


Rafka mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi membelah jalanan kota Jakarta yang padat di sore hari. Rafka bukan orang yang suka ngebut di jalanan tapi entah mengapa ia ingin segera sampai di rumah. Mungkin karena lusa Caramel hendak berangkat ke Bali jadi Rafka ingin selalu berada di dekat sang istri.


Koridor apartemen sepi seperti biasa saat Rafka berjalan melewatinya. Sebagian penghuni apartemen adalah pekerja kantoran sehingga mereka jarang berada di rumah. Saat akhir pekan pun mereka memanfaatkannya untuk pergi ke tempat wisata terdekat sekedar mengobati penat setelah seminggu bekerja.


Rafka heran melihat apartemen nya berantakan, beberapa barang yang biasanya berada di meja makan juga terlempar ke lantai. Rafka membuka sepatu dengan cepat dan mendapati seorang lelaki berada di ruang tamu.


Tanpa pikir panjang Rafka menarik baju lelaki itu, ia juga melihat Caramel terbaring di sofa dengan bathrobe yang sudah berantakan. Rafka semakin murka saat tahu bahwa lelaki itu adalah Rama.


"Sialan kamu!" Umpat Rafka, ia meninju dan menendang tubuh Rama tanpa ampun. Berani-beraninya Rama melakukan hal itu pada Caramel. Kali ini Rafka tidak akan memberi ampun pada Rama, ia menyesal karena dulu terlalu baik pada Rama dengan membebaskan sang istri dari hukuman itu.


******


"Maaf aku terlambat." Rafka menarik Caramel ke dalam pelukannya, ia bisa merasakan tubuh Caramel gemetar. Caramel menangis tersedu-sedu di pelukan Rafka, ia tidak bisa membayangkan bagaimana jadinya jika Rafka tidak datang. Caramel tak tahu akan seperti apa kehidupannya setelah ini jika Rafka terlambat sedikit saja.


"Kamu baik-baik saja?" Rafka memeriksa seluruh tubuh Caramel dari atas hingga bawah, ia juga membenarkan bathrobe Caramel yang terbuka.


Rafka memindahkan Caramel ke kamar, ia menyeret Rama yang sudah tidak sadarkan diri ke luar apartemen. Rafka menelepon polisi dan melaporkan Rama dengan kasus pelecehan seksual. Nanti Rafka akan memberikan bukti rekaman CCTV kepada polisi, saat ini yang terpenting adalah menenangkan Caramel. Sekarang pasti Caramel sangat terpukul mendapat perlakukan seperti ini dari mantan pacar yang pernah menjadi trauma terbesar bagi wanita itu.


"Jangan nangis lagi, ada aku." Rafka mengusap punggung Caramel perlahan. "Lebih baik sekarang kamu ganti baju dulu ya." Rafka turun dari ranjang untuk mengambil pakaian Caramel.


Rafka membantu Caramel mengganti pakaian, ia membersihkan kotoran di tangan Caramel dengan telaten. Ia juga menyisir rambut sang istri yang berantakan.


"Mau kemana?" Caramel menahan tangan Rafka yang hendak keluar kamar.


"Aku ambil minum sebentar."


Caramel menggeleng, ia tidak mau ditinggal Rafka walaupun hanya sebentar.


"Hanya sebentar." Rafka mengurungkan niatnya melihat Caramel kembali menggeleng, akhirnya ia ikut berbaring di samping Caramel.


Caramel sudah lebih tenang dan berhenti menangis, sekarang bagi Caramel manusia jauh lebih menakutkan dari pada hantu. Ia tidak mau mengingat kejadian tadi tapi semuanya muncul di pikirannya begitu saja. Mulai dari pelukan dan ciuman Rama yang terjadi secara tiba-tiba, Caramel jijik mengingat itu semua.


Akhirnya Caramel terlelap, perlahan Rafka menggeser tubuhnya dan melepas pelukan Caramel. Rafka memberi kecupan lembut di kening Caramel sebelum ia turun dari ranjang.


Rafka mulai meletakkan semua barang di atas lantai ke tempat semula, mulai dari bantal sofa, taplak meja dan vas bunga. Karena ruang tamu dan ruang makan tidak dipisahkan oleh dinding, barang-barang yang seharusnya berada di meja makan terlempar hingga ke sofa ruang tamu.


"Caramel belum makan?" Rafka melihat sate taichan yang berserakan di lantai bersama dengan pecahan piring. Rafka mengumpulkan semua dan memasukkannya ke dalam kantong sampah. Ia menggunakan vacuum cleaner untuk membersihkan kotoran yang lebih kecil sebelum mengepel lantai.


Pandangan Rafka menyapu seluruh ruangan, sekarang apartemennya sudah lebih baik. Ia pun mengeluarkan ayam dari kulkas untuk membuat sate taichan sendiri. Itu adalah salah satu makanan kesukaan Caramel, Rafka akan coba membuatnya sendiri.


Tidak seperti Caramel yang suka mencari resep di google atau YouTube, Rafka membuatnya berdasarkan pengalamannya makan sate taichan selama ini.


"Rafka!"


Rafka menghentikan aktivitasnya memanggang ayam mendengar Caramel memanggilnya.


"Di dapur sayang." Kata Rafka setengah berteriak.


Caramel melangkah menuju dapur, ia bisa mencium aroma ayam yang dipanggang dari dalam sana. Perut Caramel keroncongan karena belum makan sejak tadi siang.


"Kamu masak?"


Rafka menoleh melihat Caramel yang berjalan ke arahnya, ia mengangguk pelan menjawab pertanyaan sang istri.


"Kau sudah baikan?" Rafka ingin mengusap kepala Caramel dan merapikan rambutnya tapi ia baru memegang daging ayam. "Sebentar lagi matang, kamu belum makan kan?"


Caramel memeluk pinggang Rafka dari samping, menempel seperti perangko.


"Makasih ya." Caramel mencium pipi Rafka sesaat, ia tak tahu bagaimana lagi harus berterimakasih kepada Rafka.

__ADS_1


Rafka hanya tersenyum, ia mengangkat sate yang sudah matang dan memindahkannya ke piring.


"Bawa ini ke ruang makan, aku mau cuci tangan dulu dan membuat sambal." Pinta Rafka.


"Nggak usah sambel, ini aja." Caramel sudah kehilangan selera makannya, jika tidak sedang hamil pasti ia sudah melewatkan makan malam ini dan tidur sampai besok.


"Kenapa kamu mengajak Rama kesini?" Rafka mengekori Caramel ke ruang makan setelah cuci tangan.


"Hm?" Caramel mengerutkan kening, ia meletakkan sepiring sate taichan yang baru matang di atas meja. "Maksud kamu?" Ia tidak mengerti maksud dari pertanyaan Rafka—tidak, ia mengerti hanya saja Caramel ingin Rafka memperjelas pertanyaannya.


"Kamu tahu Rama tidak bisa melupakanmu tapi kenapa kau mengajaknya kesini?" Rafka memperjelas pertanyaannya, tadinya ia tidak memikirkan soal ini karena terlalu panik. Namun semakin lama ia berpikir mengapa Rama bisa masuk ke apartemen mereka jika bukan Caramel yang mengizinkannya. Tidak ada siapapun yang mengetahui sandi masuk apartemen tersebut kecuali Rafka dan Caramel.


"Jadi kamu pikir aku yang bawa Rama masuk apartemen?"


"Lalu?"


"Dia masuk sendiri."


Rafka melihat Caramel tidak percaya, "Cara, apa itu masuk akal?"


Caramel memejamkan mata menarik napas dalam, "kamu nggak percaya sama aku?" Ia melempar tatapan tajam kepada Rafka.


"Bukan aku tidak percaya, tapi tidak mungkin jika Rama masuk sendiri tanpa bantuan orang yang tahu sandi masuk apartemen kita, dan itu hanya kau dan aku."


"Rafka, aku nggak mungkin bawa Rama masuk sini!" Caramel meninggikan suaranya.


"Jadi Rama masuk kesini tanpa sepengetahuan kamu?"


"Iya."


"Tapi kenapa kamu tidak meneleponku tadi?" Rafka duduk di kursi ruang makan mendongak melihat Caramel yang masih berdiri.


"Jelas-jelas aku telepon kamu, tapi yang angkat telepon nya itu Elsa, tadi aku nggak mau mikir macem-macem tapi sekarang aku patut curiga sama kamu."


"Aku tidak tahu kau menelpon." Rafka menggeleng, jika tadi tahu Caramel menelepon pasti ia akan langsung pulang.


"Kamu nggak tahu karena kamu lagi ke toilet, jadi kamu alasan pengen makan mie karena mau ketemu sama Elsa?" Mata Caramel memanas, emosinya memuncak kala mengingat obrolannya dengan Elsa di telepon tadi. Ia berbalik melangkah meninggalkan ruang makan, ia tidak mau lagi berdebat dengan Rafka.


"Kenapa kamu berpikir seperti itu?" Rafka mengikuti Caramel ke kamar, "tadi aku memang makan mie sendiri, Elsa tiba-tiba datang dan memaksa duduk satu meja denganku, aku ke toilet untuk ganti baju setelah makan karena aku tahu kamu tidak suka aroma mie instan."


Caramel mengabaikan penjelasan Rafka, ia masuk ke walk in closet dan keluar membawa koper miliknya.


"Caramel, kamu tahu aku tidak pernah berbohong!" Rafka menahan tangan Caramel tapi ditepis dengan cepat.


Caramel meraih kunci mobilnya di atas meja rias, "jadi yang nggak pernah bohong itu cuma kamu? semua orang di dunia ini pembohong?" Ia melihat Rafka dengan air mata yang mulai menggenang, hatinya sakit karena Rafka menuduhnya membawa Rama masuk.


"Caramel, kamu mau kemana?"


"Tolong jangan kejar aku, kamu dan aku butuh waktu sendiri." Caramel menutup pintu kamar dengan keras.


Rafka ikut keluar, ia melihat Caramel masuk ke dalam lift pribadi. Ia juga membawa kunci mobil miliknya, keluar lewat pintu utama.


Rafka tidak mungkin membiarkan Caramel pergi sendiri. Walaupun Caramel meminta Rafka untuk tidak mengejarnya tapi Rafka tetap akan mengikutinya karena semua yang terjadi pada Caramel adalah tanggungjawabnya.


Honda Civic putih milik Caramel melaju tidak terlalu kencang melewati Jl. Jend. Sudirman saat Rafka mengikutinya dari belakang.


Sembari menyetir jemari Caramel bergerak lincah pada layar ponselnya, ia mencari tiket pesawat tercepat ke Bali. Caramel harus membuat Rafka merenungi kejadian ini bahwa terkadang sesuatu yang tak masuk akal sangat mungkin terjadi.


Caramel menekan dadanya yang terasa nyeri, harusnya dalam hal ini Rafka menjadi penguat untuknya. Namun Rafka justru menuduh Caramel seperti itu. Ketidakpercayaan Rafka membuat Caramel sangat sakit menyesakkan dada. Ia sudah sangat terpukul dengan pelecehan yang Rama lakukan dan sekarang Rafka justru menuduhnya hal itu adalah kesengajaan.

__ADS_1




__ADS_2