
"Wah, ini pertama kalinya aku kesini." Caramel mengedarkan pandangan sesampainya di taman belakang rumah Danu yang sudah disulap sedemikian rupa menjadi tempat berlangsungnya acara ulang tahun Indi. Tempat ini memang selalu menjadi pilihan Danu saat mengadakan pesta ulang tahun.
Caramel terlihat makin cantik dengan dress batik tanpa lengan selutut. Rambutnya dibiarkan tergerai tanpa aksesoris apapun. Itu adalah pakaian yang didapatnya setelah satu jam keluar masuk walk in closet mencoba beberapa pakaian dan menanyakan pendapatku. Jawabanku selalu sama disetiap pertanyaannya, Caramel tampak cantik mengenakan pakaian apapun.
Aku nggak punya baju buat acara nanti, gimana dong Ka.
Begitu katanya tadi pagi padahal ia menolak saat aku mengajaknya pergi ke Grand Indonesia untuk membeli pakaian, ia bilang kami punya banyak batik di lemari.
"Aku suka pesta outdoor gini." Caramel menyelipkan tangannya di sela lenganku.
Taman belakang rumah Danu cukup luas untuk menampung sekitar 50 tamu undangan. Lampu-lampu tumblr berwarna kekuningan menghiasi pohon palem yang berada di sekitar taman. Danu harus cuti kerja demi mendekorasi taman ini sebelum hari-H.
Semua orang mengenakan batik sesuai tema yang sudah Danu tentukan. Kue ulang tahun dengan angka 25 tampak bertengger di atas meja di tengah taman.
"Kamu mau pesta seperti ini juga?" Aku melihat Caramel yang berjalan di sampingku.
Caramel menggeleng, "aku nggak mau." Jawabnya.
"Lalu?"
"Kita berdua aja." Caramel berbisik.
Aku menahan senyum mendengar jawabannya, aku pikir ia akan marah saat aku menyusulnya ke kamar mandi satu hari yang lalu. Saat itu aku tidak bisa menahannya, pikiranku tidak salah lagi—kakek pasti memasukkan sesuatu ke dalam teh ku. Entah berapa lama kami berada di dalam bathub, seingatku air yang tadinya hangat berubah jadi dingin saat kami selesai tapi untungnya Caramel sama sekali tidak marah. Aku bersyukur karena ia tidak menanyakan apapun meski ia menyadari keanehan ku. Caramel bilang itu adalah sesuatu yang romantis.
"Kalian udah dateng!" Indi menyambut kami, ia bercipika-cipiki dengan Caramel setelah cukup lama tidak bertemu. Walaupun Caramel dan Indi bukan teman seangkatan tapi mereka selalu nyambung saat mengobrol. Caramel memang teman mengobrol yang menyenangkan berbeda denganku yang tidak pandai mencari bahan obrolan—aku lebih memilih kerja lembur semalaman penuh dibandingkan mengobrol dengan orang asing.
"Selamat ulang tahun ya." Caramel menyodorkan sebuah paper bag berwarna abu-abu kepada Indi. Ia membeli satu parfum di Grand Indonesia kemarin khusus untuk Indi.
"Makasih Mbak, Mas Rafka udah dateng." Indi melebarkan senyumnya kepada kami.
"Dimana Danu?" Aku celingukan mencari sosok Danu di antara tamu undangan lain yang telah hadir lebih dulu.
"Ada, yuk." Indi menarik tangan Caramel membawa kami menuju dekat kolam renang dimana Danu duduk berada. Danu terlihat sedang menyusun kursi tambahan di pinggir kolam.
"Aku tinggal dulu ya." Tukas Indi sebelum bergegas menuju gerbang untuk menyambut tamu lain.
"Eh Cara, lu datang juga." Danu mengibaskan tangannya yang sedikit kotor terkena debu dari kursi.
"Kenapa emangnya, nanti kalau gue nggak ikut, elu jodoh-jodohin Rafka sama Elsa lagi." Ketus Caramel, Danu tampak terkejut dengan jawaban Caramel.
"Dih apaan sih lu Car." Danu menarik kursi meminta kami duduk.
"Sebenernya gue udah lama pengen ngomong sama lu, tapi kita nggak pernah ada kesempatan buat ketemu." Kata Caramel lagi setelah memposisikan diri duduk menyilangkan kaki dengan gerakan anggun di salah satu kursi.
"Ngomong apa?" Danu ikut duduk, ia melihatku mencari jawaban maksud dari ucapan Caramel, tapi aku konsisten dengan raut wajah datar karena memang tidak tahu apa yang hendak Caramel bicarakan dengan Danu.
__ADS_1
"Nu, gue mohon banget sama elu ya jangan jadi biang masalah." Caramel menatap lurus pada Danu.
"Maksud lu?" Danu mengerutkan kening bingung.
Caramel mengacungkan ponselnya kepada Danu, "ini WA yang elu kirim ke Rafka nggak lama ini."
Danu mendekatkan wajah agar bisa melihat lebih jelas. Dua detik kemudian ia melotot.
"Lu dapet dari mana chat gue sama Rafka?"
Caramel tertawa keras lalu meletakkan ponselnya di atas meja, "lu sengaja ya jadi mak comblang nya Elsa?"
Ah aku ingat, itu pasti pesan WhatsApp Danu saat kami sedang makan malam di Grand Indonesia, waktu itu ponselku memang berada di tangan Caramel sehingga ia langsung tahu begitu Danu mengirimiku pesan.
Aku pikir Caramel sudah lupa tentang pesan itu tapi rupanya ia menunggu kesempatan untuk menegur Danu secara langsung.
Ga sia-sia kan gue nyuruh lu duduk bareng Elsa.
"Ng ... nggak kok, gue cuma bercanda." Danu tergagap, ia tidak tahu betapa galaknya Caramel saat mengomel.
"Bercanda?" Caramel memiringkan kepalanya, "coba kalau gue bawa Indi ketemu sama cowok lain, gimana perasaan lu sekalipun itu cuma bercanda."
Danu terdiam, mungkin ia sedang memikirkan jawaban yang tepat untuk ucapan Caramel. Kenapa Danu jadi mati kutu padahal biasanya ia paling pandai bicara.
"Lu sahabat macam apa sih, tindakan lu itu bisa bikin rumah tangga gue sama Rafka ancur tahu nggak?"
"Ya elah, nggak gitu juga kali Car, ya udah gue minta maaf, gue salah."
Caramel mendengus.
"Sorry Car, gue nggak ada niat gitu." Danu mengacungkan jari telunjuk dan tengah membentuk huruf V."
"Lagian banyak kok candaan lain, lah elu malah jadi biang pelakor."
"Sorry-sorry banget, gue bakal kasih tahu satu rahasia Rafka deh asal lu lupain masalah ini, gue nggak enakan orangnya." Danu melirikku, rahasia apa yang ia maksud?
"Apaan?" Caramel mengangkat dagunya.
Perasaanku tidak enak, takut jika Danu justru bicara sembarangan pada Caramel.
Danu menyeret kursinya lebih dekat dengan Caramel, "lu tahu origami yang bisa nyala?"
"Kenapa emangnya?"
Aku mendelik pada Danu agar ia tidak melanjutkan ucapannya tentang origami itu. Ini bukan saat yang tepat untuk memberitahukan Caramel, masalah kami dengan Rama dan istrinya belum selesai. Aku tidak ingin pikiran Caramel semakin terbebani.
__ADS_1
"Origami sebenernya bikinan Ra—"
"Mbak Cara, ayo gabung sama lain!" Suara Indi membuat kalimat Danu terpotong. Caramel spontan beranjak dari duduknya mengabaikan Danu.
"Rafka, aku pergi sama Indi dulu ya." Caramel buru-buru melambaikan tangan kepadaku ketika Indi menarik tangannya untuk bergabung dengan tamu wanita yang lain. Sepertinya acara akan segera dimulai karena tamu undangan mulai ramai.
Danu melongo melihat kepergian Caramel dan Indi sedangkan aku tersenyum puas karena ia tak jadi memberitahukan tentang kejadian 12 tahun lalu tersebut. Hubunganku dengan Caramel sudah memasuki tahap hangat dan harmonis, aku tidak mau merusaknya dengan fakta bahwa origami itu pemberianku bukan Rama.
"Wah nggak nyangka mulut Caramel pedes juga kayak lambe-lambean." Danu geleng-geleng memperbaiki posisi duduknya, ia mengembuskan napas panjang setelah beberapa saat berdebat dengan Caramel.
"Makanan apa lagi itu?"
"Apa?" Danu menoleh kepadaku.
"Lambe-lambean." Aku mengulangi kalimat terakhir Danu.
Lalu bukannya menjawab Danu justru tertawa sekencang-kencangnya membuatku bingung, apa lagi yang lucu disini?
"Lu nggak tahu lambe-lambean, lambe turah juga?"
Aku menggeleng pelan.
"Katanya lu udah main IG sekarang tapi kok nggak tahu lambe turah padahal udah centang biru tuh akun."
Memangnya semua orang yang mempunyai akun Instagram tahu tentang lambe turah? apa hanya aku yang tidak tahu? kenapa selalu aku.
"Gue heran kenapa Caramel mau sama elu yang polos ini." Danu menepuk pundak ku beberapa kali cukup keras. "Gue jadi bayangin malam pertama kalian kayak apa."
"Kenapa jadi memikirkan malam pertama ku, buktinya sekarang Caramel hamil kenapa kamu meragukan ku?"
"Alah!" Danu mengibaskan tangannya, "sekarang gue tanya, kalian nggak pernah kan begitu-begituan di dalam bathub." Danu menunjuk muka ku dengan ekspresi jahil, "udah nggak usah dijawab, gue udah tahu jawabannya."
"Pernah." Baru satu hari yang lalu.
Tiba-tiba Danu menghentikan tawanya, "serius lu?"
"Ya." Aku mengangguk.
"Kagak bohong lu?"
Aku beranjak tidak lagi menjawab pertanyaan tidak penting dari Danu, meladeni dia tak akan ada habisnya. Aku bingung kenapa sampai sekarang kami bersahabat baik padahal sifat kami bertolakbelakang.
"Ka, gue belum pernah kasih tahu dong rahasianya." Danu setengah berteriak di belakang sana, tapi aku mengabaikannya. Aku memilih melangkah lebih jauh mencari sosok Caramel.
Kenapa ia bertanya tentang rahasia bercinta di bathub padahal di rumah ini tidak ada bathub. Danu harus merenovasi kamar mandi baru sebelum ia menanyakan rahasianya kepadaku. Lagi pula itu tidak disengaja, mungkin aku harus merekomendasikan toko ramuan kakek Jono kepadanya.
__ADS_1