Suamiku Bukan CEO

Suamiku Bukan CEO
Sembilan Puluh Dua


__ADS_3

Caramel telah mengganti pakaian dengan baju rumah sakit yang lebih longgar, perawat juga telah memasangkan selang infus di punggung tangan kirinya sejak ia sampai beberapa jam yang lalu. Namun Caramel masih bisa bergerak kesana kemari meskipun Rafka siap membantunya melakukan apapun. Tentu saja Caramel bukan orang yang suka berdiam diri dalam waktu lama.


Ruang rawat itu cukup luas bernuansa coklat dengan dua ranjang, satu ranjang untuk pasien dan lainnya untuk keluarga pasien. Di tengah-tengah ranjang tersebut terdapat dua box bayi yang sudah dipersiapkan oleh pihak rumah sakit. Bahkan balon-balon di salah satu sisi dinding telah ditata sedemikian rupa untuk menyambut Pineapple.


Caramel memperhatikan Kayla yang sedang mengeluarkan beberapa kotak berukuran kecil dari dalam paper bag. Itu adalah dessert box yang rencananya akan resmi dipasarkan Minggu depan setelah Kayla meminta pendapat orang terdekatnya.


"Aduh sayang banget nggak bisa ikut nyobain, parah lu Kay datengnya telat." Caramel memukul punggung Kayla karena datang setelah dirinya harus berpuasa untuk persiapan operasi.


"Tenang nanti gue sisain buat Mama nya Pineapple yang kotaknya lebih gede." Kayla menepuk-nepuk paha Caramel.


"Jane, Rafka, Om dan Tante cobain ya." Kayla melihat mereka bergantian termasuk mama Rafka yang juga ada disana. Ada tiga macam dessert di atas meja dengan berbagai rasa.


"Cobain Pa." Caramel memberikan sendok pada Rafka.


"Oh jadi sekarang Papa nomor satu kamu bukan Papa lagi?" Sindir Papa Caramel.


"Ya ampun Papa tetep nomor satu aku dong!" Caramel mengambil kembali sendok di tangan Rafka dan memberikannya pada sang papa. Sebagai gantinya Caramel memberikan sendok lain untuk Rafka.


"Papa apaan sih kayak anak kecil aja." Mama Caramel memukul paha sang suami pelan.


Rafka tersenyum, ia sama sekali tidak masalah jika Caramel mengatakan dirinya bukan nomor satu karena seorang ayah ada cinta pertama bagi anak.


Rafka menyendok satu kue berwarna merah muda, "enak." Pujinya.


"Enak doang? nggak ada komentar lain?" Kayla menunggu pendapat lainnya mengenai kue tersebut.


"Kalau menurut Tante ini terlalu manis yang coklat, makan satu suap udah eneg." Mama Caramel memberi komentar.


"Lebih enak kalau Kayla menggunakan coklat yang sedikit pahit supaya nggak terlalu eneg." Mama Rafka sependapat.


"Aduh terimakasih masukannya, ini berarti banget buat aku." Kayla senang mendengar komentar jujur dari mereka. "Jane gimana menurut lu?"


"Menurut gue sih yang stroberi ini enak, bener kata Rafka."


"Terlalu asem nggak?"


"Pas banget." Jane menautkan ibu jari dan telunjuknya membentuk huruf O pada Kayla.


Caramel menelan air liur melihat mereka menikmati kue tersebut. Sayangnya sebentar lagi ia sudah harus ke ruang operasi.


"Sabar ya." Rafka mengusap-usap perut Caramel.


"Pengen." Caramel menyandarkan kepalanya pada bahu Rafka. Ia melihat Rafka begitu lahap memakan kue bolu dengan krim stroberi di atasnya.


"Ada rasa kopinya nggak sih?" Jane mengerutkan kening karena kue berwarna merah muda itu memiliki sedikit rasa kopi.


Bersamaan dengan itu perhatian mereka teralih pada suara benda logam jatuh hingga menimbulkan suara cukup kencang saat menyentuh lantai marmer ruangan tersebut.


Caramel mengangkat kepalanya melihat Rafka menjatuhkan sendok tersebut. Wajah Rafka tiba-tiba pucat dan berkeringat dingin.


"Kenapa?" Caramel menyentuh kening Rafka.


"Lu kasih kopi ke kue ini?" Jane membelalak menunjuk kue yang sudah tinggal setengah bagian.


"Ya ampun gue lupa!" Kayla syok mengingat Rafka alergi kafein dan ia menambahkan bubuk kopi ke dalam kue tersebut.

__ADS_1


Rafka mencengkram erat lengan Caramel, ia merasa dadanya amat sesak hingga sulit bernapas seperti tak ada udara di ruangan itu.


"Rafka Rafka, bangun!" Caramel mengguncang tubuh Rafka, ia melihat Rafka memejamkan mata dan sedikit kejang.


Mama Rafka beranjak tak kalah kaget melihat anak sulungnya itu tiba-tiba pingsan.


"Kay, ku lupa di Rafka alergi kafein?" Jane terkejut, ia melihat Kayla yang wajahnya mulai merah padam.


Kayla tertegun, sungguh ia lupa kalau Rafka memiliki alergi terhadap kafein. Ia menatap nanar pada Rafka yang mulai tidak sadarkan diri.


"Gila ya Lu!" Caramel mengumpat pada Kayla karena lupa pada hal sepenting itu. Mungkin bagi sebagian orang kopi hanya lah bahan makanan biasa yang tidak menimbulkan hal berbahaya. Namun bagi Rafka, kopi yang memiliki kafein tinggi bisa mengancam nyawanya. "Lu nggak tahu ya Rafka bisa aja meninggal dengan bubuk kopi itu!" Sentak nya.


"Caramel gue lupa." Kayla tak tahu harus berkata apalagi karena ia melupakan hal itu, "gue minta maaf."


Papa Caramel berlari keluar untuk memanggil dokter agar segera menangani Rafka.


Tak lama kemudian tiga orang perawat membawa ranjang dorong dan memindahkan Rafka ke atasnya.


"Dokter, suami saya mengalami syok anafilaktik, ini ketiga kalinya." Suara Caramel gemetar, matanya basah oleh air mata. Ia ingat ucapan dokter dulu saat Rafka mengalami gejala alergi serupa bahwa Rafka jangan sampai mengalami hal seperti itu lagi karena bisa saja nyawanya tidak tertolong.


"Sadar Rafka!" Mama Rafka berseru memanggil nama Rafka berharap sang anak bisa membuka matanya. Tangisnya pecah karena tak ada tanda-tanda bahwa Rafka akan sadar.


Dokter memberikan alat bantu pernapasan karena Rafka terlihat sulit bernapas. Tiga perawat tersebut mendorong ranjang untuk membawanya ke salah satu ruangan agar dokter leluasa menangani Rafka.


Caramel ikut berlari menggenggam tangan Rafka yang dingin, tangisnya pecah saat Rafka sama sekali tidak meresponnya.


"Ibu tunggu di luar dulu ya." Titah dokter pada Caramel.


Caramel terpaku melihat Rafka dibawa masuk ke salah satu ruangan di ujung koridor. Hingga pintu tertutup Caramel masih berdiri di tempatnya. Semua ini terjadi begitu cepat dan tiba-tiba membuat Caramel teringat pada saat ia terbangun di pagi hari menjelang siang dan mendapati Arnesh sudah tidak bergerak di sampingnya.


Caramel melihat mama Rafka terduduk di depan ruang rawatnya dan menangis tersedu-sedu.


"Caramel." Mama Caramel berlari menghampiri Caramel, ia memeluk sang anak untuk menenangkannya meski itu tak akan banyak membantu.


Caramel menangis tersedu-sedu di pelukan mama nya, "Rafka bilang mau nemenin aku di ruang operasi Ma." Tangisnya pecah, ia tak sanggup lagi menahan kesedihan yang terus menerus menimpanya.


Apakah Caramel ditakdirkan untuk selalu kehilangan? Kehilangan calon suami kehilangan putra pertama. Apakah Tuhan juga akan mengambil suaminya? tidak-tidak. Siapa yang akan mendampinginya mengurus Pineapple?


"Mama temenin kamu." Mama Caramel mengusap rambut Caramel dan mencium pipinya. "Ayo duduk." Ia membimbing Caramel duduk di salah satu kursi yang terletak di sepanjang koridor.


"Ibu Caramel sudah saatnya menuju ruang operasi." Seorang perawat menghampiri Caramel.


"Suster, infusnya terlepas." Mama Caramel memegang punggung tangan Caramel yang berdarah.


"Ibu silahkan naik, saya akan memasang selang infusnya lagi." Suster mempersilahkan Caramel naik ke kursi roda.


Caramel dibantu mamanya naik ke kursi roda, suster membawanya kembali ke ruangan. Caramel menoleh sekali lagi ke arah jendela kaca ruangan Rafka meski ia tidak bisa melihat apapun kecuali gorden coklat yang menutupi jendela tersebut.


"Caramel gue minta maaf." Kayla memegang bahu Caramel, tubuhnya gemetar takut kalau terjadi sesuatu yang tidak diinginkan pada Rafka.


Caramel bergeming, sekarang ia sedang tidak ingin mendengar apapun. Pandangannya berkabut terhalang air yang menggenang di pelupuk matanya.


Seorang perawat yang mengerti kejadian barusan turut prihatin tapi ia harus tetap membawa Caramel ke ruang operasi.


Dokter kandungan Caramel juga masuk ke ruangan itu setelah mendengar bahwa Rafka mengalami kejang karena alergi terhadap kafein. Ia tahu bagaimana perjuangan mereka untuk memiliki seorang anak lagi setelah kematian Arnesh. Lalu sekarang Rafka harus mengalami syok anafilaktik yang bisa merenggut nyawanya kapan saja.

__ADS_1


"Saya yakin Pak Rafka akan baik-baik saja, setelah sadar dia akan melihat dua bayinya yang menggemaskan." Dokter itu duduk di kursi dekat ranjang Caramel, ia mengusap paha Caramel pelan untuk memberi ketenangan karena jika tekanan darah Caramel tinggi maka mereka tidak bisa segera melakukan tindakan operasi.


*******


Caramel kembali ke ruangan dingin yang terang benderang dengan lampu berukuran besar di tengah ruangan. Harusnya ia berbahagia karena sebentar lagi akan bertemu dengan buah hati yang ia tunggu-tunggu kehadirannya. Seharusnya Caramel tersenyum meski tegang karena bayi yang selama ini hanya bisa dilihat di layar USG sebentar lagi akan ada dihadapannya. Harusnya Caramel bahagia karena akan memeluk Pineapple. Namun wajah Caramel datar saat beberapa dokter menyapanya di ruang operasi, pandangannya kosong.


Jangan takut, ada aku


Asal kamu nemenin aku terus


Tentu saja


Caramel sedikit mengalihkan pandangan saat melihat dokter mulai menyayat perutnya dengan pisau bedah melalui pantulan lampu di atas perutnya, ia tersenyum miris, Rafka mengingkari janjinya.


Mama Caramel yang menggantikan Rafka terus mengusap rambut Caramel. Ia berusaha menahan tangis sekuat mungkin agar tidak membuat Caramel lebih sedih. Beberapa kali ia juga mencium kening Caramel. Rasanya ia ingin mengambil semua penderitaan Caramel hanya untuknya.


Caramel tak bisa melihat dengan jelas apa yang sedang dokter lakukan sekarang pada perutnya karena terhalang selambu hijau yang membatasi antara tubuh bagian bawah dan kepalanya. Caramel hanya melihat banyak darah yang keluar dari perutnya dari pantulan lampu.


Suara tangisan memecah keheningan di ruangan luas dan terang tersebut setelah kurang lebih 15 menit dokter melakukan prosedur bedah. Dokter mengangkat bayi pertama yang menangis kencang begitu terkena udara luar.


"Laki-laki." Ucap dokter setelah memperlihatkan bayi itu pada Caramel.


Tak terasa Caramel tersenyum bersamaan dengan air yang meleleh dari sepasang matanya.


"Narel." Gumam Caramel.


Sesaat kemudian bayi kedua juga berhasil dikeluarkan, tangisannya tak kalah kencang seperti sang kakak.


"Perempuan, paket lengkap." Dokter memberikan bayi berjenis kelamin perempuan itu kepada salah satu perawat yang berada disana untuk dibersihkan.


"Binar." Caramel tersenyum makin lebar.


"Selamat sayang." Mama mencium pipi Caramel.


Dokter meletakkan Narel di atas dada Caramel untuk merasakan kehangatan pelukan ibu untuk pertama kalinya.


"Terimakasih Narel, kamu bayi yang kuat." Caramel menyentuh rambut lebat Narel. Tadinya tangis Narel memenuhi ruangan tersebut tapi perlahan tenang setelah berada di pelukan Caramel.


"Siapa nama mereka?" Tanya mama karena dari awal Caramel dan Rafka merahasiakan nama Pineapple begitupun dengan jenis kelaminnya.


"Narel dan Binar, keduanya memiliki arti yang sama yakni bercahaya, Rafka yang memberi mereka nama itu."


"Lihat Binar masih menangis, pasti dia juga ingin berada di pelukanmu."


Caramel harap tangisan kuat mereka bisa membangunkan Rafka saat ini agar kebahagiannya terasa lengkap.


"Semuanya sehat dan lengkap." Ucap dokter.


Setelah Narel cukup tenang, Binar juga diletakkan di atas dada Caramel secara bergantian. Caramel mengecup tangan mungil Binar yang gemetar.


"Mama peluk biar hangat ya." Mengusap-usap lembut punggung Binar agar berhenti menangis. Semua ini terasa seperti mimpi karena Caramel bisa memiliki dua anak sekaligus. "Nanti Papa gendong kamu juga ya sayang." Caramel berusaha tersenyum meski sedang dilanda kesedihan mendalam karena Rafka tak ada disini bersamanya. Caramel berdoa semoga Rafka baik-baik saja saat ini.


Pineapple sudah benar-benar hadir di dunia tapi kenapa justru kamu nggak ada disini, Pa?


Caramel memejamkan mata karena pandangannya tiba-tiba kabur, ia mendengar beberapa dokter yang ada disana memanggil namanya tapi matanya terlalu berat untuk dibuka. Tubuh Caramel seperti melayang tanpa beban. Ia ingin tidur sebentar lalu terbangun dengan Rafka di sampingnya.

__ADS_1


__ADS_2