Suamiku Bukan CEO

Suamiku Bukan CEO
Dua Puluh Empat


__ADS_3

"Ka, ini bagus nggak?" Caramel menunjukkan layar ponselnya kepada Rafka yang sedang menampilkan sebuah jumper bayi berbentuk lebah.


"Bagus." Rafka kembali fokus mencukur rambut halus pada rahang dan dagunya.


"Aku beli ini ya."


"Untuk apa?"


"Untuk anak kita nanti." Seru Caramel bersemangat, padahal seminggu yang lalu ia baru selesai datang bulan. Namun Caramel sudah terlalu siap menyambut kehamilannya nanti.


"Kamu belum hamil." Balas Rafka tanpa melihat Caramel yang masih memegang hair dryer di tangan kiri sedangkan ponsel di tangan lainnya.


Caramel meletakkan ponselnya dengan keras di atas meja rias dan kembali menghidupkan hair dryer melanjutkan aktivitasnya yang sempat tertunda yakni mengeringkan rambut. Caramel kesal karena Rafka masih saja datar, ini hampir satu bulan sejak mereka menikah tapi sang suami tetap seperti itu. Caramel bingung harus dengan cara apa lagi agar Rafka berubah menjadi lelaki manis seperti pada film dan novel bergenre romantis.


Rafka masuk ke kamar mandi dan menutup pintu. Caramel mengerucutkan mulutnya melihat kepergian Rafka, tidak peduli walaupun belum hamil ia akan membeli semua pakaian bayi yang dilihatnya baru saja. Caramel akan menghabiskan gajinya bulan lalu untuk membeli pakaian tersebut.


"Dasar robot." Gerutu Caramel seraya mengoleskan sunscreen di seluruh wajahnya sebelum memakai rangkaian make-up nya. Walaupun bukan termasuk istri yang pandai memasak, Caramel amat mahir soal merias wajah. Caramel selalu membela diri dengan mengatakan, suami tak hanya butuh makan tapi juga membutuhkan kesenangan batin dengan melihat istri tampil cantik.


"Hah, apaan nih!" Caramel terkejut melihat pantulan dirinya di depan cermin, terdapat bekas merah pada lehernya. "Ampuuun!" Tangan Caramel menggosok-gosok bekas merah tersebut tapi itu percuma.


"Sejak kapan ada beginian sih." Ia tidak ingat kapan Rafka menciumnya hingga meninggalkan bekas.


Caramel bingung bagaimana cara menghilangkan bekas ciuman tersebut sedangkan ia harus menggulung rambutnya ke atas, itu sudah peraturan dari kantor. Tidak mungkin ia membiarkannya, Meli dan Sani pasti akan mengejeknya habis-habisan.


Pandangan Caramel tertuju pada deretan concealer dengan berbagai merek miliknya, "Urban Decay cintaku, bantulah Caramel yang manis untuk menutupi bekas ciuman robot ini." Ia menggigit bibir bawahnya seraya membuka tutup concealer tersebut dan mengoleskan pada bekas merah di lehernya.


Bekas ciuman di leher Caramel sudah tertutupi oleh concealer yang ia gunakan. Bersamaan dengan itu Rafka keluar dari kamar mandi yang langsung disambut oleh pandangan sinis sang istri.


Rafka melewati Caramel begitu saja, ia tidak sadar telah mendapat pandangan tajam oleh sang istri.


"Rafka!" Panggil Caramel sambil memutar kursi melihat Rafka yang sedang mengganti pakaian.


"Hm?" Rafka berbalik.


"Kenapa kamu ninggalin bekas ciuman disini?" Caramel beranjak dari duduknya menghampiri Rafka, ia menunjuk lehernya.


"Dimana?" Rafka mengerutkan kening, ia tidak bisa melihat bekas apapun disana.


"Udah aku tutupin pakai concealer, aku nggak mau ya kamu ninggalin bekas lagi, malu tahu Ka!" Omel Caramel.


"Tapi kamu bisa tutupin pakai concealer lagi kalau aku mengulanginya." Balas Rafka dengan wajah datar, hanya sedikit senyum tipis yang sangat samar.


Caramel mendelik mendengar jawaban Rafka seperti manusia suci tak berdosa, ia menahan napas berusaha meredakan emosi yang hampir memuncak.


"Aku tidak tahu kalau ciuman bisa meninggalkan bekas."


"Karena sekarang kamu udah tahu, maka jangan lakuin lagi."


Alis Rafka terangkat, mulutnya sedikit mengerucut seraya berbalik untuk mengancingkan kemeja batik berlengan panjang yang ia kenakan. Rafka bingung, Caramel mengatakan sesuatu yang tidak mungkin ia lakukan.


"Itu tidak mungkin." Tukas Rafka setelah selesai mengancing kemejanya, ia juga memasang nametag di dada kanan dan berjalan melewati Caramel menuju meja rias. Ia menyisir rambutnya agar lebih rapi, tidak lupa menyemprotkan parfum di beberapa bagian.


Caramel menghentakkan kaki, ia mendorong Rafka agar menyingkir dari depan cermin. Ia duduk di depan meja rias untuk melanjutkan aktivitasnya merias wajah. Rafka menyembunyikan senyumnya melihat kekesalan Caramel, itu sangat menggemaskan untuknya.


"Itu naluri manusia, aku tidak bisa melakukannya." Lirih Rafka, ia merendahkan tubuhnya hingga setara dengan posisi Caramel. "Itu seperti memaksa seseorang untuk tidak memejamkan mata saat bersin."


"Lebay!" Semprot Caramel.


"Aku serius." Rafka menegakkan tubuhnya dan keluar dari kamar meninggalkan Caramel yang justru bengong di depan cermin. Caramel menelan salivanya dengan susah payah mengingat wajah serius Rafka baru saja.


"Ya tentu aja kamu serius, mana pernah bercanda, makanya sekali-kali tuh ngopi, makan mie instan biar hidupmu nggak lurus terus." Gerutu Caramel dengan suara pelan takut Rafka mendengarnya.


Sejak melihat Rafka menghajar Rama waktu itu, Caramel jadi takut membuat lelaki itu marah. Sungguh marahnya orang pendiam memang terasa lebih menakutkan, Caramel tidak ingin membuat Rafka marah lagi.

__ADS_1


"Bisa kah kau mengajariku cara menggunakan mesin ini?" Rafka melihat Caramel yang baru keluar dari kamar dan hendak duduk di kursi meja makan.


"Kamu mau ngopi?" Caramel urung duduk, ia menghampiri Rafka yang sedang memegang kapsul kopi.


"Tidak, aku ingin membuatkannya untukmu."


Caramel mengangguk mengerti, ia pikir omelannya baru saja didengar oleh Tuhan dan segera mengabulkannya. Caramel juga berpikir bahwa Rafka bisa cara menggunakan mesin pembuat kopi tersebut karena memang sang suami yang membelinya tapi ternyata beli bukan berarti tahu cara kerjanya.


"Kamu tinggal taruh ini disini." Caramel memasukkan kapsul kopi dalam mesin pembuat kopi dan meletakkan gelas. "Terus pencet deh." Katanya.


Beberapa saat kemudian kopi pekat mengucur perlahan memenuhi gelas yang sudah Caramel siapkan.


"Itu mudah sekali." Ujar Rafka, ia akan mempraktekkan nya besok pagi.


"Kamu mau?" Caramel mengacungkan gelas berisi kopi hangat kepada Rafka.


"Tidak." Rafka menggeleng beberapa kali dan segera duduk bersiap untuk sarapan.


"Sedikit aja, nggak akan kenapa-napa kok kalau cuma sedikit."


"Aku benar-benar tidak bisa minum kopi."


"Biar nggak ngantuk di kantor." Caramel mengelilingi meja dan duduk tepat di hadapan Rafka, ia masih memasang senyum lebar demi merayu sang suami agar mau minum kopi.


"Aku tidak pernah ngantuk di kantor." Tegas Rafka.


"Please, sedikit aja." Caramel mendekatkan gelas tersebut ke bibir Rafka.


Akhirnya Rafka menyerah dan menyesap perlahan cairan hitam tersebut. Seluruh tubuhnya terasa hangat saat kopi tersebut masuk ke perutnya dengan begitu cepat, itu memang enak menurut Rafka.


"Enak kan?" Caramel menarik tangannya untuk menyesap kopi tersebut.


"Iya." Rafka mulai menikmati sarapannya, kali ini Caramel tidak masak apapun, sang istri hanya memanaskan sisa ayam goreng KFC semalam. Rafka tidak bisa memungkiri bahwa kopi memang enak saat menyentuh permukaan lidahnya tapi ia tak yakin apakah tubuhnya akan merasakan hal yang sama.


"Ambil punyaku juga." Rafka memindahkan ayam miliknya ke piring Caramel, ia baru memakannya sedikit. Dengan senang hati Caramel menerimanya, kini Rafka hanya makan nasi dengan sambal cumi buatan mertuanya, itu sudah cukup nikmat baginya.


******


"Sampai nanti." Ujar Rafka saat Caramel hendak turun dari mobil.


Caramel berbalik, ia mendekat pada Rafka lalu mencium bibir lelaki itu sesaat. "Wajah kamu kenapa?" Ia menyentuh pipi Rafka yang berwarna kemerahan.


"Tidak apa-apa, mungkin bekas digigit nyamuk." Tidak mungkin wajahnya memerah hanya karena dicium Caramel.


"Mana ada nyamuk di apartemen kita." Caramel mundur dan menyampirkan tas pada bahunya. "Aku berangkat ya." Ia keluar dari mobil dan melambaikan tangan pada Rafka.


Mobil Rafka meninggalkan halaman bank setelah Caramel tak lagi terlihat. Biasanya Rafka akan berdiri cukup lama untuk melihat Caramel masuk ke tempat kerjanya. Namun kali ini ia tidak melakukan hal tersebut karena risih jika dilihat oleh dua teman Caramel yang juga bekerja disana.


"Car, gimana semalem?" Sani menyikut perut Caramel yang baru sampai.


"Apanya yang gimana?" Caramel mengerutkan kening, mengapa Sani dan Meli selalu kepo dengan urusannya.


"Berhasil nggak bikin anak nya?"


"Berhasil, gue pakai tepung yang paling bagus." Caramel mendengus, akibat ucapan Sani ia jadi ingat bekas ciuman pada lehernya.


"Sa ae lu." Meli mengerlingkan mata pada Caramel.


Mereka menempati posisi masing-masing, melebarkan senyum pada setiap nasabah yang datang. Bank selalu ramai dipagi hingga siang hari, sebagai teller mereka harus ekstra sabar melayani nasabah yang seringkali sulit diatur, ingin dilayani terlebih dahulu padahal sudah ada nomor antrean.


"Nomor sebelas." Seru Caramel menyebutkan nomor selanjutnya.


"Mau transfer mbak." Seorang remaja menyodorkan kartu ATM kepada Caramel.

__ADS_1


"Adek bisa transfer lewat mesin ATM terdekat tanpa harus ke bank."


"Iya aku nggak bisa takut ketelen kartu nya."


Caramel tersenyum, polos sekali anak berseragam SMA ini, seperti ia dulu saat masih remaja.


"Kejadian seperti itu sangat jarang terjadi, sebutkan nomor brivanya." Pinta Caramel, gadis cantik berseragam SMA itu menuruti permintaan Caramel.


"Atas nama PT Airpay Internasional Indonesia, silahkan pin nya." Caramel melirik nametag di dada kanan gadis tersebut, tertulis Masha tanpa and the bear. Masha menekan 6 digit angka pin ATM miliknya. "Tangan kamu kenapa?" Tanya Caramel saat melihat ruam kemerahan pada lengan Masha.


"Iya, alergi kafein." Jawab Masha.


"Memang nya ada orang alergi kafein?"


"Ada lah, semalem habis minum kopi jadinya begini, tapi nggak apa apa udah biasa kok." Masha nyengir.


Caramel menyodorkan kembali kartu ATM milik Masha setelah selesai bertransaksi.


"Makasih kak." Tukas Masha seraya memasukkan kartu ATM ke dalam sakunya dan keluar dari bank dengan langkah ceria seperti remaja pada umumnya.


"Hp kamu bunyi tuh, ampe pening kepala gue dengernya, angkat gih." Ujar Meli pada Caramel.


"Udah lah biarin dulu." Caramel hendak memanggil nomor selanjutnya.


"Siapa tahu penting, suami lu kangen kali, baru satu jam udah kangen aja ya si Rafka." Meli menarik tangan Caramel agar segera menjawab telepon.


Caramel menurut, ia merogoh tas nya mengambil benda tipis disana. Ia mengerutkan kening saat melihat ada 8 panggilan tidak terjawab dari Rafka. Ah, Caramel tidak percaya kalau Rafka menelepon karena merindukannya, sungguh Rafka bukan lelaki seperti itu.


Caramel memutuskan untuk menelepon balik Rafka, butuh beberapa detik sampai akhirnya ada seseorang yang menjawab di seberang sana. Namun bukan suara Rafka yang terdengar melainkan orang lain.


"Car, Rafka di rumah sakit sekarang, dia sesak napas, kamu buruan kesini deh."


Caramel tertegun, itu suara Danu ia bisa mengenalnya.


"Rumah sakit Citra Medika."


******


Jantung Caramel berdegup kencang tidak karuan, rasanya seperti organ tersebut hendak melompat dari peradapannya. Wanita cantik bertubuh langsing dengan tinggi semampai tersebut berlari kencang di sepanjang koridor rumah sakit. High heels setinggi 7 centimeter dan rok span selutut yang Caramel kenakan sama sekali tidak membatasi ruang geraknya, ia tetap berlari secepat mungkin demi melihat keadaan sang suami.


Napas Caramel terengah-engah, satu jam yang lalu Rafka masih baik-baik saja, ia tak percaya sekarang lelaki itu berada di rumah sakit. Setahu Caramel, Rafka tidak mempunyai riwayat asma sebelumnya.


"Danu, mana Rafka?" Caramel tergopoh-gopoh menghampiri Danu di depan salah satu ruang rawat.


"Di dalam, tadi dia tiba-tiba sesak napas jadi kami panggil ambulan."


Caramel melihat ke dalam ruangan dimana terdapat beberapa perawat dan dokter disana, ia tidak bisa melihat Rafka dengan jelas karena terhalang oleh gorden yang menutupi jendela. Napas Caramel tertahan, ia terlalu terkejut dengan semua ini.


"Dia kenapa Dok?" Danu langsung bertanya saat dokter keluar dari ruang rawat, dua teman Rafka lainnya juga penasaran apa yang telah terjadi pada lelaki itu.


"Pasien mengalami syok anafilaktik akibat alergi."


Bagai disengat listrik, Caramel terkejut mendengar penjelasan dokter, tadi ia memaksa Rafka minum kopi. Caramel pikir Rafka akan baik-baik saja, itu hanya kopi. Namun ternyata efek nya bisa separah ini. Cairan bening mengalir dengan sendirinya membentuk anak sungai di pipi mulus Caramel, ia menyesal telah melakukan ini kepada Rafka.


"Dia sudah memuntahkan semua makanan, itu lebih baik."


"Saya nggak tahu kalau ternyata dia alergi kopi." Sesal Caramel.


"Untung saja pasien segera dibawa kesini dan ditangani dengan cepat, lain kali ingatkan dia untuk tidak mengkonsumsi sesuatu yang mengandung kafein terutama kopi, itu bisa mengancam nyawanya."


Caramel duduk di kursi, kaki-kakinya lemas tidak mampu menopang tubuhnya. Ia sangat menyesal telah memaksa Rafka minum kopi tapi Rafka baik-baik saja saat minum teh atau coklat, bukankah keduanya sama-sama mengandung kafein.


"Ayo masuk." Danu menarik tangan Caramel membawanya masuk ke ruangan Rafka.

__ADS_1


__ADS_2