Suamiku Bukan CEO

Suamiku Bukan CEO
Sembilan Puluh Satu


__ADS_3

Aroma bunga sedap malam membangunkan Caramel dari tidurnya yang baru beberapa jam. Caramel membuka mata dan pemandangan yang dilihatnya pertama kali adalah wajah tampan sang suami yang masih terlelap, senyumnya mengembang otomatis. Jemari lentik Caramel menyentuh pipi dan dagu Rafka.


Pria biasa yang nggak aneh-aneh.


Caramel ingat kesan pertama saat ia bertemu dengan Rafka 3 tahun yang lalu. Rafka memang sangat biasa untuk Caramel yang sudah pernah menghadapi masalah besar dalam hidupnya. Caramel pernah gagal menikah dengan cowok yang sudah dipacarinya 8 tahun. Itu seperti menjadi luka abadi dalam hati Caramel—bertemu Rafka membuatnya memiliki sensasi baru di hidupnya. Rafka benar-benar berbeda dari pacar Caramel sebelumnya.


"Sudah bangun?" Rafka tiba-tiba membuka mata.


Senyum Caramel semakin lebar, "aku bangunin kamu?"


"Tidak." Rafka ikut tersenyum tipis, ia memajukan tubuhnya memeluk Caramel. "Kenapa kamu tidur sebentar?"


"Bau sedap malam itu bikin aku pengen nyium terus." Caramel melirik bunga sedap malam yang kemarin ia letakkan di dalam vas kaca dekat jendela. Itu hanya alasan, sebenarnya Caramel tidak bisa tidur karena hari ini adalah jadwalnya melakukan operasi.


"Kau tidak sabar bertemu Pineapple?" Suara Rafka serak khas orang baru bangun tidur.


Caramel membelalak. Lihatlah pria lugu ini sudah bisa menyelami hati Caramel. Meski ada pepatah yang mengatakan dalamnya lautan bisa diukur dalamnya hati siapa yang tahu tapi Rafka telah menggunakan seluruh waktunya untuk memahami Caramel.


Kaum wanita memang sulit dipahami karena tak ada rumus pasti untuk mengetahui perasaannya. Bagi Caramel dulu Rafka adalah seorang suami kaku dan polos yang tidak peka. Namun Rafka terus berkembang setiap hari. Caramel seperti sedang melihat pertumbuhan seorang anak. Hari ini Rafka bisa tahu apa yang Caramel ingin makan lalu besok ia tahu arti pandangan Caramel saat ia sedang ganti baju dan banyak hal lainnya. Rafka selalu membuat Caramel tak sabar menanti hari esok.


"Jangan takut, aku disini." Rafka mengusap punggung Caramel yang melengkung karena perutnya semakin membesar. Itu sebabnya Rafka mengerti mengapa Caramel selalu mengeluh sakit punggung. "Semuanya akan baik-baik saja."


"Asal kamu nemenin aku terus." Caramel membenamkan wajahnya di dada bidang Rafka.


"Tentu saja." Rafka mengecup puncak kepala Caramel lama. "Kita pakai diffuser saja kalau bunga itu mengganggu tidur mu."


Caramel terdiam, ia hampir saja kembali terlelap karena terlalu nyaman berada di pelukan Rafka. Akhir-akhir ini Caramel memang lebih sering meletakkan bunga dari pada diffuser sebagai pengharum ruangan.


"Aku laper." Keluh Caramel


"Aku akan masak untukmu." Rayu Rafka karena wanita yang lapar itu sama seperti singa—bisa mengamuk kapan saja.


"Eh kamu ingat nggak kamu ngomong apa waktu malam pertama kita?" Caramel tiba-tiba mengingat sesuatu yang lucu saat malam pertama pernikahan mereka.


"Ngomong apa?"


"Kamu ngomong—" Caramel mengangkat wajahnya dari dada Rafka dan menatap sang suami, "mari melestarikan keturunan." Katanya menirukan gaya bicara Rafka saat itu lalu tertawa, betapa lugunya Rafka saat itu meskipun sampai sekarang keluguan itu tidak berkurang.


Rafka menahan tawa, "aku tidak bicara seperti itu."


"Ih nggak mau ngaku." Caramel tertawa melihat wajah Rafka memerah karena malu.


"Sudah jangan bicara itu lagi." Rafka kembali mendekap Caramel agar wanita itu tidak membicarakan hal memalukan tersebut. Kalau diingat sekarang Rafka akan sangat malu karena kalimat itu terdengar aneh.

__ADS_1


"Satu langkah lagi kita bakal melestarikan keturunan." Caramel masih belum puas menggoda Rafka. "Beberapa jam lagi sebelum ketemu our sweety Pineapple."


Hening. Rafka tidak lagi membalas kalimat Caramel, ia hanya mengusap-usap punggung Caramel hingga membuat wanita itu ingin tidur lagi.


"Mari ucapkan selamat pagi pada Pineapple." Rafka memiringkan tubuhnya menyangga kepala dan satu tangan.


"Selamat pagi Papa." Caramel menyingkap selimut yang dari tadi menutupi perutnya.


"Selamat pagi Pineapple sayang." Rafka mengusap perut mulus Caramel, perut yang selalu ia olesi dengan krim anti Stretch Mark setiap hari. "Nanti ketemu Papa dan Mama ya?"


"Aduh mereka bilang iya." Caramel merasakan gerakan mereka cukup kuat hingga air matanya keluar. Itu adalah sakit yang membuat Caramel menangis sekaligus tertawa.


"Pineapple aktif sekali, kamu baik-baik saja kan?" Rafka beranjak dari posisi tidur melihat Caramel dengan wajah khawatir.


"Mau peluk." Caramel merentangkan tangannya dan langsung disambut oleh Rafka.


"Aku akan mengajak mereka bicara lagi setelah berada di luar karena saat itu mereka tidak akan membuat perutmu sakit lagi."


Caramel mengangguk, ia mencium pipi Rafka sesaat.


"Nanti Kayla dateng mau bawain kue, dia baru aja bikin dessert box karena sekarang lagi populer."


"Kayla semakin berkembang seperti mu."


"Kita bakal jadi orang pertama yang nyoba kue Kayla, ayo bangun, hari ini aku yang bikin sarapan." Caramel mengurai pelukan meski sebenarnya ia ingin berlama-lama berada di pelukan hangat sang suami. Melihat langit di luar sana semakin cerah membuat Caramel harus melawan rasa malasnya sendiri.


"Salad sayur mau nggak dikasih irisan telur rebus di atasnya." Caramel melongokkan kepalanya. Entah itu bisa disebut memasak atau tidak.


"Boleh." Rafka mengangguk.


Caramel kembali melanjutkan aktivitasnya mencuci muka dan sikat gigi. Sebenarnya apapun yang Caramel masak, Rafka tak pernah menolak karena Caramel juga sudah tahu makanan apa saja yang tidak bisa Rafka konsumsi.


******


Rafka duduk manis di kursi ruang makan menunggu Caramel selesai menyajikan salad sayur untuknya. Matanya berkilat-kilat ketika Caramel meletakkan satu mangkok penuh salad yang terdiri dari selada, wortel, tomat ceri, mentimun dan irisan bawang merah serta telur.


"Kelihatannya enak ya, aku pakai thousand island yang kemarin kita beli di PIM." Caramel duduk di samping Rafka.


Rafka memakan salad itu sesendok dan mengunyahnya perlahan, perpaduan selada segar dan tomat serta dressing sangat enak saat menyentuh permukaan lidah. Meski Caramel membuat ini setiap hari Rafka tak akan bosan. Mungkin itu sebabnya Caramel mengatakan bahwa Rafka adalah orang yang monoton. Caramel tak perlu repot-repot memikirkan masakan yang bervariasi setiap hari.


"Enak banget." Puji Rafka setelah mengunyah suapan pertama lalu suapan kedua ketiga dan seterusnya, Rafka tak bisa berhenti.


Caramel ikut memakan salad miliknya dengan porsi yang lebih sedikit karena ia tidak terlalu suka salad sayur seperti itu. Namun setelah menikah dengan Rafka sepertinya Caramel sedikit tertular gemar makan sayur.

__ADS_1


"Aku mandi dulu ya." Caramel meninggalkan ruang makan, ia harus siap-siap mandi dan berdandan seperti seorang selebgram atau artis saat hendak melahirkan, mereka tak akan melupakan penampilan.


Tadi malam Rafka sudah memasukkan semua barang-barang keperluan milik Caramel dan dua bayi mereka ke dalam mobil. Mulai dari pakaian bayi, selimut, handuk dan pakaian ganti untuk Caramel. Karena akan ada dua bayi maka mereka juga menyiapkan semua barang masing-masing dua.


Bel apartemen berdenting dua kali, Rafka beranjak dari duduknya untuk membuka pintu.


"Mama, Papa." Rafka menyapa mertuanya.


"Kamu udah sarapan?" Mama Caramel masuk terlebih dahulu disusul suaminya yang membawa paper bag berisi makanan untuk Caramel dan Rafka.


"Saya sedang sarapan Ma."


"Sarapan sama apa?" Mama Caramel melangkah ke ruang makan setelah mengambil alih paper bag.


"Caramel membuat salad sayur." Rafka mengekori mertuanya karena ia belum selesai makan.


"Sudah Mama duga kalau Caramel hanya akan membuat satu macam makanan untuk mu makanya Mama bawa banyak masakan untuk kalian."


"Bagaimana kalau makanannya dibawa ke rumah sakit saja Ma soalnya kami sudah makan."


"Beneran?" Mama Caramel melihat Rafka yang dijawab anggukan oleh menantunya tersebut. Ia tersenyum, betapa ia merasa bersyukur karena Caramel menikah dengan suami seperti Rafka yang tak pernah menuntut istrinya untuk memasak banyak jenis makanan. Percayalah bahwa memikirkan masakan apa yang akan dibuat hari ini, besok atau lusa itu membuat seorang istri stres.


"Caramel dimana?"


"Caramel mandi Ma, mungkin sudah selesai."


"Kalau gitu Mama samperin dulu ya." Mama Caramel meninggalkan dua laki-laki tersebut menuju kamar.


"Papa mau minum kopi? biar Rafka buatkan." Tawar Rafka karena mereka punya banyak stok kapsul kopi disana. Akhir-akhir Caramel mengurangi kebiasannya minum kopi sesuai saran dokter.


"Papa bikin sendiri aja, kamu lanjutin makan." Papa Caramel membalikkan badan melihat mesin kopi di hadapannya. Dari dulu ia penasaran ingin membuat kopi menggunakan mesin tersebut dan baru sekarang mendapat kesempatan.


Sementara itu mama Caramel membantu sang anak semata wayang mengeringkan rambut setelah mandi. Sudah lama sekali mereka tidak melakukan ini sejak Caramel menikah.


"Mama, Caramel minta doa Mama supaya operasi Pineapple lancar serta semuanya sehat dan sempurna." Caramel membalikkan badan setelah mama nya mematikan hair dryer.


"Mama dan Papa akan selalu mendoakan kalian." Mama mengecup kening Caramel lalu pipi kanan dan kiri.


Tak terasa air mata Caramel meleleh ketika mama nya memberi kecupan.


"Selamat menjadi Ibu lagi sayang." Lirih mama Caramel. "Semoga operasinya berjalan lancar ya, kami akan selalu ada untuk mu."


"Makasih Ma." Suara Caramel tercekat, ia mengusap hidungnya yang ikut berair. "Maaf kalau selama ini Caramel banyak salah sama Mama."

__ADS_1


"Jangan bicara seperti itu, kamu sudah jadi anak yang baik untuk kami." Mama Caramel ikut menangis, ia tak kuasa menahannya. Itu adalah tangisan haru karena sebentar lagi ia akan bertemu dengan dua cucunya sekaligus. "Baik-baik ya cucu Oma." Ia merendahkan tubuhnya mencium perut Caramel dan mengusapnya lembut.


"Ganti baju gih." Mama Caramel menepuk bahu Caramel memintanya untuk mengganti bathrobe dengan pakaian longgar sebelum mereka berangkat ke rumah sakit.


__ADS_2