Suamiku Bukan CEO

Suamiku Bukan CEO
Tiga Puluh Delapan


__ADS_3

Aroma lemon menyeruak dari humidifier yang otomatis menyemprotkan uap air. Caramel bilang alat tersebut tak hanya bisa mengeluarkan aroma menenangkan tapi juga untuk menjaga kelembaban udara. Sepertinya itu memang baik untuk kesehatan jadi aku mengaktifkannya setelah cukup lama tidak digunakan. Aku melakukan cara apapun agar Caramel kembali tenang setelah kejadian di depan apartemen tadi.


Caramel sudah tidur, entah ia benar-benar tidur atau hanya memejamkan mata. Aku sudah mengganti pakaiannya dengan piyama longgar yang biasa ia kenakan saat di rumah. Dari pada celana ketat aku lebih suka jika ia mengenakan pakaian longgar—atau tidak berpakaian sama sekali—maksudku, suami mana yang tidak suka pada istrinya disaat seperti itu. Aku tidak mesum, aku hanya bicara tentang realita.


Aku ikut naik ke atas ranjang menatap wajah Caramel yang terlihat sendu, jejak air mata masih begitu nampak di wajah cantiknya. Tanganku terulur menyibak rambut yang menghalangi sebagian wajahnya.


"Kamu tidur?" Tanyaku memastikan, Caramel paling susah dibangunkan jika sudah terlelap. Jika tak ada jawaban berarti ia memang tidur.


Caramel menggeleng, ia meraba-raba bagian bawah bantal saat intro lagu Dynamite terdengar tidak terlalu keras—itu adalah nada dering ponsel Caramel satu bulan terakhir. Biasanya paling lama hanya seminggu karena Jane dan Kayla senang mengubahnya.


"Mama nih." Caramel menyodorkan ponsel yang ternyata bukan miliknya, itu berarti hobi mengganti nada dering ponsel tak hanya dilakukan oleh Jane dan Kayla—Caramel juga ikut tertular dan ponsel ku jadi korbannya.


Aku mengubah posisi dengan duduk bersandar pada ujung tempat tidur sebelum mengangkat telepon dari mertuaku.


"Halo Ma." Aku mengawali dengan nada suara sedatar mungkin.


"Rafka gimana keadaan Caramel?"


Aku mengerutkan kening, kenapa mama mertuaku tiba-tiba bertanya soal keadaan Caramel, apakah ia tahu tentang kejadian siang ini.


"Caramel baik Ma, kenapa Mama tiba-tiba bertanya soal itu?"


"Mama lihat video di grub WA, Mama lihat ada perempuan menodongkan gunting pada Caramel." Suara mama Caramel terdengar panik, sepertinya ia juga menangis.


"Mama tenang aja, Caramel baik-baik aja kok, dia lagi tidur sekarang." Aku melirik Caramel yang sedang menatapku. Caramel terlihat tidak ingin bicara dengan siapapun jadi lebih baik aku memberitahu mama bahwa Caramel tidur.


"Mama dan Papa kesana sekarang untuk lihat keadaan Caramel."


"Mama dan Papa nggak perlu panik, aku pasti jagain Caramel dengan baik, dia hanya syok dan butuh istirahat."


Mama Caramel menghela napas frustrasi.


"Aku nggak akan biarin siapapun nyakitin Caramel."


"Ya udah kalau gitu."


"Nanti Caramel biar telepon Mama setelah dia bangun."


"Iya Ka, makasih udah jagain Caramel."


"Ini sudah tugasku Ma." Aku tersenyum walaupun lawan bicaraku tidak ada disini.


"Mama tutup dulu Ka." Sambungan terputus setelah aku menjawabnya iya.


"Mama tahu nggak kalau ada Rama?" Caramel langsung memberiku pertanyaan setelah aku meletakkan ponsel di atas nakas.


"Sepertinya nggak tahu, dia nggak bahas itu."


"Pasti Mama tambah panik kalau tahu Rama tinggal nggak jauh dari kita." Caramel ikut mengubah posisi, ia duduk menempelkan kepalanya pada dadaku.


"Lama-lama dia pasti tahu, kita nggak bisa terus menyembunyikannya." Aku mengusap rambut Caramel dengan lembut, aku meraba nakas mencari remote AC untuk menurunkan suhunya karena Caramel berkeringat. Di antara kami Caramel paling suka dengan suhu dingin sedangkan aku sebaliknya, tapi aku bisa mengalah untuknya.


Aku pikir tadi tidak ada orang selain kami berempat, rupanya penghuni apartemen lain juga ikut keluar bahkan merekam dengan ponsel lalu membagikannya di media sosial. Zaman sekarang dari pada menolong, orang-orang lebih memilih mengabadikannya dengan foto atau video. Teknologi semakin maju, berita akan tersebar jauh lebih cepat.


"Perutmu masih kram?" Tanganku turun ke punggung Caramel, biasanya ia cepat sekali tidur ketika aku mengusap punggungnya.


"Udah nggak."

__ADS_1


"Mau ku buatkan susu?" Tawarku. Seharusnya kami sudah berada di luar dan makan siang, tapi rencana tersebut gagal akibat keributan Rama dan istrinya.


"Kopi." Jawab Caramel pelan.


"Kopi?" Ulangku.


"Iya."


"Bukankah jatah mu hanya satu gelas sehari?"


Caramel mendongak melihatku, "nggak apa-apa lah, satu kali ini aja." Ia memasang wajah paling manis padaku, siapa yang mampu menolaknya jika ia meminta dengan ekspresi seperti itu. Selama ini aku tak pernah bisa bertahan dari godaan Caramel, ia memang penggoda yang andal.


"Baiklah." Jawabku akhirnya.


"Makasih ya." Caramel memberikan satu kecupan kecil di bibirku.


"Aku buatkan makan siang, kamu mau makan apa?"


Jangan terserah.


"Terserah."


Sejak menikah aku baru tahu kalau kata yang paling menakutkan adalah terserah. Aku paling takut dengan jawaban seperti itu. Pernah beberapa kali Caramel bilang terserah saat ku tanya makanan apa yang ia inginkan, aku pun membelikannya ayam goreng KFC kesukaannya lalu ia bilang, kok ini lagi sih, kemarin udah ayam goreng, nggak ada menu lain apa.


Kejadian serupa tidak hanya terjadi satu atau dua kali tapi beberapa kali hingga membuatku seperti trauma dengan kata terserah.


"Katakan saja makanan apa yang paling ingin kamu makan." Kataku berusaha mendapat jawaban selain terserah.


"Kamu pengen makan apa, aku sama kayak kamu deh."


"Mmh!" Caramel tiba-tiba menutup mulutnya, "denger namanya aja aku pengen muntah."


"Maaf." Aku mendekap Caramel karena merasa bersalah, sepertinya aku harus makan di luar karena Caramel sama sekali tidak bisa mencium aroma mie instan sejak hamil padahal sebelumnya itu adalah makanan favoritnya hingga lemari dapur penuh dengan mie instan berbagai rasa dan mereka. Namun sekarang keadaannya terbalik, aku tidak tahu apakah semua pasangan suami istri juga mengalami hal ini.


"Rafka." Panggil Caramel.


"Hm?"


"Kenapa dulu kamu suka ngikutin aku?"


"Maksud kamu?" Aku menunduk melihat Caramel yang tidak melihatku, apa maksud dari perkataannya.


"Kamu ngikutin aku kemanapun aku pergi, ya kan?"


Aku terdiam sejenak memikirkan jawaban yang tepat untuk menjelaskannya kepada Caramel, tapi dari mana ia tahu kalau aku dulu sering mengikutinya kemanapun. Sudahlah, aku hanya perlu menjawabnya secara jujur lagi pula kami sudah menjadi suami istri. Tak ada yang harus disembunyikan di antara mereka.


"Iya."


"Buat apa?" Caramel langsung mengangkat kepalanya dari dadaku, ia menatapku tajam dengan rasa penasaran yang membuncah.


"Aku suka mengetahui beberapa hal tentang kamu."


"Kamu pengecut banget sih, suka sama orang tapi nggak berani ngungkapin?" Caramel sedikit memiringkan kepalanya.


"Aku sudah melakukan itu."


"Kapan?" Caramel mengerucutkan mulutnya.

__ADS_1


Ting tong!


Aku membuka mulut hendak menjawab pertanyaan Caramel tapi tertutup lagi karena mendengar suara dentingan bel rumah yang memburu. Dari pada telinga ku berdenging karena bel rumah lebih baik aku segera mengecek siapa yang datang.


"Kamu tunggu disini." Kata ku sebelum keluar dari kamar, aku takut jika itu adalah istri Rama yang hendak melakukan penyerangan lagi.


Sebelum membuka pintu, aku mengintip dari lubang kecil berjaga-jaga jika itu istri Rama atau bahkan Rama. Alis ku terangkat melihat Jane dan Kayla, kenapa mereka datang? Caramel tidak bilang jika ada janji dengan mereka hari ini.


"Caramel mana?" Jane dan Kayla langsung menyerbu saat aku membuka pintu. Kebiasaan mereka memang seperti itu, jika pintu ini tidak memiliki kata sandi mungkin mereka sudah mendobraknya secara paksa agar bisa masuk.


"Kenapa kalian datang?" Tanya ku heran.


Tanpa menjawab pertanyaanku, mereka menerobos masuk dan memanggil nama Caramel. Mereka juga sudah melihat video Caramel yang beredar di media sosial. Jane dan Kayla tidak bisa tinggal diam melihat percobaan pembunuhan yang dilakukan istri Rama.


Percuma aku melarang mertuaku datang kesini jika akhirnya justru Jane dan Kayla yang datang. Aku tidak bisa mencegah dua sahabat Caramel yang selalu heboh itu. Aku hanya bisa pasrah, diam dan menunggu mereka hingga pulang.


Aku menyusul mereka ke kamar.


"Caramel, lu nggak apa-apa kan?" Jane menghampiri Caramel yang duduk di atas tempat tidur.


"Kalian kenapa tiba-tiba dateng?" Caramel heran melihat dua sahabatnya, "Lu pada kesambet setan apa sih, dateng-dateng langsung peluk gue?" Semprot nya.


"Car, kita lihat semua kejadian tadi, gue yakin itu pasti istri Rama yang lu ceritain waktu itu kan?" Kayla melepas pelukannya terlebih dahulu.


Caramel mengangguk, "jadi sekarang gue viral ya?"


"Pokoknya gue mau labrak tuh cewek yang sembarangan nyerang lu gitu aja." Jane ikut melepas pelukannya.


Caramel tertawa, "udah lah yang penting sekarang kan gue nggak apa-apa."


"Bisa-bisanya lu ketawa ya." Jane menjitak kepala Caramel geregetan.


Aku mencengkram pinggiran pintu, bisa-bisanya Jane menjitak kepala istriku. Kalau bukan sahabat Caramel, pasti sudah ku seret keluar karena sudah bersikap sembarangan kepada Caramel.


"Kalian tenang aja, gue pasti jaga diri baik-baik." Caramel berusaha menenangkan kedua sahabatnya walaupun aku yakin ia sendiri masih trauma dengan kejadian tadi.


Jane dan Kayla memandang Caramel ragu.


"Ada Rafka kok, dia pasti jagain aku dua puluh empat jam non stop." Caramel melempar tatapan kepadaku dengan senyum manis padahal beberapa saat yang lalu ia bilang aku pengecut. Aku tidak bisa menyangkal bahwa aku memang pengecut. Namun ketika aku mendapat kesempatan untuk memiliki Caramel, maka aku akan menjaganya dengan baik seumur hidupku.


"Udah kayak UGD aja." Celetuk Kayla.


"Tapi lu nggak bisa diemin tuh cewek gitu aja, pokoknya kalau ketemu gue bejek tuh dua orang terus gue sambelin!" Jane berkata dengan emosi yang meluap-luap.


"Aku sudah melaporkannya pada pihak apartemen, mereka akan bekerjasama dengan polisi." Sahutku, tiga wanita yang tadinya fokus mengobrol seketika menoleh kepadaku. Mereka bengong cukup lama, lalu berteriak keras hingga membuatku terkejut. Akibat bersama sangat lama mereka jadi kompak seperti itu.


"Wah nggak nyangka ternyata lu gerecep ya." Jane bangkit dari duduknya sedangkan Caramel menatapku penuh arti.


"Gue jadi tenang ngelepasin Caramel sama elu." Timpal Kayla.


Jadi selama ini mereka tidak tenang Caramel bersamaku?


Caramel menghampiriku—menatapku lama masih dengan senyum itu. Aku jadi salah tingkah karena ia memandangku sangat lama padahal ada Jane dan Kayla juga disini. Namun Caramel seolah tak peduli dengan itu, ia meraih leherku dan memberikan satu kecupan di bibirku, singkat tapi berhasil membuatku mematung. Jane dan Kayla bersorak atas aksi Caramel tapi aku terlalu kaget untuk mempedulikan mereka.


"Ternyata di balik wajah datar itu, kamu menyimpan kasih sayang yang besar banget buat aku, terimakasih sudah mencintaiku sejak dua belas tahun lalu hingga sekarang." Ucap Caramel dengan nada bicara lembut yang begitu mendalam masuk ke relung hatiku. Aku terpana mendapat serangkaian kata indah dari seorang Caramel yang terbiasa bicara ceplas-ceplos dan kasar.


"Umm aku ... " Aku tidak dapat berkata-kata, salah tingkah karena baru pertama kalinya dicium di depan orang lain. Tampaknya Caramel lebih berani saat ada orang lain di sekitar kami sedangkan aku sebaliknya, aku bisa menguasai Caramel ketika kami hanya berdua. "Aku beli makan siang dulu ya, kamu belum makan dari tadi." Aku langsung berbalik keluar kamar menahan gemuruh di dadaku yang begitu hebat. Kami bahkan telah melakukan hal yang lebih dari sekedar berciuman tapi kata-kata Caramel barusan benar-benar menyentuh hatiku, ucapanku tidak salah bahwa ia memang penggoda yang andal.

__ADS_1


__ADS_2