Suamiku Bukan CEO

Suamiku Bukan CEO
Sembilan Puluh Tiga


__ADS_3

Caramel termenung sangat lama di kursi yang terletak di samping ranjang Rafka, ia menyangga dagunya dengan satu tangan. Bahkan ia tidak berkedip karena jika Rafka bergerak maka ia akan langsung menyadarinya. Meski orangtua Caramel meminta Caramel istirahat setelah operasi tapi ia tak peduli dan tetap berada di ruangan ini.


Caramel meraih tangan Rafka dan menggenggamnya, "bangun Pa." Gumamnya.


Benar kata orang bahwa hidup seperti roller coaster kadang di atas kadang juga di bawah. Caramel pikir dulu saat memutuskan untuk menerima perjodohannya dengan Rafka hidupnya akan datar, garing dan mulus seperti kain satin yang baru disetrika. Namun Caramel salah besar, Tuhan tidak membiarkannya hidup dalam zona aman.


Hidup indah selamanya memang hanya ada di novel, mulai dari bertemu dengan pria kaya raya yang harusnya tak akan habis 7 turunan, menikah dan punya anak-anak yang lucu. Kehidupan Caramel sangat jauh untuk dikatakan sempurna. Caramel memang tak pernah mengimpikan hidup sempurna seperti di negeri dongeng. Namun setiap kali ia terpuruk dan berada di titik terendah Rafka selalu ada di sisinya tapi sekarang pria itu justru terbaring lemah di atas tempat tidur bahkan Caramel tak tahu kapan Rafka akan bangun. Bagaimana jika Rafka tak pernah bangun? Apakah ia juga tak akan memaafkan Kayla selamanya? Caramel tahu Kayla tidak sengaja melakukan itu tapi ia sangat marah pada kecerobohan Kayla. Mungkin jika Rafka hanya akan gatal-gatal setelah memakan sesuatu yang mengandung kafein, Caramel tak akan se-marah ini pada Kayla. Namun kali ini apa yang Kayla lakukan sangat fatal hingga membuat Caramel tak ingin melihat wajah Kayla lagi sebelum Rafka benar-benar bangun dan ditanyakan sembuh oleh dokter.


Dulu saat Rafka pingsan setelah tak sengaja kemasukan kafein, ia bisa siuman dengan cepat. Itu sebabnya Caramel tak bisa tenang sampai Rafka bangun.


"Caramel, kamu harus istirahat." Mama Rafka masuk ke ruangan, "biar Mama yang jaga Rafka."


"Nggak apa-apa Ma aku mau disini." Caramel enggan meninggalkan Rafka.


"Tapi kamu nggak boleh kelamaan duduk gini, dokter bilang kamu harus istirahat sambil tiduran." Mama Rafka mengusap rambut Caramel yang sedikit berantakan.


"Tapi gimana kalau Rafka tiba-tiba bangun?"


"Mama janji setelah Rafka bangun Mama akan langsung panggil kamu." Mama Rafka menguncir rambut Caramel dengan tali rambut yang melingkar di pergelangan tangannya agar tidak terlalu berantakan.


Caramel ragu, ia tetap ingin berada disini menemani Rafka. Lagi pula Narel dan Binar juga belum boleh keluar dari inkubator sehingga Caramel akan kesepian di ruangannya meski ada papa dan mama nya.


"Ini demi kebaikanmu, kami semua nggak mau kondisi kamu drop karena kurang istirahat."


Caramel terdiam, lagi-lagi ia harus menekan egonya dan mengalah pada keadaan. Caramel harus kuat demi Narel dan Binar seperti dulu ketika ia melawan dirinya sendiri setelah kehilangan Arnesh.


"Kalau gitu Caramel pergi dulu." Caramel beranjak dari duduknya, ucapan mama Rafka ada benarnya, ia harus banyak istirahat setelah operasi. Namun pada saat yang bersamaan ia juga ingin berada disini menemani Rafka. "Kalau Rafka udah siuman, Mama harus langsung kasih tahu aku ya."


Mama Rafka mengangguk mengulas senyumnya yang meneduhkan. Ia mengusap pundak Caramel, "Febi ada disana nemenin kamu biar nggak kesepian."


"Makasih Ma." Caramel menoleh sekali lagi pada Rafka sebelum keluar dari ruangan itu.


"Caramel."


Caramel spontan menoleh menghentikan langkahnya urung menutup pintu ruangan tersebut karena mendengar suara Rafka. Apakah ia berhalusinasi?


"Rafka, kamu sadar?" Mama Rafka mendekati ranjang Rafka karena ia juga mendengar suara itu.

__ADS_1


Dengan gerakan cepat Caramel ikut mendekati ranjang Rafka berharap mereka tidak salah dengar.


"Rafka." Caramel membelalak melihat Rafka membuka mata, ia terpaku karena setelah tidak sadarkan diri selama beberapa jam akhirnya Rafka siuman.


Rafka melihat Caramel sendu, ia tak tahu berapa lama dirinya pingsan tapi melihat wajah sang istri amat pucat ia menduga bahwa Caramel telah selesai dioperasi.


"Maafkan aku." Rafka menarik Caramel ke dalam pelukannya, "maaf aku mengingkari janjiku." Bisiknya, ia telah berjanji untuk menemani Caramel di ruang operasi seperti dulu. Namun kejadian itu sungguh tak terduga hingga membuat Rafka mengalami gejala serius terhadap alerginya. "Bagaimana keadaanmu?"


"Operasinya lancar, Narel dan Binar lahir sehat dan sempurna." Caramel tak bisa membendung air matanya lagi, itu adalah tangisan bahagia yang berlipat-lipat. Caramel kembali merasa utuh setelah Rafka siuman.


"Terimakasih Ma." Rafka mengecup kening Caramel lalu sepasang matanya dan pipi. Ia tak tahu harus dengan cara apa untuk berterimakasih tehadap Caramel karena telah berjuang keras melahirkan anak-anak mereka. Meski sebagian orang berpendapat bahwa seorang wanita tak bisa disebut menjadi ibu yang sesungguhnya jika tidak melahirkan normal, tapi bagi Rafka dengan cara apapun wanita melahirkan maka mereka telah menjadi ibu. Sebab keduanya sama-sama membutuhkan perjuangan dan usaha yang keras.


"Makasih Ma." Rafka juga memeluk mama nya, orang yang pertama kali dilihatnya saat baru siuman beberapa saat lalu.


"Aku ingin melihat Narel dan Binar."


"Mama panggil dokter dulu setelah itu kita lihat Narel dan Binar sama-sama." Mama Rafka meninggalkan ruangan itu untuk memanggil dokter.


"Narel mirip kamu." Caramel duduk di kursi yang tadi ia duduki, ia meletakkan kepalanya di dada Rafka dan memeluknya.


"Apa Binar mirip denganmu?"


"Lalu?"


"Sebenarnya mereka berdua mirip kamu, mungkin itu balasan karena Arnesh mirip banget sama aku makanya sekarang Narel dan Binar sama-sama mirip Papa nya."


Rafka tersenyum lebar tidak sabar ingin menimang dua bayinya.


"Kamu dan Kayla tidak bertengkar kan?" Sebelum pingsan tadi Rafka mendengar Caramel memaki Kayla habis-habisan. Rafka tahu Kayla tidak sengaja melakukan itu, lain kali ia harus lebih selektif memilih makanan agar tidak terulang kejadian serupa. Rafka harus hidup sehat untuk Caramel dan anak-anaknya.


"Aku nggak mau denger nama itu."


"Baiklah." Rafka mengusap rambut Caramel tidak mau berdebat dengan sang istri.


Caramel dan dua sahabatnya jarang bertengkar, kalaupun terlibat perselisihan mereka tak akan saling mendiamkan dalam waktu yang lama. Rafka yakin kali ini Caramel tetap tak akan tahan mendiamkan Kayla.


Caramel mengangkat kepalanya ketika dokter dan perawat memasuki ruangan disusul mama Rafka.

__ADS_1


"Mama istirahat dulu ya." Pinta Rafka pada Caramel.


"Kamu sama Mama disini ya?" Caramel beranjak dari kursi.


Meski berat meninggalkan Rafka disini tapi ia bisa sedikit tenang karena sang suami telah melewati masa kritisnya.


"Aku pergi dulu." Caramel mencium kening Rafka sebelum pergi meninggalkan ruangan itu.


******


Setelah berada di inkubator selama 12 jam Narel dan Binar diperbolehkan keluar untuk disusui langsung oleh Caramel. Nanti mereka akan ditidurkan pada box bayi yang sebelumnya sudah disiapkan oleh pihak rumah sakit. Sementara Binar menyusu, Narel berada di gendongan Rafka yang duduk di atas kursi roda masih dengan selang infus yang terpasang pada punggung tangannya.


Melihat dua bayinya lahir dengan sehat rasa sakit Rafka menguap seketika. Rafka merasa sembuh sepenuhnya melihat kehadiran Narel dan Binar.


Dulu Rafka pernah berpikir untuk tidak akan pernah menikah dan hanya memberikan seluruh hidupnya untuk mama dan Febi. Namun Tuhan begitu baik mempertemukan Rafka dan Caramel melalui jalan perjodohan dan memberi mereka keturunan.


"Besok Caramel sudah boleh pulang." Ujar mama Caramel yang duduk di atas ranjang khusus pengunjung.


"Kamu udah boleh pulang belum?" Tanya Caramel pada Rafka.


"Semoga sudah boleh." Jawab Rafka tanpa mengalihkan pandangan dari Narel.


"Tuh lihat Ma sebentar lagi Rafka pasti bakal cuekin aku terus." Caramel mengadu pada mama Rafka.


"Rafka, lihat istri kamu kalau bicara." Omel mama Rafka.


Rafka mendongak menahan senyum, ia melihat Caramel menjulurkan lidah kepadanya. Caramel memang paling suka mengadu pada mertuanya bahwa di antara mereka dirinya lah yang lebih mencintai Rafka. Padahal sebenarnya Rafka jauh lebih bucin atau budak cinta—istilah zaman sekarang.


"Ma, aku selalu melihatnya dengan penuh cinta." Balas Rafka.


"Bohong Ma." Caramel menggeleng.


"Caramel udah ah jangan godain suami kamu terus." Tegur Mama Caramel. Ia turun dari ranjang untuk mengambil alih Binar yang sudah terlelap di gendongan Caramel.


"Sini giliran Narel." Caramel merentangkan tangannya untuk menggendong Narel.


"Untungnya air susu kamu lancar." Mama Rafka mengambil alih Narel untuk memindahkannya ke gendongan Caramel.

__ADS_1


"Rafka selalu ngingetin Caramel untuk tidak lupa minum vitamin." Ujar Rafka bermaksud menunjukkan bahwa ia juga sangat mencintai dan memperhatikan Caramel tak seperti yang Caramel katakan.


Caramel mencibir, ternyata Rafka juga bisa membalasnya.


__ADS_2