Suamiku Bukan CEO

Suamiku Bukan CEO
Lima Belas


__ADS_3

Pagi ini Caramel mengajakku berenang di kolam rooftop, dari semalam ia membahas soal ini denganku. Katanya ia sudah lama tidak pergi ke waterpark untuk berenang. Ini hari terakhirku cuti jadi ku turuti saja kemauannya padahal sebenernya aku khawatir jika Caramel akan bertemu dengan mantan pacarnya, Rama. Kini aku yakin Rama juga tinggal di apartemen ini, bahkan ruangan kami bersebelahan. Kemungkinan untuk bertemu sangat besar.


Aku takut Caramel kembali jatuh cinta dengan Rama, aku tahu bagaimana kisah mereka. Caramel dan Rama menjalani hubungan sejak kelas 10, itu sekitar 8 tahun hingga akhirnya memutuskan untuk menikah. Jangan tanya mengapa aku tidak berani hadir di tengah-tengah mereka. Aku tahu persis seperti apa Caramel mencintai Rama, jika aku tiba-tiba datang tentu Caramel akan langsung menolak ku.


Jika Caramel jatuh cinta lagi, ah tapi mereka sudah punya pasangan masing-masing. Andai itu terjadi aku tak akan membiarkan Rama merebut istriku. Jika Caramel memilih Rama, mungkin aku akan mengakhiri hidup saat itu juga.


"Ini sunblock nya." Aku menyodorkan tabir surya kepada Caramel sesampainya di kamar, aku baru saja membeli produk wajib sebelum berenang tersebut di Mall depan sana.


"Kok kamu tahu aku pakai merek ini?" Caramel melihatku. Aku memang tahu dari dulu, sejak kami masih SMA. Walaupun tidak saling mengenal tapi aku ingat hingga sekarang semua tentang Caramel yang sudah ku kumpulkan di memori sejak pertemuan pertama kami. Ketika Caramel menangis di bawah pohon trembesi karena takut dengan gelap. Aku terpesona sejak pandangan pertama pada Caramel, cahaya lilin yang mengenai wajahnya saat itu membuat ku tak bisa berkedip. Caramel sangat cantik, aku ingin menatapnya sangat lama. Sekarang aku bisa melakukan itu, saat ia tidur.


"Tentu saja aku tahu." Balasku.


"Cie kamu stalking aku ya selama ini?" Caramel menggodaku, ia menunjuk hidungku sambil senyum-senyum.


"Iya benar."


Caramel tertawa lalu duduk di atas ranjang untuk mengoleskan tabir surya pada lengan dan kaki. Pasti ia menganggap ku bercanda padahal aku tak pernah berbohong, apa Rama selalu membohongi nya sehingga ia tak mudah percaya pada orang lain.


"Sini aku pakein kamu juga." Caramel menarik tanganku agar duduk di sampingnya. "Tangan kamu lembut banget sih, pakai lotion apa selama ini?" Caramel menelusuri sepanjang lenganku dengan jemarinya.


Aku berdehem saat tenggorokanku terasa tercekat, "tidak pernah pakai lotion."


"Aku suka." Ia mengusap-usap punggung tanganku.


"Jangan seperti itu."


"Kenapa?" Ia melihatku.


"Itu membangkitkan sesuatu."


Caramel langsung melepas tanganku dan beranjak, ia meletakkan tabir surya tadi di atas meja rias bersama alat make-up nya yang lain. Diam-diam aku tersenyum melihat semburat merah pada wajahnya.


"Gitu aja langsung nafsu." Aku dengar ia menggerutu pelan. Bukankah hal normal jika laki-laki seperti ini. Ia mengoleskan tabir surya yang lain untuk wajahnya.


Aku beranjak menghampirinya yang sedang duduk di depan meja rias.


"Kenapa kesini?" Ia melihatku lewat cermin. "jangan macem-macem ini masih pagi."


"Aku hanya ingin melihatmu."


"Ini pakai sendiri." Ia menyodorkan tabir surya yang baru dipakainya kepadaku.


"Kenapa tidak mau memakaikan?"


"Nanti kita nggak jadi berenang." Ketusnya.


Aku tersenyum, Caramel adalah sosok mengagumkan dan menggemaskan yang bercampur menjadi satu.


Menurut BMKG cuaca hari ini cerah dengan suhu tertinggi 32 derajat celcius, lumayan nyaman untuk berenang. Langit berwarna biru tanpa awan, angin terasa panas menerpa kulit.


Ada beberapa penghuni apartemen lain yang juga sedang berada di kolam rooftop ini. Mataku meneliti seluruh penjuru, jika ada Rama aku akan langsung membawa Caramel pergi.


"Mbak, yang kemarin bantu saya kejar Ara ya."


Seorang perempuan menghampiri kami, ia juga mengenakan baju renang yang sudah basah.


"Oh, iya." Caramel mengangguk, "kita belum sempat kenalan." Ia mengulurkan tangan.


"Aku Adena, panggil aja Dena." Perempuan bernama Adena itu menjabat tangan Caramel.


"Aku Caramel, ini suamiku Rafka." Caramel menggandeng tanganku.


Aku hanya mengulas senyum tipis tanpa menjabat tangannya. Aku tidak mau kami menjadi akrab dengannya.


"Saya tinggal di unit 206." Katanya.


"Oh ya? kami di 208." Caramel tersenyum cerah, sepertinya ia senang berkenalan dengan tetangga baru ini. "Nama anak kamu cantik sekali, Ara."


Bukankah itu seperti nama tokoh kartun perempuan berbahasa Melayu yang sering ditonton oleh Zico.


"Iya, itu gabungan antara nama Papa nya dan namaku."


"Wah menarik sekali."


"Ayo segera berenang, sebelum matahari terlalu tinggi." Ajak ku pada Caramel.


"Kami permisi dulu Dena, nggak apa-apa kan aku panggil Dena sepertinya kita seumuran."


"Iya nggak masalah kok, sampai ketemu lagi." Ia berjalan meninggalkan kolam renang.


Aku menceburkan diri lebih dulu disusul Caramel, ia tersenyum lebar memeluk leherku.


"Enak banget rasanya, lama nggak main di kolam renang." Katanya. "Ayo menguji kecepatan renang kita, yang kalah harus masak untuk makan siang."

__ADS_1


"Kalau kalah, aku akan traktir makan di Pizza Hut."


Kami naik ke pinggiran kolam lalu bersiap-siap menceburkan diri dalam hitungan ke-tiga. Sepertinya aku akan kalah karena setahuku Caramel jago berenang sejak kecil.


Byurr!


Kami menceburkan diri bersamaan ke kolam, Caramel berenang dengan lincah tak jauh di depan ku. Aku mencium aroma pizza sebab Caramel semakin jauh dan berpapasan denganku hampir ke pinggir kolam.


Sekitar dua detik setelah ia naik ke pinggir kolam, aku baru bisa menyusulnya.


"Yeay makan pizza!" Pekiknya sambil melompat-lompat.


Aku ikut naik, "jangan melompat, kaki mu basah." Ujar ku.


Caramel langsung menghentikan aktivitasnya, ia duduk di pinggir kolam dengan kaki menggantung. Aku duduk di sampingnya, mengagumi kecantikan Caramel dari dekat. Rambut hitamnya yang dikuncir kini basah, dulu aku hanya bisa melihatnya dari jauh. Sekarang bahkan kami sedekat ini, jika ini mimpi aku tak akan pernah bangun.


"Hari ini Danu mau kesini, kita ajak makan sekalian."


"Cuma sendiri?" Caramel melihatku.


"Sama istrinya."


"Anak-anaknya nggak diajak?"


"Tidak."


"Eh, ayo foto." Caramel berdiri, berjalan ke arah meja dimana kami meletakkan bathrobe disana. Ia kembali dengan ponsel di tangannya.


"Untuk apa?"


"Buat di-posting ke Instagram." Ia mengacungkan ponsel di depan kami. "Senyum Ka."


Aku tersenyum, ia berhasil mendapatkan beberapa foto dengan berbagai pose sedangkan ekspresi wajahku tidak berubah.


"Nama akun Instagram mu apa biar aku tag."


"Aku tidak punya."


"Apa!" Ia memekik, "kamu nggak punya Instagram ditahun 2020, ya ampun sayang kamu langka sekali." Ia mengusap pipiku. "Nanti aku bikinin ya di hp mu."


"Terserah Caramel."


"Fotoin aku ya." Caramel memberikan ponselnya kepadaku.


Caramel kembali menceburkan diri, ia berenang santai ke tengah kolam. Caramel begitu bersahabat dengan air, ia bisa berendam di bathub selama dua jam. Entah apa yang ia lakukan se-lama itu di bathub.


Aku mengambil beberapa foto nya dari belakang, hanya terlihat kepala dan setengah punggung dengan latar belakang langit dan gedung pencakar langit. Jangan meragukan kemampuan ku soal mengambil foto, aku suka memotret tapi menganalisa cuaca itu passion ku.


******


Restoran Pizza Hut cabang Grand Indonesia cukup padat pada jam makan siang, selama ini baru sekitar 3 atau 4 kali aku makan disini. Sedangkan Caramel bilang ia anak fast food dan makanan instan sejati, katanya ia tumbuh dewasa bersama dua jenis makanan tersebut.


Danu dan istrinya datang setelah 5 menit kami menunggunya. Tanpa buang-buang waktu lagi, kami memesan Regular Meat Lovers dengan crown crust, Beef Spaghetti, dan Chicken Wings serta Pepsi Cola untuk minumnya.


"Satu lagi, Personal Pepperoni Jalapeno dengan cheessy crust." Tukas Caramel saat waitress tersebut hendak meninggalkan meja kami.


"Baik, pesanan akan datang setelah lima belas menit." Katanya sebelum berlalu.


"Kok anak-anak nggak diajak?" Caramel melihat Danu dan Indi.


"Iya lagi sama Oma nya semua mbak." Jawab Indi.


"Apa Indi lebih muda dariku?" Caramel berbisik.


Aku mengangguk, setahuku Indi berusia 25 tahun sekarang. Setiap merayakan ulang tahun sang istri, Danu selalu mengundangku jadi wajar jika aku tahu usia nya sekarang.


"Kalian ada yang mau salad nggak?" Tanya Caramel.


"Nggak usah Mbak, kita udah pesen banyak." Indi menolak, tumben Danu belum bersuara.


"Kamu mau salad kan?" Kini Caramel melihatku. "aku ambilin kalau mau."


"Boleh." Aku mengangguk.


"Tunggu ya." Ia beranjak menuju salad bar.


"Wah gue nggak nyangka si santan instan bisa jadi istri yang baik buat elu." Suara Danu keluar setelah tidak ada Caramel, dasar penakut.


"Tidak sia-sia aku menunggunya sangat lama." Balasku.


"Tapi dia nggak tahu elu nunggu dia sampai karatan gini."


"Udah lah Mas, jangan dibahas terus kasihan Mas Rafka." Tegur Indi, ia memang istri shalihah yang selalu mengingatkan suaminya ketika salah. Jika tak ada Indi, pasti Danu aku lebih pedas lagi membully ku.

__ADS_1


Caramel kembali dengan satu mangkok salad sayuran, rupanya ia tahu kalau aku sangat menyukai sayuran.


"Indi, highlighter kamu bagus banget," Tukas Caramel, pandangannya mengarah pada Indi. Kata apalagi itu, aku sama sekali tidak tahu mengenai highlighter yang ia bicarakan. "Merek apa?"


Indi membelalak sebelum tersenyum lebar, "ini benefit Mbak."


"Aku juga suka pakai itu, tapi sekarang lagi males make-up." Caramel tersenyum lebar memperlihatkan deretan gigi nya yang rapi. Istriku sangat cantik walaupun tanpa make-up. "Aku biasanya pakai yang Watt's Up."


"Ini juga Benefit Watt's Up."


"Lain kali belanja make-up bareng yuk."


"Boleh Mbak."


"Siap-siap saldo ATM lu kosong." Timpal Danu dan melihat ke arahku.


"Gue belum pernah belanja make-up pakai ATM dia," Caramel sewot. "kalau mau istri cantik ya harus modal dong Bang!"


Aku menahan senyum, habislah Danu diomeli Caramel. Danu belum tahu saja istriku ini galaknya seperti apa.


Pesanan kami datang, perdebatan antara Caramel dan Danu otomatis terhenti karena kehadiran pizza berukuran cukup besar yang terlihat begitu menggiurkan. Topping daging ayam begitu melimpah mengeluarkan aroma khas menggunggah selera.


"Ini Rafka yang traktir kan?" Danu melihatku sesaat sebelum mulai mencomot pizza potongan pertama.


"Untung istri lu baik, kalau nggak gue suruh elu bayar sendiri." Sahut Caramel masih sewot.


"Sewot banget sih, lagi PMS lu."


Caramel tidak menjawab karena mulutnya penuh dengan pizza.


"PMS itu apa?" Aku melihat Danu dan Caramel bergantian tapi tidak ada yang menjawab. Danu nyengir sedangkan Caramel melotot, apa maksud dari dua ekspresi berbeda itu. Indi juga diam, ia makan pizza dengan kalem.


Sepertinya aku mulai mendapatkan banyak kosakata baru setelah menikah dengan Caramel, aku selalu mencari tahu setiap kata yang tak ku mengerti darinya.


Aku lihat Caramel gelisah setelah menghabiskan sepotong pizza dan hampir dua potong sayap ayam, ia meletakkan sepotong sayap yang baru digigitnya sedikit.


"Kenapa?" Aku memegang lengannya. "Ayo makan lagi."


Caramel menggeleng, ia menyeka keringat yang mengalir di pelipisnya tapi permukaan kulitnya sangat dingin.


"Aku habisin yang ini ya." Aku mengambil sayap ayam yang tidak jadi dihabiskan Caramel, ia menjawabnya dengan anggukan.


"Mbak!" Caramel mengangkat tangannya kepada salah satu waitress, "minta bill nya ya."


"Baik, sebentar." Waitress tersebut meninggalkan meja kami, aku mengelap tangan dengan tisu setelah menghabiskan ayam sisa Caramel baru saja.


"Aku balik duluan ya." Caramel beranjak, wajahnya pucat membuatku panik. Aku hendak menahannya tapi waitress datang membawa tagihan makan kami.


"Lah kenapa istri lu?" Tanya Danu.


"Aku juga tidak tahu." Aku memberikan uang cash kepada waitress itu.


"Apa hamil?" Indi berceloteh tiba-tiba.


"Kami baru menikah dua hari, kenapa secepat itu?" Aku terkejut, apa proses kehamilan secepat itu. Itu pelajaran IPA, mana aku tahu.


"Ya siapa tahu kan kalian nabung dulu selama satu bulan PDKT."


"Nabung apa?" Aku makin bingung.


"Hus Mas Danu nggak boleh bicara gitu." Indi menutup mulut Danu dengan tangannya.


"Ya udah gih susulin, takutnya dia pingsan di jalan, yang penting makanannya udah dibayar." Danu mengusirku dengan mengibaskan ayam yang dipegangnya.


"Makasih ya Mas udah traktir kami, sampaikan juga sama Mbak Cara." Timpal Indi, yang ini jauh lebih sopan dan Danu.


"Iya, aku duluan." Aku beranjak meninggalkan mereka yang masih lanjut menghabiskan sisa makanan. Aku berlari menuruni eskalator tapi Caramel sudah tak terlihat, cepat sekali ia menghilang. Ternyata selain jago berenang, sepertinya ia juga punya bakat lari cepat.


******


Rafka terburu-buru naik ke busway disusul Danu, ada beberapa kursi kosong. Mereka memilih kursi tepat di belakang Caramel dan dua temannya. Sejak kejadian Caramel menangis di bawah pohon itu, Rafka selalu merasa penasaran pada gadis kelas 10 tersebut.


Danu sebagai sahabat setia, selalu membuntuti Rafka kemanapun pergi. Mengingat ini pertama kalinya Rafka jatuh cinta maka Danu bertekad untuk selalu siap membantu saat Rafka kesulitan.


"Kita patungan aja beli sunblock ya." Suara Jane yang duduk di tengah-tengah Kayla dan Caramel.


"Kenapa sih kita harus pakai sunblock semahal itu, kan banyak yang murah." Kayla protes, sebagai pelajar ia keberatan membeli produk mahal.


"Ancol panas, kita harus pakai sunblock yang bagus biar nggak gosong, sejauh ini yang gue tahu sunblock bagus ya cuma Cetaphil."


"Dih emang lu diendorse sama Cetaphil?" Kayla meraup wajah Caramel yang kusam akibat olahraga tadi.


"Aamiin, semoga disegerakan." Caramel menengadah tangan mengaminkan ucapan Kayla.

__ADS_1


Rafka mencatat nama produk sunblock yang Caramel sebutkan baru saja, ia selalu membawa buku kecil untuk mencatat hal-hal penting seperti sekarang ini. Rafka yakin suatu saat ia membutuhkan hal ini untuk membantu Caramel.


__ADS_2