
Caramel POV
Aroma khas buku-buku lama seketika menyeruak saat aku membuka pintu salah satu kamar apartemen yang dialihfungsikan menjadi ruang kerja. Deretan buku tertata rapi di salah satu sisi dindingnya, 80% buku tersebut adalah milik Rafka. Aku sama sekali tidak gemar membaca, di wajahku memang tidak ada tanda-tanda kutu buku.
Aku bukannya menyukai aroma buku-buku ini, aku hanya bosan dan tidak tahu harus melakukan apa. Aku ingin keluar bersama Jane dan Kayla tapi semakin kesini kami sulit menentukan waktu untuk bertemu karena kesibukan masing-masing.
Rafka serius di sudut ruangan berkutat dengan laptopnya, bahkan ia tidak mengangkat wajahnya dari sana barang sebentar saat aku masuk ke ruangan ini. Aku ingin mengganggunya, ini akhir pekan kenapa ia harus bekerja dihari libur. Berapa gajinya hingga harus kerja bahkan saat hari libur. Gajinya cukup banyak untuk membeli apartemen sekelas Kempinski Residence. Ku akui gajinya memang jauh lebih banyak jika dibandingkan denganku. Namun untuk apa gaji banyak jika ia tidak punya waktu untukku. Tentu saja untuk membeli skincare mu yang harganya tidak bisa disebut murah. Dari mana suara itu berasal? Aku seperti sedang berperang dengan diriku sendiri.
Jemariku menyentuh deretan buku tersebut, biasanya pada film atau novel seharusnya aku akan menemukan foto lama yang terselip di salah satu halaman buku. Apa aku berharap menemukan foto lama ku yang bisa saja Rafka simpan selain foto acara perpisahan ku? Dadaku terasa hangat setiap kali mengingat betapa bucin nya Rafka padaku dulu.
Pandanganku menyipit melihat buku berukuran paling kecil di antara yang lain, ia terselip di antara buku-buku tebal milik Rafka lainnya. Aku sudah bosan melihat buku tebal di tempat kerja, jadi sebaiknya aku meminjam buku tipis tersebut walaupun tidak tahu apa isinya.
"Eh sorry-sorry!" Aku memekik spontan saat buku-buku di atas rak berjatuhan ke lantai saat aku berhasil menarik buku tersebut.
Aku melirik Rafka yang akhirnya mengangkat wajah dan melihatku terkejut, ia langsung bangkit berlari menghampiriku.
"Ada apa Caramel?" Katanya panik, "kamu nggak apa-apa?"
Aku menggeleng pelan, aku pikir ia panik karena buku yang sudah ditata rapi itu tiba-tiba berjatuhan tapi ternyata Rafka mengkhawatirkan ku. Aku menahan senyum, masa begini aja udah melayang sih Car, lemah banget lu!
"Kau membuatku terkejut." Rafka mengembuskan napas lega dan menarik ku.
"Aku nggak apa-apa, serius." Aku meyakinkan Rafka sekali lagi. Aku menyembunyikan buku tipis tersebut di belakang tubuhku. Kenapa aku harus melakukan itu? entahlah aku hanya penasaran pada isi buku tersebut karena penampilannya beda dari yang lain.
"Maaf aku sibuk kamu pasti bosan, ayo keluar setelah ini," Rafka berjongkok membereskan buku yang berserakan.
"Keluar kemana?"
"Kemana pun asal kamu nggak bosan." Jawab Rafka tanpa melihatku, senyumku tertahan, aku tidak boleh terlalu mudah dibuat tersanjung oleh Rafka. Lagi pula biasanya Rafka tidak peka pada perasaanku, hari ini mungkin ia kerasukan setan dari film horor yang ku tonton semalam sehingga ia jadi lebih peka.
"Ganti baju mu selagi aku menata buku ini kembali."
"Kenapa aku harus ganti baju?" Aku melihat pakaian ku sendiri, ini adalah baju paling nyaman seantero negeri. Piyama katun merah muda dengan motif garis di seluruh permukaannya, ini piyama favoritku—ah tidak—semua piyama adalah favoritku.
"Ganti dengan yang lebih panjang." Tegas Rafka tanpa melihatku, apalagi yang bisa ku lakukan selain menurut.
"Oke." Aku buru-buru keluar meninggalkan Rafka dan menutup pintu untuk ganti baju.
Tumben Rafka peka, ada untungnya aku menjatuhkan buku-bukunya kalau tidak pasti aku akan tetap bertahan di dalam kamar sampai jamuran, sampai Upin & Ipin lulus kuliah dengan predikat cum laude.
"Kalau nggak ada yang istimewa dari buku ini awas aja." Gerutu ku seraya membuka halaman pertama buku yang terlihat seperti buku tulis biasa tersebut tapi anehnya aku masih penasaran pada isinya. Aku mengunci closet room berjaga-jaga jika Rafka tiba-tiba masuk maka ia tidak akan tahu kalau aku mengambil buku miliknya.
Aku mengerutkan kening membaca isi halaman pertama.
Caramel Indira Aditama, 16 tahun sebentar lagi. Takut gelap. Cantik.
Senyumku perlahan mengembang membaca halaman berikutnya, jika dilihat sekilas itu hanya seperti coretan biasa. Namun semua isinya berhubungan denganku, mulai dari merek parfum, genre film, lagu hingga minuman Starbucks yang biasa ku pesan.
"Wah, dasar stalker." Aku makin semangat membuka halaman berikutnya.
Pantas saja Rafka mengetahui segala hal tentangku, ia mencatat semuanya di buku ini. Lalu kenapa Rafka tak pernah berani menampakkan dirinya di hadapanku, apa dia dulu sejelek itu? sepertinya tidak. Jika sekarang Rafka ku lepas di kerumunan pada wanita pasti tak akan ada yang bisa menolaknya.
Aku memejamkan mata berusaha mengingat sosok laki-laki yang memberiku lilin malam itu, aku ingin tahu seperti apa Rafka dimasa lalu.
"Caramel!"
__ADS_1
Aku terkesiap mendengar suara Rafka dari luar. Aku segera memasukkan buku catatan Rafka ke salah satu laci paling dekat.
"Belum selesai ya?" Suara Rafka semakin dekat.
Kenapa ia begitu cepat menata buku sedangkan aku belum sempat memilih pakaian yang akan aku kenakan.
Agar lebih cepat aku memilih celana jeans yang terletak di lipatan paling atas dengan atasan kaos lengan pendek. Aku tidak tahu Rafka akan mengajakku kemana. Awas saja kalau ia hanya mengajak ku berkeliling komplek apartemen sampai harus ganti baju segala, aku tidak akan memberinya jatah malam ini *eh.
"Celana mu tidak terlalu ketat?" Rafka melihatku, ia berdiri di depan pintu dan langsung memberi pertanyaan seperti itu. Apa sekarang aku juga tidak boleh pakai celana jeans? apa aku harus pakai daster?
"Kenapa emang?"
"Apa itu tidak akan membuat bayi kita terhimpit?"
Aku membelalak mengatup bibir sekuat tenaga agar tidak mengeluarkan tawa. Bisa-bisanya ia berpikiran seperti itu, perutku saja masih rata begini kenapa celana ini akan menghimpit bayi kami? tadinya aku ingin memeluk Rafka setelah keluar dari closet room karena tersanjung dengan buku catatan miliknya tapi setelah mendengar ucapan Rafka aku jadi ingin melempar wajah polosnya dengan remote AC yang kebetulan ada di dekatku.
"Yakin kita mau keluar?" Aku mengabaikan pertanyaan Rafka barusan, sungguh aku tidak bernafsu untuk menjelaskan tentang hubungan janin dan celana jeans yang sebenarnya tidak terlalu ketat ini.
"Tentu saja." Rafka mengangguk.
"Kerjaan kamu gimana?" Kenapa aku harus menanyakan itu, bagaimana kalau Rafka berubah pikiran dan kembali ke ruang kerjanya. Caramel, bodo banget sih!
"Nggak apa-apa, aku bisa menyelesaikannya malam ini yang penting kita keluar supaya kamu nggak bosan." Rafka mengulas senyum manis, manis sekali seperti biang keringat eh biang gula yang anehnya tidak menimbulkan efek samping berbahaya untukku.
"Kamu pengen kemana?" Rafka meraih kunci mobil yang digantung dekat pintu kamar.
"Laki-laki sialan kamu!"
Aku dan Rafka terkesiap mendengar suara jeritan wanita dari arah luar, mulutku yang tadinya terbuka hendak menjawab pertanyaan Rafka tertutup lagi. Kamu saling berpandangan sepersekian detik menerka apa yang terjadi di luar sana. Apartemen ini sangat luas, jarak antara pintu satu dengan yang lainnya juga cukup jauh, saking kerasnya suara tersebut sampai bisa menembus dinding apartemen kami. Jangan-jangan ia menggunakan pengeras suara.
"Rafka jangan." Aku menahan tangan Rafka yang hendak keluar.
Aku juga penasaran tapi tidak mau ikut campur dengan urusan mereka.
Kami baru saja hendak mengintip dari lubang pintu ketika sebuah benda tiba-tiba menghantam pintu apartemen disusul suara pecahan kaca.
"Mereka lempar pintu kita pake gelas?" Tanyaku terkejut sambil memandang Rafka yang sama sepertiku tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi di luar.
"Gara-gara cewek ini kamu jadi berubah sekarang Mas!"
Deg!
Aku pura-pura tidak tahu apa yang dibicarakan wanita itu padahal hatiku mengatakan bahwa ia sedang membicarakan ku. Walaupun jarang mengobrol tapi aku tahu kalau pemilik suara itu adalah Adena—istri Rama.
"Dena kamu tenang dulu, jangan buat keributan disini, orang lain bisa terganggu sama teriakan kamu."
Suara Rama membuatku semakin yakin mereka sedang ribut besar bahkan aku tidak tahu apa yang sudah mereka lemparkan pada pintu apartemen kami.
"Aku tidak bisa melihat apapun dari sini." Ujar Rafka, "kamu disini saja biar aku cek keluar."
"Ikut." Aku mengeratkan pegangan pada lengan Rafka, jiwa kepo ku meronta-ronta ingin segera melihat adegan dramatis yang sedang berlangsung di luar.
"Kamu disini aja, aku hanya sebentar." Rafka melepaskan tanganku, ia membuka pintu meninggalkan ku sendirian.
"Nah ini suaminya keluar, mana istri lu suruh keluar sini biar gue kasih pelajaran!"
__ADS_1
Tanganku spontan memutar kenop pintu mendengar suara Adena kembali memburu, apa maksudnya ia berkata seperti itu kepada Rafka. Pelajaran macam apa yang akan ia berikan padaku, aku sudah cukup belajar 12 tahun ditambah 4 tahun di perguruan tinggi. Apakah ia akan memberiku pelajaran cara merebut calon suami orang?
"Wah berani juga lu ya nunjukin muka depan gue!" Adena menunjukku dengan wajah penuh amarah begitu aku keluar. Bukankah barusan Adena yang minta aku keluar kenapa sekarang ia berkata seperti itu.
Aku melihat cairan berwarna merah keunguan berceceran tepat di depan pintu bersama dengan pecahan beling. Ternyata Adena melempar botol anggur ke pintu kami, sungguh ia sangat gegabah terlepas dari masalah yang menimpa mereka.
"Ada apa ini, selesaikan masalah rumah tangga kalian sendiri jangan sampai mengganggu ketenangan orang lain, apartemen ini bukan cuma milik kalian." Suara Rafka dingin tapi mampu membuat orang-orang yang mendengarnya merinding. Bahkan bulu kuduk ku ikut berdiri mendengarnya. Rafka tak pernah mengeluarkan nada dingin seperti itu saat bicara denganku, ini lebih seram dari pada jumpscare yang biasa muncul di film horor.
"Yang ada sejak ada kalian hidup gue nggak tenang tahu nggak!" Mata Adena memerah, penampilannya terlihat kacau dengan mata sembab seperti habis menangis.
"Dena kamu apa-apaan sih." Tegur Rama.
"Apa Mas, kamu belain cewek itu? aku pikir kamu udah lupain dia ya tapi apa, kamu masih suka liatin foto kalian berdua dulu. Perempuan mana yang nggak sakit hati kalau suaminya suka liatin foto mantan pacarnya!"
"Oke aku minta maaf, kamu tenang dulu ayo kita masuk." Nada suara Rama rendah.
"Ini semua gara-gara elu!" Adena berlari mengacungkan gunting tepat ke arahku.
Aku spontan memekik dan memejamkan mata rapat, semua terjadi dalam hitungan detik, aku tidak bisa menghindar.
"Jangan coba-coba sentuh istri saya!"
Aku membuka mata mendengar suara Rafka. Napas ku tertahan melihat Rafka berhasil menangkap tangan Adena, gunting itu terpelanting ke lantai sehingga tidak sampai menyentuh permukaan kulitku walau sedikit.
"Rafka." Aku mengembuskan napas keras setelah beberapa detik menahannya. Ku pikir aku akan tertusuk gunting saat ini juga, untung ada Rafka yang melindungi ku.
"Kamu nggak apa-apa?" Rafka memegang kedua lenganku, tubuhku lemas seperti kehilangan tulang-tulang yang menyokong nya. "Ayo kita masuk." Rafka membawaku masuk.
Sekilas aku melihat wajah syok Adena setelah aksi nya gagal. Apa maksud ekspresi itu? sepertinya akal sehatnya kembali, ia tampak pucat pasi melihat ke arahku.
Tak terasa kristal bening menetes saat aku memejamkan mata. Kejadian ini terlalu cepat, aku belum menyiapkan diri. Bahkan aku tidak percaya kalau sosok Adena yang tampak ramah dan keibuan hendak melakukan percobaan pembunuhan padaku. Tak ada alasan lain, tidak mungkin ia mengacungkan gunting itu kepadaku tanpa niat menyakitiku. Bagaimana jika tadi tidak ada Rafka, aku pasti sudah—
"Minum." Rafka duduk di atas lantai memberikan segelas air putih kepadaku.
"Aku takut." Lirihku.
"Kamu tenang, ada aku disini, aku tidak akan membiarkan siapapun menyakitimu." Rafka duduk di sampingku, ia menarikku ke dalam pelukannya yang hangat.
Tubuhku bergetar dan menangis tersedu-sedu di pelukan Rafka. Ini bukan pertama kalinya aku mengalami kejadian buruk. Masih teringat di benakku bagaimana wajah Rama saat hendak memelukku di dalam lift, aku ingin muntah saat membayangkannya kembali.
Sekarang aku tidak sendiri, aku bertanggungjawab atas nyawa di dalam kandunganku. Mereka tidak hanya akan menyakitiku tapi juga bagi di perutku.
Sebelum hamil aku tidak terlalu mengkhawatirkan hal seperti itu tapi sekarang keadaannya berbeda.
"Aduh!" Aku mengernyit saat perutku terasa kram, tangisku semakin menjadi—syok bercampur dengan sakit, ini lebih sakit dari pada sakit perut saat datang bulan. Atau tubuhku mulai melemah semakin bertambahnya umur. Dokter bilang ibu hamil itu sensitif, hal kecil bisa membuatnya menangis, rupanya ucapan itu benar.
Rafka mengangkat tubuhku dan membaringkannya di atas tempat tidur, ia juga melonggarkan celana ku.
"Tenangkan dirimu." Ucap Rafka dengan suara lembut, sangat berbeda dengan nada suaranya saat bicara di luar tadi. "Dokter bilang kamu tidak boleh tegang."
"Aku sudah bilang jangan gunakan celana ini, lihat melepasnya saja susah." Rafka menarik celanaku, yang benar saja kenapa ia melakukan itu.
"Jangan dilepas." Pintaku.
"Aku akan membuangnya jika kamu mengenakan celana ini lagi." Rafka melempar celana jeans ku ke lantai, ah itu mahal Ka!
__ADS_1
"Aku malu." Jeritku, aku menutupi wajahku karena malu. Sekarang sakit bercampur malu, aku ingin pingsan saja lalu bangun dan melupakan semua kejadian hari ini.