Suamiku Bukan CEO

Suamiku Bukan CEO
Enam Puluh Lima


__ADS_3

"Caramel, lu kenapa?" Jane terkejut melihat Caramel tiba-tiba berada di depan rumahnya dengan penampilan kacau. Jane melihat dengan jelas jejak air mata di wajah sahabatnya itu. Bahkan mata Caramel juga sangat bengkak seperti saat dulu saat dirinya baru ditinggal Rama.


Tanpa menjawab Caramel langsung menghambur ke pelukan Jane, ia tak tahu harus mulai bercerita dari mana. Terlalu banyak sesuatu yang ingin Caramel curahkan kepada Jane hingga ia bingung. Sekarang Caramel hanya ingin menenangkan diri dengan pergi ke tempat yang jauh.


"Ayo masuk dulu." Jane merangkul bahu Caramel membawanya masuk ke rumah. "Pak, tolong masukin mobil Caramel ya." Jane menoleh sesaat kepada satpamnya yang berdiri di belakang gerbang.


"Bentar gue ambil minum dulu." Jane meninggalkan Caramel sesaat di ruang tamu untuk mengambil minuman.


Perhatian Jane teralih pada ponselnya di atas meja makan yang menyala tanda ada pesan masuk. Jane menuang jus jambu merah ke dalam gelas dan mengembalikan sisanya ke kulkas.


"Rafka?" Jane tidak sabar membuka pesan Rafka karena suami Caramel yang kaku itu sangat jarang menghubunginya jika tidak benar-benar penting.


Jane, aku ada di dekat rumahmu. Aku mengikuti Caramel dari belakang. Aku tidak tahu apakah Caramel sudah menceritakan masalah kami kepada mu tapi aku minta tolong jaga Caramel. Aku sangat mengkhawatirkannya, ia belum makan sejak tadi siang.


Jane meletakkan kembali gelas yang ia pegang untuk membalas pesan Rafka.


Lu tenang aja, gue pasti jagain Caramel. Mending sekarang lu pulang aja, biar Caramel sama gue.


Jane memasukkan ponselnya ke dalam saku piyama.


"Kebetulan banget ada ayam keepsi." Jane menyambar sebungkus ayam KFC yang dibelinya tadi sore untuk Caramel.


Caramel menunduk menutup wajahnya dengan tangan, ia ingin berhenti menangis tapi tidak bisa. Hatinya terasa amat sakit mengingat kejadian tadi siang ditambah ucapan Rafka yang sangat menyinggungnya.


"Nih makan, lu pergi dari rumah tapi nggak bawa makanan kan?" Jane meletakkan makanan dan jus untuk Caramel di atas meja.


"Mana ada sih orang abis berantem, pergi dari rumah bawa makanan." Caramel kesal karena Jane masih bercanda.


"Udah ya stop nangisnya, mending sekarang lu makan dulu, minum jus biar tubuh lu punya bahan lagi buat bikin air mata." Jane membuka bungkus KFC dan mengeluarkan isinya berupa nasi serta ayam dengan saus pedas.


Caramel menurut, ia memang lapar apalagi setelah lewatkan dua sate taichan hari ini. Pertama sate yang ia beli sendiri kedua sate buatan Rafka. Pasti Caramel tidak ditakdirkan makan sate taichan. Ia terlahir untuk makan ayam KFC.


"Gue mau berangkat malam ini." Lirih Caramel sambil mengunyah nasi dengan tidak berselera.


"Berangkat kemana?" Jane spontan memutar kepala melihat Caramel heran.


"Bali."


"Gila lu ya!" Jane mendelik mendengar ucapan Caramel, "kita udah pesen tiketnya buat lusa kenapa lu mau berangkat sekarang?" Seseorang yang sedang galau memang tidak bisa berpikir jernih. "Sadar Car, kita mau pergi ke Bali bukannya Ancol, Bali itu jauh, lu nggak bisa tiba-tiba bilang mau berangkat sekarang juga."


"Gue ada tiga tiket ke Bali malam ini mmm maksud gue dari bandara Soetta ke Blimbingsari."


"Car, kenapa sih lu gegabah gini, kita kan udah sepakat berangkat lusa pas Rafka libur juga biar dia bisa nganterin lu." Jane memegang lengan Caramel untuk menyadarkan sahabatnya itu, mengembalikan akal sehat Caramel agar kembali berfungsi secara normal.

__ADS_1


"Lisa sama Diki tetep berangkat sesuai jadwal." Caramel tetap pada pendiriannya, ia sudah membeli tiga tiket sekaligus untuk malam ini. Walaupun tak ada pesawat yang bisa membawanya langsung ke Bali tapi paling tidak Caramel bisa pergi ke tempat yang jauh dari Rafka.


"Tetep aja nggak bisa mendadak gini dong."


"Kalau lu nggak mau ya udah gue sendiri aja." Balas Caramel santai sembari mengunyah kulit ayam kesukaannya. Entah karena lapar atau memang doyan tapi Caramel telah menghabiskan satu potong ayam dalam waktu cepat.


Jane mengacak rambutnya frustrasi karena Caramel tidak mau mendengarkannya.


"Mana tega gue lihat lu lagi hamil gini berangkat sendiri." Nada suara Jane meninggi, Caramel memang orang yang keras kepala.


Caramel terdiam seolah fokus makan padahal pikirannya melayang jauh entah kemana. Bahkan saat ini Caramel tidak bisa berpikir jernih.


"Emang apa sih masalah lu sama Rafka sampe lu kabur kesini dan sekarang ngajak gue kabur ke Bali."


Caramel tidak segera menjawab ia meminum jus jambu hingga tandas agar nasi yang tercekat di kerongkongannya bisa merosot dengan sempurna.


"Nanti gue ceritain di jalan." Tukas Caramel akhirnya.


"Ya udah gue ngomong dulu sama Doni." Jane beranjak dari duduknya meninggalkan Caramel di ruang tamu sementara ia bersiap pergi sambil membicarakan hal ini dengan Doni, suaminya.


******


Apartemen terasa sangat sepi tanpa kehadiran Caramel. Ketika Rafka baru masuk pandangannya langsung tertuju pada sate taichan yang sama sekali tidak tersentuh di atas meja. Rafka meraup wajahnya yang terasa panas, ia salah karena tidak percaya pada Caramel. Namun jika itu salah mengapa Caramel tidak menjelaskannya kepada Rafka.


"Sial!" Rafka melempar ponselnya ke sembarang arah dan meninju dinding berkali-kali meluapkan emosi.


Rafka menghempaskan tubuhnya ke atas sofa dan memijit pelipisnya yang berdenyut. Ia tidak bisa tenang saat Caramel tak ada disini bersamanya.


Akhirnya Rafka beranjak, mengambil ponselnya kembali dan menghubungi bagian pengawas CCTV. Rafka ingin memeriksa rekaman CCTV saat Rama masuk ke apartemennya, ia ingin membuktikan bahwa Caramel tidak berbohong.


Rafka berada di ruangan pengawas dimana terdapat banyak monitor CCTV dari seluruh penjuru apartemen. Beberapa petugas yang sedang bertugas memberi Rafka izin untuk melihat rekaman CCTV tadi sore.


"Sekitar pukul empat sore, lantai sebelas." Rafka menyebutkan waktu kapan kira-kira Rama masuk ke apartemennya.


Pandangan Rafka fokus pada salah satu monitor yang menampilkan kondisi koridor di unit apartemennya.


"Stop stop." Pinta Rafka saat ia melihat sosok Rama yang ternyata keluar dari pintu tepat di sebelah apartemennya. "Dia tidak benar-benar pindah." Gumamnya, ia pikir Rama telah menjual apartemen tersebut kepada Joni tapi ternyata tidak sama sekali. Rama masih memiliki akses penuh untuk keluar masuk apartemen Kempinski. Rafka tidak salah karena mencurigai Joni dan Anna sejak kedatangan mereka pertama kali.


"Sebaiknya Pak Rafka mengganti sandi masuk apartemen karena itu sudah diketahui orang lain." Ucap petugas yang duduk di depan komputer.


Rafka mengangguk, terlihat begitu jelas bahwa Rama masuk apartemennya dengan mudah setelah menekan tombol-tombol pada pintu, itu berarti Rama tahu sandi masuk apartemen mereka. Mungkin itu karena Rafka menggunakan tanggal lahir Caramel hingga membuat Rama dengan mudah mengetahuinya.


Tangan Rafka mengepal kuat hingga memerah menahan emosi, rasanya membuat Rama pingsan tadi sore tidak cukup untuknya. Rafka seharusnya menghancurkan lelaki itu.

__ADS_1


"Saya ingin file rekaman ini untuk diserahkan kepada pihak kepolisian." Pinta Rafka.


"Baik Pak."


Tidak hanya memeriksa rekaman CCTV dari koridor, Rafka juga memeriksa rekaman CCTV di dalam apartemen melalui laptop miliknya.


"Sialan!" Rafka mengumpat melihat Rama masuk ke kamar mereka. Tidak ada CCTV di dalam kamar sehingga Rafka tidak bisa melihat apa yang terjadi disana. Pandangan Rafka kembali fokus saat Caramel keluar kamar, tak lama kemudian Rama menyusul. Rafka melihat Caramel melemparkan semua barang yang ada di meja makan lalu berlari mengelilingi meja. Mereka tampak berlari ke arah balkon.


"Arrrggh!" Rafka mengerang frustrasi menutup laptopnya dengan keras, ia menghempaskan tubuhnya ke ranjang menatap langit-langit kamarnya yang terang. Ia telah menyakiti Caramel hingga wanita itu pergi dari rumah. Sekarang Rafka merasa kosong, apartemen seluas ini sangat sepi tanpa Caramel.


Rafka memejamkan mata bersamaan dengan itu setetes air mata mengalir tanpa aba-aba. Saat ini perasaannya campur aduk, sedih, marah, kesal dan bingung. Rafka ingin membujuk Caramel lagi tapi Jane bilang Caramel butuh waktu sendiri. Rafka tidak ingin kehadirannya justru membuat Caramel semakin marah. Mungkin Rafka akan membujuk Caramel lagi besok saat suasana hati sang istri lebih tenang. Rafka mengerti pasti Caramel sangat terpukul dengan kejadian hari ini.


Caramel memang terlihat kuat dari luar tapi sesungguhnya ia sangat sulit melupakan sakit hatinya. Bahkan Caramel butuh waktu bertahun-tahun untuk mengobati luka nya karena Rama.


Ponsel Rafka berdenting pendek, si pemilik seketika membuka mata berharap mendapat pesan dari seseorang bernama Caramel. Rafka menyambar ponselnya dan memeriksa pesan tersebut.


Kening Rafka mengkerut membaca pesan dari Jane.


Ka, mungkin ini terlalu tiba-tiba dan sedikit nggak masuk akal tapi ini permintaan Caramel. Kami berangkat ke Bali malam ini juga, gue udah cegah Caramel tapi dia bersikeras pengen berangkat sekarang. Bahkan dia bilang mau pergi sendiri kalau gue nggak mau.


Mata Rafka membulat membaca semua pesan Jane, ia langsung beranjak menyambar kunci mobil untuk menyusul Caramel ke bandara. Rafka harus mencegah Caramel pergi, ia tidak boleh membiarkan sang istri pergi dalam keadaan marah.


Mobil Rafka melaju kencang menembus malam, Rafka tak pernah menyetir sekencang ini selama hidupnya tapi demi Caramel ia harus melakukan itu.


Rafka menekan klakson berkali-kali saat ada mobil lain di depannya agar memberi jalan. Ia bukan lagi Rafka yang selalu tenang dalam diam, ia berubah agresif dan tidak sabaran. Ia meluapkan emosinya melalui klakson mobil.


Napas Rafka terengah-engah berlari keluar mobil menuju area bandara. Rafka berharap Caramel masih ada disini. Kalaupun harus berlutut demi mendapat maaf dari Caramel maka Rafka akan melakukannya dengan sepenuh hati.


Rafka berlari kesana-kemari mencari keberadaan Caramel tapi hasilnya nihil. Namun Rafka tetap berpikir positif, bandara ini sangat luas mungkin Caramel masih disini. Rafka harus mencarinya dengan lebih teliti.


"Caramel." Rafka terus membisikkan nama Caramel berharap sang istri masih disini. Ia merapatkan giginya dengan kuat menahan tangis.


"Maaf, apakah tiket pesawat ke Bali masih tersedia?" Rafka bertanya pada petugas di loket.


"Tiket ke Bali sudah habis terjual sejak seminggu yang lalu bertepatan dengan libur panjang akhir tahun." Jelas petugas wanita tersebut dengan ramah.


"Tidak ada sisa? sama sekali?" Rafka tidak percaya, ia memang sudah memesan tiket tersebut sejak seminggu lalu. Caramel paling bersemangat untuk berlibur ke pulau Dewata tersebut sehingga ia telah memesankan tiket untuk semuanya sejak jauh-jauh hari. Namun jika tiket itu benar-benar telah habis mengapa Caramel dan Jane bisa berangkat malam ini.


"Ya, bahkan tiket ke bandara Blimbingsari juga telah habis malam ini, mereka akan menggunakan kapal untuk menyebrang melalui selat Bali."


Rafka mengangguk mengerti, ia membalikkan badan mengacak rambutnya frustrasi. Entah sudah berapa kali Rafka melakukan itu hingga rambut yang biasanya disisir rapi kini tak karuan.


"Kenapa kamu pergi Cara?" Rafka melangkah keluar dengan tubuh lunglai, ia tidak menyangka bahwa Caramel akan pergi sejauh itu. Pantas saja Caramel membawa koper besar itu. Sekarang Rafka tidak bisa lagi mengejar Caramel.

__ADS_1


__ADS_2