Suamiku Bukan CEO

Suamiku Bukan CEO
Delapan Puluh Delapan


__ADS_3

"Anak lu kembar?" Kayla salah fokus pada foto USG yang tertempel pada pintu kulkas apartemen Caramel dan Rafka, ia terkejut melihat ada dua kantong pada foto USG tersebut. Beberapa hari yang lalu Caramel memberitahu Jane dan Kayla bahwa dirinya positif hamil. Namun Caramel tidak memberitahu bahwa ada dua bayi di dalam perutnya.


Caramel dan Rafka juga belum memberitahu orangtua mereka pasal anak kembar yang ada di kandungan Caramel. Saat pertama kali mengetahui tersebut Caramel antara senang sekaligus tak percaya bahwa ia bisa hamil dua anak sekaligus karena di keluarganya tidak ada gen kembar. Sementara itu Rafka khawatir terhadap kehamilan Caramel karena anak kembar lebih beresiko.


"Semua anak-anak ini ajaib." Caramel meraba perutnya yang masih rata, seperti saat hamil Arnesh ia juga merasa dua janin ini adalah sebuah keajaiban.


"Selamat ya Cara." Kayla memeluk Caramel memberi selamat. "Gue harap kalian baik dan sehat terus."


"Thanks ya." Caramel mengurai pelukan dan membuka kulkas. Kayla hendak memasukkan salad buah yang ia bawa barusan tadi malah salah fokus pada foto USG milik Caramel tersebut.


"Gue yang harus bilang makasih sama lu, berkat lu dan Rafka yang selalu bawa salad buah gue ke setiap acara sekarang salad ini lebih dikenal banyak orang, orderan membludak, gue beruntung punya sahabat kayak lu dan Jane." Kayla berjongkok mengeluarkan kotak salad buah satu per satu memindahkannya ke kulkas. Kali ini Kayla memberi Caramel dan Rafka salad gratis karena berkat mereka orderan salad buahnya meningkat pesat.


"Tumben banget lu ngomong gitu, biasanya juga duh susah punya sahabat kayak elu, galau mulu kelakuannya." Caramel meniru gaya bicara Kayla saat mengomel.


"Kita udah dewasa, nggak ada ceritanya galau merana lagi." Kayla menegakkan tubuhnya setelah selesai memindahkan semua salad yang ia bawa, ia menepuk bahu Caramel dua kali.


"Bukan dewasa lagi, udah tua kita Kay." Caramel berbalik melangkah menuju ruang tamu agar mereka bisa mengobrol dengan nyaman.


Kayla mengekori Caramel dan duduk di sofa ruang tamu, ia mencomot satu nastar buatan mama Rafka dan melahapnya tanpa disuruh. Bahkan Kayla bisa menghabiskan satu toples nastar buatan mama Rafka dalam waktu singkat tapi ia sungkan pada Rafka.


"Waktu kemping di Pine Hill, gue ketemu sama Adena, kasian dia sekarang harus kerja sendiri." Caramel mulai bercerita karena beberapa hari ini mereka tak pernah memiliki banyak waktu untuk bertukar cerita seperti ini.


Kayla tidak segera membalas ucapan Caramel karena mulutnya penuh dengan nastar, ia tak mau nastar itu menyembur dari mulutnya jika ia bicara.


"Gue juga kasian sama dia, sial banget dapet suami kayak Rama, kalau dipikir-pikir dalam hal ini Adena itu juga korban karena dia hamil duluan, selama pernikahan itu juga sosok elu jadi bayang-bayang di antara mereka."

__ADS_1


Caramel mengangguk, "Gue harap Ara nggak jadi korban karena dia masih kecil banget, apalagi orangtua Rama nggak pernah mau nemuin cucunya."


"Ya gue tahu lah orangtua Rama telanjur berharap banyak sama lu, mereka dulu selalu bilang kalau elu menantu idamannya." Kayla kembali mengambil dua nastar dari toples di hadapannya.


Mereka mendengar pintu terbuka lalu langkah kaki seseorang. Rafka datang membawa satu kantong plastik di tangannya. Ia baru saja membeli seblak kesukaan Caramel di dekat kantornya. Karena ini akhir pekan jadi Rafka bisa menemani Caramel makan meski ia memesan seblak dengan level kepedasan paling rendah.


"Gue balik dulu ya." Kayla beranjak dari duduknya, mereka langsung berhenti membicarakan soal Rama.


"Kok balik sih?" Caramel protes, mereka baru mengobrol sebentar tapi Kayla sudah pamit pulang. Mereka jadi jarang memiliki waktu untuk berkumpul bertiga karena sibuk dengan pekerjaan masing-masing.


"Takut ganggu lu sama Rafka." Kayla menyampirkan tasnya serta membawa kembali cooler bag yang tadi ia gunakan untuk menyimpan salad buah.


Caramel mencibir, sungguh alasan yang aneh karena Kayla dan Jane jika memang ingin berkunjung, tak peduli ada Rafka atau tidak mereka tetap akan datang bahkan berlama-lama disitu tanpa memikirkan perasaan Rafka.


"Sayang, aku mau sama nasi." Caramel setengah berteriak pada Rafka yang sedang mengambil mangkok air minum. Sementara itu Caramel membuka dua wadah yang membungkus seblak miliknya dan Rafka. Dari warnanya Caramel bisa membedakan seblak milik mereka karena Rafka tidak menambahkan sambal sedikitpun pada seblak miliknya.


"Nggak tahu sih belum pernah coba, tiba-tiba pengen." Caramel mengambil alih piring di tangan Rafka dan menuang sedikit kuah kental seblak ke atas nasi. "Rasanya belum percaya kalau sekarang aku hamil lagi."


"Dikasih dua anak sekaligus." Rafka meniup sebentar sesendok kuah seblak dan menyeruputnya. Rafka bukan pecinta seblak, ia hanya menemani Caramel memakannya.


"Apa kita harus siapin namanya dari sekarang biar bisa dipanggil." Caramel memajukan wajahnya ke dekat Rafka.


"Beri nama Pineapple, Pie dan Apple."


Caramel membelalak, dari mana Rafka mendapat ide nama unik seperti itu. Caramel mengangguk berkali-kali setuju dengan ide tersebut.

__ADS_1


"Our sweet Pineapple." Caramel mengusap perutnya tersenyum lebar, akhirnya mereka punya nama panggilan untuk janin tersebut seperti yang sedang trend saat ini.


"Tapi apakah Pineapple berarti aku boleh memanggilnya nanas?" Wajah Rafka polos membuat Caramel menekuk bibir bawahnya.


"Beda dong, nama nggak bisa diterjemahkan ke bahasa lain, kayak aku namanya Caramel tapi bukan berarti aku bisa dipanggil gula kan?"


"Kamu benar." Rafka mengangguk mengerti dengan penjelasan Caramel. "Itu berarti aku punya Pineapple dan Caramel sekarang, bukankah itu perpaduan yang pas?"


"Pas buat apa?"


"Pas untuk dimakan." Rafka mengulurkan tangan menyentuh tengkuk Caramel dan mendorongnya ke depan, ia mengecup bibir Caramel singkat tapi dalam.


Caramel mendelik, bisa-bisanya di tengah sesi makan siang begini Rafka mencuri ciuman darinya. Okelah mereka memang suami istri tapi ini terlalu mengejutkan bagi Caramel.


Caramel menunduk menyembunyikan wajahnya yang ia tebak pasti sudah memerah seperti tomat matang atau bahkan lebih merah dari kuah seblak yang ia makan sekarang.


"Kamu mau coba punyaku?" Tawar Rafka.


"Nggak pedes sama sekali kan?" Akhirnya Caramel berani mengangkat wajah setelah berusaha menetralkan perasannya.


"Tapi lebih enak seperti ini."


Caramel tertawa, tiba-tiba ia ingat saat pertama kali mereka pindah ke apartemen ini dan ia memasak dua bungkus samyang paling pedas untuk dirinya dan Rafka. Caramel masih ingat persis bagaimana ekspresi Rafka saat itu yang berusaha bertahan meski sama sekali tidak bisa makan pedas. Caramel merasa bersalah tapi sekaligus ingin memarahi Rafka karena tidak terus terang padanya. Dulu Rafka begitu lugu—sampai sekarang pun begitu hanya saja saat ini Rafka lebih berani mengungkapkan perasaannya tanpa harus ditanya.


Dulu cowok impian Caramel saat masih usia remaja adalah cowok populer berpenampilan trendy yang digilai banyak cewek karena jika bisa mendapatkannya maka ia akan merasa bangga. Namun sekarang mendapat pasangan hidup seperti Rafka yang biasa-biasa saja, lugu apalagi tidak populer justru membuat Caramel bangga, karena tak akan ada yang bisa menarik perhatian Rafka selain dirinya.

__ADS_1


Caramel juga ingat ketika Elsa berusaha menarik perhatian Rafka. Mungkin Elsa pikir pria lugu seperti Rafka akan mudah tertarik padanya yang memiliki wajah cantik dan tubuh proporsional idaman para pria. Namun tentu saja Elsa tak akan pernah mendapatkan perhatian Rafka meski sedikit. Bagaimana ini, jika mengingat semua momen di masa lalu semakin membuat Caramel jatuh cinta pada sang suami.


Waktu berjalan begitu cepat, banyak hal yang mereka lalui bersama. Suka dan duka pun Rafka tak pernah meninggalkan Caramel. Justru Rafka adalah orang yang paling sigap membantu saat Caramel sedang kesusahan.


__ADS_2